Friday, May 12, 2006

Mengatasi Krisis dengan Piala Dunia

Sepak bola bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Budaya, politik, ekonomi, globalisasi, agama, sekterian, dan bahkan teroris. Opininya pasti berbeda, tapi semuanya memperkaya sepak bola sebagai olahraga paling manusiawi. Disebut manusiawi karena di sepak bola hampir semua karakter manusia terlihat. Ada kerjasam, intrik, kekuasaan, rasis, nasionalis, kekerasan, kemenangan, adidaya, dan banyak lagi.
Jumlah pertandingan sepak bola yang dimainkan di seluruh dunia per minggu mengalahkan olahraga permainan mana pun di dunia. Franklin Foer, penulis buku An Unlikely Theory of Globalization: How Soccer Explains the World, menghabiskan waktu hampir setahun keliling dunia untuk meneliti pengaruh sepakbola terhadap tatanan dunia. Kesimpulan Foer: sepak bola adalah ikon globalisasi.
Tapi Foer hanya menyinggung sedikit sekali tentang hubungan sepak bola dengan ekonomi. Terutama kontribusi keuangan kepada negara, seperti pajak dan pendapat domestik. Peran besar ekonomi sepak bola dimulai sejak era 90-an. Ketika itu perang dingin usai dan dunia mulai lepas dari cengekeraman ketakutan. Dunia berubah, wajah sepak bola juga berubah. Entah kapan persisinya sepak bola sebagai alat politik dan penguasa, tapi berangsur-angsur berakhir setelah selama lebih 70 tahun.
Final Piala Funia 1998 antara Brasil dan Perancis ditonton langsung lewat TV sebanyak 2 miliar orang. Dan, angka kumulatif penonton Piala Dunia yang mencapai 36 miliar tentu jadi surga buat sponsorship. Di Piala Dunia 1982, nilai sponsor masih dibawah angka 2 miliar dollar, tapi 10 tahun kemudian sudah jadi 16 miliar dollar lebih.
Olahraga adalah investasi terbesar sebuah sponsorship dunia, termasuk sepak bola. Investasi sponsor olahraga mencapai 65 % pasar Amrik (tuan rumah Piala Dunia 1994), 63 % pasar Jerman (Piala Dunia 2006), dan 80 % pasar Afrika Selatan (Piala Dunia 2010).

Piala Dunia Ekonomi
AS bukan negara sepak bola. Satu-satunya negara non sepak bola yang jadi tuan rumah tahun 1994. Pertimbangannya jelas ekonomi. Amrik menyediakan 8 tempat dan stadion. Salah satunya Los Angeles yang hingar bingar. Kota metropolitan LA meraup untung 623 juta dollar dalam sebulan. LA jadi tuan rumah 8 pertandingan, termasuk semifinal dan final dimana yang bermain adalah Brasil. Bandingkan dengan keuntungan saat pertandingan Super Bowl tahun sebelumnya yang cuma meraih 182 juta dollar.
Keuntungan didapat dari belanja langsung dan enggak langsung. Belanja langsung, contohnya, mereka yang makan di restoran atau belanja pakaian di toko. Sedangkan belanja tidak langsung adalah restoran atau toko yang membayar pegawai dan membeli minuman dan pakain untuk dijual. Itu baru LA. Belum lagi. Pasadena, New York/New Jersey, dan kota-kota lainnya. Kesimpulannya, Amrik meraih keuntungan ekonomi yang luar biasa.
Piala Dunia 2002 diadain di dua negara dan di benua Asia. Bukan keputusan mudah buat FIFA mengadakan di Asia, apalagi di dua negara. Kawasan Amerika Latin dan tengfah “protes” karena setelah Perancis 1998 harusnya giliran mereka. Tapi kekuatan uang berbicara. Jepang dan Korea menyanggupi tuntutan FIFA untuk membangun fasilitas olahraga, enggak cuma stadion untuk Piala Dunia 2002. Biasanya tuan rumah cuma menyediakan delapan stadion, tapi Korea dan Jepang diharuskan membangun dan menyempurnakan masing-masing 10 stadion.
Investasi untuk Piala Dunia 2002 bernilai 4,7 miliar dollar. Faktor keamanan jadi pertimbangan tersendiri karena turnamen digelar beberapa bulan setelah peristiwa 9/11. Kalau saja yang jadi tuan rumah bukan Korea atau Jepang, mereka pasti menarik diri. FIFA cuma membantu sebesar 110 juta dollar, plus hasil penjualan tiket diserahkan ke tuan rumah. Sisanya harus dikeluarkan oleh Jepang dan Korea sendiri. Padahal Jepang waktu itu sedang resesi dan Korea baru aja lepas dari krisis ekonomi seperti kebanyakan negara Asia Tenggara.
Apa keuntungan yang didapat? Dengan Piala Dunia 2002, ekonomi Korea terangsang senilai 6,9 miliar dollar, dan terbukanya lapangan kerja sebanyak 350 ribu (International Herald Tribune). Jepang lebih besar lagi, rangsangan ekonomi sebesar 23,8 miliar dollar.
Hampir semua negara maju ikut di Piala Dunia 2002. Tujuh dari 8 negara kaya kelompok G7, kecuali Kanada, hadir di putaran final. Total GDP negara yang bermain di Piala Dunia mencapai 84 % dari GDP dunia. Berdasarkan penelitian di Inggris, sejak tahun 1966, negara yang berhasil juara Piala Dunia akan meningkatan indeks globalnya sebesar 9 persen di tahun itu.

Piala Dunia 2006
Gimana dengan Piala Dunia 2006?
Jerman kini menghadapi masalah ekonomi yang cukup mengkuatirkan untuk negara maju. Tingginya angka pengangguran dan rendahnya pertumbuhan ekonomi jadi penyebab utama. Piala Dunia diharapkan jadi titik balik. Jerman berharap para turis Piala Dunia mengeluarkan 12 miliar dollar dan membuka 50 ribu lapangan kerja baru. Piala Dunia diyakini akan mengakhiri masa stagnasi ekonomi Jerman selama 4 tahun.
Salah satu stadion yang dipakai adalah stadion di kota Hamburg. Stadion ini tadinya bernama Hamburg’s Volkspark, tapi kemudian pindah tangan ke AOL Arena. AOL (America On Line) adalah perusahaan penyedia layanan online dan internet provider milik Amrik yang berbasis di Virginia. AOL mengeluarkan dana 15 juta dollar untuk merenovasi AOL Arena. Lucunya, AOL berinvestasi untuk olahraga lebih banyak di luar negeri dibandingkan di dalam negerinya sendiri.
Piala Dunia diharapkan bisa memacu pertumbuhan ekonomi Jerman sampai 0,5 %. Efek Piala Dunia terhadap ekonomi Jerman tetap berlangsung sampai tahun 2007. Perhitungan pendapatan pajak tahun berjalan akan dihitung pada tahun berikutnya.
Dalam polling yang dilakukan sebuah situs di Jerman, cuma 10 % dari nara sumber yang yakin tim nasional Jerman bisa juara di Piala Dunia 2006. Mereka enggak yakin nationschaaft sehebat empat tahun lalu saat jadi finalis Piala Dunia 2002. Enggak terlalu masalah Jerman juara atau tidak. Jerman sudah “juara” ketika memenangkan pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2006.
Lalu, kapan kita bisa jadi tuan rumah Piala Dunia? Apakah kita harus menunggu jadi tuan rumah dulu untuk kemudian jadi negara maju, atau jadi negara maju lebih dulu?
Sulit menjawabnya, tapi hitungan di atas kertasnya kira-kira begini. Tuan rumah tahun 2010 adalah Afrika Selatan. Tahun 2014 kemungkinan besar milik benua Amerika, khususnya Brasil. Tahun 2018 kemungkinan Eropa ngotot jadi tuan rumah. Jadi, Asia baru dapat jatah lagi tahun 2022 atau 2026 atau sekitar 20 tahun dari sekarang. Kalau kita bisa mengalahkan kekuatan ekonomi dan uang dari Cina, Malaysia, Singapura, dan Thailand, kita bisa jadi tuan rumah.
Mungkinkah?

Karto K. Saragih
Dear Wife, Partner, Girlfriend,
“From 9 June to 9 July 2006, you should read the sports section of
the newspaper so that you are aware of what is going on regarding the
World Cup, and that way you will be able to join in the conversations.
If you fail to do this, then you will be looked at in a bad way, or you
will be totally ignored. DO NOT complain about not receiving any
attention”

0 Comments:

Post a Comment

<< Home