Friday, August 18, 2006

Sikap Skeptis

Banyaknya event dunia yang layak jual dan berkat kemajuan teknologi informasi, termasuk TV dan internet membuat tugas wartawan semakin enggak mudah. Kabar para fotografer Reuters yang membuat foto bohongan-bohongan korban dan dampak Perang Israel dan Hisbullah jadi omongan dimana-mana. Begitu juga seragamnya liputan wartawan dalam kasus terror plot di Inggris.

Sikap skeptis wartawan semakin ditinggalkan. Termasuk di negeri bule-bule sana yang bisa dibiling sebagai pelopor. Kasus terror plot di London contoh paling gres. Sampai dua hari setelah isu itu muncul, hampir semua media TV belum mendapatkan sisi lainnya. Berita dan gambar masih sama. Sumbernya sama: polisi dan pejabat pemerintah. Padahal, polisi Inggris dan sudah membuat beberapa blunder.

Beberapa pekan sebelum kasus terror plot di London, di Forest Gate, terjadi pengepungan sebuah rumah oleh 250 polisi anti rerror. Sempat terjadi tembakan. Tapi hasilnya, kedua tersangka dibebaskan. Enggak ada bukti bahwa mereka teroris. Polisi kembali “menang”, media dan wartawan kembali “kalah”.

Sebelum itu, terjadi penembakan Jean Charles De Menezes, warga Brasil yang dikira teroris. Dia berada di saat yang salah ketika terjadi ancaman teror di London. Polisi bukan cuma menangkap orang yang salah, tapi juga menembaknya. Jean Charles mati sia-sia.

Polisi salah, tapi wartawan juga ikut-ikutan. Ini yang disayangkan. Dimana sikap skeptis wartawan? Wartawan bukan corong pejabat pemerintah atau polisi. Tugas utama adalah mencari sumber isu itu muncul pertama kali dari siapa saja dan kapan saja. Bukan pejabat pemerintah.

Mempertanyakan munculnya kasus terror plot di saat terjadi perang ganas di Israel dan Libanon adalah sikap skeptis yang bagus. Tapi harus dilanjutkan dengan bukti. Kalau cuma asal ngomong tanpa bukti, sama juga bohong.

Wartawan Barat, khususnya Inggris, kabarnya belakangan ini sedang dijangkiti Islamfobia. Bawaan curiga terus melihat lingkungan muslim. Paling enggak nyaman melihat para laki-laki berjenggot dan berjubah. Sebagai wartawan ini membahayakan kerjenihan liputan mereka.

Terror plot udah hampir seminggu, tapi enggak banyak perkembangan mengenai bukti-bukti baru. Dari 24 tersangka kini turun jadi 22. Dua orang dibebaskan karena mereka dianggap berada di saat yang salah. Wartawan Inggris sekali lagi harus kalah dari polisi. Polisi sudah bekerja maksimal dan sukses memasukkan agen di kelompok yang dicurigai. Tapi tak satu pun wartawan yang berhasil mewawancari si agen tersebut.

Kasar-jakarta

0 Comments:

Post a Comment

<< Home