Dari Catatan Harian Dulu
Di ambil dari Catatan Harian
Bandung, Agustus 1991
Pagi itu kota Bandung bagiku cukup dingin, dibanding kota kelahiranku, Semarang yang terik. Embun turun di rumah Paklik ku, komplek BPKP kebon kopi Cimahi, serasa membuatku malas untuk beranjak pergi pertama kali ke sebuah tempat yang akan menjadi sekolah baruku yakni “kampus”.
Lulusan baru SMA 3 favorit dari Semarang, serasa aku merasa jago kandang, masih gamang memasuki dunia baru yakni mahasiswa, terlebih dengan aku harus hijrah ke kota Bandung dengan kultur budaya yang berbeda. Apalagi bahasa jawaku yang masih medhok harus menyesuaikan dengan bahasa sunda lingkungan baruku.
Kami diantar turun di depan Dipati Ukur, dari mobil Paklikku kemudian berganti memakai mobil angkot putih Riung Bandung-Dago. Mobil melaju menaiki pebukitan mulai dari Simpang Dago, aku merasa mobil angkot ini seakan menuju kawasan pariwisata. Asyik pikirku...sungguh apalagi pertama kali melihat ujung jalan stasiun Dago dari bawah, seakan-akan aku menaiki puncak daerah pegunungan hijau nan sejuk bagian Utara kota Bandung.
O ya kami tidak sendirian, kami berdua bersama Ibuku yang selalu mendampingiku disaat-saat terpenting ketika pendaftaran sekolah. He...he...:). Walaupun dalam hatiku kenapa sih Ibu harus ikut? Aku kan sudah besar, sudah mahasiswa lagi, nanti malu kalau dilihat temen-temen baruku. Apa nanti kata mereka, masa sudah mahasiswa di antar Ibunya ikut pendaftaran kuliah. Demikian ego anak lulusan SMA yang sebenarnya ingin mandiri berpisah dari orang tua. Namun bagi seorang ibu, beliau selalu sabar menyertai puteranya melanjutkan sekolah, merasa berat harus ditinggal anaknya sendiri, dan merasa berat harus melepasnya pergi.
Alhamdulillah, akhirnya kami sampai juga di depan jalan menuju FISIP Dago, mungkin ibuku tahu akan perasaanku, beliau berkata “Sudahlah nak, saya tunggu di depan toko sini, saya cari tahu tempat kost untukmu“. “Kamu pergilah ke kampus untuk mengurus segala macam pendaftaran di sana“.“Iyalah Bu, ibu tunggu saja ya disini“, kataku. Kemudian aku berjalan sendiri mendaki ke kampus FISIP UNPAD.
Baru aku tahu memang kalau jurusan Hubungan Internasional itu bagian dari FISIP, saya pikir HI bagian dari FIKOM. Padahal dulu aku sering meledekin kakakku yang kuliah di FISIP UNDIP, apa itu FISIP sindirku...aku memang tidak percaya pada hukum karma, namun eh benar apa yang aku ledekin kembali lagi ke aku.
Tulisan Kampus Dago FISIP UNPAD itu tertera persis pada papan besi di depan gedung tua berwarna krem kecoklatan. Bentuk kampus yang besar dan rasanya tidak terawat, terlihat agak angker, di tumbuhin pepohonan yang besar di sekitarnya. Di depannya juga terlihat areal parkir tanah merah yang dijejali mobil-mobil mahasiswa, dosen dan para pendaftar baru. Kampus itu sangat rindang, sejuk dengan semilir angin sepoi-sepoi udara Bandung utara cukup membuat rasa kantuku makin menjadi-jadi, yang malam itu tidurku tidak pulas karena memikirkan hal-hal baru yang akan kujumpai hari Senin ini.
Ketika melakukan pendaftaran, beberapa kali aku melewati prosedur wawancara... Opo iki, mlebu kampus kok kokehan ngomong...(baca: apa ini masuk kampus kok kebanyakan bicara). Mulai dari wawancara Koperasi Mahasiswa, kemudian Senat Mahasiswa di Fakultas, wawancara ke DKM Al Amanah, sampai wawancara di Himpunan Mahasiswa. Herannya kok senang sekali sih mereka mewawancaraiku, kenapa tidak mengisi saja berkas formulir baru dikembalikan pikirku.
Senior-senior dengan tampang jaim ini sengaja menguliti pemikiranku yang masih bau kencur. Ketika masuk ke ruang himpunan mahasiswa aku ditanyai senior kenapa kamu masuk HI, alasannya apa, dari mana kamu asalnya dst. Baru pertama kali masuk, seakan akan senior mengkhotbahiku dan paling tahu HI itu adalah...., eh ternyata dia bilang “Saya sendiri salah kok Dik masuk jurusan HI, HI itu pilihan saya ketiga..he..:)“. Ada perasaanku campur aduk antara bangga bisa diterima UMPTN, apalagi jurusan HI, dan perasaan tidak jelas ketika senior mengatakan kesalahan milih jurusan. Ditambah lagi saat itu aku masih bingung, mana cari tempat kostlah, makan sianglah, buta sama sekali jalan di Bandung, adaptasi di tempat baru dst....
Namun waktu itu ada sesuatu terselip kebanggaan yang aku bawa dari kampus pertama kali yakni tas hijau bertuliskan FISIP dengan logo Unpad berwarna kuning. Wah keren pikirku....wawancara-demi wawancara berakhir, akhirnya aku keluar dari kampus sekitar jam 2 siang.
Sial lama sekali mengikuti pendaftaran ini pikirku, aku tidak tahu gimana aku menjelaskan nanti ke Ibuku karena kelamaan dia pasti menungguku di depan toko itu. Pasti beliau akan menegurku karena kelamaan. Aku langsung bergegas kembali menuju ke toko di dekat jalan Dago tidak jauh dari kampus FISIP. Ternyata, Ibuku masih sabar menantiku disana, dia dengan wajah tersenyum berkata “Sudah selesai nak urusannya?“, “Sudah Bu, semuanya sudah beres“ kataku. “O ya Ibu sudah carikan tempat kost untukmu, tadi Ibu ngobrol sama pemilik toko ini, kata pemilik toko ada satu kamarnya di atas yang kosong, sebenarnya tidak untuk di kostkan sih, namun ibu minta supaya disediakanlah buat Ibu, Ibu bilang kalau ada pemilik kost di rumah pasti dia akan bisa menjagamu...eh akhirnya pemilik toko tersebut mau juga. Ayo kita lihat ke sana“. Terima kasih Bu, Aku mengangguk mengikuti kemauan Ibuku.
Tempat kostku persis di dekat terminal Dago, tepatnya di jalan Dago Elos. Kemudian ditunjukanlah kamar kostku di atas, di bagian belakang, tepatnya di lantai dua, di kamar sebelah dan lantai satu dihuni oleh pemilik kost tersebut. Cukup sempit memang seperti ukuran penjara 2,5 x2,5 m apalagi kasurnya pakai model tingkat. Dari depan kamar kostan pemandangannya terbuka aku bisa melihat lereng bukit Dago yang sore itu masih hijau dari kamar kostku. Tempat yang nyaman pikirku untuk belajar. Setelah menunjukan tempat kost tersebut....kemudian Ibuku berkata, “Sudah kan nak semua sudah beres, malam ini Ibu langsung pulang dulu ke Semarang ya...kamu tinggal di sini belajar yang baik, jaga dirimu baik-baik karena kamu jauh dari orang tua, semoga nanti kamu berhasil, apa yang baik menurut Allah semoga baik pula denganmu“...Ya Bu... kutatap wajah beliau yang tampak letih seharian berjalan bersamaku, lalu kucium tangan beliau, dia pergi lalu meninggalkanku. Malam itu semakin larut, bolak-balik aku mencoba memejamkan mata namun aku tidak bisa tidur, duduk sendiri di kamar, dengan satu tas cokelat besar berisi baju untukku kuliah masih tergeletak di bawah tempat tidur belum kurapikan. Aku menerawang menatap langit-langit kamar hanya membayangkan kilas balik sejarah hidupku yang rasanya baru kemaren lulus SMA. Sekarang harus merantau ke Bandung untuk kuliah. Malam semakin dingin kusingkapkan selimut ke seluruh badanku....
---*----
Agustus 1996, Alhamdulillah akhirnya aku diwisuda di Auditorium Dipati Ukur, di tengah gegap gempita kegembiraan wisudawan, namun tidak kutemukan wajah almarhum Ibuku yang sejak awal setia mengantarku pendaftaran kuliah. Demikian pula pasti tak akan pernah kujumpai lagi ketika wisudaku di Sasana Bumi Ganesha ITB ataupun ketika aku diwisuda di Balairung pasca ilmu ekonomi UI.
Ibu....aku ingin sekali membuat engkau tersenyum, doaku selalu menyertaimu….
Ribuan kilo jarak yang kau tempuh....
Lewati rintang demi aku anakmu...
....
Seperti udara kasih yang egkau berikan...
Tak mampu ku membalas....
Ibu....(Iwan Fals).
Uman Dong, Suwon si, Paldal Gu
South Korea.
(http://nasruddin_djoko_surjono.blogs.friendster.com/nasruddin_djoko_s/)
Nasruddin Djoko (Yoyon), bekerja di Bea Cukai, sedang kuliah pasca sarjana di Seoul, Korea Selatan



3 Comments:
wah cerita mu sangat mengharukan Yon... membuat teman-teman yang orangtuanya masih komplit untuk selalu mensyukuri, mendoakan dan berusaha menyenangkan mereka. sementara yang sudah ditinggalkan baik oleh salah satu atau keduanya selalu mendoakan mereka agar mereka ditempatkan di tempat yang mulia, diampuni dosa-dosanya, dilapangkan dan diterangkan kuburnya, dijauhkan dari siksa kubur dan siksa neraka.
salam,
dicky
kalau anda suka iwan fals, mungkin bisa mampir kesini:
http://iwanfalsmania.blogspot.com/
Yon, dirimu jadi mengingatkan ku pada ibu ku. Itulah Ibu...gak pernah bilang lelah dalam menemani hari hari susah dan senang kita...dia selalu siap membantu dan meringankan semua beban di bahu kita...
Dina
"ibu dua orang anak"
Post a Comment
<< Home