Friday, May 26, 2006

Dili

It was so annoying listening to my fellow Indonesian friends' comments on what is happening in Timor Leste. So, i end up writing this crap kind of paper.

***
The worst violence in the history of the nascent country of the Democratic Republic of Timor Leste erupted following the dismissal of an almost 600 members of defense force by the Timor Leste’s government in February 2006. The country is supposed to celebrate its four years of independence on May 20 in a much joyful environment. However, the people who have been only very recently enjoyed the fruit of their 24 years of struggle from the Indonesian military occupation in 1975 have to witness another potential episode of civil war, damaging the silent peace that they have only enjoyed since 2002. The government action to dismiss the deserters sparked by the rejection of an almost 600 soldiers to return to their barracks after protesting the government for what they called as discrimination based on the soldiers’ regional origin. These soldiers who come from the western part of the island accuse government of being favorable to those who come from the eastern part of this poorest country rather than to those from the west.

Series of demonstration by the sacked soldiers which began last month have been allegedly used by other political elements such as those who have been dissatisfied with Mr. Mari Alkatiri’s leadership either as the country’s Prime Minister or as the leader of Fretilin, the country’s ruling party. Many accused that Prime Minister Mari Alkatiri has been out of touch with ordinary Timorese.

Given all these political development, on April 28, the silent demonstration turned to be a violent mob when the government soldiers opened up fires against the mob, triggering a larger riot with the angry mobs attacking government buildings and burning cars. Government reports mentioned that the clash between the government defense force and the deserters finally ends up with at least 5 people dead while other 70 people are injured. However, other respected sources in Dili mentioned that the number of the death toll could reach far than that.

The situation following the last April riot has been continuously deteriorated. Fear that the situation will become worse, hundreds of people in the capital flee and escape to the districts or nearby villages, some were even having to refuge to mountains. As many as 14,000 people become internally displaced. The unrest has also caused further difficulty to the whole community as basic needs prices jump high, turn things to worst.

Given the escalation of the conflict, on May 24 the Timor Leste’s government through its Foreign Minister, Jose Ramos Horta called for foreign countries and international bodies intervention to send their troops to provide their assistance in restoring peace and order to the strife-torn country. Among the countries are Australia, New Zealand and Malaysia.

For Australia, who had played an important role during the referendum and helped prepare the country’s independence from the period of 1999 to 2002, the call is a somewhat that the Australian government has been waiting for. Avoiding the accusation of interfering this newest country’s domestic affairs, Prime Minister John Howard assures Australia will only step in while there has been already an official demand from Timor’s government either through the United Nations or directly to Australia. In a much similar vein, Alexander Downer guarantees that Australia’s presence in Timor will only to restore law and order without taking sides to either one of the warring parties. The first contingent of an estimated 1300 Australian troops began pouring into the capital, securing the Dili’s airport and the city.

Meanwhile, the United Nation through its Secretary-General Kofi Annan has recommended the establishment of a new UN Political presence following the expiry of UNOTIL’s mandate (United Nation Office in Timor Leste) on May 20. The new UN presence in Timor Leste will not only to assist the government to deal with the current situation but will include assistance for the next election, providing police training advisers, military liaison officers and civilian advisers in critical areas.

The Age Australia reported today that the Malaysian airborne troops have also been landed on the morning of May 26. While 40 New Zealand troops and support staffs are expected to leave Christchurch and joining the Australian and Malaysian troops very soon.

Where is Indonesia’s position in this? It is not really hard actually to understand why Timor Leste’s government did not ask its very close neighbor, Indonesia for an assistance in helping them restoring peace and order in the country. Unlike Australia, who does not want to see the newest country in the world fall into another fail state, Indonesia may have seen the situation in its former colony, if one would like to say that, differently. The legacy of losing one of its province, East Timor, still haunt many Indonesians not only the nationalists or the army but also for many other Indonesians. It may not be difficult nowadays to hear Indonesians saying “if only the East Timorese were not so hardheaded wanting to be an independence state, they may not be in such difficult situation like this”.

However as a democratic country, Indonesia must see Timor Leste as a new sovereign state equal to other country in the world. If the situation is getting worse in Timor Leste, it is not impossible to find the Timorese seeking asylum or refuge to Indonesia. And under the 1951 Geneva Refugee Convention, Indonesian government should provide protection to the refugees. Whatever it takes, the Indonesian government, the army and the people in general have to understand how pleased the East Timorese with their independence and therefore we should be willing to help as a big brother. Nowadays, the East Timorese are in their first stage of developing its own democracy, economy and politics. And as a good neighbor, Indonesia, be it the government or the people should give their wholehearted supports for the people and the government in Timor Leste to develop the country and help them get out from the current catastrophe.

Dina Afrianty

Friday, May 12, 2006

Mengatasi Krisis dengan Piala Dunia

Sepak bola bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Budaya, politik, ekonomi, globalisasi, agama, sekterian, dan bahkan teroris. Opininya pasti berbeda, tapi semuanya memperkaya sepak bola sebagai olahraga paling manusiawi. Disebut manusiawi karena di sepak bola hampir semua karakter manusia terlihat. Ada kerjasam, intrik, kekuasaan, rasis, nasionalis, kekerasan, kemenangan, adidaya, dan banyak lagi.
Jumlah pertandingan sepak bola yang dimainkan di seluruh dunia per minggu mengalahkan olahraga permainan mana pun di dunia. Franklin Foer, penulis buku An Unlikely Theory of Globalization: How Soccer Explains the World, menghabiskan waktu hampir setahun keliling dunia untuk meneliti pengaruh sepakbola terhadap tatanan dunia. Kesimpulan Foer: sepak bola adalah ikon globalisasi.
Tapi Foer hanya menyinggung sedikit sekali tentang hubungan sepak bola dengan ekonomi. Terutama kontribusi keuangan kepada negara, seperti pajak dan pendapat domestik. Peran besar ekonomi sepak bola dimulai sejak era 90-an. Ketika itu perang dingin usai dan dunia mulai lepas dari cengekeraman ketakutan. Dunia berubah, wajah sepak bola juga berubah. Entah kapan persisinya sepak bola sebagai alat politik dan penguasa, tapi berangsur-angsur berakhir setelah selama lebih 70 tahun.
Final Piala Funia 1998 antara Brasil dan Perancis ditonton langsung lewat TV sebanyak 2 miliar orang. Dan, angka kumulatif penonton Piala Dunia yang mencapai 36 miliar tentu jadi surga buat sponsorship. Di Piala Dunia 1982, nilai sponsor masih dibawah angka 2 miliar dollar, tapi 10 tahun kemudian sudah jadi 16 miliar dollar lebih.
Olahraga adalah investasi terbesar sebuah sponsorship dunia, termasuk sepak bola. Investasi sponsor olahraga mencapai 65 % pasar Amrik (tuan rumah Piala Dunia 1994), 63 % pasar Jerman (Piala Dunia 2006), dan 80 % pasar Afrika Selatan (Piala Dunia 2010).

Piala Dunia Ekonomi
AS bukan negara sepak bola. Satu-satunya negara non sepak bola yang jadi tuan rumah tahun 1994. Pertimbangannya jelas ekonomi. Amrik menyediakan 8 tempat dan stadion. Salah satunya Los Angeles yang hingar bingar. Kota metropolitan LA meraup untung 623 juta dollar dalam sebulan. LA jadi tuan rumah 8 pertandingan, termasuk semifinal dan final dimana yang bermain adalah Brasil. Bandingkan dengan keuntungan saat pertandingan Super Bowl tahun sebelumnya yang cuma meraih 182 juta dollar.
Keuntungan didapat dari belanja langsung dan enggak langsung. Belanja langsung, contohnya, mereka yang makan di restoran atau belanja pakaian di toko. Sedangkan belanja tidak langsung adalah restoran atau toko yang membayar pegawai dan membeli minuman dan pakain untuk dijual. Itu baru LA. Belum lagi. Pasadena, New York/New Jersey, dan kota-kota lainnya. Kesimpulannya, Amrik meraih keuntungan ekonomi yang luar biasa.
Piala Dunia 2002 diadain di dua negara dan di benua Asia. Bukan keputusan mudah buat FIFA mengadakan di Asia, apalagi di dua negara. Kawasan Amerika Latin dan tengfah “protes” karena setelah Perancis 1998 harusnya giliran mereka. Tapi kekuatan uang berbicara. Jepang dan Korea menyanggupi tuntutan FIFA untuk membangun fasilitas olahraga, enggak cuma stadion untuk Piala Dunia 2002. Biasanya tuan rumah cuma menyediakan delapan stadion, tapi Korea dan Jepang diharuskan membangun dan menyempurnakan masing-masing 10 stadion.
Investasi untuk Piala Dunia 2002 bernilai 4,7 miliar dollar. Faktor keamanan jadi pertimbangan tersendiri karena turnamen digelar beberapa bulan setelah peristiwa 9/11. Kalau saja yang jadi tuan rumah bukan Korea atau Jepang, mereka pasti menarik diri. FIFA cuma membantu sebesar 110 juta dollar, plus hasil penjualan tiket diserahkan ke tuan rumah. Sisanya harus dikeluarkan oleh Jepang dan Korea sendiri. Padahal Jepang waktu itu sedang resesi dan Korea baru aja lepas dari krisis ekonomi seperti kebanyakan negara Asia Tenggara.
Apa keuntungan yang didapat? Dengan Piala Dunia 2002, ekonomi Korea terangsang senilai 6,9 miliar dollar, dan terbukanya lapangan kerja sebanyak 350 ribu (International Herald Tribune). Jepang lebih besar lagi, rangsangan ekonomi sebesar 23,8 miliar dollar.
Hampir semua negara maju ikut di Piala Dunia 2002. Tujuh dari 8 negara kaya kelompok G7, kecuali Kanada, hadir di putaran final. Total GDP negara yang bermain di Piala Dunia mencapai 84 % dari GDP dunia. Berdasarkan penelitian di Inggris, sejak tahun 1966, negara yang berhasil juara Piala Dunia akan meningkatan indeks globalnya sebesar 9 persen di tahun itu.

Piala Dunia 2006
Gimana dengan Piala Dunia 2006?
Jerman kini menghadapi masalah ekonomi yang cukup mengkuatirkan untuk negara maju. Tingginya angka pengangguran dan rendahnya pertumbuhan ekonomi jadi penyebab utama. Piala Dunia diharapkan jadi titik balik. Jerman berharap para turis Piala Dunia mengeluarkan 12 miliar dollar dan membuka 50 ribu lapangan kerja baru. Piala Dunia diyakini akan mengakhiri masa stagnasi ekonomi Jerman selama 4 tahun.
Salah satu stadion yang dipakai adalah stadion di kota Hamburg. Stadion ini tadinya bernama Hamburg’s Volkspark, tapi kemudian pindah tangan ke AOL Arena. AOL (America On Line) adalah perusahaan penyedia layanan online dan internet provider milik Amrik yang berbasis di Virginia. AOL mengeluarkan dana 15 juta dollar untuk merenovasi AOL Arena. Lucunya, AOL berinvestasi untuk olahraga lebih banyak di luar negeri dibandingkan di dalam negerinya sendiri.
Piala Dunia diharapkan bisa memacu pertumbuhan ekonomi Jerman sampai 0,5 %. Efek Piala Dunia terhadap ekonomi Jerman tetap berlangsung sampai tahun 2007. Perhitungan pendapatan pajak tahun berjalan akan dihitung pada tahun berikutnya.
Dalam polling yang dilakukan sebuah situs di Jerman, cuma 10 % dari nara sumber yang yakin tim nasional Jerman bisa juara di Piala Dunia 2006. Mereka enggak yakin nationschaaft sehebat empat tahun lalu saat jadi finalis Piala Dunia 2002. Enggak terlalu masalah Jerman juara atau tidak. Jerman sudah “juara” ketika memenangkan pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2006.
Lalu, kapan kita bisa jadi tuan rumah Piala Dunia? Apakah kita harus menunggu jadi tuan rumah dulu untuk kemudian jadi negara maju, atau jadi negara maju lebih dulu?
Sulit menjawabnya, tapi hitungan di atas kertasnya kira-kira begini. Tuan rumah tahun 2010 adalah Afrika Selatan. Tahun 2014 kemungkinan besar milik benua Amerika, khususnya Brasil. Tahun 2018 kemungkinan Eropa ngotot jadi tuan rumah. Jadi, Asia baru dapat jatah lagi tahun 2022 atau 2026 atau sekitar 20 tahun dari sekarang. Kalau kita bisa mengalahkan kekuatan ekonomi dan uang dari Cina, Malaysia, Singapura, dan Thailand, kita bisa jadi tuan rumah.
Mungkinkah?

Karto K. Saragih
Dear Wife, Partner, Girlfriend,
“From 9 June to 9 July 2006, you should read the sports section of
the newspaper so that you are aware of what is going on regarding the
World Cup, and that way you will be able to join in the conversations.
If you fail to do this, then you will be looked at in a bad way, or you
will be totally ignored. DO NOT complain about not receiving any
attention”

Wednesday, May 03, 2006

Pram, Nobel, dan Lemahnya "PR" Kita

Diambil dari Kompas, Rabu, 03 Mei 2006
------------

Pram, Nobel, dan Lemahnya "PR" Kita

Nina Mussolini-Hansson

Kepergian sastrawan Pramoedya Ananta Toer jelas sebuah kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. Sebagai WNI yang menetap di Swedia, hati saya berbuih, terguncang bangga dan berharap setiap kali nama Pramoedya disebut-sebut sebagai calon penerima Nobel Sastra.

Siapa yang tak bangga bila Indonesia, yang oleh sebagian besar warga Swedia dan dunia masih dianggap sebagai negara antah berantah, negara terbelakang dan miskin, sarang teroris, dan sarang korupsi, ternyata mampu menghasilkan seorang sastrawan kelas dunia calon penerima Nobel Sastra. Sayang, sampai sastrawan besar itu meninggal dunia, ia tetap dalam posisi calon penerima Nobel.

Bukan hanya Pram, bahkan seorang penulis Swedia terkenal, Astrid Lindgren, juga tak pernah menerima hadiah Nobel di tanah airnya sendiri. Padahal, sudah banyak buku dan film anak-anak karya Astrid yang diterjemahkan ke berbagai bahasa, di antaranya Pippi si Kaus Kaki Panjang yang diterbikan oleh PT Gramedia.

Lemahnya penghargaan kita

Lain Pramoedya, lain Astrid. Membandingkan karya keduanya juga tak pas karena Pram menghasilkan karya sastra berlatar belakang politik, sedangkan Astrid menghasilkan buku anak-anak. Hanya dalam hal penghargaan, jelas rakyat dan Pemerintah Swedia sangat bangga dengan karya- karya Astrid yang mendunia. Sejak ia masih hidup, rakyat Swedia berpendapat bahwa Astrid layak menerima hadiah Nobel karena karyanya berhasil membius, menghibur, dan mendidik anak- anak di dunia. Tapi, rupanya dewan juri hadiah Nobel punya kriteria lain dan rakyat Swedia pun kecewa.

Bagaimana dengan Pram? Dukungan rakyat dan Pemerintah Indonesia terhadapnya amat minim. Kenangan tentang Pram bagi sebagian besar generasi muda bisa jadi hanya sebatas identitasnya sebagai bekas anggota sebuah organisasi seniman yang berafiliasi ke partai komunis (Lekra). Ini juga menandakan kegagalan pelajaran sastra dan sejarah di sekolah-sekolah yang telah terkooptasi oleh fantasi dan ketakutan-ketakutan akan bangkitnya komunisme sejak zaman Orba.

Rezim boleh berganti, tapi tidak berarti pemerintah yang baru langsung mendukung Pram. Sebagai generasi muda yang mendambakan perubahan dalam bernegara, jelas saya amat kecewa dengan hal ini. Betul, kini karya- karya Pram bisa dinikmati dengan bebas di Indonesia, tapi apa artinya kalau tak ada sikap dan dukungan resmi dari pemerintah terhadap karya-karyanya.

Kadang saya melihat adanya ambivalensi pemimpin-pemimpin kita. Ketika meresmikan pameran hasil kerajinan rakyat, misalnya, sering kali mereka dengan fasih berpidato bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai karya bangsanya. Sayang, hal itu hanya retorika politik dan terbatas pada kegiatan ekonomi yang mendukung pemasukan negara.

Sebuah negara dan rakyatnya tak cuma butuh kehidupan ekonomi, tapi juga kehidupan bersastra, karena sastra mampu menghaluskan perasaan dari kecenderungan menjadi buas yang ada dalam diri manusia (homo homini lupus). Sastra mampu menghidupkan empati karena dengan karya sastra kita bisa berefleksi. Untuk itulah kita perlu sastrawan-sastrawan yang mampu memberi oase dan nasionalisme kepada rakyat, di tengah gelombang materialisme dan globalisasi.

Tahun 2003, nama Pram sebagai calon penerima Nobel sangat kencang berembus di Swedia. Pada tahun itu, Pram mengunjungi pameran buku di kota Gotenburg atas undangan pihak Swedia. Sebagai mantan wartawan, saya menyayangkan dan hanya dapat berandai-andai. Seharusnya Pemerintah Indonesia via KBRI di Swedia mampu menggunakan kesempatan itu untuk mengorbitkan nama Pram lebih tinggi lagi. Itu kalau Pram dianggap sebagai aset bangsa. Misalnya, dengan mengundang beliau ke KBRI, membuat jumpa pers tentang kedatangannya, atau menjadi tuan rumah yang menjembatani pertemuan Pram dengan kalangan pers Swedia. Pers bagaimanapun punya kekuatan sebagai alat promosi dan mudah- mudahan bisa memengaruhi dewan juri hadiah Nobel.

Sebuah ironi jika tamu-tamu dari DPR, misalnya, dilayani bak raja hanya dengan menggunakan kedok studi banding. Di sisi lain, seorang sastrawan besar macam Pram diacuhkan begitu saja. Rekonsiliasi bangsa tidak akan berjalan jika barrier dan keterikatan dengan masa lalu itu tak juga dibenahi.

Diplomasi buku

Bukan rahasia bahwa kelemahan bangsa Indonesia ada di bidang pemasaran (marketing) dan PR (public relation). Padahal, apa sih, yang tidak kita punya?

Bagi saya, tidak ada yang tidak mungkin, semua terletak pada niat baik dan kekompakan kita sebagai bangsa. Sebagai bangsa kita memang kurang kreatif menggunakan sumber-sumber potensial yang ada. Salah satu sumber itu adalah Pramoedya Ananta Toer.

Bayangkanlah, kalau saja Pram mendapat hadiah Nobel sastra, berapa besar liputan dan efek PR yang dihasilkan untuk Indonesia? Nama Pram dan Indonesia bukan saja diulas dalam media internasional, tapi juga akan selalu disebut di sekolah-sekolah di seluruh dunia, terutama dalam pelajaran sastra dan bahasa. Efeknya pasti dahsyat dan abadi.

Efek inilah yang menurut pengamatan saya sama sekali tidak disadari oleh kita, bangsa Indonesia. Kita terlalu asyik bertengkar satu sama lain untuk memperebutkan kursi dan rezeki sehingga lupa menggali potensi diri. Andai saja kita pintar, sesungguhnya buku dan karya sastra bisa dijadikan alat PR dan diplomasi.

Sayang sekali, seorang Pram lebih dihargai di negara lain daripada di Tanah Airnya sendiri. Tetangga terdekat kita saja, Filipina, sudah lebih dulu menghargainya dengan penghargaan Magsaysay (2003). Seharusnya kita malu. Mari bertanya, ada apa dengan kita? Apa yang sakit dari bangsa ini? Kalau kita bisa berekonsiliasi dengan koruptor dan mengundangnya ke istana, kenapa seorang Pram tidak pernah diberikan kesempatan untuk itu sekalipun?

Padahal jelas, Pram tidak pernah "menjual" bangsa dan sumber alam Indonesia untuk kantong pribadi dan kroninya serta menenggelamkan Indonesia ke dalam utang luar negeri yang harus dibayar oleh anak cucu kita kelak. Siapa yang lebih jahat sesungguhnya?

Selamat jalan Pram, semoga kau temukan keadilan lain di sana.

Nina Mussolini-Hansson Ibu Rumah Tangga dan Mantan Wartawan, Tinggal di Swedia

Monday, May 01, 2006

Adakah Politik Luar Negeri Indonesia?

Tulisan ini dimuat di Kompas 19 September 2005. Dikirim untuk blog ini oleh Ari Margiono (HI 95), pernah menjadi ketua himpunan.
----------------


Adakah Politik Luar Negeri Indonesia?
Oleh: Ari Margiono

Refleksi atas arah politik dan kebijakan luar negeri Indonesia yang dilakukan saat Indonesia menghirup udara kemerdekaan yang ke-60 menyadarkan banyak pihak bahwa politik dan kebijakan luar negeri Indonesia sering kali dipandang dan dilakukan secara tidak konsisten (Kompas, 11 Agustus 2005). Muncul banyak usulan untuk mulai berpihak (Kompas, 29/8). Ada pertanyaan yang muncul: apakah permasalahan sesungguhnya ada di tingkat implementasi atau di tingkat konseptual? Tulisan ini mempertanyakan apakah Indonesia sesungguhnya memiliki politik luar negeri.

Terminologi

Tampaknya ada yang perlu diluruskan atas pemahaman yang lazim terhadap makna terminologi politik luar negeri dan kebijakan luar negeri. Walaupun terminologi politik luar negeri sering ditukar penggunaannya dengan kebijakan luar negeri, sesungguhnya secara analitik ada perbedaan di antara keduanya. Perbedaan ini menjadi kunci pemahaman duduk permasalahan pertanyaan di atas.

Di dalam literatur hubungan internasional, perbedaan istilah ini memang tidak dikenal (Walter Carlness, 1999). Yang dikenal adalah terminologi foreign policy (kebijakan luar negeri), bukan foreign politics (politik luar negeri). Namun, konvensi penggunaan istilah-istilah ini di Indonesia dapat dipahami sebagai berikut.

Politik luar negeri cenderung dimaknai sebagai sebuah identitas yang menjadi karakteristik pembeda negara Indonesia dengan negara-negara lain di dunia. Politik luar negeri adalah sebuah posisi pembeda. Politik luar negeri adalah paradigma besar yang dianut sebuah negara tentang cara pandang negara tersebut terhadap dunia. Politik luar negeri adalah wawasan internasional. Oleh karena itu, politik luar negeri cenderung bersifat tetap.
Sementara kebijakan luar negeri adalah strategi implementasi yang diterapkan dengan variasi yang bergantung pada pendekatan, gaya, dan keinginan pemerintahan terpilih. Dalam wilayah ini pilihan-pilihan diambil dengan mempertimbangkan berbagai keterbatasan (finansial dan sumber daya) yang dimiliki. Kebijakan luar negeri, dengan demikian, akan bergantung pada politik luar negeri.

Namun, temuan para pengusung studi identitas di dalam studi hubungan internasional (Josef Lapid, 1989, Alexander Wendt, 1999), yang berpandangan bahwa identitas sebuah bangsa tak dibangun di ruang hampa (vacuum), tetapi pada dasarnya merupakan hasil interaksi negara yang bersangkutan dengan lingkungan internal dan eksternalnya, mengingatkan kepada kita bahwa politik luar negeri sesungguhnya bukan sesuatu yang sakral dan abadi sepanjang zaman. Jadi, meskipun ia bersifat relatif tetap, layaknya lilin, ia dapat berubah-ubah bentuk.

Krisis politik luar negeri

Satu permasalahan yang cukup pelik dihadapi Indonesia kini adalah krisis politik luar negeri. Harus diakui dengan jujur, saat ini kita hanya memiliki kumpulan kebijakan luar negeri tanpa ada satu politik luar negeri sebagai benang merah yang berarti.
Masalahnya, politik luar negeri Indonesia bebas aktif dibangun pada konteks internasional dan domestik yang kental dengan pertentangan ideologis antara liberalisme dan komunisme. Politik bebas aktif pada konteks itu dapat dimaknai sebagai sebuah retorika penolakan atas keberpihakan dan sekaligus sebagai posisi pembeda yang jelas di dunia internasional yang memiliki karakteristik bipolar pada saat itu.

Namun, ketika kini dunia internasional mengalami perubahan secara drastis, relevansi kontekstual dari politik luar negeri bebas aktif dipertanyakan. Berbagai keluhan atas tidak jelasnya arah dan konsistensi kebijakan luar negeri Indonesia sesungguhnya dilandasi oleh belum adanya politik luar negeri yang tepat dalam situasi internasional yang sudah berubah secara ekstrem ini. Kebijakan luar negeri yang dihasilkan pun menjadi tumpang tindih jika tidak bersifat sektoral.
Suka atau tidak, yang kita miliki saat ini semata-mata hanya sebuah retorika: bebas memilih apa pun dan aktif berpartisipasi dalam perdamaian dunia. Berbagai justifikasi dapat dibangun di seputar kalimat ini, tetapi retorika ini sulit untuk dapat memiliki status sebagai posisi pembeda di dunia yang kini sama sekali berbeda. Setiap negara dapat bebas memilih apa yang diinginkannya sepanjang yang bersangkutan memiliki kekuatan militer relatif yang memadai (Waltz, 1979).

Politik raison detate

Konteks historis diusungnya politik luar negeri bebas aktif sesungguhnya menunjukkan bahwa bebas aktif adalah sebuah positioning yang negatif. Artinya, posisi tersebut muncul sebagai sebuah reaksi, bukan aksi. Sebagai sebuah reaksi, politik luar negeri bebas aktif akan bergantung pada konteks internasional yang tertentu pula. Berubahnya konteks internasional tentunya dapat mengubah relevansi reaksi tersebut.

Sebuah negara yang modern seharusnya memiliki ambisi dan memiliki posisi yang jauh lebih positif daripada sekadar sikap yang reaksioner seperti yang dijelaskan di atas. Negara modern seharusnya tidak pasif dibentuk oleh konteks internasional, tetapi ikut secara aktif membentuk konteks tersebut.

Politik luar negeri Indonesia, oleh karena itu, seharusnya menjadi bagian dari politik nasional. Ia harus menjadi bagian dari raison d’etat. Politik luar negeri Indonesia seharusnya merupakan cermin dari cita-cita bangsa yang tercantum di dalam pembukaan Undang-Undang Dasar yang memprioritaskan kemajuan kesejahteraan umum, pencerdasan kehidupan bangsa, dan partisipasi aktif dalam menciptakan perdamaian dunia.

Dengan demikian, tampaknya perlu ada redefinisi yang jauh lebih mendalam tentang politik luar negeri Indonesia. Ia tidak bisa hanya sebatas bebas dan aktif. Politik luar negeri Indonesia harus lebih akurat dan tajam. Ia harus tanggap terhadap perubahan makrostruktur sistem internasional.

Ari Margiono Pengajar Luar Biasa Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran

Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer, yang akrab dipanggil Pram, berpulang kemarin. Di tahun 1960-an, sebagai tokoh utama Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang sangat dekat dengan PKI, dia sangat ‘galak’. Pram keras berpendirian bahwa seni bukanlah hanya untuk seni. Bagi Pram yang revolusioner, seni harus mencerminkan realitas sosial dan harus bisa digunakan sebagai mesin penggerak perubahan sosial. Karena itu, banyak orang menyebut bahwa karya-karya Pram berciri realisme sosial.

Pram berseteru hebat dengan pegiat kebudayaan yang kerap disebut sebagai kelompok Manikebu, Manifes Kebudayaan. Pegiat Manikebu menolak determinasi seniman-seniman kiri, yang relatif berkuasa saat itu, untuk menjadikan seni dan kebudayaan sebagai alat revolusi. Di seberang Pram, berdirilah para budayawan aktifis Manikebu yang dimotori antara lain oleh Wiratmo Soekito. Di dalam kelompok Manikebu, ada juga Goenawan Mohammad (GM) yang kala itu masih muda usia.

Kisah perseteruan Manikebu dan Lekra saya temukan tidak sengaja di suatu hari di tahun 1993, saat masih kuliah di Bandung. Sebagaimana banyak mahasiswa lain di masa itu, saya sering pergi ke pasar loak Cikapundung, dekat alun-alun kota Bandung. Cikapundung terkenal sebagai tempat jual beli majalah-majalah bekas edisi lama.

Di sana bisa kita temukan juga edisi-edisi lama majalah Prisma yang merupakan arena pergulatan pemikiran para intelektual dan tokoh pemikir besar kita. Di majalah Prisma yang terbit rutin di tahun 1970-an dan 1980-an kita bisa baca tulisan-tulisan dari Abdurrahman Wahid, Amien Rais, Mochtar Pabottingi, Dawam Rahardjo, Nurcholis Madjid dan banyak tokoh lain saat mereka berusia sekitar akhir 20-an atau pertengahan 30-an.

Tulisan panjang mengenai polemik Manikebu itu saya temukan di dalam rubrik Selingan majalah Tempo edisi lama, yang saya beli di Cikapundung. Bagi seorang mahasiswa seperti saya, yang lahir dan dibesarkan di masa Orde Baru, membaca polemik Manikebu sangat memberi inspirasi dan membuka mata betapa keringnya rezim Orde Baru yang mengharamkan pertarungan ide-ide. Sebaliknya, dari tulisan itu kita juga bisa belajar betapa menakutkannya jika kekuatan politik dominan memaksakan ide-nya, seperti Lekra menghantam Manikebu. Tapi, itulah sejarah, yang harus ditulis dengan jujur.

Lepas dari pilihan politiknya di tahun 1960-an dulu, Pram tetaplah sastrawan besar. Saya menyukai karya-karya Pram, seperti saya juga menyukai tulisan-tulisan GM di rubrik Catatan Pinggir majalah Tempo. Cara Pram bertutur dalam Tetralogi Pulau Buru amat indah dan menggugah semangat untuk melawan ragam penindasan. Mungkin semangat perlawanan itu yang menjadi alasan Kejaksaan Agung di masa Orde Baru melarang peredaran empat buku novel tetralogi: Bumi Manusia, Anak Segala Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah, yang dikenal sebagai Tetralogi Buru.

Melalui tetralogi, Pram berkisah mengenai semangat perlawanan kaum muda melawan kolonialisme di bumi Nusantara, lewat tokoh Minke, seorang pemuda Jawa berpandangan maju di zamannya, dan juga melalui tokoh Mas Marco dan Tjokro. Diceritakan juga Kartini dan Dewi Sartika.

Tokoh-tokoh dalam tetralogi seperti fiksi, tapi juga seperti sejarah kita yang nyata. Karena itu Pram sering juga disebut sebagai penulis novel sejarah. Pergulatan kisah dalam tetralogi serupa dengan kisah perjuangan para tokoh nasionalis awal kita, di tahun 1920-an dan 1930-an. Tokoh Minke, menurut banyak orang adalah representasi seorang tokoh pers nasional Tirto Adi Suryo. Sementara Mas Marco dan Tjokro, dalam novel Pram itu, tampak merujuk pada Marco dan Tjokroaminoto dan organisasi Sarekat Islam, yang merupakan dua tokoh dan organisasi penting dalam sejarah pembentukan nasionalisme Indonesia yang menghancurkan kolonialisme Belanda.

Suatu hari di tahun 1994, saya mewawancarai Pram di rumahnya, di daerah Utan Kayu Jakarta. Biasalah, wawancara untuk majalah Polar yang kita terbitkan di kampus dulu itu…he..he. Ketika sampai di rumahnya, Pram sedang tidur siang. Istri Pram yang ramah menawarkan untuk menunggu. “Satu jam lagi paling sudah bangun”, katanya. Benar, tidak sampai satu jam Pram sudah bangun dan menemui kami, mengenakan celana training serta kaus kaki dan sandal. Waktu itu mungkin umur Pram sudah sekitar 70 tahun. Selama perbincangan, asap tak henti mengepul dari rokok Pram.

Pram adalah orang yang sangat energik, jelas tampak dari cara bicara dan pandangan matanya yang tajam. Dia bilang waktu itu, “sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Jika angkatan muda mati rasa, matilah sejarah sebuah bangsa.” Kalimat itu yang saya ingat dari wawancara dengan Pram hingga sekarang.

Ketika ditanya mengenai pelarangan buku-buku karyanya oleh Kejaksaan Agung, Pram bilang: “Karangan saya adalah seperti anak saya. Mereka bebas menemukan jalannya sendiri, apakah akan dilarang atau diterima orang banyak”. Lagipula, kata Pram, “pelarangan tidak berarti apa-apa, karena ide tidak bisa di kerangkeng dan ide punya kaki. Dia akan bergerak sendiri, kalau tidak sekarang, ya pasti suatu hari nanti.”

Betul juga. Tubuh Pram yang terpenjara sebagai tahanan politik selama beberapa tahun di Pulau Buru, tidak menghalangi pikirannya yang terus bergolak. Bahkan di pulau Buru lah empat buku novel yang dahsyat itu tercipta. Proses penciptaan novel tetralogi pulau Buru itupun sangat luar biasa. Pram khawatir tidak mungkin bisa keluar dari Buru hidup-hidup dan menyelesaikan empat novelnya itu. Pram lalu memutuskan untuk mulai mengarang empat novel itu di dalam kepalanya, lalu menceritakannya secara lisan kepada rekan-rekannya sesama tahanan politik di pulau Buru. Pram dibebaskan dari Buru pada tahun 1979, lalu mengalami masa tahanan rumah hingga tahun 1992.

Jujur saja, saat mewawancarai Pram itu saya belum pernah membaca tetralogi pulau Buru. Modal wawancara cuma tulisan mengenai Manikebu itu. Setelah wawancara, saya bertekad akan mencari keempat novel itu dan membacanya. Akan tetapi, larangan Kejaksaan Agung dan teror Orde Baru rupanya sangat efektif. Jarang sekali orang menyimpan novel itu. Saya cari di Palasari, pasar buku di Bandung, tidak ada. Mungkin ada satu dua yang menyimpan, tapi tidak berani sembarangan menjual.

Jauh sebelum wawancara Pram itu, suatu hari di Palasari seorang penjual buku berbisik pada saya yang masih duduk di semester-semester awal kuliah: “Dik, mau nggak nih ada buku yang barusan dilarang Kejaksaan”. Saat saya bilang mau, ternyata dia menunjukan buku terjemahan karya Kunio Yoshihara, mengenai erzast capitalism. Buku itu diterbitkan Yayasan Obor, diterjemahkan menjadi “Kapitalisme Semu Asia Tenggara”. Kunio Yoshihara membahas kroni-kroni bisnis Suharto, dan juga kroni-kroni bisnis para penguasa otoriter lain di Asia Tenggara sepanjang 1970-an dan 1980-an. Ketika saya datang lagi ke toko yang sama untuk mencari buku-buku Pram, si penjual buku hanya menjawab dengan gelengan kepala.

Buku-buku karya Pram baru terbaca oleh saya di awal tahun 2001. Yang pertama tentunya adalah empat novel tetralogi itu. Berikutnya adalah novel berjudul Arok Dedes, baru Perburuan dan yang lainnya. Sepulang studi dari Australia di akhir tahun 2000, saya menjadi pengangguran beberapa bulan lamanya, sebelum lamaran kerja menjadi peneliti diterima. Jadi, ada banyak sekali waktu luang..he..he..he. Selama menganggur, teringat niat lama membaca buku-buku Pram yang saat itu telah dijual bebas.

Zaman berubah, buku-buku karya Pram mudah didapat. Tidak perlu lagi membeli dan membacanya sembunyi-sembunyi. Saya sering mendorong mahasiswa saya di Jakarta untuk menyempatkan membaca tetralogi itu, untuk melengkapi bacaan novel-novel pop yang banyak digandrungi sekarang. Agar kita tidak menjadi angkatan muda yang mati rasa justru di era ketika penguasa hampir tidak mungkin lagi memasung dan memenjara pikiran anak bangsanya sendiri.

Dekalb, 30 April 2006
philips vermonte