Friday, August 18, 2006

Orang Kampung, Pendidikan, Ustadz dan IAIN

Di tanah kelahiran orang tua saya di pantai barat Sumatera, adalah suatu aib bagi orang tua jika anak yang sudah mencapai usia akil baligh tidak bisa membaca al-Qur'an, menjadi Imam shalat atau mengumandangkan adzan dengan fasih.Cerita ini saya dapat dari tradisi pulang kampung hidup dalam keluarga saya. Dari sinilah saya bisa lihat, dengar dan tahu banyak cerita tentang adat and kebiasan masyarakat di kampung. Masih jelas dalam ingatan saya, di-sekitar tahun 80-an, setiap sore saya menyaksikan kegiatan di surau-surau. Mulai dari mengaji sampai belajar pencak silat. Di sore hari anak laki-laki datang ke surau-surau ini untuk melakukan shalat Maghrib berjamaah bersama Buya (sebutan bagi guru mengaji atau mereka yang dianggap memiliki pengetahuan agama lebih dari kebanyakan). Setelah shalat Maghrib berjamaah, bersama buya mereka belajar membaca al-Qur'an, mengumandangkan adzan sampai mendengar Buya bercerita tentang bagaimana seorang anak laki-laki harus bisa membela, memimpin dan melindungi keluarga. Hal yang sama dilakukan oleh anak2 perempuan. Selesai melakukan shalat Magrib dan Isya berjamaah di Mushalla, rumah para Umi adalah tempat anak perempuan untuk mengaji. Kebetulan, rumah gadang keluarga saya dimana salah seorang umi saya tinggal, tempat mengaji anak-anak dengan Umi saya sebagai guru.

Seiring berjalannya waktu, surau-surau yang dihuni oleh Buya-buya ini semakin sedikit jumlahnya. Bahkan ketika saya kembali pada tahun 1990an beberapa surau sudah hampir roboh (saya jadi ingat novel klasik yang di tulis almarhum AA Navis; 'Robohnya Surau Kami'). Surau menjadi redup karena rupanya Buya sudah berpulang dan tak ada lagi yang meneruskan. Murid yang diajarnya dulu pun sudah berpencar. Merantau ke Tanah Jawa. Rumah gadang Umi-pun tak lagi ramai. Kerentaan Umi membuatnya tak lagi mampu mengajar. Melihat ini, masyarakat kampung berinisiatif mengembangkan MDA atau Madrasah Diniyah. Tidak seperti madrasah dalam arti yang formal; MDA ini hanya dilaksanakan sore hari setelah anak-anak pulang sekolah formal. Kini, orang-orang di kampung sibuk mencari guru yang pandai dan bersedia mengajar anak-anak dengan imbalan yang sangat pas-pasan. Seorang sarjana lulusan IAIN Imam Bonjol akhirnya bersedia untuk mengajar di MDA ini. Sebagai imbalan sang ustadz diberi gaji sebesar Rp. 50.000,- perbulan. Sebanding dengan pendapatan bekerja satu jam menjaga toko di Victoria Market. Ibu-ibu di kampung bergiliran menyiapkan penganan untuk Ustadz. Jika penat datang, Ustadz dapat beristirahat di kamar sederhana. Sejak kedatangan Ustadz yang sarjana S-1 dari IAIN Imam Bonjol ini kehidupan mushalla di kampung menjadi lebih hidup. Ayat-ayat al-qur'an mulai berkumandang satu jam sebelum waktu Shubuh menjelang. Lampu Mushalla pun menjadi terang benderang seakan menyilakan para tamu Allah untuk datang.

Tapi sayang, panggilan kampung halaman sang ustadz tak dapat ditolak. 'Mushalla di kampung awak tak ada yang mengurus', demikian kata-kata yang tertulis pada satu surat yang dikirim pak Ustadz. Dengan rasa yang sungguh berat, sang Ustadz pulang ke kampungnya dan meninggalkan kampung kami, demi sebuah tugas yang sama. Mencari ustadz untuk mau tinggal di kampung, dengan upah pas-pasan bukanlah pekerjaan yang mudah. Ustadz kedua yang mengasuh MDA dan mengurus Mushalla juga baru saja menyelesaikan studi S1nya dari STAIN Bukit Tinggi. Dengan bayaran yang tidak jauh lebih tinggi dari ustadz sebelumnya, dia bersama istri dan anak-anaknya hijrah ke kampung kami. Seiring dengan semakin membaiknya kehidupan sebagian warga kampung dan kesadaran orang-orang di perantauan untuk berbagi atas rezeki yang mereka peroleh, sang Ustadz kini bisa melanjutkan pendidikannya di IAIN Imam Bonjol untuk mengambil program S-2. Tak terkira gembira-nya sang ustadz akan kesempatan yang bisa dia miliki. Walaupun hanya tinggal di sebuah rumah sederhana yang diwakafkan warga kampung; tapi bisa memiliki kesempatan untuk melanjutkan ke jenjang S-2; adalah sebuah mukjizat baginya.

Begitulah satu cerita dari kampung saya. Saya percaya di kampung-kampung lain, krisis guru mengaji juga terjadi. Dan pada akhirnya para lulusan dari lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam seperti UIN/IAIN/STAIN-lah yang bersedia dan bersukarela melakukan tugas mulia ini. Nature bahwa mereka yang belajar di STAIN/IAIN/UIN yang hampir 85% berasal dari masyarakat ekonomi menengah ke bawah, adalah satu faktor yang membuat mereka tidak canggung untuk kembali ke komunitas ini.

Di UIN Jakarta, setiap kali tiba hari untuk mendaftar ulang, barisan panjang para siswa/I yang tak jarang ditemani juga oleh Ayah atau Ibu mereka, menjadi pemandangan rutin di gedung rektorat. Apalagi kalau bukan karena harus meminta keringanan membayar uang kuliah yang tak seberapa itu. Seorang ayah yang sehari-harinya bekerja membersihkan sampah di pasar Bogor, misalnya harus menitikkan air mata karena belum mampu membayar uang kuliah anak perempuannya. "saya sudah bilang sama anak saya neng supaya ga usah kuliah, tapi anak saya nangis aja kalo saya bilangin Bu", begitu kata sang Ayah ketika beliau bercerita pada saya. Cerita lain, seorang Ibu pedagang minuman Yakult keliling harus memohon kepada bapak Kepala Biro, misalnya agar diberi keringanan dari membayar uang kuliah karena suaminya yang berdagang asongan baru saja dipanggil Ilahi. Cerita-cerita sedih ini nyata terjadi di UIN. Bukan puluhan but we are talking in hundreds. Bagi saya waktu itu tentu saja ini pengalaman baru. Ketika nyantri di UNPAD dulu, teman-teman dari Jakarta tertawa-tawa karena uang kuliah kami sangat murah untuk ukuran Jakarta dan ukuran ekonomi waktu itu. Maka tak jarang kami sering berbohong dengan mengatakan bahwa uang kuliah semester ini naik Rp. 50,000. buat orang tua saya misalnya, tentu saja tak ada masalah. Karena untuk tahun 1995 berarti saya hanya membayar Rp. 140.000 untuk biaya kuliah selama 6 bulan; bandingkan dengan UI misalnya. Jumlah nominal yang sama masih berlaku untuk biaya kuliah satu semester di UIN pada tahun 2003. Betapa jauh dari adil kata saya dalam hati, karena untuk membayar uang masuk TK saja lebih dari 5 juta rupiah harus dikeluarkan oleh para orang tua di jakarta waktu itu.

Dari cerita ini semoga kita bisa berpikir jernih dalam memaknai perkembangan lembaga pendidikan Islam. Adalah sangat naïf jika kita menafikan peran yang terus saja dimainkan oleh lembaga pendidikan tinggi Islam seperti STAIN/IAIN/UIN. Situasi dan permasalahan yang dihadapi institusi pendidikan Islam di negeri kita tidak bisa dilepaskan dari tradisi yang dikonstruksi oleh pemerintah orde baru. Marginalisasi dan stigmatisasi secara massive yang dilakukan pemerintah Orde Baru, yang menganaktirikan pengembangan madrasah, pesantren bahkan IAIN pada waktu itu adalah satu faktor, menurut saya, yang sampai kini terus membayangi pandangan dan penilain orang-orang Muslim sendiri terhadap lembaga ini. Ketidakadilan sangatlah transparan mulai dari jumlah anggaran yang dialokasi untuk madrasah, pesantren, STAIN/IAIN/UIN sampai akses lulusan madrasah dan pesantren untuk bisa mendapat kesempatan yang sama belajar di lembaga pendidikan tinggi yang lain atau di luar negeri sekalipun. Apakah salah jika mereka para pimpinan di UIN/IAIN/STAIN berupaya untuk bisa mendapatkan bantuan operasional demi mendukung proses belajar mengajar dari pihak lain kalau pemerintah Indonesia saja tidak peduli? Apakah tidak membahagiakan bagi kita melihat orang-orang tua dari kampung yang biasa memegang pacul dengan kaki penuh lumpur, hari itu bisa tersenyum bahagia karena bisa merasakan berdiri dengan sepatu dan pentalon baru di dalam lift di kampus UIN? Melihat itu, saya berkata dalam hati, pasti orang-orang tua itu tak henti mengucap syukur. Bukan saja karena anak mereka menjadi sarjana tapi juga karena mereka akhirnya bisa merasakan dinginnya berada di sebuah Aula besar dengan arsitektur mewah dan ber-AC di UIN Jakarta.

Lembaga-lembaga pendidikan Islam telah menjadi salah satu pilihan utama bagi keluarga muslim pada umumnya, bukan saja karena bisa mendapatkan ilmu umum dan agama sekaligus, tetapi juga karena pertimbangan ekonomi. Selama jumlah penduduk miskin di Indonesia masih besar maka sudah jelas lembaga-lembaga pendidikan Islam terus dibutuhkan. Apalagi sejak beberapa Perguruan tinggi Negeri terkenal yang dipercaya murah dan baik diberi BH tersendiri sejak tahun 2000, dengan sebutan lembaga berbadan hukum milik negera, yang menyebabkan PT tersebut benar2 seperti perseroan terbatas, yang menaikkan SPP dan uang pangkal. Kalau Universitas seperti UI di Depok bisa mematok biaya tinggi karena kampus mulai berlangganan on-line international journal, maka hal ini sangat mustahil bisa dilakukan di UIN/IAIN/STAIN. Maka mengapa ketika UIN dan IAIN lain beserta puluhan Universitas sekuler lain menjadi Host untuk American Corner misalnya, yang memberi puluhan komputer lengkap dengan akses ke Ebsco-Host-nya, hanya institusi Islam yang dituding menjadi agen Amerika? Mengapa ketika para dosen UIN/IAIN/STAIN mencari beasiswa dan sekolah di luar negeri, maka cibiran, dengan mengatakan 'ah... mereka menjual Islam' harus terlintas di benak kita; sedangkan mereka yang di ITB, UI, UGM, UNPAD dan lainnya sudah sejak lama memperoleh kesempatan menuntut ilmu di negeri Barat juga demi ilmu yang mereka tekuni? Are we being fair here?

Madrasah, pesantren, STAIN/IAIN/UIN adalah tempat yang paling mungkin bagi mereka dengan kemampuan finansial pas-pasan kalau bukan jauh dibawah pas, untuk bisa terus mengenyam nikmatnya sekolah. Kita bisa bayangkan kontribusi yang disumbangkan para ustadz, seperti saya ceritakan di atas, terhadap kemajuan umat Islam di Indonesia. Saya tidak tahu apakah ada aktivis pengajian di Mesjid UNPAD, teman saya dulu, yang kini memilih menjadi guru mengaji di kampung kecil di Pamengpeuk, pinggiran Garut tempat saya berKKN dulu misalnya. Ah,... seperti saya mungkin saat ini mereka sedang menikmati secangkir coffee lattee atau hot chocolate di sebuah Kafe di Bandung, Jakarta atau Melbourne...

Dina Afrianty

p.s
tulisan ini ku buat sebenarnya untuk teman-teman di Melbourne, yang sepertinya ingin sekali meminggirkan kawan-kawan baru saya di IAIN/UIN/STAIN. Tudingan bahwa lembaga-lembaga ini sekarang mengeruk dollar demi memegahkan kampus dengan cost untuk merubah pemikiran orang Islam di Indonesia. menurut ku, tudingan ini tak berdasar, sarat dengan logical fallacy dan merendahkan.

1 Comments:

At 12:09 PM, Anonymous Anonymous said...

thanks for the writing. i am impressed, really...

 

Post a Comment

<< Home