Image Produk Negara dan Tantangan Pemasaran
Kalau tulisan Cimot di blog ini sebelumnya berjudul Dilemma Pasar-man, menguraikan detail pemasaran di lapangan, tulisan ringan saya ini mencoba melihatnya dari sisi konsumen khususnya yang terkait dengan produk suatu negara….dilihat dari sisi Hubungan Internasional…critanya..:).
Suatu ketika saya pernah bareng sama temen saya dari Bea Cukai Brunei, jalan2 di jantung kota Taipei, ROC, kemudian rekan saya tersebut sangat antusias ingin membeli baju olah raga, dan dibelinya ke suatu toko olah raga, akhirnya dia dengan semangat 45 berhasil membeli kaos bermerk Nike yang disenanginya. Dia tunjukan kaos tersebut ke saya, kemudian saya lihat made in yang tertempel di kaos tersebut, ternyata made in Indonesia. Dia kaget dan nampaknya dia agak sedikit menyesal..he…. Jadi saya agak sedikit tersinggung, Lho apa maksudnya?, apa lantas gara-gara made in Indonesia? Dia pikir merk Amrik, dia terobsesi merk dengan made in negara tertentu…
Saya menyadari mungkin tidak hanya dia, orang yang merk mania, khususnya asal negara/rules of origin menjadi penting. Ada juga temen saya polisi Indonesia ketika dia bertugas di pasukan perdamaian PBB di Bosnia, dia sempat transit di Jerman dan beli oleh2 Tape Audio bermerk, besar dan bagus katanya, dengan bangganya dia tunjukan ke keluarganya di rumah namun dia kaget setengah mati ketika di buka di Indonesia…lho kok made in Indonesia..:)).
Saya sendiri terimbas menjadi pengagum asal merk he…, misalkan saya pernah beli kamera digital di Osaka, saya akan teliti betul dari sticker yang ditempel dibelakangnya apakah Sonny itu benar-benar made in Japan ataukah made in China atau Malaysia. Kalau masih kamera Sonny tertera made in China mendingan saya beli Sonny di Glodok/Mangga Dua saja. Sebenarnya saya juga termakan image negara..harusnya tidak boleh ya? Saya masih menganggap kalau buatan orang Jepang pasti Oke, mungkin dari sisi kualitas, daya tahan/kekuatan dll. Padahal logikanya belum tentu, yang namanya dibuat oleh pabrik yang sama misalnya Sonny mau di buat di Indonesia, di China, Jepang dan negara2 lain mestinya sama, mereka kan dibuat oleh standar prosedur operasi yang sama. Betulkah begitu Om Chimot?
Kemudian pikiran saya jadi berimajinasi tentang produk Amrik yang diboikot de negeri kita. Image Amrik yang terkait dengan perang teluk membuat orang-orang kita agak enggan untuk membeli produk tsb, bahkan pernah terjadi perusakan seperti kasus Mc D. Atau kasus kita rame rame boikot produk Australia misalnya, imaje produk jadi terkait dengan kebijakan luar negeri karena hubungan dengan Australia memburuk. Konsumen memang cepat reaktif ke produk tertentu, kereaktifan konsumen ini bisa pulih normal atau sebaliknya meninggalkan produk tersebut selamanya apalagi kalau seandainya ada pengganti barang lain yang kualitas produknya sama maka otomotis mereka beralih selamanya. Misalnya dari Mc D ke Ayam Soeharti atau Mbok Berek…, wah jadi ngiler ingin makan ayam goreng…
Juga seperti produk mobil misalnya, mengapa kok GM pemasaranya turun, bisa jadi karena image amrik tersebut lekat ke produk tersebut, walaupun masih ranking satu di produk mobil di dunia, namun pesaingnya dari negara lain seperti Jepang, Jerman, kemudian Korea yang sekarang sudah menembus rangking 5 produksi mobil di dunia, mulai mengejar bersaing ketat. O ya Cina juga mulai produksi mobil, rangking 4 produksi dunia, bayangkan kalau Cina sudah main di mobil apa tidak membanjiri dunia. Seperti sepeda kemudian sekarang bergeser ke motor china dan nampaknya nanti akan bergeser ke juragan mobil. Walaupun image barang China masih dianggap kualitas ketiga, namun mereka sendiri sadar dan membikin barangnya dengan bahan2 yang memang kualitas 3.
Kelebihan negeri Cina ibaratnya seperti ular naga, diam diam masuk ke suatu negara ke negara lain. Saya punya kawan kuliah dari Afrika, dia bilang barang2 dari Cina kok bisa murah ya di Afrika?, apa dia tidak rugi? Padahal untuk shipment ke Afrika jauh sekali dari Cina. Cina memakai prinsip pragmatisme dalam hal dagang. Dia tidak melihat negara tersebut mau berideologi apa, apakah negara yang dipasarinya terkena embargo apa tidak, tetap saja barang Cina itu masuk ke negara tersebut dengan keuntungan margin kecil. Bayangkan, mungkin sedikit barang Amrik masuk ke Iran atau Kuba atau Korea Utara, yang memang Amrik sendiri mengembargo ke negara2 tsb, (salah sendiri..?) namun barang2 Cina leluasa dapat kita jumpai di negara tersebut. Pelan namun pasti pasar meluas. Orang berdagang tanpa berpretensi politik ataupun ideologi, kepentingannya sama, yang penting barang laku.
Balik ke image barang. Barang asal suatu negara memberi kesan akan negara tersebut. Kalaulah barang buatan amrik, terkesan trendy, barang Jepang terkesan high tech, barang dari Perancis terkesan modis, barang dari Jerman terkesan aristokrat dst. Kenapa kok muncul kesan? Sebenarnya terkait dengan peran tidak langsung perkembangan ekonomi negara tersebut dan juga dalam mempromosikan dirinya. Saya tertarik dengan langkah Korea Selatan saat ini, bagaimana budaya Korea saat ini pelan tapi pasti berpengaruh menyebar menjadi Asia trend lewat film2 seperti drama film, misalkan Winter Sonata oleh aktornya Kim Bae Jung yang terkenal itu. Ternyata perkembangan film tersebut juga diboncengi dengan masuknya barang Korea tersebut. Misalnya masuk barang2 kosmetik karena orang tergila2 dengan film tersebut dan meniru orang yang ada di film tersebut. Akibatnya secara tidak langsung penonton film juga berminat apa sih kosmetik yang dipakainya?. Film tersebut jelas tidak bermaksud mempromosikan barang, namun produser barang dengan cerdas memanfaatkan peluang. Kejadian lewat film ini mungkin sudah lama dilakukan oleh Amrik secara tidak langsung lewat Hollywoodnya, sehingga kita tergila-gila pada produk made in Amrik.
Bagaimana dengan image made in Indonesia?
Membangun image internasional tidaklah mudah, negeri kita masih terkenal dengan Tsunaminya, kerusuhannya, ketimpangannya, korupsinya. Ini butuh waktu cukup lama, tidak bisa secara instant membangun image made in Indonesia. Kita mau mencontoh mengandalkan lewat film seperti Korea, namun sayangnya industri film kita masih belum cukup kuat bersaing internasional, bahkan domestic masih mati suri. Pariwisata kita juga masih rentan dengan trauma bom.
Jadi lewat apa ya? Saya sudah tidak pernah lihat lagi stiker Aku Cinta Buatan Indonesia..he… slogan yang realisasinya tidak pernah ada. Coba bayangkan kita punya industri pesawat terbang sendiri, jauh merupakan lompatan ke depan dibandingkan negara tetangga kita waktu itu yang hanya produksi mobil saja. Namun sampai sekarang kita masih belum bangga untuk beli produk pesawat IPTN tersebut. Image pesawat yang hight tech secara internasional dan negeri kita yang masih developing country serasa sangat timpang. Bahkan pemerintah sendiri inginnya beli pesawat dari negara lain. Kalau kita sendiri masih belum percaya diri dan beli pesawat dari luar negeri? Bagaimana dengan orang luar negeri, apa mau mereka percaya dengan produk kita? Coba bandingkan dengan Korea Selatan sini, sedikit sekali saya jumpai di jalanan mobil merk luar, semuanya mungkin diatas 95% mobil merk Korea, seperti Hyundai Kia, Sanghyong, GM Daewoo. Awalnya memang mobil mereka jelek2 tidak seperti sekarang, lama kelamaan krn potensi market dalam negeri yang besar menyerap produksi mereka, akhirnya perusahaan tersebut berkreasi dengan desain yang lebih bagus.
Image produk suatu barang yang diperdagangkan secara internasional dilakukan tidak murni dipromosikan oleh perusahaan itu saja, namun perlu dukungan berbagai pihak. Image dimulai dari pasar kita sendiri. Promosi adalah lipstik, yang diperlukan inner beauty, sehingga transformasi dimulai dari dalam diri kita sendiri. Orang pekerja ulet seperti Jepang misalnya akan melekat ke kualitas produk yang dihasilkan. Mungkinkah barang made in Indonesia mempunyai image sebagai barang berkualitas?
Yoyon



2 Comments:
waktu lagi cari sepatu di FO di Melbourne, as a student on scholarship, gue cari yang agak miring dong harganya dari sepatu-sepatu yang bermerk itu. Yap, dapet. Tapi, begitu tahu made in Indonesia. aku gak Jadi beli sepatu itu. Karena aku gak tega harus menginjak-injak sepatu yang dibuat oleh buruh-buruh pabrik di Tangerang dan cikarang yang menerima gaji dibawah UMR. Jadi, image aku tentang made in Indonesia "massive exploitation of labour by the Western Capitalists Industries through its giant branches of MNCs"...
Pak Yon
Kini Korea memang jadi pemain besar di pasar mobil dunia, tapi di negaranya sendiri penggunaan mobil mulai dibatasi. Ini reaksi untuk mengatasi krisis minyak dunia. Minggu kemarin harga minyak dunia mencapai angka tertingi sepanjang sejarah, sekitar 72 dollar per barel. Pilihan Korea cuma penghematan karena mereka mengimpor 97% BBM dunia. Ketakuktan Korea sebenarnya bukan karena enggak sanggup beli, tapi stok dunia terbatasi atau dibatasi. Terutama kalau hubungan AS dan Iran terus memburuk. Iran penghasil minyak keempat di dunia, sedangkan sebagian besar miyak Korea dibeli dari Teluk Persia.
Karto
Post a Comment
<< Home