Friday, April 14, 2006

Be Aware with Our Health

Dear friends, salut sekali dengan Blog 91 barunya yang agak telat aku baca, karena aku jarang sekali buka yahoo, mulai dari proses pembuatan Blog sampai dengan tersedianya tulisan teman-teman yang asyik sekali untuk dibaca. Karena diperbolehkan menulis artikel apapun di Blog kita, aku jadi terpikir untuk berbagi rasa tentang pengalamanku menderita sakit beberapa waktu lalu.

Sebenarnya tidak pernah terbayang aku akan mendapat cobaan untuk mengalami tumor otak. Sejak tahun 2003, aku sering sekali sakit di sebelah kiri kepala. Yang amat sangat sakit terutama telinga sebelah kiri. Di Australia, provider seluler memberikan berbagai macam kemudahan kepada setiap pelanggannya. Kebetulan aku menggunakan provider Optus pada saat kuliah S-2 di Melbourne dulu. Optus memberikan kesempatan kepada setiap pelanggannya untuk menelpon sesama pelanggan Optus gratis sejak pukul 7 malam sampai dengan jam 6 pagi. Tadinya aku terpikir telinga sebelah kiri aku yang sering sakit diikuti sakit kepala itu mungkin terjadi karena terlalu sering menggunakan seluler, sehingga aku beberapa kali pergi ke dokter THT pada saat aku berlibur ke Jakarta dan juga di Melbourne. Akan tetapi, walaupun diperiksa dengan sangat detil, dokter-dokter THT tersebut selalu menyatakan telinga aku baik-baik saja. Dokter-dokter THT tersebut mostly hanya memberikan pain killer saja.

Tahun 2005, sakit kepala sebelah kiri aku semakin sering terasa. Sampai-sampai aku setiap hari menkonsumsi obat sakit kepala. Bulan April 2005, karena kesibukan aku di kantor yang sedang mempersiapkan International Conference on Promoting Financial Accountability in Managing Funds Related to Tsunami, Conflict, and Other Disasters, membuat sakit kepala aku semakin parah. Aku bahkan pernah pingsan beberapa hari menjelang Konferensi Internasional itu dilaksanakan. Aku hanya terpikir untuk istirahat karena asumsi aku, badan aku terlalu capek dengan pekerjaan tersebut.

Bulan Juli 2005, sakit di sekitar telinga kiri aku pun semakin parah. Aku sempatkan diri ke dokter THT di Rumah Sakit THT Proklamasi, Jakarta yang lagi-lagi menyatakan kalau telinga aku baik-baik saja. Lalu terpikir juga kalau mungkin gigiku sebelah kiri ada yang berlubang sehingga aku sakit kepala setiap hari. Dokter gigi meminta aku operasi gigi karena ada satu gigi yang sudah kena saraf di sebelah kiri. Setelah selesai dioperasi, sakit kepala sebelah kiri tidak juga sembuh. Barulah terpikir bahwa yang salah mungkin ada disekitar kepala kiri aku sendiri.

Aku menyempatkan diri ke dokter saraf di MMC, Kuningan. Dokter saraf tersebut men-cek gerakan kaki dan tanganku yang masih bisa beraktifitas sangat baik sehingga dokter tersebut tidak terpikir untuk melakukan CT Scan. Sebenarnya, jika ada masalah dengan otak kita, kecenderungannya, reaksi tangan dan kaki akan terganggu. Karenanya, dokter saraf tersebut hanya memberikan obat untuk mengatasi sakit kepala saja. Obat yang diberikan 5 hari dari dokter saraf tersebut tidak juga menghilangkan sakit kepala sebelah kiri aku. Bahkan nafsu makan dan aktifitas kerja aku juga terganggu karena sakit kepala yang semakin menjadi. Aku kembali datang ke dokter saraf dan memintanya untuk melakukan CT Scan. Dokter tersebut kemudian membuat surat pengantar untuk test EEG dan CT Scan.

Hasil EEG dan CT Scan dengan amat jelas menunjukkan ada tumor otak di self desk yang letaknya berada di atas kiri otak kepala aku. Besar tumor otak tersebut adalah 6x4x4, sehingga bahkan membuat arah otak aku terdorong ke arah sebelah kanan sehingga menimbulkan sakit kepala yang berkepanjangan. Dokter menyarankan aku untuk operasi dan menyarankan aku untuk tidak melakukan pengobatan alternatif. Sempat kaget sekali dengan permintaan dokter tersebut, tapi aku sudah tidak sanggup untuk menahan sakit kepala. Bahkan pekerjaan aku pun terbengkalai. Setelah membicarakan dengan keluarga dan mencari informasi dari internet, aku memutuskan untuk dioperasi secepatnya. Dari informasi internet, aku mendapatkan informasi bahwa tumor otak pada dasarnya bersifat tidak ganas, kecenderungannya tumor otak menyerang 70% perempuan dibanding laki-laki.

Dokter saraf menyarankan aku untuk datang ke dokter ahli bedah saraf. Pertama kali berdiskusi dengan dokter ahli bedah saraf, aku baru mengetahui bahwa tumor tersebut berkembang sangat lambat pada manusia, very slow growth. Jika dilihat dari besarnya tumor otakku, dokter tersebut berasumsi bahwa tumor yang ada di kepalaku berkembang sekitar 5 sampai dengan 6 tahun. Dokter ahli bedah saraf tersebut meminta aku untuk test MRI untuk melihat dari arah mana ”makanan” tumor otak (sel darah yang menyebabkan berkembangnya tumor otak) tersebut datang. Fungsi ini diperlukan untuk mematikan sel darah tersebut pada saat operasi untuk mematikan tumbuhnya tumor otak baru. Dokter menjanjikan bahwa operasi tumor otak tersebut akan memakan waktu 5 jam. Akan tetapi, operasi tumor otak aku memakan waktu 10 jam karena bermasalah dengan sel darah yang memberikan makanan untuk tumor otak tersebut. Rupanya, sel darah tersebut letaknya sangat dekat dengan telinga kiri aku. Jadi, no wonder, aku sering sakit di telinga kiri sebelum operasi.

Alhamdulillah, operasi tumor otak aku sangat baik. Tidak juga diperlukan kemoterapi atau penyinaran. Akan tetapi, sesudah operasi kondisi badanku sangat drop karena lekosit darahku rendah sekali dan menyebabkan aku sakit panas karena virus selama dua minggu sehingga kembali harus dirawat di rumah sakit. Namun dengan istirahat yang cukup dan doa dari keluarga dan teman-teman, aku sangat cepat untuk kembali beraktifitas dan bekerja seperti biasa.

Sebagai informasi untuk teman-teman, karena kesibukan teman-teman di kantor dan di rumah, sebaiknya berhati-hati dengan sakit kepala yang berkepanjangan. Indikasi Tumor Otak yang aku dapatkan dari informasi dokter dan internet yaitu:
• Sakit kepala sampai dengan stroke
• Hilangnya gerakan atau sensitifitas pada lengan tangan atau kaki
• Hilangnya keseimbangan apabila dikaitkan dengan sakit kepala
• Hilangnya pandangan pada satu atau dua mata
• Hilangnya nafsu makan
• Hilangnya konsentrasi
• Kesulitan berbicara

Jika sampai mengalami hal-hal tersebut diatas, lebih baik untuk berkonsultasi dengan dokter. Pada saat aku sakit, baru terpikir olehku bahwa manusia adalah makhluk kecil ciptaan Allah yang bisa sangat tidak berdaya dengan cobaan penyakit. Ayo kita bersama-sama menyadari betapa berharganya kesehatan kita dan menjaganya baikbaik. Be aware with our health...

Leni Dwihastuti, sekarang bekerja di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)

5 Comments:

At 1:01 AM, Blogger Alumni HI Unpad 91 said...

Nel, senang denger sudah baik lagi. Sehat selalu for all of us!

pjv

 
At 10:07 AM, Anonymous Anonymous said...

Baru beberapa hari ini gue denger kabar tentang elo sejak lulus dari 78. Beberapa tahun lalu sempat ketemu Damayanti dan Noni tapi dia gak tau juga kabar elo. Trus kebetulan reunian kemarin gue gak bisa dateng. Gue baru denger loe sempat operasi tumor otak dan mengalami musibah lain baru-baru ini. Pas gue mau kontak ternyata gue telat seminggu dan elo dah berangkat untuk second master ke Australia. Mungkin lain kali kita bisa kontak, by email or other ways.

Good luck and best wishes for you always.

adh

 
At 12:12 PM, Blogger icejlek said...

ka' aq ikut sneng ats ksmbuhan kk
aq maba d hi unpad
kapan2 boleh tanya2 ttg hi unpad g ka'?
maklum aq blom banyak tau

 
At 11:13 AM, Anonymous Anonymous said...

Mbak.. tertarik dengan cerita dokter saraf-nya.. Boleh tahu nama dokter yang menanganinya mbak? di MMC Kuningan ya? Kayaknya aku butuh juga untuk ibuku.
Thanks ya..

 
At 2:51 AM, Blogger Alumni HI Unpad 91 said...

untuk anonymous yang bertanya soal dokter MMC, ini jawaban Leni. Tapi dia tidak bisa memberi nomor telpon dokternya di tempat umum seperti blog ini. Silahkan email leni di: dwihastuti@yahoo.com

Ini jawabannya Leni:

Sebaiknya ke Ahli Saraf (neurologist) dulu di MMC. Aku masih rutin kesana untuk cek up sampai sekarang. Namanya: Dr. Kamalia Djani.

Seandainya setelah di scan perlu dioperasi..Dr. Kamalia pasti recommend: Dr. Daryo sebagai Ahli Bedah Saraf-nya. Dr. Daryo memberi pilihan kepada pasien..mau dioperasi di MMC or RSCM. Karena beliau juga menjadi Dokter Ahli Bedah Saraf di RSCM. Waktu itu aku pilih dioperasi di RSCM karena Dr. Daryo menginformasikan bahwa perlengkapan operasi lebih lengkap di RSCM.

Aku punya dua nomor telpon kedua dokter tersebut lips. Tapi aku gak tau..ini boleh disampaikan ke publik atau gak...

 

Post a Comment

<< Home