dari perempuan untuk lelaki...
"Mba Dina ambil Gender Study ya?"
"Oh, pasti PhD-nya tentang Gender ya?"
"Wah studi tentang gender kan memang prioritas bagi pemberi beasiswa!"
Statement-statement yang terkadang lebih bernada judgement dan sangat cynical seperti itu sudah sangat sering gue denger dari orang-orang yang ada di komunitas gue saat ini. Mostly mereka adalah "laki-laki". Walau ada juga beberapa yang perempuan. Gak jarang muka-muka mereka ketika melontarkan itu semua sangat pantas untuk "dicolek" sedikit karena gaya cibiran mereka yang bikin muak.
Walaupun studi aku bukan tentang gender or perempuan, tapi pernyataan dan sikap synical mereka terhadap perempuan yang belajar tentang "gender" or "perempuan" jelas-jelas bikin gue jengkel. Dalam hati berpikir kenapa sih memangnya kalo ada seorang perempuan indonesia mengambil studi tentang perempuan or anything associated with them. kenapa harus sampai ada tuduhan bahwa itu cuma siasat untuk mendapatkan kursi beasiswa? Kenapa di kalangan orang-orang "terpelajar" (seperti para students yang bertanya pada gue itu)saja masih tidak bisa melepas semua stereotype bahwa perempuan itu sesungguhnya tidak cerdas, tidak smart dan kalaupun bisa duduk sejajar dengan para lelaki itu cuma karena mereka menguasai hal-hal yang menyangkut tentang dirinya sendiri! Yang lebih bikin jengkel adalah ketika mereka menambahankan cibiran sambil bilang "ah perempuan, mereka cuma cari-cari masalah saja",... the hell with these men!
Mungkin temen-temen yang baca blog ini akan bertanya; kenapa tiba-tiba isu tentang ini harus bela-belain gue tulis.
Tentu saja ini ada sebabnya. Tadi malam, salah satu statiun TV di sini menyiarkan program khusus tentang akan diundangkannya UU Anti-Pornography di Indonesia. Program ini seakan-akan ingin mengatakan kepada mereka yang menonton; bahwa Indonesia yang baru saja membebaskan otak terorisme Abu Bakar Baashir jelas menampakkan gejala shifting dari Indonesia yang secular ke arah yang lebih Islamis. Beberapa kali scene memuat pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh pimpinan FPI dan juga salah seorang anggota parlemen yang berasal dari PKS tentang perlunya konstitusi negara merujuk kepada ajaran agama Islam, agama mayoritas penduduk di Indonesia.
Bagi masyarakat disini yang tahu hanya sedikit tentang kompleksnya permasalahan yang dialami umat di Indonesia, tentu saja tayangan seperti di atas sangat menakutkan. Gak heran, pagi-pagi ini gue langsung harus cas cis cus diskusi sama seorang teman lokal yang juga menonton acara tadi malam. Menurut dia, fenomena demikian jelas-jelas sangat sangat menakutkan apalagi kalau benar-benar Indonesia harus berubah menjadi negara Islam. Walaupun gue sempet bilang juga kenapa mereka harus takut, toh Malaysia yang nota bene konstitusinya menyebut negara mereka sebagai negara Islam, so far tidak menimbulkan masalah apa-apa. selanjutnya, dalam tayangan tersebut juga digambarkan betapa perempuan di judge morality-nya hanya berdasar pada cara dia berpakaian, bermake up or berbicara. Ada sebuah scene yang menayangkan seorang perempuan di Tangerang yang tertangkap "polisi etika" dan harus menjalani persidangan hanya karena berjalan sendiri lewat jam 7 malam sementara dalam tasnya ditemukan sebuah lipstik dan pemoles muka. Ah, betapa anehnya...
Gue sendiri sebenarnya tidak mau terjebak untuk menyebut diri sebagai seorang sekuler or liberal or Islamis sekalipun. Sejak 1994 gue memang berjilbab. Gue gak terlalu paham apakah gaya berjilbab gue sudah sesuai dengan ajaran yang ada dalam agama gue. Tapi, gue gak mau terlalu pusing mikirin itu. Ketika bekerja di UIN, ada seorang dosen senior perempuan yang suatu ketika mengkritik gue. katanya "dina, gaya berjilbab kamu terlalu modis, kamu harus begini dan begitu..."... Ugh, waktu itu gue mikir, who the hell you are to judge the way i dress!...
Dan kalo memang UU anti-Pornography itu diundangkan, ah gue gak kebayang... apa yang akan terjadi pada diri gue? dan diri perempuan-perempuan lain di Indonesia kalo UU anti-Pornography ini benar benar diterapkan. Perempuan lagi-lagi punya masalah baru.
With this, i suddenly feel really bad as a woman. For an illustration of how a woman has to struggle in her life is my own story. I myself have to study very hard while at the same time i have to take care of my two kids and make sure my husband will have a proper lunch and dinner everyday. So no wonder, while am reading books or journals and try to understand every single word that i read, my mind will still go to my kitchen, thinking of what food should i cook for tonight dinner, or is there any milk left on my fridge for my daughter who use to wake up at night and ask for a bottle of milk?
A friend of mine, one of young Indonesian feminists who has produced two books on women and their experiences in Indonesia and also now is struggling with me in Melbourne, one day said to me... "if i could yell at them all i would say that when women students like us manage to finish their studies on time we have to be given all the credits!
I could imagine our life must have been better compare to other women who are now struggling di pasar cipulir, pasar ciputat, pasar keb.lama,... mereka almost never have good sleep at night. trus juga mereka yang harus ngungsi krn natural disaster or conflict such as in Aceh or Jogya...
So, up to this point, shouldnt we think the problems face by Indonesian women are so difficult? if we could just understand this we then should praise all of those women who have dedicated their time in search for something meaningfull to their fellow women in Indonesia or elsewhere in the world, no matter how their research will affect state's policy or community's perspective or attitude to all women.
d'


