Tuesday, April 11, 2006

MNC Sebagai Salah Satu Pilihan

The Brutal Fact

Sebagian besar diantara anda yang saat ini terdaftar sebagai mahasiswa jurusan Hubungan Internasional FISIP UNPAD mungkin bercita-cita untuk menjadi seorang diplomat ketika lulus nanti. Suatu cita-cita yang mungkin sudah anda cetuskan bahkan jauh sebelum anda melangkahkan kaki ke kampus HI UNPAD di Jatinangor ini. Tidak salah memang anda bercita-cita untuk menjadi seorang diplomat karena jurusan hubungan internasional memang secara spesifik siap untuk mengantarkan anda mencapat cita-cita tersebut. Namun, pernahkah terlintas dalam pikiran anda bahwa statistik menyatakan bahwa kurang dari 10% diantara anda yang akan bisa masuk ke departemen luar negeri. Pernahkan terlintas di pikiran anda bahwa the biggest chunk of the group justru akan berakhir bukan sebagai diplomat. Sudah siapkah mental anda untuk menerima kenyataan ini. Pertanyaannya, jika setelah lulus anda tidak menjadi seorang diplomat, anda akan menjadi apa ?

Tahun 1991 ketika saya masuk ke jurusan yang saya idam-idamkan semenjak saya SD, saya pun membawa cita-cita yang sangat mulia yaitu ingin menjadi seorang diplomat yang akan bisa membawa dan membela nama bangsa di percaturan hubungan internasional. Empat setengah tahun saya belajar secara serius mempersiapkan diri untuk menjadi seorang diplomat. Pada tahun kelulusan (1996) saya berhasil menjadi lulusan S1 dengan IPK tertinggi di seluruh UNPAD, sebelumnya saya juga dipilih sebagai mahasiwa terbaik UNPAD yang mewakili UNPAD ke pemilihan mahasiswa berprestasi tingkat nasional di mana saya terpilih sebagai Juara Harapan 2. Rasanya modal untuk bisa masuk ke DEPLU sudah saya miliki pada saat itu. Hanya saja, kenyataan menunjukkan bahwa dengan gaji yang akan saya dapatkan di DEPLU rasanya saya tidak akan bisa menghidupi keluarga saya di Jakarta (sebelum penempatan) tanpa ada dukungan finansial dari orang tua. Kenyataan itu pula yang akhirnya memaksa saya untuk melupakan dulu cita-cita saya sebagai diplomat dan menerima tawaran dari ASTRA INTERNASIONAL. Hanya bertahan selama beberapa bulan saya tergiur untuk mulai bekerja di perusahaan multinasional yang saya anggap bisa menjadi jembatan antara dunia swasta dan dunia diplomasi. Saya bergabung dengan PT TOSUMIT Indonesia (sebuah perusahaan patungan antara Toshiba Corp & Sumitomo Corp. Sampai akhirnya beberapa bulan kemudian saya bergabung dengan PT Unilever Indonesia Tbk., sebuah perusahaan Fast Moving Consumer Goods yang cukup besar di Indonesia. Tulisan ini ingin mengajak anda semua untuk membuka pikiran bahwa tidak semua di antara akan menjadi diplomat, dan bekerja di perusahaan MNC bisa menjadi salah satu alternatif yang bisa anda pertimbangkan.

Apa itu Multi National Company ?

Secara sederhana, Multi national company (MNC) bisa didefinisikan sebagai perusahaan yang memiliki jaringan dan wilayah operasi yang melewati batas-batas negara. Sebuah MNC sudah dapat dipastikan beroperasi di lebih dari satu negara. Dalam operasinya MNC menjalankan usahanya di berbagai bidang, misalnya BP yang merupakan MNC berbasis di Inggris dan menjalankan operasi di bidang perminyakan, Citibank merupakan MNC yang menjalankan operasinya di bidang financial services, KLM di bidang penerbangan, Unilever di bidang fast moving consumer goods, McKinsey di bidang consulting, dll.

Dengan kenyataan bahwa MNC memiliki wilayah operasi di berbagai negara, kemungkinan bagi karyawan MNC untuk bekerja di negara lain (expatriated) menjadi sangat terbuka. Sayangnya, walaupun ada, tidak banyak karyawan Indonesia yang diexpatriated di negara lain dengan alasan yang akan saya kemukakan di bagian berikutnya. Karena memiliki karyawan dari berbagai bangsa dan beroperasi di berbagai negara biasanya sebuah MNC memiliki standar yang sama dalam banyak hal di mana pun MNC tersebut beroperasi. Standar yang saya maksudkan meliputi kualitas produk, proses produksi, bahkan sampai kesejahteraan karyawan. Maka dari itu, biasanya MNC memberikan remunerasi yang lebih baik dibandingkan perusahaan lokal karena ada standar-standar tersebut.

Pada saat seorang karyawan MNC diexpatriated di negara lain sebenarnya, peran dia hampir sama dengan diplomat karena karyawan tersebut juga harus membawa nama negara asalnya agar jangan sampai memalukan di negara lain. Pindah dari satu negara ke negara lain pun adalah hal yang sangat wajar bagi beberapa karyawan MNC. Pada sisi ini, bekerja di MNC sedikit banyak mirip dengan sebagai diplomat. Sebagai contoh Unilever memiliki operasi di 80 negara sehingga dalam pekerjaan kita sehari-hari sering pula kita mengunjungi atau berhubungan dengan Unilever di salah satu dari 80 negara tersebut. Hubungan internasional secara tidak kita sadari kita jalankan sehari-hari walaupun bukan dalam konteks kenegaraan.

Apa Yang Dibutuhkan Untuk Masuk MNC?

Yang paling dibutuhkan untuk bekerja di MNC tentunya adalah kemampuan untuk bersaing dan bekerja dalam standar yang tinggi karena kita tidak hanya bersaing dengan rekan-rekan di negara kita namun juga dari negara lain. Sebelum krisis 1997, di mana jumlah mahasiswa dan lulusan luar negeri masih banyak, lebih dari 75 % dari management Unilever Indonesia dipegang oleh orang-orang lulusan luar negeri. Hal ini terjadi karena rekan-rekan lulusan luar negeri sudah sangat terbiasa iklim di luar negeri yang biasanya membuat mereka lebih mampu mengexpresikan ide-ide mereka, terbiasa untuk berdebat, terbiasa untuk bersikap kritis, terbiasa untuk menchallenge,dll. Lebih spesifik lagi mereka terbiasa melakukan semua hal tersebut dalam bahasa Inggris.

Jika anda sudah dapat menjadi presiden dengan hanya membawa ijazah SMA, jangan harap anda bisa menjadi karyawan MNC dengan hanya membawa ijazah SMA. Saat ini persyaratan minimum untuk bisa diberikan kesempatan untuk diuji adalah 3.0 (dari skala 4.0). Angka 3.0 benar-benar hanya merupakan prasyarat untuk bisa ditest, karena saat ini angka IPK rata-rata yang diterima di perusahaan MNC biasanya berkisar di 3.4. Dengan demikian belajarlah dengan baik jika anda masih ingin menjadikan MNC sebagai salah satu opsi anda setelah lulus nanti. Lebih baik lagi jika anda memiliki IPK di atas 3.5 (Cum Laude) walaupun IPK tinggi pun belum menentukan anda untuk diterima. Setelah itu perbanyaklah aktivitas berorganisasi anda karena pengalaman berorganisasi bisa menjadi indicator kemampuan kerjasama anda dalam kelompok. Aktif di HIMA, SENAT, Unit-unit kegiatan, akan menjadi nilai tambah bagi anda. Setelah anda yakin dengan prasyarat-prasyarat tadi, kirimkanlah lamaran anda ke MNC yang anda tuju (sebaiknya pelajari dulu company profile-nya)

Saat ini semakin banyak MNC yang menguji calon karyawannya dengan dua macam tipe test. Model test pertama adalah dalam bentuk group discussion kemudian panel discussion, psychotest, dan terakhir wawancara dan semua proses ini dijalankan tanpa sedikitpun menggunakan bahasa Indonesia (bahkan dari mulai pengajuan application form). Model test kedua adalah seperti GMAT (test untuk MBA) di mana calon karyawan harus menjawab serangkaian soal-soal management,psychotest , terakhir wawancara lagi-lagi semuanya dalam bahasa Inggris.

Kuliah akan memberikan kemampuan daya nalar anda, namun jika anda tidak dibiasakan untuk berkomunikasi dengan baik, maka cukup sulit bagi anda untuk bisa lolos test ini. Untuk itu, biasakanlah dari sekarang untuk sering-sering berdiskusi dalam bahasa Inggris, sering-seringlah berdebat, sering-seringlah menchallenge pemikiran orang lain karena jika anda terbiasa dengan baik untuk berpikir secara runut dan mengexpressikan pemikiran anda dengan baik maka anda sudah punya modal yang cukup untuk bersaing dengan calon-calon yang lain. Kemampuan komunikasi orang Indonesia secara umum memang dinilai kurang dibandingkan dengan rekan-rekan dari negara lain bahkan dari negara Asia yang lain seperti India, Philippines, bahkan Malaysia. Belajarlah secara keras untuk memperbaiki communication skill anda dalam bahasa Inggris (saya pikir modal ini pun sangat dibutuhkan oleh seorang calon diplomat). Saya berharap metode belajar di kelas pun bisa mulai diperbanyak ke arah ini.

Di tulisan saya berikutnya saya akan share apa-apa saja yang dibutuhkan agar kita bisa bersaing dengan karyawan-karyawan yang lain di sebuah perusahaan MNC sehingga bisa menaiki corporate ladder dengan cepat (bahkan sampai pada tahap tertinggi)

Good Luck !!

dicky saelan

G1B91056

5 Comments:

At 12:28 PM, Blogger Alumni HI Unpad 91 said...

Dik, IPK maneh tertinggi sa UNPAD-nya? Hebat euy, kara nyaho urang.

Ngomong-ngomong soal IPK, gw jadi teringat waktu wisuda. Waktu itu kalau enggak salah Agustus 1996. Wisudawan, seperti biasa, berasal dari berbagai angkatan. Kebetulan gw bareng Ginting, angkatan 1988. Ketika itu diumumin siapa-siapa aja yang meraih cumlaude. Nah, tanpa diduga, muncul nama Ginting.. Tentu aja orang yang tau pada terkejut. Ginting sendiri dari belakang nyeletuk.. Moal, mungkin..., moal mungkin.. Selidik punya selidik, emang enggak mungkin. Ternyata salah baca. Yang benar, Ginting enggak benar-benar cumlaude he he. Tapi dia membuktikan mampu bersaing dan masuk Deplu. Awal tahun lalu dia kembali ke Indonesia setelah posting selama tiga tahun di Madrid, Spanyol.
Apa kabar, kuy.

Karto K. Saragih

 
At 2:57 PM, Blogger tuhu said...

Setuju.... saya juga salah satu yang tidak bercita-cita lagi jadi seorang diplomat...

 
At 11:35 AM, Anonymous Anonymous said...

Nya Wajar atuh Diki Saelan mah atu mahasiswa berprestrasi no 1 saunpad tahun brapa Dik ? Jadi we IPK satinggi saunpad nya wajar, sayang telat maneh mah.....asub ka Unpad teh .... he..he..he.....

 
At 10:47 AM, Anonymous Anonymous said...

Maaf, kalo saya salah posting.
Saya bingung mau posting dmn? mo gabung milis, sy bukan angkatan 91, kan aneh kalo saya yg angkatan 06 gabung milis angkatan 91. :)
Gini kang & teh, sayacm mau meingformasikan bahwa sekarang HI Unpad sudah punya website sendiri.
Mohon akang teteh, visit ke http://himahiunpad.com/. Di situs tsb jg ada database alumni, jadi jika sempat mohon skalian database alumninya diisi.

Terimakasih.
Regard,
Pradana Ramadhan aka metaved
admin himahiunpad.com

 
At 3:19 AM, Blogger Fakri Fauzie said...

Kang Dicky,

Saya salah satu yang masuk ke HI karena ingin kerja di MNC, bukan karena ingin jadi diplomat. Ada dua hal yang mendorong saya bekerja di MNC. Saya berasal dari salah satu kota minyak di Kalimantan Timur, sehingga terlihat jelas bagaimana karyawan MNC jauh lebih sejahtera daripada kelas masyarakat lainnya. Kedua, saya tidak ingin masuk lingkungan birokrasi, yang penuh dengan KKN dan kalau tidak kuat, kita akan ikut terbawa arus juga.
Dari awal studi HI, makalah saya atau tugas, jika memang diberi topik bebas oleh para dosen HI, selalu mengenai MNC. Skripsi saya juga mengenai MNC sampai-sampai Pak Rusadi dan Ibu Yunita menilai skripsi saya tidak "HI", apalagi pak Sumpena yang sangat "HI tradisional".
Sekarang saya terdampar di Prancis bekerja di salah satu MNC terbesar di sektor transportasi. Studi HI sangat membantu saya karena dapat memfokuskan cita-cita dan identitas diri kita, tanpa harus terperangkap dalam pengkotakan studi HI itu sendiri.

 

Post a Comment

<< Home