Now Iran?
“Amerika akan menyerang Iran!". Berita ini tiba-tiba menjadi headline utama di hampir semua stasiun2 TV dan surat kabar di negeri kangguru sehingga menggeser konflik kartun menyusul pemberian TPV ke 42 papuans oleh Pemerintah Australia. Beberapa Stasiun TV, bahkan membuat liputan khusus dengan menampilkan dialog dengan para pakar; mulai dari pakar di politik luar negeri, pakar politik Iran sampai pakar nuklir. Kenapa pakar nuklir? Karena, apa lagi alasan AS menyerang Iran kalau bukan negeri para mullah ini diyakini memiliki stasiun pembangkit nuklir yang mengembangkan senjata pemusnah massal atau yang sering disebut Weapon of Mass destruction. Padahal menurut sang pakar nuklir tingkat produksi uranium di Iran masih sangat jauh dari kemampuan untuk memproduksi bom nuklir. Tapi, mana mungkin Bush, Rumsfeld or Rice mau mendengar ulasan pakar nuklir ini. Dan, secretary of Defense, Donald Rumsfeld sudah mantap tampaknya dengan pilihan menyerang Iran.
Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejab sendiri tidak mengingkari bahwa negaranya memiliki stasiun-stasiun nuklir. Bahkan beliau mengatakan di depan Parlemen, bahwa Iran has "joined the club" negara-negara yang memiliki kapasitas mengembangkan tenaga nuklir seperti Russia and China. Tentu saja, bagi sebagian kalangan, pernyataan Presiden Iran bisa menjadi bensin penyulut bagi AS untuk menjadikan negeri Mullah ini sebagai sasaran serangan militer.
Mendengar ini semua, tiba-tiba beberapa pertanyaan menghampiri benakku. Apakah kita akan kembali melihat dan mendengar Bush menghimbau Negara-negara besar untuk membentuk another “coalition of the willing” yang siap menyerang sebuah negeri kecil yang mayoritas penduduknya masih hidup dalam kemiskinan? Apakah kita akan melihat lagi sebuah peradaban besar Islam dihancurkan? Apakah kita juga akan melihat hancurnya mesji-mesjid? Apakah kita juga akan melihat munculnya sectarian conflict antara Sunni dan Syiah seperti yang saat ini terjadi di Irak?
Aku lantas berpikir dan mencoba mencari jawaban; apakah aku pernah mendengar WMD merenggut nyawa satu orang saja di dunia ini? Pertanyaan lain yang muncul adalah kenapa Bush begitu ketakutan terhadap WMD dan begitu meyakini WMD yang dikembangkan di Irak atau Iran atau Korea Utara bakal benar-benar menghancurkan dunia dan menjadi senjata pembunuh massal yang menakutkan? Ataukah Bush sebenarnya takut akan sesuatu yang lain? bukan WMD? Apakah mungkin memori akan kedahsyatan bom atom pada perang dunia ke-2 itu yang membuat Bush dan orang-orang di gedung putih begitu ketakutan sampai-sampai mereka rela membunuh terlebih dulu manusia-manusia tak berdosa di Irak?
Bayangan ku menerawang pada apa yang terjadi pada tahun 1995. ketika itu, seluruh dunia mendengar dan melihat bagaimana Slobodan Milosevic, Rodovan Karadzjiek and Mladic membunuh dengan keji jutaan orang Muslim tak berdosa di Srebrenica, Bosnia dan wilayah lain di bekas negeri yugoslavia… dan itu terjadi tanpa Weapon of Mass Destruction. Ya, mereka bertiga membunuh hampir satu bangsa tanpa WMD. Tanpa WMD!
Hanya segumpal sel dalam kepala mereka yang terus menyerukan permusuhan yang membuat mereka menjadi pembunuh. Ya, hanya segumpal sel yang membuat mereka menjadi “the most cold blood murderer” (ehm not sure if this is the correct way to say)in the century!
Seandainya, Bush tahu itu. Tahu bahwa untuk menghancurkan manusia, tidak perlu nuklir, bom atom atau senjata apapun. Tapi apa yang ada dalam segumpal sel dalam otak manusia-lah yang bisa mendorong seseorang menjadi pembunuh, satu, seribu, sejuta bahkan seluruh isi bumi.
Lalu pikiran ku lebih jauh lagi menerawang…apakah mungkin, Bush sejatinya tidak berbeda dengan Milosevic, Karadzjiek or Mladic?
Di akhir lamunanku, aku tiba-tiba bertanya….
Where is God? Where is God when hundreds of thousands of Muslims were killed? Where is God when the Iraqi people suffered from the attack? Where is God when the highest civilization of the Islamic world were destroyed? Is that enough to let people like Slobodan Milosevic, Karadzjiek and Mladic receive all of punishment only in their life after death?
Tiba-tiba aku jadi teringat, aku belum shalat Isya…
I will question God with all of these…
Dina
"Just one of the lay people and
currently reside in Melbourne"



3 Comments:
Setuju, Bu Din
Senjata bukan pembunuh manusia. Guns don't kill people, people kill people.
Karto
kewl!! ekspresif sekali tulisannya... tapi kalo masalah mempertanyakan God existence, rujukannya tentu ALquran dan Hadist, eh tapi jadi keingetan judul sinetron di Indonesia deh... "Kiamat sudah dekat??" hmmm
Phabby
Bukannya Tuhan tidak mendengar doa kita, namun selama ini doa-doa kita memang belum layak dikabulkanNya. Kita (baca: terutama aku) memang belum bisa khusyu' sembahyang.
Din semoga doa after sholat Isya' mu dikabulkan...Amin
Yo2n
Post a Comment
<< Home