Friday, August 18, 2006

Sikap Skeptis

Banyaknya event dunia yang layak jual dan berkat kemajuan teknologi informasi, termasuk TV dan internet membuat tugas wartawan semakin enggak mudah. Kabar para fotografer Reuters yang membuat foto bohongan-bohongan korban dan dampak Perang Israel dan Hisbullah jadi omongan dimana-mana. Begitu juga seragamnya liputan wartawan dalam kasus terror plot di Inggris.

Sikap skeptis wartawan semakin ditinggalkan. Termasuk di negeri bule-bule sana yang bisa dibiling sebagai pelopor. Kasus terror plot di London contoh paling gres. Sampai dua hari setelah isu itu muncul, hampir semua media TV belum mendapatkan sisi lainnya. Berita dan gambar masih sama. Sumbernya sama: polisi dan pejabat pemerintah. Padahal, polisi Inggris dan sudah membuat beberapa blunder.

Beberapa pekan sebelum kasus terror plot di London, di Forest Gate, terjadi pengepungan sebuah rumah oleh 250 polisi anti rerror. Sempat terjadi tembakan. Tapi hasilnya, kedua tersangka dibebaskan. Enggak ada bukti bahwa mereka teroris. Polisi kembali “menang”, media dan wartawan kembali “kalah”.

Sebelum itu, terjadi penembakan Jean Charles De Menezes, warga Brasil yang dikira teroris. Dia berada di saat yang salah ketika terjadi ancaman teror di London. Polisi bukan cuma menangkap orang yang salah, tapi juga menembaknya. Jean Charles mati sia-sia.

Polisi salah, tapi wartawan juga ikut-ikutan. Ini yang disayangkan. Dimana sikap skeptis wartawan? Wartawan bukan corong pejabat pemerintah atau polisi. Tugas utama adalah mencari sumber isu itu muncul pertama kali dari siapa saja dan kapan saja. Bukan pejabat pemerintah.

Mempertanyakan munculnya kasus terror plot di saat terjadi perang ganas di Israel dan Libanon adalah sikap skeptis yang bagus. Tapi harus dilanjutkan dengan bukti. Kalau cuma asal ngomong tanpa bukti, sama juga bohong.

Wartawan Barat, khususnya Inggris, kabarnya belakangan ini sedang dijangkiti Islamfobia. Bawaan curiga terus melihat lingkungan muslim. Paling enggak nyaman melihat para laki-laki berjenggot dan berjubah. Sebagai wartawan ini membahayakan kerjenihan liputan mereka.

Terror plot udah hampir seminggu, tapi enggak banyak perkembangan mengenai bukti-bukti baru. Dari 24 tersangka kini turun jadi 22. Dua orang dibebaskan karena mereka dianggap berada di saat yang salah. Wartawan Inggris sekali lagi harus kalah dari polisi. Polisi sudah bekerja maksimal dan sukses memasukkan agen di kelompok yang dicurigai. Tapi tak satu pun wartawan yang berhasil mewawancari si agen tersebut.

Kasar-jakarta

Orang Kampung, Pendidikan, Ustadz dan IAIN

Di tanah kelahiran orang tua saya di pantai barat Sumatera, adalah suatu aib bagi orang tua jika anak yang sudah mencapai usia akil baligh tidak bisa membaca al-Qur'an, menjadi Imam shalat atau mengumandangkan adzan dengan fasih.Cerita ini saya dapat dari tradisi pulang kampung hidup dalam keluarga saya. Dari sinilah saya bisa lihat, dengar dan tahu banyak cerita tentang adat and kebiasan masyarakat di kampung. Masih jelas dalam ingatan saya, di-sekitar tahun 80-an, setiap sore saya menyaksikan kegiatan di surau-surau. Mulai dari mengaji sampai belajar pencak silat. Di sore hari anak laki-laki datang ke surau-surau ini untuk melakukan shalat Maghrib berjamaah bersama Buya (sebutan bagi guru mengaji atau mereka yang dianggap memiliki pengetahuan agama lebih dari kebanyakan). Setelah shalat Maghrib berjamaah, bersama buya mereka belajar membaca al-Qur'an, mengumandangkan adzan sampai mendengar Buya bercerita tentang bagaimana seorang anak laki-laki harus bisa membela, memimpin dan melindungi keluarga. Hal yang sama dilakukan oleh anak2 perempuan. Selesai melakukan shalat Magrib dan Isya berjamaah di Mushalla, rumah para Umi adalah tempat anak perempuan untuk mengaji. Kebetulan, rumah gadang keluarga saya dimana salah seorang umi saya tinggal, tempat mengaji anak-anak dengan Umi saya sebagai guru.

Seiring berjalannya waktu, surau-surau yang dihuni oleh Buya-buya ini semakin sedikit jumlahnya. Bahkan ketika saya kembali pada tahun 1990an beberapa surau sudah hampir roboh (saya jadi ingat novel klasik yang di tulis almarhum AA Navis; 'Robohnya Surau Kami'). Surau menjadi redup karena rupanya Buya sudah berpulang dan tak ada lagi yang meneruskan. Murid yang diajarnya dulu pun sudah berpencar. Merantau ke Tanah Jawa. Rumah gadang Umi-pun tak lagi ramai. Kerentaan Umi membuatnya tak lagi mampu mengajar. Melihat ini, masyarakat kampung berinisiatif mengembangkan MDA atau Madrasah Diniyah. Tidak seperti madrasah dalam arti yang formal; MDA ini hanya dilaksanakan sore hari setelah anak-anak pulang sekolah formal. Kini, orang-orang di kampung sibuk mencari guru yang pandai dan bersedia mengajar anak-anak dengan imbalan yang sangat pas-pasan. Seorang sarjana lulusan IAIN Imam Bonjol akhirnya bersedia untuk mengajar di MDA ini. Sebagai imbalan sang ustadz diberi gaji sebesar Rp. 50.000,- perbulan. Sebanding dengan pendapatan bekerja satu jam menjaga toko di Victoria Market. Ibu-ibu di kampung bergiliran menyiapkan penganan untuk Ustadz. Jika penat datang, Ustadz dapat beristirahat di kamar sederhana. Sejak kedatangan Ustadz yang sarjana S-1 dari IAIN Imam Bonjol ini kehidupan mushalla di kampung menjadi lebih hidup. Ayat-ayat al-qur'an mulai berkumandang satu jam sebelum waktu Shubuh menjelang. Lampu Mushalla pun menjadi terang benderang seakan menyilakan para tamu Allah untuk datang.

Tapi sayang, panggilan kampung halaman sang ustadz tak dapat ditolak. 'Mushalla di kampung awak tak ada yang mengurus', demikian kata-kata yang tertulis pada satu surat yang dikirim pak Ustadz. Dengan rasa yang sungguh berat, sang Ustadz pulang ke kampungnya dan meninggalkan kampung kami, demi sebuah tugas yang sama. Mencari ustadz untuk mau tinggal di kampung, dengan upah pas-pasan bukanlah pekerjaan yang mudah. Ustadz kedua yang mengasuh MDA dan mengurus Mushalla juga baru saja menyelesaikan studi S1nya dari STAIN Bukit Tinggi. Dengan bayaran yang tidak jauh lebih tinggi dari ustadz sebelumnya, dia bersama istri dan anak-anaknya hijrah ke kampung kami. Seiring dengan semakin membaiknya kehidupan sebagian warga kampung dan kesadaran orang-orang di perantauan untuk berbagi atas rezeki yang mereka peroleh, sang Ustadz kini bisa melanjutkan pendidikannya di IAIN Imam Bonjol untuk mengambil program S-2. Tak terkira gembira-nya sang ustadz akan kesempatan yang bisa dia miliki. Walaupun hanya tinggal di sebuah rumah sederhana yang diwakafkan warga kampung; tapi bisa memiliki kesempatan untuk melanjutkan ke jenjang S-2; adalah sebuah mukjizat baginya.

Begitulah satu cerita dari kampung saya. Saya percaya di kampung-kampung lain, krisis guru mengaji juga terjadi. Dan pada akhirnya para lulusan dari lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam seperti UIN/IAIN/STAIN-lah yang bersedia dan bersukarela melakukan tugas mulia ini. Nature bahwa mereka yang belajar di STAIN/IAIN/UIN yang hampir 85% berasal dari masyarakat ekonomi menengah ke bawah, adalah satu faktor yang membuat mereka tidak canggung untuk kembali ke komunitas ini.

Di UIN Jakarta, setiap kali tiba hari untuk mendaftar ulang, barisan panjang para siswa/I yang tak jarang ditemani juga oleh Ayah atau Ibu mereka, menjadi pemandangan rutin di gedung rektorat. Apalagi kalau bukan karena harus meminta keringanan membayar uang kuliah yang tak seberapa itu. Seorang ayah yang sehari-harinya bekerja membersihkan sampah di pasar Bogor, misalnya harus menitikkan air mata karena belum mampu membayar uang kuliah anak perempuannya. "saya sudah bilang sama anak saya neng supaya ga usah kuliah, tapi anak saya nangis aja kalo saya bilangin Bu", begitu kata sang Ayah ketika beliau bercerita pada saya. Cerita lain, seorang Ibu pedagang minuman Yakult keliling harus memohon kepada bapak Kepala Biro, misalnya agar diberi keringanan dari membayar uang kuliah karena suaminya yang berdagang asongan baru saja dipanggil Ilahi. Cerita-cerita sedih ini nyata terjadi di UIN. Bukan puluhan but we are talking in hundreds. Bagi saya waktu itu tentu saja ini pengalaman baru. Ketika nyantri di UNPAD dulu, teman-teman dari Jakarta tertawa-tawa karena uang kuliah kami sangat murah untuk ukuran Jakarta dan ukuran ekonomi waktu itu. Maka tak jarang kami sering berbohong dengan mengatakan bahwa uang kuliah semester ini naik Rp. 50,000. buat orang tua saya misalnya, tentu saja tak ada masalah. Karena untuk tahun 1995 berarti saya hanya membayar Rp. 140.000 untuk biaya kuliah selama 6 bulan; bandingkan dengan UI misalnya. Jumlah nominal yang sama masih berlaku untuk biaya kuliah satu semester di UIN pada tahun 2003. Betapa jauh dari adil kata saya dalam hati, karena untuk membayar uang masuk TK saja lebih dari 5 juta rupiah harus dikeluarkan oleh para orang tua di jakarta waktu itu.

Dari cerita ini semoga kita bisa berpikir jernih dalam memaknai perkembangan lembaga pendidikan Islam. Adalah sangat naïf jika kita menafikan peran yang terus saja dimainkan oleh lembaga pendidikan tinggi Islam seperti STAIN/IAIN/UIN. Situasi dan permasalahan yang dihadapi institusi pendidikan Islam di negeri kita tidak bisa dilepaskan dari tradisi yang dikonstruksi oleh pemerintah orde baru. Marginalisasi dan stigmatisasi secara massive yang dilakukan pemerintah Orde Baru, yang menganaktirikan pengembangan madrasah, pesantren bahkan IAIN pada waktu itu adalah satu faktor, menurut saya, yang sampai kini terus membayangi pandangan dan penilain orang-orang Muslim sendiri terhadap lembaga ini. Ketidakadilan sangatlah transparan mulai dari jumlah anggaran yang dialokasi untuk madrasah, pesantren, STAIN/IAIN/UIN sampai akses lulusan madrasah dan pesantren untuk bisa mendapat kesempatan yang sama belajar di lembaga pendidikan tinggi yang lain atau di luar negeri sekalipun. Apakah salah jika mereka para pimpinan di UIN/IAIN/STAIN berupaya untuk bisa mendapatkan bantuan operasional demi mendukung proses belajar mengajar dari pihak lain kalau pemerintah Indonesia saja tidak peduli? Apakah tidak membahagiakan bagi kita melihat orang-orang tua dari kampung yang biasa memegang pacul dengan kaki penuh lumpur, hari itu bisa tersenyum bahagia karena bisa merasakan berdiri dengan sepatu dan pentalon baru di dalam lift di kampus UIN? Melihat itu, saya berkata dalam hati, pasti orang-orang tua itu tak henti mengucap syukur. Bukan saja karena anak mereka menjadi sarjana tapi juga karena mereka akhirnya bisa merasakan dinginnya berada di sebuah Aula besar dengan arsitektur mewah dan ber-AC di UIN Jakarta.

Lembaga-lembaga pendidikan Islam telah menjadi salah satu pilihan utama bagi keluarga muslim pada umumnya, bukan saja karena bisa mendapatkan ilmu umum dan agama sekaligus, tetapi juga karena pertimbangan ekonomi. Selama jumlah penduduk miskin di Indonesia masih besar maka sudah jelas lembaga-lembaga pendidikan Islam terus dibutuhkan. Apalagi sejak beberapa Perguruan tinggi Negeri terkenal yang dipercaya murah dan baik diberi BH tersendiri sejak tahun 2000, dengan sebutan lembaga berbadan hukum milik negera, yang menyebabkan PT tersebut benar2 seperti perseroan terbatas, yang menaikkan SPP dan uang pangkal. Kalau Universitas seperti UI di Depok bisa mematok biaya tinggi karena kampus mulai berlangganan on-line international journal, maka hal ini sangat mustahil bisa dilakukan di UIN/IAIN/STAIN. Maka mengapa ketika UIN dan IAIN lain beserta puluhan Universitas sekuler lain menjadi Host untuk American Corner misalnya, yang memberi puluhan komputer lengkap dengan akses ke Ebsco-Host-nya, hanya institusi Islam yang dituding menjadi agen Amerika? Mengapa ketika para dosen UIN/IAIN/STAIN mencari beasiswa dan sekolah di luar negeri, maka cibiran, dengan mengatakan 'ah... mereka menjual Islam' harus terlintas di benak kita; sedangkan mereka yang di ITB, UI, UGM, UNPAD dan lainnya sudah sejak lama memperoleh kesempatan menuntut ilmu di negeri Barat juga demi ilmu yang mereka tekuni? Are we being fair here?

Madrasah, pesantren, STAIN/IAIN/UIN adalah tempat yang paling mungkin bagi mereka dengan kemampuan finansial pas-pasan kalau bukan jauh dibawah pas, untuk bisa terus mengenyam nikmatnya sekolah. Kita bisa bayangkan kontribusi yang disumbangkan para ustadz, seperti saya ceritakan di atas, terhadap kemajuan umat Islam di Indonesia. Saya tidak tahu apakah ada aktivis pengajian di Mesjid UNPAD, teman saya dulu, yang kini memilih menjadi guru mengaji di kampung kecil di Pamengpeuk, pinggiran Garut tempat saya berKKN dulu misalnya. Ah,... seperti saya mungkin saat ini mereka sedang menikmati secangkir coffee lattee atau hot chocolate di sebuah Kafe di Bandung, Jakarta atau Melbourne...

Dina Afrianty

p.s
tulisan ini ku buat sebenarnya untuk teman-teman di Melbourne, yang sepertinya ingin sekali meminggirkan kawan-kawan baru saya di IAIN/UIN/STAIN. Tudingan bahwa lembaga-lembaga ini sekarang mengeruk dollar demi memegahkan kampus dengan cost untuk merubah pemikiran orang Islam di Indonesia. menurut ku, tudingan ini tak berdasar, sarat dengan logical fallacy dan merendahkan.

Thursday, August 17, 2006

In Loving Memory of Libby

Hikmah dibalik Kepulanganmu, Libby….
(In loving Memory of Allyvia Adzhani Nabila Saelan, April 25,1998-April 29, 2003)

Hello Libby, apa kabar ? Tidak terasa sudah hampir dua tahun Libby pulang ke rumah Libby di surga. Harusnya bulan depan adalah ulang tahunmu yang ketujuh. Ayah masih belum bisa melupakan segala sesuatu yang berkaitan denganmu. Rasanya baru kemarin ayah mengantarkan Libby ke rumah Libby yang baru di surga. Ayah sangat sedih sekali ditinggalkan oleh Libby, waktu itu dunia rasanya hancur, ayah tidak pernah menyangka bahwa Libby akan meninggalkan ayah. Ayah menyangka akan bisa melihat Libby masuk SD di Lab School seperti yang sudah pernah kita bicarakan, akan bisa melihat Libby mulai menjadi ABG di SMP, akan mulai khawatir dengan pergaulan mu di SMA, akan membantu memilihkan jurusan di Universitas sampai akhirnya ayah bisa menikahkanmu dan akan punya cucu darimu. Untuk membayangkan ayah akan berjauhan dari Libby jika Libby harus sekolah di luar negeri saja sudah sangat berat bagi ayah, makanya ayah sangat takut sekali ditinggalkanmu. Namun,semuanya sudah terjadi, Libby sudah ada rumah Allah SWT dan kita tidak akan pernah bisa bertemu lagi kecuali dalam mimpi-mimpi ayah dan di surga kelak,Insya Allah. Selain itu, yang bisa kita lakukan sekarang adalah belajar dan mengambil hikmah dari kepulanganmu.
Ayah ingin sekali bisa berbagi pengalaman dan hikmah yang ayah alami dan rasakan ketika ayah ditinggal pulang sama Libby kepada teman-teman ayah supaya mereka belajar dari apa yang ayah alami.

Hal pertama yang ingin ayah ingatkan kepada teman-teman , bahwa harta, anak, ayah, ibu, saudara, yang selama ini sering kita anggap sebagai milik kita adalah sebenarnya hanya merupakan titipan dari Allah SWT yang kapan pun bisa diambil kembali oleh Allah SWT sebagai pemilik segala sesuatu di dunia ini. Kita sering lupa bahwa sesungguhnya kita tidak memiliki apa pun di dunia ini. Allah SWT bisa mengambil apa yang kita pikir milik kita kapan saja tanpa perlu memberi tanda-tanda apa pun, tanpa peringatan sedikit pun. Jangan pernah berpikir bahwa apa yang kita miliki sekarang adalah abadi dan tidak akan pernah hilang. Ketika bulan Desember lalu terjadi bencana yang sangat dahsyat di Aceh, ayah sedih melihat orang-orang yang kehilangan keluarganya, kehilangan anak-anaknya, kehilangan harta bendanya namun ayah juga berdoa mudah-mudahan mereka dan kita semua meyakini bahwa semua adalah milik Allah SWT dan jika Allah SWT berkehendak semua bisa diambil hanya dalam hitungan detik. Mudah-mudahan kita semua dikaruniai kesabaran

Hal kedua yang ayah ingin share adalah alangkah beruntungnya orang-orang yang bisa bersabar dalam menghadapi cobaan dari Allah SWT. Ketika Libby pulang ke surga, semua orang berkata kepada ayah : “Sabar ya…” Ketika itu ayah berkata dalam hati bahwa enak saja mereka berkata seperti itu , mereka semua tidak mengerti bagaimana sulitnya ayah untuk bisa bersabar ketika telah kehilangan salah satu cahaya hidup ayah. Mereka tidak mengalami bagaimana pedihnya hati ayah ditinggalkan oleh anak kesayangan ayah yang telah ayah urus dari bayi, yang telah ayah lihat perkembangannya dari mulai bisa tertawa, bisa berguling, bisa berdiri, bisa bicara, sampai akhirnya Libby berumur 5 tahun dan kamu seperti sudah dewasa pada saat itu dengan omongan-omonganmu yang sangat kritis. Ayah sudah sangat-sangat tidak sabar, sampai-sampai ayah ingin segera menyusulmu ke akhirat. Tapi kemudian ayah sadar bahwa jika ayah menyusulmu belum tentu ayah akan bisa menemuimu di surga karena ayah tahu ayah banyak dosa, tidak sepertimu yang sudah dijanjkan oleh Allah SWT akan menjadi “burung-burung surga” (keinginan mu untuk jadi peri kecil seperti Tinker Bell, rupanya dikabulkan oleh Allah SWT). Alhamdulillah akhirnya ayah diingatkan oleh Allah SWT untuk bersabar , karena ayah tahu bahwa Libby ada di tangan yang jauh lebih baik. Sampai sekarang jujur saja rasanya ayah belum bisa 100% merelakan kepergianmu. Ayah masih suka bermain-main dengan permainan “What if ”. “What if I wasn’t late taking you to the hospital”, “what if you didn’t pass away”, what if , what if yang lain. Semuanya hanya seandainya… ayah tahu “seandainya” tidak akan membawamu kembali ke tengah-tengah kita. Ayah masih berusaha keras untuk bersabar.Dalam doa, ayah selalu minta agar ayah diberi kemampuan untuk bersabar. Maka dari itu sungguh beruntung orang yang mampu bersabar ketika diberi cobaan oleh Allah SWT…

Hal ketiga yang ingin ayah ingatkan kepada teman-teman ayah adalah bahwa dalam keadaan apa pun kita harus selalu bersyukur kepada Tuhan. Belakangan, ketika kehilanganmu, ayah bersyukur bahwa ayah masih punya mommy, masih punya Adelle, masih punya aki, nini, uti, kakung, dan saudara-saudara ayah. Belakangan juga ayah makin bersyukur dengan apa yang ayah punya. Jika membandingkan dengan saudara-saudara kita di Aceh di mana bahkan ada yang sama sekali tidak punya apa-apa lagi selain baju yang menempel di badannya, mereka kehilangan semua anggota keluarganya, sanak saudara, kehilangan harta benda, dll, maka cobaan yang ayah alami mungkin tidak ada apa-apanya. Kita sering kali lupa untuk bersyukur kepada Allah dengan semua yang telah Allah SWT berikan dan titipkan kepada kita . Ada pepatah yang mengatakan “You don’t know what you’ve got until it has gone”. Masih banyak teman-teman ayah yang kelihatannya belum mensyukuri apa yang mereka punya sekarang. Masih banyak yang menyia-nyiakan anak-anak mereka, istri mereka, orangtua mereka, harta mereka, kedudukan mereka, padahal kalau sudah tidak ada baru terasa sakitnya. Lagi-lagi kita sering lupa bahwa jika Allah berkehendak, maka semuanya bisa hilang secepat membalikan telapan tangan. (“Cherish what we have now !”, sayangi anak-anak kita, luangkan waktu sebanyak mungkin untuk anak-anak kita . Karena kita tidak mungkin mengembalikan waktu ketika waktu itu sudah berlalu. Seringkali kita merasa kecapaian pulang dari kantor sampai-sampai kita tidak mau bermain-main dengan anak kita yang sudah menunggu seharian hanya untuk bermain dengan ayahnya).
Sampai sekarang ayah masih suka nangis sendiri jika ingat bagaimana ayah setiap hari mengantarkan mu ke sekolah, bagaimana kamu selalu tidak mau dipegang tangannya oleh ayah karena kamu ingin kelihatan mandiri diantara teman-temanmu. Ayah juga masih ingat saat-saat kita tertawa, bermain bersama, ngobrol, dll. Ayah merasa pada saat itu ,“I was your best friend”. Sampai-sampai kamu berkata “Libby anak ayah, Adelle anak mamah”. Ayah bersyukur sewaktu kamu masih hidup, ayah banyak meluangkan waktu untukmu. Makanya ayah sangat menyesal justru ketika kamu akan pulang ke surga, ayah malah nggak nemenin kamu, ayah malah ikut meeting di kantor. Waktu mommy memberitahu bahwa Libby sudah dipanggil pulang oleh Allah SWT, ayah sedang di mobil dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Ayah menyesal sekali tidak bisa mengatakan selamat jalan kepada Libby, tidak bisa mendengar Libby mengucapkan selamat tinggal, tidak bisa mengantarkan Libby pulang. Suatu hal yang akan ayah selalu sesali seumur hidup. Ah, tapi semuanya memang sudah diatur oleh Allah SWT. Tapi ayah akan selalu ingatkan teman-teman untuk berusaha mendahulukan kepentingan darurat keluarga di atas kepentingan kantor. Put first thing first ! Namun demikian, tentunya tidak kemudian membuat-buat keluarga sebagai alasan untuk menghindari tugas kantor.

Hal keempat yang ayah pelajari dari kepergianmu adalah bahwa Allah SWT lebih tahu apa yang terbaik untuk kita semua. Di agama kita secara jelas dikatakan “Boleh jadi kamu amat membenci sesuatu padahal hal tersebut amat baik untukmu, boleh jadi pula kamu amat menyukai sesuatu padahal hal itu amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS 2:216). Kalau semuanya dikembalikan kepada Allah SWT sebagai pengatur segala sesuatu di dunia maka akan lebih mudah bagi kita untuk menerima seluruh takdir yang diberikan oleh Allah SWT. Kita wajib berusaha keras dalam segala sesuatu tetapi kita juga harus menyerahkan dan menerima apa pun hasil dari usaha keras kita karena Allah SWT tahu yang paling baik untuk kita. Awalnya ayah merasa bahwa usaha ayah untuk tetap menahanmu di dunia tidaklah maksimal, ayah terlambat membawamu ke rumah sakit. Ayah sangat menyesali apa yang sudah terjadi, namun kemudian ayah sadar bahwa semua yang ada di dunia sudah diatur oleh Allah SWT. Kita hanya bisa berusaha sebisa yang kita bisa namun Allah SWT tetap yang memiliki keputusan akhir. Dengan demikian langkah kita menjadi lebih mudah dalam menghadapi persoalan hidup

Ayah masih ingat bagaimana kamu ingin selalu berguna bagi orang lain, kamu selalu memaksa ayah untuk memberikan uang kepada setiap pengemis yang kita temui. Dalam usia yang masih sangat belia kamu sudah ingat untuk berbagi dengan orang-orang yang kekurangan. Kamu senang sekali ketika kita membagikan makanan untuk para gelandangan di lampu merah di Bandung. Bahkan di kepulangan mu, kamu masih berguna untuk mengingatkan ayah terhadap hal-hal yang sangat penting bagi kehidupan ayah. Sekarang ayah ingin membagi pelajaran yang ayah dapat dari kepergianmu itu kepada teman-teman ayah yang lain supaya mereka tidak harus menunggu sampai hal yang sama terjadi kepada mereka untuk bisa belajar dari pengalaman kita. Walaupun ayah masih suka nangis sendiri jika ingat sama Libby, tapi ayah yakin sekarang Libby sudah menjadi malaikat kecil di surga seperti yang Libby ceritakan dalam mimpi ayah bahwa di rumah Libby yang baru banyak sungai-sungai yang airnya adalah susu, banyak buah-buahan dimana-mana . Ayah semakin yakin dengan kebahagiaan mu di surga ketika ayah merasa melihat Libby tersenyum kepada ayah di langit di atas Kabah ketika ayah sedang berdoa di Masjidil Haram. Semoga teman-teman ayah bisa mengambil hikmah dari pengalaman kita. Sekarang Libby sudah punya adik baru, Aliyya sudah setahun bulan ini. Mukanya mirip sekali dengan Libby, sekarang dia sudah mulai bisa ngomong. Adelle juga sudah besar, beberapa kali dia nangis sambil ngomong pengen ketemu Libby, rupanya dia sudah mulai mengerti bahwa dia tidak akan pernah ketemu lagi dengan kakaknya….tadinya setiap ditanya dimana Kakak, dia selalu jawab di rumah sakit, sekarang di jawab kakak ada di surga…
“Selamat tidur, Libby !”, We all still love you very much….

Cium sayang
Ayah Dicky


(89:27)
"Ya ayatuhanafsul muthmainah
Hai jiwa yang tenang.
(89:28)
Irjii illa robbiki radhiyatam mardiyah
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
(89:29)
fadkhuli fii ibadii
Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,
(89:29)
wad khuli jaannatii
masuklah ke dalam syurga-Ku.


Tears In Heaven (By Eric Clapton)

Would you know my name if I saw you in heaven?
Would it be the same if I saw you in heaven?
I must be strong and carry on,
'Cause I know I don't belong
here in heaven.

Would you hold my hand if I saw you in heaven?
Would you help me stand if I saw you in heaven?
I'll find my way through night and day,
'Cause I know I just can't stay
here in heaven.

Time can bring you down, time can bend your knees.
Time can break your heart, have you begging please,
begging please.
Beyond the door there's peace I'm sure,
And I know there'll be no more
tears in heaven.

Would you know my name if I saw you in heaven?
Would it be the same if I saw you in heaven?
I must be strong and carry on,
'Cause I know I don't belong
here in heaven.



I’ll Lend you my child…” (by Edgar Guest)

I'll lend you for a little time a child of mine, God said ...
For you to love the while she lives ... and mourn for when she's dead.
It may be five or seven years, or twenty-two and three,
But will you, till I call her back, take care of her for me?
She'll bring her charms to gladden you. And shall her stay be brief,
You'll have her lovely memories as solace for your grief.
I cannot promise she will stay, since all from Earth return.
But there are lessons, taught down there, I want this child to learn.
I've looked the wide world over in search for teachers true,
And from the throngs that crowd life's lanes, I have selected you.
Now ... will you give her all your love ... nor think the labor in vain?
Nor ... hate me when I come to call ... to take her back again?
I fancied that I heard you say ...
“Dear Lord, thy will be done!
“For all the joy Your Child shall bring, the risk of grief we'll run.
“We'll shelter her with tenderness. We'll love her while we may,
“And for the happiness we've known ... forever grateful stay.
“But shall the angels call for her much sooner than we've planned,
“We'll brave the bitter grief that comes ... and try to understand.” *




Surat Untuk Libby di Surga
(In Loving Memory of Allyvia Adzhani N. Saelan, 25 April 1998-29 April 2003)


Dear Libby,
Apa kabar Libby ? Akhir-akhir ini ayah kangen dan ingat terus sama Libby, apalagi di negara kita saat ini sedang berjangkit penyakit demam berdarah. Virus yang mengantarkan Libby menghadap Allah SWT. Ayah ingat hampir satu tahun yang lalu. Sejak hari Sabtu tgl 19 April 2003, Libby sudah mengeluh kurang enak badan, ayah langsung membawa Libby ke dokter specialis Libby di Mall Ambassador hari itu juga untuk mendapatkan perawatan. Dokter waktu itu menyatakan ba hwa Libby sakit radang tenggorokan. Walaupun sudah agak membaik, hari Senin 21 April 2003 Libby tidak sekolah dulu agar bisa beristirahat dan lagipula besok Libby akan perform ballet untuk pertama kalinya. Ketika ayah pulang kantor, Libby sangat excited untuk segera perform ballet besok harinya. Ayah juga ingat Libby tunjukkan semua costume yang telah dimiliki. Kamu memang sangat-sangat menyenangi ballet. "Ayah lihat Libby perform besok kan ?" tanya Libby pada ayah, yang ayah langsung jawab iya. Keesokan harinya tanggal 22, April 2003, Ayah sengaja mengambil cuti agar bisa leluasa hadir ke performance ballet Libby yang pertama.

Pk 6.15 Ayah mengantarkan Libby sekolah, sepanjang perjalanan Libby terus berbicara mengenai performance ballet (suatu ritual yang hampir setiap hari ayah jalani bersama Libby ketika Libby sudah mulai TK di Lab.School Rawamangun). Karena hari itu cuti, ayah pun bisa menjemput Libby ketika pulang sekolah pk 11.30, Libby sangat senang ayah jemput karena tidak biasa-biasanya ayah bisa jemput kamu. Dalam perjalanan pulang Libby bertanya sama ayah , "Ayah, siapa Kartini itu ?" lalu ayah Jawab "Kartini itu seorang putri yang berjasa pada kaum wanita makanya diperingati sebagai hari Kartini". Kemudian Libby bertanya lagi "kok putri tidak pakai baju Cinderella" (Libby tahunya gambaran Putri adalah seperti yang digambarkan dalam karakter Disney). Ayah berusaha menjawab semua pertanyaan Libby dengan sebaik mungkin. Bahkan sampai pada pertanyaan "Kartini itu sudah meninggal ya ayah ?", ayah jawab iya. Libby masih terus memborbardir ayah dengan pertanyaan "Kalau Libby mau diperingati harus meninggal dulu ya yah ? Ayah agak bingung juga menjawabnya, namun akhirnya ayah jawab "tidak perlu karena ada juga yang masih hidup sudah diperingati". Pertanyaan itu tadinya hampir tidak ada artinya kecuali contoh lain dari curiosity kamu yang sangat tinggi, namun belakangan ayah mulai menyadari bahwa mungkin ini adalah firasat tepat seminggu sebelum kepulangan kamu ke Allah SWT

Ketika perform ballet, ayah ingat Libby kelihatan masih lemas, belum lagi beberapa teman kamu tidak menari dengan baik sehingga secara keseluruhan penampilannya tidak terlalu menggembirakan. Kamu yang sangat perfectionist kelihatan sangat kecewa dengan penampilan kelompokmu yang kurang kompak. Ketika pulang, Libby kelihatan agak murung, ayah terus menerus berusaha untuk menghibur Libby dengan mengatakan bahwa performance-mu cukup baik. Tapi tidak dapat ditutupi bahwa Libby kecewa sekali. Hari Kamis malam, Libby panas lagi sampai 40 derajat. Tanggal 25 April 2003, Libby ulang tahun yang ke-5, kamu masih sakit sehingga tidak masuk sekolah. Ayah dan Mommy kembali membawa kamu ke dokter , dokter mengatakan bahwa jika sampai Senin belum turun juga panasnya, Senin harus diambil darah. Tanggal 26 April 2003, Libby merayakan pesta ulang tahun yang ke-5 di McDonald Arion. Libby sudah mulai turun panasnya hanya masih kelihatan lemas.Pesta ini adalah permintaan pertama Libby karena biasanya ulangtahunmu hanya dirayakan di sekolah dengan membawa kue ulang tahun saja. Entah kenapa Libby menginginkan pesta di McDonald lengkap dengan badut-nya.Ayah minta maaf sama Libby karena terlambat mengurusnya, badut yang diminta kamu tidak bisa hadir di pesta (ayah tidak tahu bahwa McD tidak memperbolehkan badut dari luar). Libby kelihatan kecewa dengan ketidakhadiran badut itu karena ternyata kamu sudah bercerita pada teman-temanmu bahwa di pestanya akan ada badut teletubies (Ayah sangat-sangat menyesal tidak bisa memenuhi permintaan Libby, maafin ayah ya Liv...). Libby ngomong "badutnya nggak bisa datang ya,yah ? gimana ya nanti Libby dibilang pembohong sama teman-teman. Tapi nggak apa-apalah teman-teman pasti ngerti". Libby adalah seorang yang sangat patuh terhadap janji, kamu tidak mau mengecewakan orang lain.

Pulang dari pesta Libby kelihatan sakit lagi, ayah mencoba untuk menghibur kamu dengan melakukan kompress dan lain-lain, panas kamu
tidak turun-turun, hadiah yang banyak pun hampir-hampir tidak kamu sentuh, hanya saja ada percakapan kita yang ayah masih sangat ingat. Libby ingat nggak ketika ayah tanya "Liv, uang yang dari nini kan banyak, mau dibeliin apa sama Libby, beliin mainan ya !?" Libby malah bilang sama ayah "Ayah, mainan Libby udah banyak sekali... bahkan sebagian mau Libby kasiin ke orang miskin, kasihan kan mereka nggak punya mainan... Libby mau kirim bunga yang banyak sekali untuk nini..Nini pasti seneng..." Ayah kaget denger jawaban Libby tapi sama sekali tidak menyangka apa-apa.. belakangan ayah baru sadar ini adalah tanda-tanda mu yang lain karena waktu sebelum pemakaman ternyata rumah nini tempat kamu disemayamkan dipenuhi oleh bunga-bunga yang bersimpati sama kita.

Libby ingat nggak hari Minggu ayah dan Mommy bawa Libby ke rumah sakit Bunda untuk diambil darah karena ayah tidak mau nunggu lagi sampai hari Senin. Ayah ingat Libby minta ayam A&W dan minuman Fruity strawberry, ayah seneng sekali Libby minta makan karena sudah dua hari ke belakang Libby susah makan. Libby nggak pernah mengeluh sakit perut cuma mengeluh pusing saja dan mual. Besoknya mommy membawa hasil test darah ke dokter lagi, trombosit kamu masih 149.000. Kata dokter Libby terkena gejala Thypus dan disarankan untuk istirahat dan banyak minum. Sore harinya panas Libby sudah mulai turun, ayah senang sekali pada saat itu, bahkan ayah telepon ke Bandung untuk memberi tahu bahwa Libby sudah turun panasnya,cuma pada saat itu Libby masih sangat lemas dan masih muntah.

Ayah pikir Libby sudah mendingan. Malamnya ternyata Libby terus mengigau dalam tidur,ayah, mommy dan uti nggak berhenti berdoa, kita put uskan untuk membawa kamu ke dokter lagi first thing in the morning. Sama sekali tidak terbersit dalam pikiran ayah bahwa Libby mungkin sudah mulai didekati oleh malaikat. Panas kamu sudah turun sekali ke 36 derajat. Keesokan harinya Libby dianter sama mommy dan uty ke dokter lagi, di dokter menurut mommy trombosit kamu sudah turun ke 59.000 dan langsung diperintahkan untuk masuk rumah sakit. Mommy membawa kamu ke RS Mitra Jatinegara karena kata dokter, disana PICU (ICU anak-anak)-nya cukup baik. Kata Mommy, dalam perjalanan ke RS, kamu masih minta mie dan pisang. Mommy ingat di dalam mobil Libby ngomong "Ma, kok orang-orang itu tidurnya aneh ya ?" Mommy nggak bisa jawab cuma bilang "Libby kuat ya...." . Sampai di rumah sakit Libby sudah nggak sadar, ketika ditaruh di bed gawat darurat, Libby langsung kejang dan pergi untuk selamanya sebelum dokter sempat melakukan pertolongan apa-apa.

Ayah minta maaf ya Liv nggak bisa nememin kamu pulang ke rumah kamu di surga. Ayah ngerasa bodoh sekali malah ikut meeting di kantor ketika kamu sedang berjuang dengan maut. Tapi memang jalannya sudah harus begitu, ayah rela Libby pulang ke rumah pemilik Libby karena ayah hanya diberi kesempatan untuk merawat Libby selama tepat lima tahun.

Mommy sekarang sedang hamil lagi, Adelle sudah mulai cerewet, maunya sekarang pake baju punya Libby terus. Kemarin-kemarin dia terus berbicara mengenai kamu, Libby datang ke mimpinya Adelle ya ?? Ya udah dulu ya Liv, ayah harus kerja dulu. Ayah mau buat surat buat teman-teman ayah biar mereka belajar dari pengalaman kita"

Cium sayang
Ayahmu : dicky

ini ada tambahan....
Teman-teman, pelajaran yang bisa kita ambil dari pengalaman kami adalah
:

1.
pelajari dan kenali berbagai jenis penyakit dan gejalanya. Libby terkena demam berdarah dan kami sudah terlambat untuk membawanya ke rumah sakit. Jika anak-anak kita, atau kita sendiri panas selama dua hari berturut-turut, lebih baik langsung ke dokter dan minta periksa darah. Minta sekalian periksa darah untuk dengue rapid karena kadang-kadang trombosit-nya masih 200.000 (batas normal adalah 150.000-400.000) tetapi sebenarnya sudah terkena virus dengue. Jika dokter menyatakan thypus atau radang tenggorokan, atau flu biasa, lebih baik cari second opinion dari dokter yang lain.

2.
Sampai meninggalnya Libby, tidak timbul bercak-bercak merah di sekujur tubuhnya, tidak mimisan, tidak muntah darah. artinya symptom dengue sudah tidak khas. Salah satu cara termudah untuk mendeteksi dini DBD adalah dengan menekan salah satu kuku ibu jari, kemudian lihat apakah permukaan yang putih ketika ditekan langsung kembali merah. karena DBD menyebabkan darah agak mengental sehingga ketika selesai dipencet, biasanya kuku yang terkena DBD agak lambat kembali merahnya. Raba denyut nadi, penderita DBD biasanya denyut nadinya agak lemah.

3.
Pantau terus kondisi pasien jika sudah positif DBD, kadang-kadang beberapa rumah sakit mencek darah hanya sehari sekali, minta pengecekan dilakukan 6 jam sekali. Jika trombosit sudah mulai memasuki 30.000, tanya dan siapkan beberapa teman dan keluarga yang memiliki darah yang sama dengan penderita untuk berjaga-jaga jika tranfusi darah dibutuhkan karena saat ini sulit mendapatkan persediaan darah

4.
Pakaikan mosquito repellent pada anak-anak kita di waktu siang untuk menjaga gigitan nyamuk aedes aegepty.

5.
Jika anak sakit, tinggalkanlah urusan kantor atau urusan apa pun, keluarga jauh lebih penting daripada apa pun di dunia ini, anda akan menyesal seumur hidup jika mengalami kejadian seperti cerita diatas.

6.
Setelah semua usaha kita lakukan, pasrahkan semua kepada Allah SWT karena bagaimana pun kita berusaha jika Tuhan berkehendak lain, maka tidak ada yang dapat menghalangi keputusanNya. Pasrah dan rela terhadap apa pun keputusan Allah SWT.