Tuesday, June 06, 2006

Satu Malam (cerpen)

SATU MALAM
cerpen oleh Mrs. Alonso-Diaz

Lama aku tercenung menatap keluar jendela pesawat yang membawaku terbang ke Denpasar dari Surabaya. Benarkah keputusanku untuk pergi menemuinya? Sudah agak terlambat sekarang untuk mundur. Pesawat sudah akan take off.
“This will just be a friendly meeting”, kata-kata itu yang berulang-ulang kuucapkan di telepon dengan Randy tadi pagi sewaktu aku memberitahukan kedatanganku ke Bali menemuinya. “If that’s all you want then I’d still be delighted to meet you”, jawab Randy pelan.
If that’s all you want…. Hah, tentu saja that’s ALL I want ! Memang apa lagi yang kuharapkan dari pertemuan kami nanti? kataku dalam hati, mencoba menenangkan jantungku yang tiba-tiba berdebar aneh. Debar-debar yang dulu pernah begitu akrab. Sampai hampir lupa rasanya. Dulu sekali. Saat pertama aku beradu pandang dengan Mas Yoga di acara opspek kampus. Saat pertama dia datang ke rumahku. Saat pertama dia menggenggam tanganku. Ciuman pertama kami. Saat kami menikah. Malam pertama kami… juga saat kedua anak kami kulahirkan….
Mendadak air mataku merebak. Kemana perginya debar-debar itu? Aku ingin sekali merasakannya lagi. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar bagiku untuk bertahan menjalani rutinitas membosankan yang bernama pernikahan.
Entah bagaimana awalnya, semakin lama kurasakan kami semakin jauh. Aku dengan pekerjaan dan karirku, Mas Yoga dengan pekerjaan dan karirnya.
Lalu aku bertemu Randy. Setahun yang lalu. Hmmm…..mungkin bukan benar-benar “bertemu” karena aku hanya mengenalnya secara online di internet. Kami banyak bertukar cerita, curhat mengenai segalanya. Dia membuat hidupku yang sebelumnya seperti padang pasir menjadi lebih berwarna.
“Why don’t you get a divorce?” tanya Randy suatu kali saat kuceritakan masalah perkawinanku. Bercerai? Tidak. Aku tidak sanggup. Aku masih sangat mencintai Mas Yoga. Juga anak-anakku. Dan jauh di lubuk hatiku masih ada setitik harap bahwa segalanya akan kembali seperti dulu. Walau entah kapan.
Lagipula tak pernah terpikir olehku untuk bisa bertemu muka dengan Randy, sampai sebulan yang lalu dia bertanya, “I’m coming to Bali next month for a business trip…. will you meet me there?”. Lalu godaan itu mulai menari-nari di kepalaku. Semakin mendekati hari kedatangannya, aku semakin panik. Dan melalui perdebatan batin yang lumayan panjang dan melelahkan, akhirnya, walau dengan berat hati, aku putuskan untuk tidak menemuinya. Aku takut tidak sanggup menahan diri.
Tapi boss-ku membuyarkan ketetapan hatiku ketika dia malah memintaku untuk melakukan perjalanan dinas ke Surabaya tepat sehari setelah kedatangan Randy.

Maka disinilah aku sekarang berada. Di pesawat menuju Denpasar. Dari Surabaya toh sudah dekat ke Bali. Lagipula apa salahnya bertemu dengan Randy? Kami hanya dinner. Friendly dinner and that’s it! Tapi mengapa debar jantungku tak kunjung reda?
“This hotel has a nice restaurant downstairs. I’m sure you’re going to like it there. I’ll make reservations for two now and pick you up around 7.30, is that ok? Oh, and you’re in room 312 right?” tanya Randy di telepon sore tadi waktu aku menelepon ke kamarnya dari kamarku memberitahukan kedatanganku.
Jam setengah delapan tepat Randy mengetuk pintu kamarku. Dia mengenakan jas semi formal warna hitam. Tampan, rapi dan sedikit lebih tinggi dari perkiraanku. Lebih tampan dari yang selama ini kubayangkan lewat foto-fotonya dan obrolan-obrolan kami. Rambut ikal coklat, alis tebal dan mata birunya mengingatkanku pada Hugh Grant. Agak gugup waktu aku berkata, “Ok, shall we go now?” hingga tak sengaja aku menjatuhkan kunci kamarku. Berbarengan kami membungkuk untuk mengambil kunci sehingga wajah kami nyaris bersentuhan. Aku menahan napas. Oh, tidak! Jangan mulai, Sara. Pikiranku mulai tidak fokus. Dengan gugup aku segera berdiri dan mencoba bersikap santai. “Thanks” jawabku singkat waktu Randy menyerahkan kunci kamarku. Tuhan, jangan biarkan dia mendengar nada gugup dalam suaraku tadi, jeritku dalam hati.
Dan sepanjang jalan menuju restoran, aku berusaha untuk menjaga jarak. Tak akan kubiarkan diriku hanyut dalam angan-angan romantis yang mulai memenuhi benakku saat pertama kami bertemu pandang waktu kubuka pintu kamar tadi. Randy tampaknya cukup mengerti. Dia bahkan tidak mencoba menggandeng tanganku atau bahkan merangkulku sewaktu kami memasuki restoran.

“Reservation for Mr. Blake please” ucap Randy dan pelayan mengantar kami ke meja agak di depan dekat lantai dansa dimana tampak beberapa pasangan sedang berdansa.
Segalanya berjalan santai dan aku sangat menikmati makan malam kami sampai saat Randy menatapku tajam dan bertanya, “Seriously Sara, why don’t you just leave your husband? You might be happier with someone else….someone like me…maybe…if you let me…”. Aku tercekat, nyaris tersedak. Lama aku terdiam. Berbagai pikiran berkecamuk di pikiranku. Tiba-tiba kurasakan jemarinya menyentuh ujung jariku dan aku seperti tersengat listrik ribuan volt. Sudah lama sekali rasanya aku tak pernah lagi merasakan sentuhan seperti ini. Tubuhku menggigil. Lalu dia menggenggam tanganku, “I’m sorry to ask you this…but I just need to know what you think”
Seandainya saja aku bisa membuat segalanya lebih mudah. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan keluargaku. Tidak. Baru membayangkan harus berpisah dengan mereka saja sudah membuatku sesak napas. Bayangan Mas Yoga dan kedua anakku menari-nari di mataku dan kurasakan mataku mulai basah waktu aku katakan semuanya pada Randy. Semuanya.

“I understand Sara…shhh, now stop crying…”, ucap Randy sewaktu tangannya mengusap pelan pipiku untuk menghapus airmataku. Kekecewaan tampak di matanya tapi dia tetap tersenyum tulus. Sejenak kami hanya bertatapan tanpa berkata-kata. Lalu tatapannya beralih ke lantai dansa dan sebelum aku sempat mengarang alasan “It’s getting late so I better go back to my room…I have an early flight to catch this morning”, dia sudah berdiri disampingku dengan tangan terulur, “At least…. may I have this dance?”
“I…I don’t know…maybe I should just go back to my room…” jawabku ragu-ragu. Jauh…dalam lubuk hatiku, ingin rasanya kusambut jemarinya…ingin kurasakan berada dalam pelukan hangatnya….berdansa dalam alunan musik lembut….merasakan detak jantungnya dekat dengan jantungku….ahhh, baru membayangkannya telah membuatku sedikit terhanyut. Tidak. Aku tidak boleh, akal sehatku menjerit.
“Just one song…please…” Randy memaksa. Senyum dan tatapannya membuat akal sehatku tumpul.
Akhirnya kami berdansa. Seolah waktu berhenti berputar. Yang kurasa hanya desah nafasnya ditelingaku dan kunikmati setiap detik yang berlalu bersama debar jantungku.
Satu lagu, janjinya. Tapi hingga lagu ketiga hampir berakhir kami masih enggan beranjak.
“I want you…” bisik Randy pelan ditelingaku, begitu lembut hingga membuat lututku lemas, “…just for one night…”
“I…I can’t…I really can’t…” gemetar suaraku menjawabnya. Sebagian karena susah payah mengatakan apa yang bertentangan dengan dorongan hatiku dan sebagian juga karena ingin mendengar Randy mengatakannya sekali lagi.
Randy mengangkat daguku, “Look me in the eye…and tell me you don’t want me”. Randy menatapku lembut. “…just for tonight…and I’ll be out of your life for good…” bisiknya lagi. Masih dengan tatapan itu…mata birunya…bagaikan air…membuatku ingin tenggelam di dalamnya, “…please…”
Dan jangan tanyakan kemana perginya akal sehatku sewaktu akhirnya bisikan yang keluar dari mulutku adalah “…I want you…”.
Yang kuingat setelah itu hanyalah kilau matanya, lembut bibirnya saat menyentuh bibirku dan hangat genggaman tangannya sewaktu menarikku pergi, berdua kami kembali ke kamar 312.

Pagi. Masih di Bali.
Lunglai rasanya seluruh tubuhku. Serasa seluruh persendianku lepas dari engselnya setelah kepuasan semalam suntuk yang kureguk bersama Randy.
Randy.
Hey, dimana dia?
Kutoleh sisi tempat tidur sebelah kanan tempat terakhir kali kulihat dia terlelap.
Kosong.
“Just one night….” desahku pahit. Dia menepati janjinya.
Mestinya aku tidak perlu merasa kehilangan. Tapi kuakui ada sedikit rasa kehilangan. Sedikit. Selebihnya adalah penyesalan. Menyesalkah aku?
“Oh, Tuhan.…apa yang telah kulakukan?” Seakan baru kembali dari pengasingannya, akal sehatku mendadak muncul dan memporakporandakan segala yang semalam terasa begitu indah.
Dan kuhabiskan berjam-jam setelah itu untuk menangis.

Sampai di rumah. Kupencet bel, ting tong.
Mas Yoga yang membukakan pintu, “Hai…capek ya?”
Aku tertegun. Rasa bersalah itu muncul lagi. Kali ini jauh lebih hebat dari sebelumnya. Menatap wajah Mas Yoga yang penuh senyum menyambutku membuat hatiku semakin perih. Tuhan, ampuni aku.
“Sini, aku bawain kopermu. Berat kan?” masih penuh senyum Mas Yoga menarik koper dari genggamanku. Tangannya menyentuh pelan tanganku… dan zzzap! Hey…apa ini? Tubuhku seperti tersambar petir. Tiba-tiba memoriku kembali ke saat pertama Randy menyentuh tanganku di restauran itu. Rasanya begitu mendebarkan. Persis seperti saat ini.
Aku terpaku menatap Mas Yoga. Sepertinya sudah sangat lama sejak terakhir kali aku menatapnya. Sungguh-sungguh menatapnya hingga yang kulihat adalah sosok pria yang dulu pertama kali kukenal, kucintai dan kunikahi.
“Kamu kenapa sih?” Mas Yoga balas menatapku heran. Sempat kulihat semu merah di wajahnya dan senyum itu kembali tersungging. Baru kuingat betapa aku dulu merasa sangat damai melihat senyumnya. Senyum yang pernah membuatku tergila-gila.
Aku balas tersenyum. Sepenuh hati waktu kukatakan, “Mas… aku kangen sekali….”
Ada binar-binar indah di matanya. Perlahan Mas Yoga mendekat lalu meraihku ke dalam pelukannya. Hangat, nyaman dan penuh cinta.
Seperti dulu.
Detik itu juga aku tahu, bahwa segalanya akan menjadi lebih baik.

Sejak hari itu kehidupan rumah tanggaku kembali hangat. Bahkan anak ketiga kami lahir setahun kemudian.
Randy menepati janjinya untuk hilang dari kehidupanku selamanya.
Mungkin bisa saja jika aku masih ingin menghubunginya. Percayalah, beberapa kali godaan untuk mengirimkan e-mail untuknya sekedar menanyakan kabarnya, muncul. Tapi akhirnya kuputuskan untuk men-delete alamat e-mail serta chat ID-nya dari address book-ku dan dari kehidupanku selamanya.
Aku bahagia sekarang.
Tapi bagaimanapun aku harus berterima kasih padanya…karena pada satu malam dalam hidupku, dia telah mengembalikan perasaan yang sempat kukira tak akan pernah kurasakan lagi.

1 Comments:

At 8:45 AM, Blogger Alumni HI Unpad 91 said...

kuwelll banget neh...

 

Post a Comment

<< Home