Carut Marut Olahraga Indonesia
Salam,
Satu hal yang membuat saya tertarik untuk menulis adalah masih ada rekan saya yang bernama Karto yang masih mempunyai semangat untuk menggali dan menelaah persoalan-persoalan yang terjadi di dunia olahraga. Terus terang sampai sekarang saya masih tidak mengerti mengapa dunia olahraga Indonesia masih saja terpuruk, padahal sudah ditunjang dengan beberapa infrastruktur, terutama yang fenomenal adalah dilahirkannya kembali Kementerian Pemuda dan Olahraga disamping lahirnya Undang-undang tentang Olahraga yang salah satu bentuk konkritnya adalah dipecahnya KONI menjadi KON dan KOI.
Buat saya yang tidak terlalu faham bagaimana mengejawantahkan teori ke dalam praktek, hal tersebut di atas adalah omong kosong. Ke depan, mau ada pembentukkan Departemen Olahraga misalnya saya pikir tidak akan “ngaruh”. Mau mecah lagi dari KON dan KOI, menjadi KON, KOI, KOKI atau KONAK misalnya tetap aja olahraga tidak akan maju-maju. Mau tau sebabnya kenapa olahraga kita tidak maju-maju? Nih, silahkan disimak.
Satu, tidak jelasnya aliran dana untuk olahraga yang mampir ke saku orang-orang yang ngakunya mengabdi untuk dunia olahraga. Bayangkan, hampir 15% baik APBN ataupun APBD kita dikeluarkan untuk biaya pembinaan olahraga (itu yang resmi tercatat lho) tapi hasilnya sangat mudah ditebak. Ananda Mikola kerjaannya bolak-balik ngetok magic mobil A-1 nya, Taufik Hidayat gonta ganti pasangan sebelum ngegaet anak Jenderal, Tim Sepakbola Indonesia kalian udah pada tau lah hasilnya dan yang paling ngenes adalah Indonesia tidak pernah lagi juara di ajang SEA Games! Saya berpikir, kalau misalnya uang tersebut tidak disunat masuk ke saku oknum-oknum, secara bertahap prestasi olahraga kita akan meningkat. Artinya dana tersebut dapat kita alokasikan untuk uang lauk pauk pemain yang berpengaruh pada peningkatan gizi, bonus apabila mereka menang dan yang paling penting biaya untuk pelatihan mereka (training) baik di dalam atau di luar negeri. Kalo sekarang sih, kebanyakan masuk ke kantung oknum pengurus yang memang sudah niat cari sesuap nasi di organisasi olehraga.
Dua, mencari bibit atlet yang mempunyai talenta dan determinasi serta nasionalisme yang tinggi. Ini yang susah, ada yang berbakat tapi mata duitan, ada yang tidak mata duitan dan nasionalis tapi tidak berbakat, yang paling parang adalah tidak berbakat dan mata duitan! Namun demikian, saya masih yalin diantara seperempat miliar penduduk Indonesia, pasti 40% dapat memenuhi ketiga kriteria tersebut, namun bagaimana cara memantaunya? Kondisi geografis yang unik serta banyaknya remote area menjadikan para pembina olahraga kita yang masih memiliki hati nurani kesulitan untuk memantau perkembangan talenta-talenta muda kita.
Ketiga, memiliki pelatih yang bersertifikasi dan mampu mensinergikan teori dengan kondisi atlet dan demografi. Artinya seorang pelatih harus mampu mengkombinasikan kecakapan dalam ilmu pengetahuan olahraga atau yang terkait (seperti psikologi dll), mengerti kemampuan atlet dan bagaimana melatih atlet disesuaikan dengan kondisi eksternal dan internal si atlet itu sendiri. Namun, yang paling menarik adalah pengamatan saya pada saat menyaksikan pertandingan Liga Inggris dan ketika saya menonton Australian Football di Melbourne. Awalnya saya tidak mengerti mengapa pelatih-pelatih disana menghabiskan waktunya sampai setengah babak di tribun penonton, tidak bersama-sama di bangku pemain cadangan. Ketika akan memasuki masa istirahat, barulah pelatih turun untuk berkumpul di bangku cadangan. Setelah saya amati sampai 3 kali dan mencoba untuk mempersonifikasikan diri sebagai pelatih, barulah saya mengerti mengapa hal itu terjadi. Pelatih mencoba untuk mengamati jalannya pertandingan dari satu sudut dimana dia dapat mengamati tidak sebagian tempat pertandingan, namun dari sudut pandang dimana dia dapat melihat semua jarak pandang tempat pertandingan. Dengan demikian, dia dapat menganalisis suatu masalah tidak hanya dari satu sudut pandang saja, tapi dari beberapa mengingat dari tribun penonton yang paling atas, dia dapat melihat jalannya pertandingan baik pada saat pemain mendapatkan bola ataupun yang sedang melakukan pergerakan tanpa bola. Hasilnya, menurut survey the Australian, hampir 78% tim yang dipegang pelatih yang mempunyai metode di atas, keluar dari kamar ganti dengan full senyum.
Akhirnya, saya haqqul yaqin kalau ketiga hal tersbut dapat diperbaiki, Insya Allah Indonesia akan jadi Maung Asia lagi. Kalau jaman dulu aja bisa jadi 6 besar Asia, malah pernah 15 besar di Olimpiade, kenapa sekarang yang zaman udah mulai bebas, banyak institusi yang mengurus olahraga tapi malah jadi kaya lemper? Setidak-tidaknya walaupun kita sekarang hampir menjadi bangsa yang tidak mempunyai harga diri, tolong berikanlah kita kebanggaan bahwa prestasi olahraga kita masih mampu memberikan yang terbaik.
Terima kasih
THANON ARIA DEWANGGA
(Bercita-cita jadi pemain Persib Bandung tapi gagal karena tidak diperbolehkan oleh orang tuanya)



3 Comments:
Menarik sekali tulisannya, Bung Thanon
Profesioal, profesional. Cuma itu jawabannya. Kapan kita bisa memiliki ketua KONI, atau Koi, atau “Konak” atau apa pun namanya yang benar-benar orang profesional olahraga, khususnya sepak bola. Bukan orang partai, bekas jendral, temannya jendral, atau atau para oprtunitis seperti Nugraha Besoes. Nih orang kan udah karatan, kenapa masih dipakai juga. Dan, dia benar-benar cuci tangan ketika dua oknum di PSSI yang lupa mendaftar dua klub Indonesia ke Liga Champions Asia.
Satu yang bikin si gue bingung nih, Bung Thanon. Kenapa justru yang dipilih sebagai Menpora orang yang enggak ngerti olahraga? Dia memang memiliki massa di KNPI. Tapi apakah nama Indonesia bisa harum berkat pemuda? Apakah ada Piala Dunia Pemuda yang bisa mengharumkan nama bangsa? Kenapa enggak memilih menteri yang tau betul olahraga, seperti Rudy Hartono. Sejarah membuktikan kalau olahraga bisa membuat suatu negara mendunia. Sebelum Piala Dunia 1998, siapa yang mengenal Kroasia. Tapi kemudian kostum bercorak catur merah putih mereka dicari-cari. Apa yang kita ketahui tentang Togo, Ghana, Pantai Gading, Angola, dan Ukraina. Sedikit sekali. Tapi kelima negara ini kini jadi pusat perhatian para wartawan sepakbola di dunia.
Bung Aang menyebut tiga perosalan utama di dunia olahraga. Saya enggak bisa tidak selain setuju. Meski sebenarnya jauh lebih banyak kendala yang harus dihadapi sebelum olahraga kita mendunia. Yang jelas, sukses itu semakin jauh. Entah siapa dan apa yagn bisa membangkitkan lagi olahraga di Tanah Air.
Karto K. Saragih
(waktu kecil juga bercita-cita jadi pemain PSMS)
ternyata cita-cita yang sekolah HI bener-bener beragam!
D' in Melbourne
Dasar budak HI..., tapi teu sagelo budak Antrop pan ? Jadi ingat wakti masih ber"kencan" ama awewe HI :D. Masih rada waras keneh HI mah. Naha nya olahraga teh teu ngagunakeun seni pernapasan atau tenaga dalam, ambeh kuat tendangan, ambeh kuat tepokan, ambeh bisa luncat gancang, pan eta salahs atu warisan kita. Coba atuh...
Post a Comment
<< Home