Berburu Beasiswa (bagian 1)
Beasiswa merupakan salah satu alternatif yang diburu banyak orang untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Ada beberapa skema beasiswa yang bisa dicoba. Pemerintah Jerman melalui mekanisme DAAD menawarkan beasiswa studi pasca sarjana. Demikian juga dengan Pemerintah Perancis. Dulu, beasiswa dari pemerintah Perancis ini lebih banyak ditujukan untuk program ilmu alam (marine biology misalnya). Sekarang ada beberapa mahasiswa Indonesia studi dalam bidang sospol. Ada seorang teman saya sedang belajar dalam bidang studi Geopolitik dengan beasiswa dari pemerintah Perancis ini. Geopolitik mungkin ekuivalen dengan studi hubungan internasional atau studi strategis. Mungkin karena kentalnya tradisi Eropa kontinental, maka studi ini di Perancis lebih menekankan pada aspek geopolitik.
Mereka yang lolos seleksi, biasanya menerima training bahasa selama enam bulan di Jakarta. Bila tidak punya background bahasa Perancis atau Jerman, tentu kita harus bekerja keras menguasai bahasa itu dalam masa enam bulan. Sulit dan painful, tapi itulah tantangannya. No pain, no gain. Ada juga beberapa universitas di Jerman yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Memilih universitas yang berpengantar bahasa Inggris akan memudahkan, karena umumnya kita lebih familiar dengan bahasa Inggris.
Saat masih di Jatinangor dulu, ada beberapa teman sekelas HI 91 yang sambil kuliah S-1, juga kuliah di D-3 Sastra Inggris, Perancis atau yang lainnya. Sambil menyelam minum air. Sepertinya teman-teman itu dulu, seperti si Tjimot di Sastra Inggris, cuma cari alasan aja, supaya bisa sering-sering nangkring di kantin Sastra di belakang gedung Fisip tanpa memancing kecurigaan….bukan begitu Om Tjimot??..he..he.
Mungkin ide menyambi kuliah di D-3 Sastra bisa dicontoh, agar bisa menguasai bahasa asing tertentu. Mengambil kursus IELTS atau TOEFL beberapa bulan sebelum batas waktu memasukan lamaran juga merupakan ide yang baik. Sehingga, test IELTS atau TOEFL bisa kita lakukan sendiri sebelum mengirimkan lamaran beasiswa. Hasil test itu bisa dilampirkan dalam lamaran, yang akan menjadi nilai plus jika telah memenuhi atau melebihi batas minimum skor TOEFL atau IELTS yang dipersyaratkan lembaga pemberi beasiswa. Studi di Australia, Inggris atau Selandia Baru biasanya mensyaratkan IELTS, sementara negara lain seperti Amerika umumnya mensyaratkan skor TOEFL.
Pemerintah Belanda melalui program STUNED juga menyediakan beasiswa studi pasca sarjana, dan cukup banyak memberi porsi untuk studi ilmu sosial. Kalau tidak salah, Surya Aslim, teman alumni HI 94 sedang studi di Belanda dengan beasiswa ini. Kabar baiknya, di Belanda ada banyak sekali universitas yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.
Pemerintah Inggris melalui program Chevening Award juga memberi beasiswa pasca sarjana. Sayangnya, kalau saya tidak salah menerima kabar, mulai tahun ini untuk sementara program Chevening untuk pelamar umum dihentikan. Chevening lebih banyak memberi beasiswa untuk program yang targeted, bukan studi umum. Misalnya, mereka khusus mengalokasikan untuk aktifis LSM, seperti aktifis HAM, untuk studi pasca sarjana bidang hukum. Atau untuk wartawan untuk studi jurnalisme.
Lantas dimana informasi mengenai persyaratan, pembukaan dan deadline pengiriman aplikasi bisa diperoleh? Sumber pertama tentu koran, apabila pemberi beasiswa di atas mengiklannya, terutama koran-koran nasional, seperti Kompas atau Media Indonesia.
Informasi juga bisa diperoleh di website kedutaan negara bersangkutan. Alamat website kedutaan bisa di search di Google. Cara lain adalah mendatangi langsung kedutaan (bila mungkin). Informasi beasiswa Perancis misalnya, bisa diperoleh di seksi kebudayaan di kedutaan Perancis di jalan Thamrin. Namun setelah 11 September 2001, pihak kedutaan umumnya sangat membatasi kunjungan di luar masalah aplikasi visa. Karena itu, website menjadi pilihan paling relevan sekarang. Informasi beasiswa biasanya juga tersedia di lembaga kebudayaan yang berkaitan dengan negara bersangkutan. Misalnya Goethe Institute, British Council, Erasmus Huis atau CCF.
Di luar Eropa, beasiswa juga ditawarkan pemerintah Singapura, Jepang, Australia dan Selandia Baru bagi mahasiswa Indonesia. Selain melalui website kedutaan, ada baiknya memeriksa langsung website universitas-universitas. National University of Singapore (NUS) seringkali menawarkan beasiswa untuk mahasiswa asal Indonesia. India juga pilihan yang bisa dicoba. Tradisi ilmu politik dan hubungan internasional di sana cukup kuat, terutama di Jawaharlal Nehru University di New Delhi.
Program beasiswa terbesar adalah yang ditawarkan pemerintah Australia melalui skema ADS (Australian Development Scholarship), dan APS (Australian Partnership Scholarship). Dengan skema ini, setiap tahun pemerintah Australia memberi beasiswa pascasarjana ke 600 orang Indonesia. Beasiswa ADS ditujukan untuk studi S-2 dan S-3, sementara APS hanya ditujukan untuk mereka yang akan melanjutkan studi S-2.
ADS/APS menyediakan training bahasa Inggris sebelum keberangkatan. Training ini diberikan sesuai dengan tingkat kemampuan bahasa Inggris, yang akan diketahui setelah melalui test bahasa (IELTS) yang merupakan bagian dari proses seleksi. Mereka yang lolos seleksi, akan mendapat training bahasa Inggris yang durasinya bervariasi. Ada yang harus mengikuti training selama 4 minggu, 3 bulan, 6, 9 atau 12 bulan. Biasanya, beasiswa ADS dan APS diumumkan di koran nasional. Informasi juga bisa diperoleh dengan mengunjungi website AUSAID, atau datang ke kantor pengelola ADS di Gedung Usmar Ismail di jalan Rasuna Said di Jakarta.
Informasi mengenai program beasiswa pemerintah Selandia Baru (NZ-ODA) bisa diperoleh di kedutaan Selandia Baru. Kalau belum pindah, kantor NZ-ODA ada di Gedung BRI II (atau III?) di daerah Semanggi-Jakarta. Ada banyak sekali lulusan jurusan hubungan internasional (dari berbagai universitas, bukan hanya dari kampus kita) yang melanjutkan studi di Selandia Baru dengan beasiswa NZ-ODA ini.
Beasiswa studi pasca sarjana dari Amerika Serikat disalurkan melalui program Fulbright. Di Indonesia, program Fulbright dikelola oleh AMINEF. AMINEF juga mengelola program beasiswa lain seperti Humphrey Fellowship dan lain-lain, yang lebih targeted (misalnya untuk wartawan, aktifis HAM) Informasi beasiswa Fulbright ini biasanya diumumkan di media massa. Website AMINEF, juga menyediakan informasi cukup lengkap mengenai beasiswa Fulbright.
Sejak 2005, AMINEF mengelola beasiswa Sampoerna bagi kaum professional untuk studi bidang bisnis (MBA). Dulu perusahaan rokok Sampoerna mengelola sendiri program beasiswanya ini. Karena sekarang saham Sampoerna telah dibeli oleh perusahan Amerika Philip Morris, produsen rokok Marlboro itu, AMINEF ditunjuk untuk melanjutkan pengelolaan program beasiswa MBA ini.
Ford Foundation juga dikenal sebagai lembaga pemberi beasiswa sejak lama. Malahan, program Ford Foundation ini seru sekali. Bila lolos seleksi, Ford Foundation membebaskan penerima beasiswa untuk memilih sendiri kemana dia hendak bersekolah di seluruh dunia. Mau belajar ke universitas di Afrika, Amerika, Eropa, atau Asia, terserah. Ford Foundation akan menyediakan biayanya.
Saya secara tidak sengaja pernah bertemu kawan lama Wawan Sobari, alumni Unpad jurusan Ilmu Pemerintahan angkatan 92, di Jakarta, menjelang keberangkatan saya ke sini. Wawan, yang bekerja sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Malang, mendapat beasiswa Ford Foundation. Ketika bertemu saya itu dia sedang training bahasa, dia memilih melanjutkan sekolah di Insitute of Social Studies (ISS) di Belanda yang terkenal itu. Bila berminat, coba datang ke kantor IIEF (Institute of International Education Foundation) di Menara Imperium, di daerah Rasuna Said - Jakarta untuk memperoleh informasi lebih banyak. IIEF adalah lembaga pengelola beasiswa Ford Foundation itu (bersambung).
Dekalb, 25 April 2006
philips vermonte



0 Comments:
Post a Comment
<< Home