Amerika, Komunis, dan Sepak Bola
Entah harus apa lagi usaha yang dilakukan untuk menjadikan sepak bola sebagai olahraga nomer satu di Amerika, atau setidaknya jadi favorit, seperti bisbol, basket, atau football Amerika. Apa yang salah dengan Amerika?
Perjuangan mempromosikan soccer di AS bukan cerita baru. Pele, legenda sepak bola asal Brasil, pernah bermain di klub AS di tahun 1970-an. Satu-satunya negara di luar Brasil yang pernah disinggahi Pele sebagai pemain. Dia enggak pernah bermain di Eropa. Begitu juga Franz Beckenbauer, legenda Jerman yang pernah bermain di AS. Tapi AS bergeming. Sepak bola masih enggak dilirik.
Harapan muncul waktu Piala Dunia 1994 digelar di AS. Secara bisnis sukses. Bahkan, jumlah spectator memecahkan rekor sejarah. Sebanyak 3,5 juta orang menonton langsung. Tapi ini murni perhelatan bisnis. Sisi sepak bola hampir enggak ada efeknya.
Ketua Panitia Alan I. Rothenberg, dan orang-orang di belakangnya adalah aktor sukses Piala Dunia 1994. Rothenberg menjabat sebagai President US Soccer waktu itu. Tapi cuma side job. Kerja aslinya adalah pengacara. Dia salah satu partner di kantor pengacara Latham & Watkins. Latham & Watkins masuk dalam 10 law firm paling prestisus di AS. Keberhasilan Piala Dunia 1994 berkat para pebisnis dan pengacara di Amrik. Hampir enggak ada dukungan dari publik olahraga negeri itu.
MLS
Sukses penyelenggaran Piala Dunia 1994 hampir enggak menyentuh Major League Soccer (MLS) diluncurkan tahun 1993. Kini MLS tetap enggak mendapat tempat di masyarakat. Bahkan, lokasi dan stadion semakin meminggir ke luar kota.
Kepindahan ini katanya untuk membuat "soccer-specific stadiums". Fakta sebenarnya, klub enggak punya pendukung yang cukup. Klub-klub bergeser ke tempat yang banyak imigran dan membangun stadion yang lebih kecil. Ini juga untuk menyelamatkan keuangan klub-klub MLS yang seret. Satu-satunya klub yang udah meraih keuntungan cuma Los Angeles Galaxy.
Mimpi MLS untuk jadi besar seperti di liga-liga Eropa sulit terwujud. MLS berbenturan dengan budaya AS. Budaya ini enggak lepas dari ketakutan dan kecurigan di masa lalu. Segala yang berbau nenek moyang ditinggalkan. Ciptakan budaya Amerika yang baru.
Di AS, jutaan anak tumbuh dan bermain dengan sepak bola. Tapi hampir semuanya berhenti begitu memasuki usia 10 tahun. Mereka pindah ke bisbol, basket, football, tenis, atau tinju. Di Amrik ada pepatah lama, “American sports are played with the hands, not with the foot.”
Mike Royko, kolumnis Chicago Tribune, berkomentar klasik tentang sepak bola dan Amerika. Menurutnya, sepak bola disukai mayoritas negara di dunia karena kebanyakan negara terlalu miskin untuk membangun tempat bowling, golf courses, tennis courts, dan baseball fields. “Soccer is boring. I've never seen a more boring sport,” kata Royko.
Soccer = Komunis
Benarkah semata-mata karena boring? Royko bisa salah, tapi mungkin juga benar. Alasan lain, yang sangat masuk akal, sepak bola di mata orang Amerika adalah olahraga komunis dan para penganut fasis. Apapun yang berbau komunis, sebelum berakhirnya Perang Dingin, sangat ditakuti di Amrik.
Menerima sepak bola akan membuat Amrik enggak berbeda dari negara kebanyakan. Ini bertentangan dengan konsep American exceptionalism yang dilontarkan Alexis de Tocqueville sekitar 175 tahun silam. Yang membuat Amrik besar dan jaya, kata Tocqueville, berkat keunikannya. Negara ini lebih menghargai manusia dibanding negara lain. Amrik selalu berusaha menyeimbangkan kepentingan publik dan pribadi. Dan, yang lebih penting, menempatkan kebebasan individu dan ekomoni di atas segalanya.
Enggak ada tempat buat komunis di Amrik. Kepercayaan dan agama bukan lagi anak emas seperti di negara ibu kebanyakan warga Amerika. Di Amerika, orang Skotlandia adalah satu. Tapi di Skotlandia, orang bisa diliat dari pendukung sepak bolanya. Klub Glasgow Celtics, secara tradisi, adalah klub orang Katolik, sedangkan Glasgow Rangers didukung mayoritas Protestan.
Nuansa sekterian ini masih diusung kedua fans klub sampai kini. Celtic biasanya merektrut pemain-pemain yang berlatar belakang Katolik. Kalau bukan Katolik, dia harus bukan Protestan, seperti Sunsuke Nakamura, asal Jepang, yang kini jadi pemain kesayangan Celtic.
Ikon Globalisasi
Pertanyaan kemudian bagaimana Amerika menghadapi sepak bola yang disebut Franklin Foer sebagai ikon globaliasi? FIFA memiliki anggota lebih 205 negara, lebih banyak dibanding anggota PBB. Cuma di sepak bola pula orang Iran mau menggambar sebelah pipinya dengan bendera Amerika, sebelah lagi dengan bendera Iran. Ini terjadi di penyisihan grup Piala Dunia 1998 di Perancis.
Secara bisnis, tentu saja, Amrik enggak mau ketinggalan menggarap lahan sepak bola. Malcolm Glazer, pebisnis Amerika, rela mengutang untuk membeli 90% saham Manchester United. Baru-baru ini perusahaan asuransi top dari Amerika, AIG, juga resmi jadi sponsor MU.
Klub-klub Amrik mencari talenta bagus dari Afrika. Mereka diiming-imingi jadi warga negara, seperti Freddy Adu. Nike melebarkan sayap ke sepak bola dan semakin banyak pemain top yang mereka endorse. Artis Hollywood, John Travolta, ikut berpesta di stadion bersama 80 ribu penonton ketika Australia lolos ke Piala Dunia 2006. Dia juga bersedia menerbangkan tim Aussie ke Jerman sebagai pilot. Padahal Travolta ada true American. Dia enggak berlatar belakang Eropa seperti Sean Connery, John Stewart yang masa kecilnya beraa di Inggris Raya. Harrison Ford juga beberapa kali mengunjung klub Spanyol dan diberi nomer kostum kehoramatan.
Sepak bola mungkin bukan musuh tapi juga bukan sahabat Amerika. Tapi selama yang tinggal di Amerika adalah manusia, bukan robot, sepak bola terus menggoda. Karena sepak bola ada manusia, sepak bola enggak sebatas soal hidup-mati, tapi lebih dari itu.
Ada pepatah kuno menjawab mengapa sepak bola banyak dimainkan di hari Sabtu. Karena, “Five days shalt thou labour, as the Bible says. The seventh day is the Lord thy God's. The sixth day is for football (Anthony Burgess).
Karto K. Saragih
“Football is the opera of the people”



1 Comments:
Bang Karto dalem banget nih...
mau share dikit aja mengenai World cup fever di Australia.
Mungkin agak sama dengan di Amrik, sepak bola bukan olahraga yagn populer di sini. Tidak seperti Cricket atau Footy (Australian football) yang sangat populer, bayangin aja setiap pertandingan footy, spectatornya bukan cuma laki-laki tapi nenek-nenek sambil bawa benang rajutan berbondong-bondong nonton olahraga ini.
Nah sekarang, setelah 32 tahun ilang... the Socceroos akan kembali berlaga di ajang piala dunia. So, orang-orang Australi gak sabar mau lihat penampilan the Socceroos (sebutan untuk tim Australia) yang dilatih sama gus Hiddink ini di Jerman juni nanti.
Saking pengennya orang Australia punya tim sepak bola yang hebat, dukungan berbagai bentuk muncul...mulai dari lomba bikin jingle sampe yg aneh-aneh...pokoknya...
well, krn gue sekarang hidup atas kemurahan hati para tax payer di Aussie; gue juga akan dukung Aussie apart from my other jagoan...Deutch Ubber Alles...
ayo lita... inget gak dulu jaman kita pada tergile gile sama si Juergen Klinsman... oh...
Lit, Juergen Klinsman tambah Guantenng aja nehhhh, ehm...tapi kegilaan ama Juergen gak bikin gue jadi pendukung tim yang dia latih ah...
oh... ngomongin bola lumayan ngilangin suntuk gue baca buku neh....
chiao..
d'
Post a Comment
<< Home