Wednesday, April 05, 2006

Olahraga, Sisi Lain Mafia

Menarik mencermati dunia olahraga dewasa ini, khususnya sepak bola dan F1. Seperti sering kita dengar, sepak bola masih olahraga nomor satu di dunia, terutama dari segi viewers sharing di seluruh negara. Sedangkan F1 dari tahun ke tahun jumlah penontonnya terus bertambah, baik yang datang ke sirkuit maupun yang menonton di TV.
Buat pebisnis Eropa tahu betul soal ini. Di mata mereka, F1 dan sepak bola ibarat dua sisi mata uang yang enggak terpisahkan. Olahraga enggak fair dan sportif. Bos tim Renault di F1, Flavio Briatore, orang yang sering wari-wiri di setiap pertandingan sepak bola. Sebelum konglomerat Rusia Roman Abramovich, yang keturunan Yahudi, membeli Chelsea, Flavio Briatore sedang ambil ancang-ancang untuk membeli klub itu. Dia disalip teman sendiri. Dirinya dan Abramovich sering minum kopi bareng di berbagai cafe mewah di Eropa.
Seandainya Chelsea jadi dibeli Flavio Briatore, klub itu diyakini tetap sehebat seperti sekarang saat dipimpin Abramovich. Kita bisa melihat sepak terjang Flavio Briatore di F1. Dia selama ini dikenal sebagai ahli manajemen dan mendapat julukan money maker. Cukup waktu tiga tahun untuk menyulap Renault jadi tim paling kuat di F1. Tahun 2006, di tiga seri, Renault selalu jadi juara dengan pembalap yang berbeda. Ini enggak pernah dicapai tim Ferrari di masa jayanya lima tahun terakhir.
Perputaran uang di sepak bola dan F1 yang mencapai triliun rupiah per event membuat mata para pebisnis semakin hijau. Abramovich rela merogok kocek 200 juta pounds untuk beli pemain dan sekitar 70 juta pound untuk melunasi utang Chelsea. Setelah tiga tahun, setengah dari uang itu udah kembali dalam bentuk sponsor dan hasil pertandingan. Flavio juga mau
Abramovich dan dan Flavio cuma dua dari banyak pebisnis global yang merambah dunia olahraga. Hampir bersamaan dengan Abramovich, saham MU – klub berlabel terkaya di dunia – diborong konglomerat olahraga dari AS, Malcolm Glazer. Meski tentang terang-terangan oleh pendukungnya, pemilik lama MU tetap melepas saham mereka dengan enteng.
Siapa sebenarnya orang-orang ini? Yang jelas, mereka orang baru di bisnis olahraga. Mereka para outsider, bukan mantan atlet atau manajer. Glazer baru merambah dunia olaharaga tahun 1995 dengan membeli klub NFL, Tampa Bay Buccaneers. Keuntungan yang dia dapat dari klub itu udah lima kali lipat. Tahun 2005, keluarga Glazer membeli saham MU dengan harga yang hampir sama ketika membeli Tampa Bay. Targetnya, 10 tahun ke depan, MU sudah bisa memberikan keuntungan lima kali lipat.
Flavio secara terang-terangan mengaku bukan sport mania. Dia cuma tertarik segi bisnis dan gemerlapnya. Ketika masuk F1 tahun 1988, karirnya melejit cepat dari cuma ngurusi promosi jadi bos utama.
Roman Abramovich lebih fenomenal lagi. Dia bukan siapa-siapa 10 tahun lalu. Cuma pebisnis biasa di Rusia yang kebetulan memiliki akses dengan Presiden Boris Yeltsin (waktu itu). Berkat kedekatan itu, Abramovich mampu membeli perusahaan yang diprivatisasi pasca runtuhnya Uni Soviet dengan murah. Hanya dalam hitungan tahun, Abramovich memilik saham mayoritas di perusahaan minyak nomer satu di negeri itu dan saham cukup besar juga di salah satu perusahaan aluminum terkenal di sana.
Banyak yang meragukan “kebersihan” para pebisnis ini sejak awal. Kita mulai dari Abramovich. Di orang dekat Kremlin di masa Boris Yeltsin. Yeltsin memberi perlindungan atas dirinya dan kekayaannya. Enggak satu pun orang Rusia berani moncolek pria yang belum genap berumur 40 tahun ini. Ketika Yeltsin turun, Abramovich mencoba mendekat Valdimir Putin. Meski engak semulus dengan Yeltsin, tapi dia tetap berhubungan baik dengan Putin. Tapi dia harus membayar mahal dengan melepas 75% saham perusahaan minyak miliknya kepada negara. Enggak seperti dulu, kini Abramovich merasa seperti dikejar-kejar hantu kalau sedang berada di Rusia. Dia lebih banyak menghabiskan waktu di Eropa barat ketimbang di negaranya. Selain cuacanya memang lebih hangat, Abramovich menghindari kejaran polisi dan pajak.
Catatan hitam Flavio Briatore memang enggak segelap Abramovich. Tapi khas pria Italia, dia punya sepak terjang mirip mafia. Dia seperti Don Corleone di film The Godfather. Tumbuh di kota kecil di Italia lalu merambah Amerika dan kemudian menguasai dunia bisnis, mulai dari garmen, restoran, dan semua bidang usaha. Dia akrab dengan Luciano Benetton, pendiri perusahaan Benetton, tapi bermusuhan dengan Rocco Benetton, putra bungsu Luciano.
Keluarga Glazer yang membeli MU juga bekerja seperti mafia. Mereka sangat jarang datang ke Old Trafford menyaksikan Setan Merah bertarung. Mereka juga enggak menyukai publisitas. Tapi mereka akan kejam kalau berhubungan dengan duit. Baru-baru ini MU dituduh melakukan double deal untuk sponsor tahun depan. Mereka tentu saja berada di belakang dealing ganda itu. Akibatnya, salah satu sponsor yang sangat serius, Mansion Casino, yang dimiliki oleh keluarga Putera Sampoerna dari Indonesia, membatalkan diri.
Siapa bilang olahraga itu fair.

Karto K Saragih
“We are the guardians of something given..” PJP

0 Comments:

Post a Comment

<< Home