Thursday, June 29, 2006

dari perempuan untuk lelaki...

"Mba Dina ambil Gender Study ya?"
"Oh, pasti PhD-nya tentang Gender ya?"
"Wah studi tentang gender kan memang prioritas bagi pemberi beasiswa!"

Statement-statement yang terkadang lebih bernada judgement dan sangat cynical seperti itu sudah sangat sering gue denger dari orang-orang yang ada di komunitas gue saat ini. Mostly mereka adalah "laki-laki". Walau ada juga beberapa yang perempuan. Gak jarang muka-muka mereka ketika melontarkan itu semua sangat pantas untuk "dicolek" sedikit karena gaya cibiran mereka yang bikin muak.

Walaupun studi aku bukan tentang gender or perempuan, tapi pernyataan dan sikap synical mereka terhadap perempuan yang belajar tentang "gender" or "perempuan" jelas-jelas bikin gue jengkel. Dalam hati berpikir kenapa sih memangnya kalo ada seorang perempuan indonesia mengambil studi tentang perempuan or anything associated with them. kenapa harus sampai ada tuduhan bahwa itu cuma siasat untuk mendapatkan kursi beasiswa? Kenapa di kalangan orang-orang "terpelajar" (seperti para students yang bertanya pada gue itu)saja masih tidak bisa melepas semua stereotype bahwa perempuan itu sesungguhnya tidak cerdas, tidak smart dan kalaupun bisa duduk sejajar dengan para lelaki itu cuma karena mereka menguasai hal-hal yang menyangkut tentang dirinya sendiri! Yang lebih bikin jengkel adalah ketika mereka menambahankan cibiran sambil bilang "ah perempuan, mereka cuma cari-cari masalah saja",... the hell with these men!

Mungkin temen-temen yang baca blog ini akan bertanya; kenapa tiba-tiba isu tentang ini harus bela-belain gue tulis.

Tentu saja ini ada sebabnya. Tadi malam, salah satu statiun TV di sini menyiarkan program khusus tentang akan diundangkannya UU Anti-Pornography di Indonesia. Program ini seakan-akan ingin mengatakan kepada mereka yang menonton; bahwa Indonesia yang baru saja membebaskan otak terorisme Abu Bakar Baashir jelas menampakkan gejala shifting dari Indonesia yang secular ke arah yang lebih Islamis. Beberapa kali scene memuat pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh pimpinan FPI dan juga salah seorang anggota parlemen yang berasal dari PKS tentang perlunya konstitusi negara merujuk kepada ajaran agama Islam, agama mayoritas penduduk di Indonesia.

Bagi masyarakat disini yang tahu hanya sedikit tentang kompleksnya permasalahan yang dialami umat di Indonesia, tentu saja tayangan seperti di atas sangat menakutkan. Gak heran, pagi-pagi ini gue langsung harus cas cis cus diskusi sama seorang teman lokal yang juga menonton acara tadi malam. Menurut dia, fenomena demikian jelas-jelas sangat sangat menakutkan apalagi kalau benar-benar Indonesia harus berubah menjadi negara Islam. Walaupun gue sempet bilang juga kenapa mereka harus takut, toh Malaysia yang nota bene konstitusinya menyebut negara mereka sebagai negara Islam, so far tidak menimbulkan masalah apa-apa. selanjutnya, dalam tayangan tersebut juga digambarkan betapa perempuan di judge morality-nya hanya berdasar pada cara dia berpakaian, bermake up or berbicara. Ada sebuah scene yang menayangkan seorang perempuan di Tangerang yang tertangkap "polisi etika" dan harus menjalani persidangan hanya karena berjalan sendiri lewat jam 7 malam sementara dalam tasnya ditemukan sebuah lipstik dan pemoles muka. Ah, betapa anehnya...

Gue sendiri sebenarnya tidak mau terjebak untuk menyebut diri sebagai seorang sekuler or liberal or Islamis sekalipun. Sejak 1994 gue memang berjilbab. Gue gak terlalu paham apakah gaya berjilbab gue sudah sesuai dengan ajaran yang ada dalam agama gue. Tapi, gue gak mau terlalu pusing mikirin itu. Ketika bekerja di UIN, ada seorang dosen senior perempuan yang suatu ketika mengkritik gue. katanya "dina, gaya berjilbab kamu terlalu modis, kamu harus begini dan begitu..."... Ugh, waktu itu gue mikir, who the hell you are to judge the way i dress!...

Dan kalo memang UU anti-Pornography itu diundangkan, ah gue gak kebayang... apa yang akan terjadi pada diri gue? dan diri perempuan-perempuan lain di Indonesia kalo UU anti-Pornography ini benar benar diterapkan. Perempuan lagi-lagi punya masalah baru.

With this, i suddenly feel really bad as a woman. For an illustration of how a woman has to struggle in her life is my own story. I myself have to study very hard while at the same time i have to take care of my two kids and make sure my husband will have a proper lunch and dinner everyday. So no wonder, while am reading books or journals and try to understand every single word that i read, my mind will still go to my kitchen, thinking of what food should i cook for tonight dinner, or is there any milk left on my fridge for my daughter who use to wake up at night and ask for a bottle of milk?
A friend of mine, one of young Indonesian feminists who has produced two books on women and their experiences in Indonesia and also now is struggling with me in Melbourne, one day said to me... "if i could yell at them all i would say that when women students like us manage to finish their studies on time we have to be given all the credits!
I could imagine our life must have been better compare to other women who are now struggling di pasar cipulir, pasar ciputat, pasar keb.lama,... mereka almost never have good sleep at night. trus juga mereka yang harus ngungsi krn natural disaster or conflict such as in Aceh or Jogya...

So, up to this point, shouldnt we think the problems face by Indonesian women are so difficult? if we could just understand this we then should praise all of those women who have dedicated their time in search for something meaningfull to their fellow women in Indonesia or elsewhere in the world, no matter how their research will affect state's policy or community's perspective or attitude to all women.

d'

Tuesday, June 27, 2006

10 Trend Bisnis di Tahun 2007

Nugraha

Faktor-faktor apa saja yang akan secara signifikan merubah dasar pemikiran perusahaan di tahun-tahun ke depan?
Mereka yang mengatakan bisnis yang sukses itu adalah tentang eksekusi adalah salah & selanjutnya akan tertimpa biaya perubahan yang lumayan besar. Penempatan produk yang pas dengan pasar, pemanfaatan teknologi, dan alat ukur geografi adalah komponen utama dari pencapaian ekonomi jangka panjang. Dalam masa Industri yang sedang krisis seringkali melahirkan proses-proses manajemen yang baik.

Sektor-sektor jasa seperti perbankan, telekomunikasi, dan teknologi akan tetap mengalami pertumbuhan. Perusahaan dengan product yang memiliki brand internasional tidak akan mengalami kesulitan menghadapi tantangan geografi selama berada di segmentasi pasar yang benar itupun harus ditambah dengan memadukan proses identifikasi munculya potensi pasar yang terbaru & mengembangkan strategy untuk menciptakan pasar khusus.

Apakah hal terbaru di hari ini akan membuat dunia berbeda di tahun 2015? Dalam hal analisa untuk mengambil kesimpulan yang berasal dari prediksi trend jangka pendek dapat berakibat buruk. Untuk sementara hal ini berlaku di trend pasar lisensi atau franchise (hal yang dibangun booming Dunkin Donuts tidak akan berlaku sama terhadap breadtalk atau J’co donuts) karena product mereka merupakan kategori follower yang sudah melewati masa edukasi pasar oleh pemain lama, namun keuntungan pemain baru tetap ada selama pemain lama merasa aman & tidak melakukan re-branding. Cara paling tepat untuk meramalkan perubahan jangka panjang adalah dengan mengidentifikasi kecenderungan melalui suatu analisa sejarah & makro ekonomi. Menurut sejarah trend internet menempuh lebih dari 30 tahun untuk menjadi suatu fenomena spektakuler dalam hal word view mechanism.

Mari kita melihat 10 highlight trend yang akan merubah landasan bisnis masa depan. Pertama kita akan mengidentifikasi 2 trend macroeconomic yang akan merubah tatanan ekonomi:

1. Pergeseran aktifitas ekonomi global, tidak hanya global namun juga regional. Sebagai konsekuensi economic liberalization, nilai tambah technologi, perkembangan capital market, dan pergeseran demographic economi, dunia telah menyusunan kembali kegiatan ekonomi raksasa melalui pergeseran industri yang akan memaksa world wide fund untuk mengikutinya. Walaupun akan ada goncangan dan kemunduran, penyusunan kembali ini akan tetap berlaku. Hari ini, Asia ( tidak termasuk Jepang) meliputi 13%GDP, selagi Eropah Barat meliputi lebih dari 30%. Dalam 20 tahun kekuatan keduanya akan kembali memusat untuk beberapa industri dan functions-manufacturing dan jasa IT, terutama ke Asia. Amerika serikat & Eropa akan membagi industrinya ke wilayah Asia dengan prioritas utama ke China & Taiwan ( Toyota Vios pada awalnya merupakan strategy Toyota corp untuk memperluas pasar di China yang akhirnya menghasilkan sedan murah untuk seluruh dunia).

2. Personal service booming; jasa pendidikan, dana pensiun/PHK dan bisnis kesehatan termasuk asuransinya akan menjadi primadona karena tuntutan individu yang semakin meningkat. Permintaan terhadap hal tersebut akan menciptakan pertumbuhan bagi mereka yang menyediakan jasa tersebut, hal ini akan semakin di perkuat dengan andilnya pemerintah daerah terhadap pengadaan & peningkatan kualitas pendidikan, dana pensiun/asuransi PHK & kesehatan.

Ke-2 adalah melihat 2 faktor investasi yang akan mengemuka:

3. Pola baru investasi; Setiap investor yang masuk ke sebuah negara tidak akan melakukan investasi besar-besaran terutama dalam hal pengadaan infrastructure, penyewaan akan menjadi ide bisnis yang menarik seperti mobil, gedung, ATK, pameran bahkan pengadaan tenaga kerja melalui agent. company yang berada di business tersebut akan mendapatkan keuntungan besar selama 10 tahun ke depan.
Product mobil menengah dengan harga diatas 100jt akan mengalami penurunan di kisaran 15% - 20% dari penjualan semester 1 tahun 2006. Selanjutnya mau tidak mau leasing akan melakukan pengurangan bunga pinjaman untuk menjamin persaingan serta menerima resiko penjualan lebih ke daerah pedalaman yang memiliki potensi product eksport tinggi. Dalam hal segmentasi Leasing company juga harus mampu menggarap pasar product dibawah harga Rp. 200.000,- yang memusat di hypermarket, carefour dll.

4. Personal investment base; Dalam hal keuangan pasar deposito akan lenyap seperti corporate loan, market akan memaksa bunga tabungan lebih tinggi dari deposito dimana selanjutnya akan diatur oleh 1 kartu multi fungsi mulai dari ATM, credit card, KTA dll. Namun yang unik lebih dari itu dimana sifat perjanjian antar Bank dengan client akan menggabungkan logika investasi corporate dengan individu karena bank akan memberikan fasilitas pinjaman kepada individu yang bisa dibayar pada waktu minimum 6 bulan sesudah dana diterima itu pun dengan jumlah & waktu pembayaran yang diatur oleh kemampuan customer ditambah dengan perang bunga minimum antar bank.
Jaminan individu yang satu di dalam perusahaan akan dibebankan atribut berat sebagai penjamin individu lainnya dengan kelayakan menurut prinsip-prinsip keuangan international, contoh: dalam industri asuransi jaminan pembayaran claim tidak sekedar menjadi tanggungan corporate namun juga merupakan jaminan harta individu didalamnya (komisaris, direktur utama, direktur teknik, direktur marketing, GM & Manager). Begitu juga dengan industri keuangan seperti perbankan, leasing dll.

Analisa kelayakan pinjaman oleh penyedia dana international terhadap rencana realisasi pinjaman corporate di segmen non multi business akan menyangkut nama-nama individu didalamnya dengan seluruh masa lalunya. Hal ini juga akan berlaku terhadap govermance & national analysis yang menghendaki pinjaman luar negeri. Sertifikasi internasional terhadap individu & kemampuan menjalankan prosedur internal sesuai dengan standar international akan menjadi kewajiban di seluruh perusahaan.

faktor ke-3 adalah Market analisis:

5. Mempertahankan market lama dengan menekan alokasi ke pasar baru; Kemungkinan besar business personal investment seperti contohnya; GE Capital (non banking) yang memiliki SOP finance yang akurat akan menciutkankan divisi credit analis karena memungkinkan NPL baru yang berlawanan dengan tujuan untuk meminimalisasi penerima credit baru, sebagai gantinya client lama yang memiliki riwayat pembayaran lebih baik akan ditambah fasilitas-fasilitas pinjaman lainya.
Pada point ke-4 selanjutnya adalah melihat 2 trend unik yang menyangkut product management & daya beli masyarakat:

6. Waktunya untuk product kelas 2 dengan harga kelas 3; Kenaikan harga BBM akan menurunkan daya beli masyarakat hingga 40% dari kemampuan sebelumnya, Faktor defisit APBN yang membengkak menjadi 42 Trilyun di tanggal 23 June 2006 merupakan kosa kata awal untuk legitimasi kenaikan harga BBM lanjutan. Pengaruhnya terhadap perusahaan akan memaksa untuk melakukan efesiensi & menekan cost dengan berbagai cara termasuk dengan cepat menghasilkan product kelas 2 dengan kemungkinan harga product kelas 3. Beruntung bagi perusahaan yang memiliki product kelas 2-3 dengan kualitas baik, Contoh: saat ini jika kita melihat porsi iklan unilever di kategori sabun pencuci maka pasar telah di plot ke product surf (produk ke-2 sesudah Rinso), surf lebih murah 15% – 10% dibanding harga Rinso. Harga akan menjadi patokan utama pasar untuk melakukan pembelian.

7. International branded for metroseksual people; product yang berorientasi terhadap pasar generasi metroseksual & memiliki international brand akan sangat diuntungkan, hasilnya adalah product untuk generasi berumur 17 – 25 dengan ciri-ciri: biasa berdiskusi kelompok di starbuck, minimum 10 jam menghabiskan waktu surf internet, memilih sekolah international, branded & terbiasa dengan perjalanan antar negara. Sebagai contoh: XL sebagai product kartu cellular sedang melakukan re-branding yang ditujukan untuk kalangan metroseksual dengan fitur yang memberikan kesan lebih modern dibandung penyedia kartu lainnya, sedangkan untuk international trend bekerja sama dengan Yahoo (untuk sementara lupakan jangkauan yang menjadi pokok image product dalam iklan-iklan kartu cellular lama).

Faktor tambahan ke-5 selanjutnya adalah identifikasi faktor sosial & Human resource:

8. Konektifitas & Technology effect; konektifitas akan mentransform cara hidup & faktor-faktor interaksi. Individu, public sectors, dan internal busines akan belajar untuk menggunakan IT yang terbaik didalam design proses dan dalam hal menciptakan organisasi belajar.
Efect transformasi secara individual selanjutnya adalah; kita tidak hanya bekerja secara dalam scope international namun juga kontinue secara online, Jutaan orang menggunakan telepon genggam, secara pribadi kita mengirim paling sedikit 7800 e-mail selama setahun, internet business dilakukan puluhan juta orang didunia & di dalam sebuah kantor kecil (15 orang sales) minimum terjadi 117.000 e-mail setahun. Kita melakukan ratusan chatting & Yahoo/Google search setiap hari, dimana setengah dari jumlah situs yang digunakan bukan berbahasa English. Pertama kali dalam sejarah di negara berkembang akan muncul booming pelaku ekonomi individual dari generasi 3 - 4 bahasa yang melihat batasan geography bukan suatu masalah terhadap organisasi social dan economic. Sebagai tambahan finance & accounting merupakan bahasa ke-4 dari tiap individu yang mudah dipelajari melalui online eductions tanpa harus melalui pendidikan formal.

Transaksi yang dilakukan melalui internet seperti membeli product di E-bay lalu menjualnya kepada individu dengan mata uang US Dollar lambat laun akan menekan alokasi rupiah dalam jumlah yang besar.

Faktor ke-6 yang tak kalah penting adalah environment, health & social responsibility:

9. EHS demand; GCG merupakan faktor yang menjadi bagian penting dalam laporan corporate di tingkat domestic & international terutama jika ingin menjual product di Eropa & USA, hal ini juga termasuk dalam hal menggalang dana terhadap project domestic (selain laporan keuangan, legal & proses internal audit) salah satu tuntutan yang mengemuka adalah faktor tanggung jawab terhadap lingkungan serta efect produksi terhadap pencemaran lingkungan. Pada bagian tertentu organisasi WTO memberikan kesempatan penjualan secara global yang tinggi namun memunculkan hambatan yang jauh lebih kompleks melalui konsep-konsep keamanan lingkungan serta attribute product yang distandarisasi oleh lembaga kesehatan & lingkungan.

Hal terakhir yang harus diperhatikan adalah General management performance:

10. Science Management oriented; the art of management akan bergeser ke science oriented, strategy menjadi lebih besar, kompleksitas tuntutan SBU terhadap adanya alat bantu untuk menjalankan business akan beragam. Technology terbaru & alat control statistic akan menjadi standarisasi SBU dalam pendekatan management, bahkan lebih jauh menjadi atribut perhitungan utama dalam berbagai hal termasuk business plan dalam menetapkan trend atau kecenderungan pasar. Hari ini para pimpinan business secara umum mengadopsi teknik keputusan berdasarkan perhitungan Algoritma & menggunakan software terbaru untuk menjalankan organisasinya. Scientific management bergerak dari skill yang menciptakan nilai tambah kompetitif ke kepastian yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk tetap maksimum didalam track business.

Dalam hal data mulai dari outsource hingga statistic dibutuhkan management pengetahuan & trend yang real time 24 jam, kepastian sumber pengetahuan tercepat (melalui yahoo atau google), kemampuan untuk mengembangkan presisi data mendekati 90%, system knowledge filter yang terbaik dengan ujung terakhir di artificial intelligence sehingga CEO ataupun pimpinan SBU tinggal mengetuk palu untuk memutuskan alternative skenario.

Sebagai penutup setiap perusahaan yang ingin tetap survive di tahun 2015 membutuhkan banyak alat bantu terutama didalam konteks management umum, product management, business analyst, strategy pasar (geographic analisis), menciptakan organisasi belajar, memaksimalkan keunggulan SDM & tanggungjawab. Tersedianya SBU yang menyediakan factor-faktor outsource masih merupakan hitungan awal dalam resiko analisis utama dari rencana investor.

Sekilas tentang penulis: Nugraha MAS, S.Ip bekerja sebagai assistant president director PT. Asuransi Bosowa Periskop – Kantor Pusat Jakarta & Corporate PDCA team - Strategic Initiatives author.

Tuesday, June 06, 2006

Satu Malam (cerpen)

SATU MALAM
cerpen oleh Mrs. Alonso-Diaz

Lama aku tercenung menatap keluar jendela pesawat yang membawaku terbang ke Denpasar dari Surabaya. Benarkah keputusanku untuk pergi menemuinya? Sudah agak terlambat sekarang untuk mundur. Pesawat sudah akan take off.
“This will just be a friendly meeting”, kata-kata itu yang berulang-ulang kuucapkan di telepon dengan Randy tadi pagi sewaktu aku memberitahukan kedatanganku ke Bali menemuinya. “If that’s all you want then I’d still be delighted to meet you”, jawab Randy pelan.
If that’s all you want…. Hah, tentu saja that’s ALL I want ! Memang apa lagi yang kuharapkan dari pertemuan kami nanti? kataku dalam hati, mencoba menenangkan jantungku yang tiba-tiba berdebar aneh. Debar-debar yang dulu pernah begitu akrab. Sampai hampir lupa rasanya. Dulu sekali. Saat pertama aku beradu pandang dengan Mas Yoga di acara opspek kampus. Saat pertama dia datang ke rumahku. Saat pertama dia menggenggam tanganku. Ciuman pertama kami. Saat kami menikah. Malam pertama kami… juga saat kedua anak kami kulahirkan….
Mendadak air mataku merebak. Kemana perginya debar-debar itu? Aku ingin sekali merasakannya lagi. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar bagiku untuk bertahan menjalani rutinitas membosankan yang bernama pernikahan.
Entah bagaimana awalnya, semakin lama kurasakan kami semakin jauh. Aku dengan pekerjaan dan karirku, Mas Yoga dengan pekerjaan dan karirnya.
Lalu aku bertemu Randy. Setahun yang lalu. Hmmm…..mungkin bukan benar-benar “bertemu” karena aku hanya mengenalnya secara online di internet. Kami banyak bertukar cerita, curhat mengenai segalanya. Dia membuat hidupku yang sebelumnya seperti padang pasir menjadi lebih berwarna.
“Why don’t you get a divorce?” tanya Randy suatu kali saat kuceritakan masalah perkawinanku. Bercerai? Tidak. Aku tidak sanggup. Aku masih sangat mencintai Mas Yoga. Juga anak-anakku. Dan jauh di lubuk hatiku masih ada setitik harap bahwa segalanya akan kembali seperti dulu. Walau entah kapan.
Lagipula tak pernah terpikir olehku untuk bisa bertemu muka dengan Randy, sampai sebulan yang lalu dia bertanya, “I’m coming to Bali next month for a business trip…. will you meet me there?”. Lalu godaan itu mulai menari-nari di kepalaku. Semakin mendekati hari kedatangannya, aku semakin panik. Dan melalui perdebatan batin yang lumayan panjang dan melelahkan, akhirnya, walau dengan berat hati, aku putuskan untuk tidak menemuinya. Aku takut tidak sanggup menahan diri.
Tapi boss-ku membuyarkan ketetapan hatiku ketika dia malah memintaku untuk melakukan perjalanan dinas ke Surabaya tepat sehari setelah kedatangan Randy.

Maka disinilah aku sekarang berada. Di pesawat menuju Denpasar. Dari Surabaya toh sudah dekat ke Bali. Lagipula apa salahnya bertemu dengan Randy? Kami hanya dinner. Friendly dinner and that’s it! Tapi mengapa debar jantungku tak kunjung reda?
“This hotel has a nice restaurant downstairs. I’m sure you’re going to like it there. I’ll make reservations for two now and pick you up around 7.30, is that ok? Oh, and you’re in room 312 right?” tanya Randy di telepon sore tadi waktu aku menelepon ke kamarnya dari kamarku memberitahukan kedatanganku.
Jam setengah delapan tepat Randy mengetuk pintu kamarku. Dia mengenakan jas semi formal warna hitam. Tampan, rapi dan sedikit lebih tinggi dari perkiraanku. Lebih tampan dari yang selama ini kubayangkan lewat foto-fotonya dan obrolan-obrolan kami. Rambut ikal coklat, alis tebal dan mata birunya mengingatkanku pada Hugh Grant. Agak gugup waktu aku berkata, “Ok, shall we go now?” hingga tak sengaja aku menjatuhkan kunci kamarku. Berbarengan kami membungkuk untuk mengambil kunci sehingga wajah kami nyaris bersentuhan. Aku menahan napas. Oh, tidak! Jangan mulai, Sara. Pikiranku mulai tidak fokus. Dengan gugup aku segera berdiri dan mencoba bersikap santai. “Thanks” jawabku singkat waktu Randy menyerahkan kunci kamarku. Tuhan, jangan biarkan dia mendengar nada gugup dalam suaraku tadi, jeritku dalam hati.
Dan sepanjang jalan menuju restoran, aku berusaha untuk menjaga jarak. Tak akan kubiarkan diriku hanyut dalam angan-angan romantis yang mulai memenuhi benakku saat pertama kami bertemu pandang waktu kubuka pintu kamar tadi. Randy tampaknya cukup mengerti. Dia bahkan tidak mencoba menggandeng tanganku atau bahkan merangkulku sewaktu kami memasuki restoran.

“Reservation for Mr. Blake please” ucap Randy dan pelayan mengantar kami ke meja agak di depan dekat lantai dansa dimana tampak beberapa pasangan sedang berdansa.
Segalanya berjalan santai dan aku sangat menikmati makan malam kami sampai saat Randy menatapku tajam dan bertanya, “Seriously Sara, why don’t you just leave your husband? You might be happier with someone else….someone like me…maybe…if you let me…”. Aku tercekat, nyaris tersedak. Lama aku terdiam. Berbagai pikiran berkecamuk di pikiranku. Tiba-tiba kurasakan jemarinya menyentuh ujung jariku dan aku seperti tersengat listrik ribuan volt. Sudah lama sekali rasanya aku tak pernah lagi merasakan sentuhan seperti ini. Tubuhku menggigil. Lalu dia menggenggam tanganku, “I’m sorry to ask you this…but I just need to know what you think”
Seandainya saja aku bisa membuat segalanya lebih mudah. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan keluargaku. Tidak. Baru membayangkan harus berpisah dengan mereka saja sudah membuatku sesak napas. Bayangan Mas Yoga dan kedua anakku menari-nari di mataku dan kurasakan mataku mulai basah waktu aku katakan semuanya pada Randy. Semuanya.

“I understand Sara…shhh, now stop crying…”, ucap Randy sewaktu tangannya mengusap pelan pipiku untuk menghapus airmataku. Kekecewaan tampak di matanya tapi dia tetap tersenyum tulus. Sejenak kami hanya bertatapan tanpa berkata-kata. Lalu tatapannya beralih ke lantai dansa dan sebelum aku sempat mengarang alasan “It’s getting late so I better go back to my room…I have an early flight to catch this morning”, dia sudah berdiri disampingku dengan tangan terulur, “At least…. may I have this dance?”
“I…I don’t know…maybe I should just go back to my room…” jawabku ragu-ragu. Jauh…dalam lubuk hatiku, ingin rasanya kusambut jemarinya…ingin kurasakan berada dalam pelukan hangatnya….berdansa dalam alunan musik lembut….merasakan detak jantungnya dekat dengan jantungku….ahhh, baru membayangkannya telah membuatku sedikit terhanyut. Tidak. Aku tidak boleh, akal sehatku menjerit.
“Just one song…please…” Randy memaksa. Senyum dan tatapannya membuat akal sehatku tumpul.
Akhirnya kami berdansa. Seolah waktu berhenti berputar. Yang kurasa hanya desah nafasnya ditelingaku dan kunikmati setiap detik yang berlalu bersama debar jantungku.
Satu lagu, janjinya. Tapi hingga lagu ketiga hampir berakhir kami masih enggan beranjak.
“I want you…” bisik Randy pelan ditelingaku, begitu lembut hingga membuat lututku lemas, “…just for one night…”
“I…I can’t…I really can’t…” gemetar suaraku menjawabnya. Sebagian karena susah payah mengatakan apa yang bertentangan dengan dorongan hatiku dan sebagian juga karena ingin mendengar Randy mengatakannya sekali lagi.
Randy mengangkat daguku, “Look me in the eye…and tell me you don’t want me”. Randy menatapku lembut. “…just for tonight…and I’ll be out of your life for good…” bisiknya lagi. Masih dengan tatapan itu…mata birunya…bagaikan air…membuatku ingin tenggelam di dalamnya, “…please…”
Dan jangan tanyakan kemana perginya akal sehatku sewaktu akhirnya bisikan yang keluar dari mulutku adalah “…I want you…”.
Yang kuingat setelah itu hanyalah kilau matanya, lembut bibirnya saat menyentuh bibirku dan hangat genggaman tangannya sewaktu menarikku pergi, berdua kami kembali ke kamar 312.

Pagi. Masih di Bali.
Lunglai rasanya seluruh tubuhku. Serasa seluruh persendianku lepas dari engselnya setelah kepuasan semalam suntuk yang kureguk bersama Randy.
Randy.
Hey, dimana dia?
Kutoleh sisi tempat tidur sebelah kanan tempat terakhir kali kulihat dia terlelap.
Kosong.
“Just one night….” desahku pahit. Dia menepati janjinya.
Mestinya aku tidak perlu merasa kehilangan. Tapi kuakui ada sedikit rasa kehilangan. Sedikit. Selebihnya adalah penyesalan. Menyesalkah aku?
“Oh, Tuhan.…apa yang telah kulakukan?” Seakan baru kembali dari pengasingannya, akal sehatku mendadak muncul dan memporakporandakan segala yang semalam terasa begitu indah.
Dan kuhabiskan berjam-jam setelah itu untuk menangis.

Sampai di rumah. Kupencet bel, ting tong.
Mas Yoga yang membukakan pintu, “Hai…capek ya?”
Aku tertegun. Rasa bersalah itu muncul lagi. Kali ini jauh lebih hebat dari sebelumnya. Menatap wajah Mas Yoga yang penuh senyum menyambutku membuat hatiku semakin perih. Tuhan, ampuni aku.
“Sini, aku bawain kopermu. Berat kan?” masih penuh senyum Mas Yoga menarik koper dari genggamanku. Tangannya menyentuh pelan tanganku… dan zzzap! Hey…apa ini? Tubuhku seperti tersambar petir. Tiba-tiba memoriku kembali ke saat pertama Randy menyentuh tanganku di restauran itu. Rasanya begitu mendebarkan. Persis seperti saat ini.
Aku terpaku menatap Mas Yoga. Sepertinya sudah sangat lama sejak terakhir kali aku menatapnya. Sungguh-sungguh menatapnya hingga yang kulihat adalah sosok pria yang dulu pertama kali kukenal, kucintai dan kunikahi.
“Kamu kenapa sih?” Mas Yoga balas menatapku heran. Sempat kulihat semu merah di wajahnya dan senyum itu kembali tersungging. Baru kuingat betapa aku dulu merasa sangat damai melihat senyumnya. Senyum yang pernah membuatku tergila-gila.
Aku balas tersenyum. Sepenuh hati waktu kukatakan, “Mas… aku kangen sekali….”
Ada binar-binar indah di matanya. Perlahan Mas Yoga mendekat lalu meraihku ke dalam pelukannya. Hangat, nyaman dan penuh cinta.
Seperti dulu.
Detik itu juga aku tahu, bahwa segalanya akan menjadi lebih baik.

Sejak hari itu kehidupan rumah tanggaku kembali hangat. Bahkan anak ketiga kami lahir setahun kemudian.
Randy menepati janjinya untuk hilang dari kehidupanku selamanya.
Mungkin bisa saja jika aku masih ingin menghubunginya. Percayalah, beberapa kali godaan untuk mengirimkan e-mail untuknya sekedar menanyakan kabarnya, muncul. Tapi akhirnya kuputuskan untuk men-delete alamat e-mail serta chat ID-nya dari address book-ku dan dari kehidupanku selamanya.
Aku bahagia sekarang.
Tapi bagaimanapun aku harus berterima kasih padanya…karena pada satu malam dalam hidupku, dia telah mengembalikan perasaan yang sempat kukira tak akan pernah kurasakan lagi.