Friday, August 18, 2006

Sikap Skeptis

Banyaknya event dunia yang layak jual dan berkat kemajuan teknologi informasi, termasuk TV dan internet membuat tugas wartawan semakin enggak mudah. Kabar para fotografer Reuters yang membuat foto bohongan-bohongan korban dan dampak Perang Israel dan Hisbullah jadi omongan dimana-mana. Begitu juga seragamnya liputan wartawan dalam kasus terror plot di Inggris.

Sikap skeptis wartawan semakin ditinggalkan. Termasuk di negeri bule-bule sana yang bisa dibiling sebagai pelopor. Kasus terror plot di London contoh paling gres. Sampai dua hari setelah isu itu muncul, hampir semua media TV belum mendapatkan sisi lainnya. Berita dan gambar masih sama. Sumbernya sama: polisi dan pejabat pemerintah. Padahal, polisi Inggris dan sudah membuat beberapa blunder.

Beberapa pekan sebelum kasus terror plot di London, di Forest Gate, terjadi pengepungan sebuah rumah oleh 250 polisi anti rerror. Sempat terjadi tembakan. Tapi hasilnya, kedua tersangka dibebaskan. Enggak ada bukti bahwa mereka teroris. Polisi kembali “menang”, media dan wartawan kembali “kalah”.

Sebelum itu, terjadi penembakan Jean Charles De Menezes, warga Brasil yang dikira teroris. Dia berada di saat yang salah ketika terjadi ancaman teror di London. Polisi bukan cuma menangkap orang yang salah, tapi juga menembaknya. Jean Charles mati sia-sia.

Polisi salah, tapi wartawan juga ikut-ikutan. Ini yang disayangkan. Dimana sikap skeptis wartawan? Wartawan bukan corong pejabat pemerintah atau polisi. Tugas utama adalah mencari sumber isu itu muncul pertama kali dari siapa saja dan kapan saja. Bukan pejabat pemerintah.

Mempertanyakan munculnya kasus terror plot di saat terjadi perang ganas di Israel dan Libanon adalah sikap skeptis yang bagus. Tapi harus dilanjutkan dengan bukti. Kalau cuma asal ngomong tanpa bukti, sama juga bohong.

Wartawan Barat, khususnya Inggris, kabarnya belakangan ini sedang dijangkiti Islamfobia. Bawaan curiga terus melihat lingkungan muslim. Paling enggak nyaman melihat para laki-laki berjenggot dan berjubah. Sebagai wartawan ini membahayakan kerjenihan liputan mereka.

Terror plot udah hampir seminggu, tapi enggak banyak perkembangan mengenai bukti-bukti baru. Dari 24 tersangka kini turun jadi 22. Dua orang dibebaskan karena mereka dianggap berada di saat yang salah. Wartawan Inggris sekali lagi harus kalah dari polisi. Polisi sudah bekerja maksimal dan sukses memasukkan agen di kelompok yang dicurigai. Tapi tak satu pun wartawan yang berhasil mewawancari si agen tersebut.

Kasar-jakarta

Orang Kampung, Pendidikan, Ustadz dan IAIN

Di tanah kelahiran orang tua saya di pantai barat Sumatera, adalah suatu aib bagi orang tua jika anak yang sudah mencapai usia akil baligh tidak bisa membaca al-Qur'an, menjadi Imam shalat atau mengumandangkan adzan dengan fasih.Cerita ini saya dapat dari tradisi pulang kampung hidup dalam keluarga saya. Dari sinilah saya bisa lihat, dengar dan tahu banyak cerita tentang adat and kebiasan masyarakat di kampung. Masih jelas dalam ingatan saya, di-sekitar tahun 80-an, setiap sore saya menyaksikan kegiatan di surau-surau. Mulai dari mengaji sampai belajar pencak silat. Di sore hari anak laki-laki datang ke surau-surau ini untuk melakukan shalat Maghrib berjamaah bersama Buya (sebutan bagi guru mengaji atau mereka yang dianggap memiliki pengetahuan agama lebih dari kebanyakan). Setelah shalat Maghrib berjamaah, bersama buya mereka belajar membaca al-Qur'an, mengumandangkan adzan sampai mendengar Buya bercerita tentang bagaimana seorang anak laki-laki harus bisa membela, memimpin dan melindungi keluarga. Hal yang sama dilakukan oleh anak2 perempuan. Selesai melakukan shalat Magrib dan Isya berjamaah di Mushalla, rumah para Umi adalah tempat anak perempuan untuk mengaji. Kebetulan, rumah gadang keluarga saya dimana salah seorang umi saya tinggal, tempat mengaji anak-anak dengan Umi saya sebagai guru.

Seiring berjalannya waktu, surau-surau yang dihuni oleh Buya-buya ini semakin sedikit jumlahnya. Bahkan ketika saya kembali pada tahun 1990an beberapa surau sudah hampir roboh (saya jadi ingat novel klasik yang di tulis almarhum AA Navis; 'Robohnya Surau Kami'). Surau menjadi redup karena rupanya Buya sudah berpulang dan tak ada lagi yang meneruskan. Murid yang diajarnya dulu pun sudah berpencar. Merantau ke Tanah Jawa. Rumah gadang Umi-pun tak lagi ramai. Kerentaan Umi membuatnya tak lagi mampu mengajar. Melihat ini, masyarakat kampung berinisiatif mengembangkan MDA atau Madrasah Diniyah. Tidak seperti madrasah dalam arti yang formal; MDA ini hanya dilaksanakan sore hari setelah anak-anak pulang sekolah formal. Kini, orang-orang di kampung sibuk mencari guru yang pandai dan bersedia mengajar anak-anak dengan imbalan yang sangat pas-pasan. Seorang sarjana lulusan IAIN Imam Bonjol akhirnya bersedia untuk mengajar di MDA ini. Sebagai imbalan sang ustadz diberi gaji sebesar Rp. 50.000,- perbulan. Sebanding dengan pendapatan bekerja satu jam menjaga toko di Victoria Market. Ibu-ibu di kampung bergiliran menyiapkan penganan untuk Ustadz. Jika penat datang, Ustadz dapat beristirahat di kamar sederhana. Sejak kedatangan Ustadz yang sarjana S-1 dari IAIN Imam Bonjol ini kehidupan mushalla di kampung menjadi lebih hidup. Ayat-ayat al-qur'an mulai berkumandang satu jam sebelum waktu Shubuh menjelang. Lampu Mushalla pun menjadi terang benderang seakan menyilakan para tamu Allah untuk datang.

Tapi sayang, panggilan kampung halaman sang ustadz tak dapat ditolak. 'Mushalla di kampung awak tak ada yang mengurus', demikian kata-kata yang tertulis pada satu surat yang dikirim pak Ustadz. Dengan rasa yang sungguh berat, sang Ustadz pulang ke kampungnya dan meninggalkan kampung kami, demi sebuah tugas yang sama. Mencari ustadz untuk mau tinggal di kampung, dengan upah pas-pasan bukanlah pekerjaan yang mudah. Ustadz kedua yang mengasuh MDA dan mengurus Mushalla juga baru saja menyelesaikan studi S1nya dari STAIN Bukit Tinggi. Dengan bayaran yang tidak jauh lebih tinggi dari ustadz sebelumnya, dia bersama istri dan anak-anaknya hijrah ke kampung kami. Seiring dengan semakin membaiknya kehidupan sebagian warga kampung dan kesadaran orang-orang di perantauan untuk berbagi atas rezeki yang mereka peroleh, sang Ustadz kini bisa melanjutkan pendidikannya di IAIN Imam Bonjol untuk mengambil program S-2. Tak terkira gembira-nya sang ustadz akan kesempatan yang bisa dia miliki. Walaupun hanya tinggal di sebuah rumah sederhana yang diwakafkan warga kampung; tapi bisa memiliki kesempatan untuk melanjutkan ke jenjang S-2; adalah sebuah mukjizat baginya.

Begitulah satu cerita dari kampung saya. Saya percaya di kampung-kampung lain, krisis guru mengaji juga terjadi. Dan pada akhirnya para lulusan dari lembaga-lembaga pendidikan tinggi Islam seperti UIN/IAIN/STAIN-lah yang bersedia dan bersukarela melakukan tugas mulia ini. Nature bahwa mereka yang belajar di STAIN/IAIN/UIN yang hampir 85% berasal dari masyarakat ekonomi menengah ke bawah, adalah satu faktor yang membuat mereka tidak canggung untuk kembali ke komunitas ini.

Di UIN Jakarta, setiap kali tiba hari untuk mendaftar ulang, barisan panjang para siswa/I yang tak jarang ditemani juga oleh Ayah atau Ibu mereka, menjadi pemandangan rutin di gedung rektorat. Apalagi kalau bukan karena harus meminta keringanan membayar uang kuliah yang tak seberapa itu. Seorang ayah yang sehari-harinya bekerja membersihkan sampah di pasar Bogor, misalnya harus menitikkan air mata karena belum mampu membayar uang kuliah anak perempuannya. "saya sudah bilang sama anak saya neng supaya ga usah kuliah, tapi anak saya nangis aja kalo saya bilangin Bu", begitu kata sang Ayah ketika beliau bercerita pada saya. Cerita lain, seorang Ibu pedagang minuman Yakult keliling harus memohon kepada bapak Kepala Biro, misalnya agar diberi keringanan dari membayar uang kuliah karena suaminya yang berdagang asongan baru saja dipanggil Ilahi. Cerita-cerita sedih ini nyata terjadi di UIN. Bukan puluhan but we are talking in hundreds. Bagi saya waktu itu tentu saja ini pengalaman baru. Ketika nyantri di UNPAD dulu, teman-teman dari Jakarta tertawa-tawa karena uang kuliah kami sangat murah untuk ukuran Jakarta dan ukuran ekonomi waktu itu. Maka tak jarang kami sering berbohong dengan mengatakan bahwa uang kuliah semester ini naik Rp. 50,000. buat orang tua saya misalnya, tentu saja tak ada masalah. Karena untuk tahun 1995 berarti saya hanya membayar Rp. 140.000 untuk biaya kuliah selama 6 bulan; bandingkan dengan UI misalnya. Jumlah nominal yang sama masih berlaku untuk biaya kuliah satu semester di UIN pada tahun 2003. Betapa jauh dari adil kata saya dalam hati, karena untuk membayar uang masuk TK saja lebih dari 5 juta rupiah harus dikeluarkan oleh para orang tua di jakarta waktu itu.

Dari cerita ini semoga kita bisa berpikir jernih dalam memaknai perkembangan lembaga pendidikan Islam. Adalah sangat naïf jika kita menafikan peran yang terus saja dimainkan oleh lembaga pendidikan tinggi Islam seperti STAIN/IAIN/UIN. Situasi dan permasalahan yang dihadapi institusi pendidikan Islam di negeri kita tidak bisa dilepaskan dari tradisi yang dikonstruksi oleh pemerintah orde baru. Marginalisasi dan stigmatisasi secara massive yang dilakukan pemerintah Orde Baru, yang menganaktirikan pengembangan madrasah, pesantren bahkan IAIN pada waktu itu adalah satu faktor, menurut saya, yang sampai kini terus membayangi pandangan dan penilain orang-orang Muslim sendiri terhadap lembaga ini. Ketidakadilan sangatlah transparan mulai dari jumlah anggaran yang dialokasi untuk madrasah, pesantren, STAIN/IAIN/UIN sampai akses lulusan madrasah dan pesantren untuk bisa mendapat kesempatan yang sama belajar di lembaga pendidikan tinggi yang lain atau di luar negeri sekalipun. Apakah salah jika mereka para pimpinan di UIN/IAIN/STAIN berupaya untuk bisa mendapatkan bantuan operasional demi mendukung proses belajar mengajar dari pihak lain kalau pemerintah Indonesia saja tidak peduli? Apakah tidak membahagiakan bagi kita melihat orang-orang tua dari kampung yang biasa memegang pacul dengan kaki penuh lumpur, hari itu bisa tersenyum bahagia karena bisa merasakan berdiri dengan sepatu dan pentalon baru di dalam lift di kampus UIN? Melihat itu, saya berkata dalam hati, pasti orang-orang tua itu tak henti mengucap syukur. Bukan saja karena anak mereka menjadi sarjana tapi juga karena mereka akhirnya bisa merasakan dinginnya berada di sebuah Aula besar dengan arsitektur mewah dan ber-AC di UIN Jakarta.

Lembaga-lembaga pendidikan Islam telah menjadi salah satu pilihan utama bagi keluarga muslim pada umumnya, bukan saja karena bisa mendapatkan ilmu umum dan agama sekaligus, tetapi juga karena pertimbangan ekonomi. Selama jumlah penduduk miskin di Indonesia masih besar maka sudah jelas lembaga-lembaga pendidikan Islam terus dibutuhkan. Apalagi sejak beberapa Perguruan tinggi Negeri terkenal yang dipercaya murah dan baik diberi BH tersendiri sejak tahun 2000, dengan sebutan lembaga berbadan hukum milik negera, yang menyebabkan PT tersebut benar2 seperti perseroan terbatas, yang menaikkan SPP dan uang pangkal. Kalau Universitas seperti UI di Depok bisa mematok biaya tinggi karena kampus mulai berlangganan on-line international journal, maka hal ini sangat mustahil bisa dilakukan di UIN/IAIN/STAIN. Maka mengapa ketika UIN dan IAIN lain beserta puluhan Universitas sekuler lain menjadi Host untuk American Corner misalnya, yang memberi puluhan komputer lengkap dengan akses ke Ebsco-Host-nya, hanya institusi Islam yang dituding menjadi agen Amerika? Mengapa ketika para dosen UIN/IAIN/STAIN mencari beasiswa dan sekolah di luar negeri, maka cibiran, dengan mengatakan 'ah... mereka menjual Islam' harus terlintas di benak kita; sedangkan mereka yang di ITB, UI, UGM, UNPAD dan lainnya sudah sejak lama memperoleh kesempatan menuntut ilmu di negeri Barat juga demi ilmu yang mereka tekuni? Are we being fair here?

Madrasah, pesantren, STAIN/IAIN/UIN adalah tempat yang paling mungkin bagi mereka dengan kemampuan finansial pas-pasan kalau bukan jauh dibawah pas, untuk bisa terus mengenyam nikmatnya sekolah. Kita bisa bayangkan kontribusi yang disumbangkan para ustadz, seperti saya ceritakan di atas, terhadap kemajuan umat Islam di Indonesia. Saya tidak tahu apakah ada aktivis pengajian di Mesjid UNPAD, teman saya dulu, yang kini memilih menjadi guru mengaji di kampung kecil di Pamengpeuk, pinggiran Garut tempat saya berKKN dulu misalnya. Ah,... seperti saya mungkin saat ini mereka sedang menikmati secangkir coffee lattee atau hot chocolate di sebuah Kafe di Bandung, Jakarta atau Melbourne...

Dina Afrianty

p.s
tulisan ini ku buat sebenarnya untuk teman-teman di Melbourne, yang sepertinya ingin sekali meminggirkan kawan-kawan baru saya di IAIN/UIN/STAIN. Tudingan bahwa lembaga-lembaga ini sekarang mengeruk dollar demi memegahkan kampus dengan cost untuk merubah pemikiran orang Islam di Indonesia. menurut ku, tudingan ini tak berdasar, sarat dengan logical fallacy dan merendahkan.

Thursday, August 17, 2006

In Loving Memory of Libby

Hikmah dibalik Kepulanganmu, Libby….
(In loving Memory of Allyvia Adzhani Nabila Saelan, April 25,1998-April 29, 2003)

Hello Libby, apa kabar ? Tidak terasa sudah hampir dua tahun Libby pulang ke rumah Libby di surga. Harusnya bulan depan adalah ulang tahunmu yang ketujuh. Ayah masih belum bisa melupakan segala sesuatu yang berkaitan denganmu. Rasanya baru kemarin ayah mengantarkan Libby ke rumah Libby yang baru di surga. Ayah sangat sedih sekali ditinggalkan oleh Libby, waktu itu dunia rasanya hancur, ayah tidak pernah menyangka bahwa Libby akan meninggalkan ayah. Ayah menyangka akan bisa melihat Libby masuk SD di Lab School seperti yang sudah pernah kita bicarakan, akan bisa melihat Libby mulai menjadi ABG di SMP, akan mulai khawatir dengan pergaulan mu di SMA, akan membantu memilihkan jurusan di Universitas sampai akhirnya ayah bisa menikahkanmu dan akan punya cucu darimu. Untuk membayangkan ayah akan berjauhan dari Libby jika Libby harus sekolah di luar negeri saja sudah sangat berat bagi ayah, makanya ayah sangat takut sekali ditinggalkanmu. Namun,semuanya sudah terjadi, Libby sudah ada rumah Allah SWT dan kita tidak akan pernah bisa bertemu lagi kecuali dalam mimpi-mimpi ayah dan di surga kelak,Insya Allah. Selain itu, yang bisa kita lakukan sekarang adalah belajar dan mengambil hikmah dari kepulanganmu.
Ayah ingin sekali bisa berbagi pengalaman dan hikmah yang ayah alami dan rasakan ketika ayah ditinggal pulang sama Libby kepada teman-teman ayah supaya mereka belajar dari apa yang ayah alami.

Hal pertama yang ingin ayah ingatkan kepada teman-teman , bahwa harta, anak, ayah, ibu, saudara, yang selama ini sering kita anggap sebagai milik kita adalah sebenarnya hanya merupakan titipan dari Allah SWT yang kapan pun bisa diambil kembali oleh Allah SWT sebagai pemilik segala sesuatu di dunia ini. Kita sering lupa bahwa sesungguhnya kita tidak memiliki apa pun di dunia ini. Allah SWT bisa mengambil apa yang kita pikir milik kita kapan saja tanpa perlu memberi tanda-tanda apa pun, tanpa peringatan sedikit pun. Jangan pernah berpikir bahwa apa yang kita miliki sekarang adalah abadi dan tidak akan pernah hilang. Ketika bulan Desember lalu terjadi bencana yang sangat dahsyat di Aceh, ayah sedih melihat orang-orang yang kehilangan keluarganya, kehilangan anak-anaknya, kehilangan harta bendanya namun ayah juga berdoa mudah-mudahan mereka dan kita semua meyakini bahwa semua adalah milik Allah SWT dan jika Allah SWT berkehendak semua bisa diambil hanya dalam hitungan detik. Mudah-mudahan kita semua dikaruniai kesabaran

Hal kedua yang ayah ingin share adalah alangkah beruntungnya orang-orang yang bisa bersabar dalam menghadapi cobaan dari Allah SWT. Ketika Libby pulang ke surga, semua orang berkata kepada ayah : “Sabar ya…” Ketika itu ayah berkata dalam hati bahwa enak saja mereka berkata seperti itu , mereka semua tidak mengerti bagaimana sulitnya ayah untuk bisa bersabar ketika telah kehilangan salah satu cahaya hidup ayah. Mereka tidak mengalami bagaimana pedihnya hati ayah ditinggalkan oleh anak kesayangan ayah yang telah ayah urus dari bayi, yang telah ayah lihat perkembangannya dari mulai bisa tertawa, bisa berguling, bisa berdiri, bisa bicara, sampai akhirnya Libby berumur 5 tahun dan kamu seperti sudah dewasa pada saat itu dengan omongan-omonganmu yang sangat kritis. Ayah sudah sangat-sangat tidak sabar, sampai-sampai ayah ingin segera menyusulmu ke akhirat. Tapi kemudian ayah sadar bahwa jika ayah menyusulmu belum tentu ayah akan bisa menemuimu di surga karena ayah tahu ayah banyak dosa, tidak sepertimu yang sudah dijanjkan oleh Allah SWT akan menjadi “burung-burung surga” (keinginan mu untuk jadi peri kecil seperti Tinker Bell, rupanya dikabulkan oleh Allah SWT). Alhamdulillah akhirnya ayah diingatkan oleh Allah SWT untuk bersabar , karena ayah tahu bahwa Libby ada di tangan yang jauh lebih baik. Sampai sekarang jujur saja rasanya ayah belum bisa 100% merelakan kepergianmu. Ayah masih suka bermain-main dengan permainan “What if ”. “What if I wasn’t late taking you to the hospital”, “what if you didn’t pass away”, what if , what if yang lain. Semuanya hanya seandainya… ayah tahu “seandainya” tidak akan membawamu kembali ke tengah-tengah kita. Ayah masih berusaha keras untuk bersabar.Dalam doa, ayah selalu minta agar ayah diberi kemampuan untuk bersabar. Maka dari itu sungguh beruntung orang yang mampu bersabar ketika diberi cobaan oleh Allah SWT…

Hal ketiga yang ingin ayah ingatkan kepada teman-teman ayah adalah bahwa dalam keadaan apa pun kita harus selalu bersyukur kepada Tuhan. Belakangan, ketika kehilanganmu, ayah bersyukur bahwa ayah masih punya mommy, masih punya Adelle, masih punya aki, nini, uti, kakung, dan saudara-saudara ayah. Belakangan juga ayah makin bersyukur dengan apa yang ayah punya. Jika membandingkan dengan saudara-saudara kita di Aceh di mana bahkan ada yang sama sekali tidak punya apa-apa lagi selain baju yang menempel di badannya, mereka kehilangan semua anggota keluarganya, sanak saudara, kehilangan harta benda, dll, maka cobaan yang ayah alami mungkin tidak ada apa-apanya. Kita sering kali lupa untuk bersyukur kepada Allah dengan semua yang telah Allah SWT berikan dan titipkan kepada kita . Ada pepatah yang mengatakan “You don’t know what you’ve got until it has gone”. Masih banyak teman-teman ayah yang kelihatannya belum mensyukuri apa yang mereka punya sekarang. Masih banyak yang menyia-nyiakan anak-anak mereka, istri mereka, orangtua mereka, harta mereka, kedudukan mereka, padahal kalau sudah tidak ada baru terasa sakitnya. Lagi-lagi kita sering lupa bahwa jika Allah berkehendak, maka semuanya bisa hilang secepat membalikan telapan tangan. (“Cherish what we have now !”, sayangi anak-anak kita, luangkan waktu sebanyak mungkin untuk anak-anak kita . Karena kita tidak mungkin mengembalikan waktu ketika waktu itu sudah berlalu. Seringkali kita merasa kecapaian pulang dari kantor sampai-sampai kita tidak mau bermain-main dengan anak kita yang sudah menunggu seharian hanya untuk bermain dengan ayahnya).
Sampai sekarang ayah masih suka nangis sendiri jika ingat bagaimana ayah setiap hari mengantarkan mu ke sekolah, bagaimana kamu selalu tidak mau dipegang tangannya oleh ayah karena kamu ingin kelihatan mandiri diantara teman-temanmu. Ayah juga masih ingat saat-saat kita tertawa, bermain bersama, ngobrol, dll. Ayah merasa pada saat itu ,“I was your best friend”. Sampai-sampai kamu berkata “Libby anak ayah, Adelle anak mamah”. Ayah bersyukur sewaktu kamu masih hidup, ayah banyak meluangkan waktu untukmu. Makanya ayah sangat menyesal justru ketika kamu akan pulang ke surga, ayah malah nggak nemenin kamu, ayah malah ikut meeting di kantor. Waktu mommy memberitahu bahwa Libby sudah dipanggil pulang oleh Allah SWT, ayah sedang di mobil dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Ayah menyesal sekali tidak bisa mengatakan selamat jalan kepada Libby, tidak bisa mendengar Libby mengucapkan selamat tinggal, tidak bisa mengantarkan Libby pulang. Suatu hal yang akan ayah selalu sesali seumur hidup. Ah, tapi semuanya memang sudah diatur oleh Allah SWT. Tapi ayah akan selalu ingatkan teman-teman untuk berusaha mendahulukan kepentingan darurat keluarga di atas kepentingan kantor. Put first thing first ! Namun demikian, tentunya tidak kemudian membuat-buat keluarga sebagai alasan untuk menghindari tugas kantor.

Hal keempat yang ayah pelajari dari kepergianmu adalah bahwa Allah SWT lebih tahu apa yang terbaik untuk kita semua. Di agama kita secara jelas dikatakan “Boleh jadi kamu amat membenci sesuatu padahal hal tersebut amat baik untukmu, boleh jadi pula kamu amat menyukai sesuatu padahal hal itu amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS 2:216). Kalau semuanya dikembalikan kepada Allah SWT sebagai pengatur segala sesuatu di dunia maka akan lebih mudah bagi kita untuk menerima seluruh takdir yang diberikan oleh Allah SWT. Kita wajib berusaha keras dalam segala sesuatu tetapi kita juga harus menyerahkan dan menerima apa pun hasil dari usaha keras kita karena Allah SWT tahu yang paling baik untuk kita. Awalnya ayah merasa bahwa usaha ayah untuk tetap menahanmu di dunia tidaklah maksimal, ayah terlambat membawamu ke rumah sakit. Ayah sangat menyesali apa yang sudah terjadi, namun kemudian ayah sadar bahwa semua yang ada di dunia sudah diatur oleh Allah SWT. Kita hanya bisa berusaha sebisa yang kita bisa namun Allah SWT tetap yang memiliki keputusan akhir. Dengan demikian langkah kita menjadi lebih mudah dalam menghadapi persoalan hidup

Ayah masih ingat bagaimana kamu ingin selalu berguna bagi orang lain, kamu selalu memaksa ayah untuk memberikan uang kepada setiap pengemis yang kita temui. Dalam usia yang masih sangat belia kamu sudah ingat untuk berbagi dengan orang-orang yang kekurangan. Kamu senang sekali ketika kita membagikan makanan untuk para gelandangan di lampu merah di Bandung. Bahkan di kepulangan mu, kamu masih berguna untuk mengingatkan ayah terhadap hal-hal yang sangat penting bagi kehidupan ayah. Sekarang ayah ingin membagi pelajaran yang ayah dapat dari kepergianmu itu kepada teman-teman ayah yang lain supaya mereka tidak harus menunggu sampai hal yang sama terjadi kepada mereka untuk bisa belajar dari pengalaman kita. Walaupun ayah masih suka nangis sendiri jika ingat sama Libby, tapi ayah yakin sekarang Libby sudah menjadi malaikat kecil di surga seperti yang Libby ceritakan dalam mimpi ayah bahwa di rumah Libby yang baru banyak sungai-sungai yang airnya adalah susu, banyak buah-buahan dimana-mana . Ayah semakin yakin dengan kebahagiaan mu di surga ketika ayah merasa melihat Libby tersenyum kepada ayah di langit di atas Kabah ketika ayah sedang berdoa di Masjidil Haram. Semoga teman-teman ayah bisa mengambil hikmah dari pengalaman kita. Sekarang Libby sudah punya adik baru, Aliyya sudah setahun bulan ini. Mukanya mirip sekali dengan Libby, sekarang dia sudah mulai bisa ngomong. Adelle juga sudah besar, beberapa kali dia nangis sambil ngomong pengen ketemu Libby, rupanya dia sudah mulai mengerti bahwa dia tidak akan pernah ketemu lagi dengan kakaknya….tadinya setiap ditanya dimana Kakak, dia selalu jawab di rumah sakit, sekarang di jawab kakak ada di surga…
“Selamat tidur, Libby !”, We all still love you very much….

Cium sayang
Ayah Dicky


(89:27)
"Ya ayatuhanafsul muthmainah
Hai jiwa yang tenang.
(89:28)
Irjii illa robbiki radhiyatam mardiyah
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.
(89:29)
fadkhuli fii ibadii
Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,
(89:29)
wad khuli jaannatii
masuklah ke dalam syurga-Ku.


Tears In Heaven (By Eric Clapton)

Would you know my name if I saw you in heaven?
Would it be the same if I saw you in heaven?
I must be strong and carry on,
'Cause I know I don't belong
here in heaven.

Would you hold my hand if I saw you in heaven?
Would you help me stand if I saw you in heaven?
I'll find my way through night and day,
'Cause I know I just can't stay
here in heaven.

Time can bring you down, time can bend your knees.
Time can break your heart, have you begging please,
begging please.
Beyond the door there's peace I'm sure,
And I know there'll be no more
tears in heaven.

Would you know my name if I saw you in heaven?
Would it be the same if I saw you in heaven?
I must be strong and carry on,
'Cause I know I don't belong
here in heaven.



I’ll Lend you my child…” (by Edgar Guest)

I'll lend you for a little time a child of mine, God said ...
For you to love the while she lives ... and mourn for when she's dead.
It may be five or seven years, or twenty-two and three,
But will you, till I call her back, take care of her for me?
She'll bring her charms to gladden you. And shall her stay be brief,
You'll have her lovely memories as solace for your grief.
I cannot promise she will stay, since all from Earth return.
But there are lessons, taught down there, I want this child to learn.
I've looked the wide world over in search for teachers true,
And from the throngs that crowd life's lanes, I have selected you.
Now ... will you give her all your love ... nor think the labor in vain?
Nor ... hate me when I come to call ... to take her back again?
I fancied that I heard you say ...
“Dear Lord, thy will be done!
“For all the joy Your Child shall bring, the risk of grief we'll run.
“We'll shelter her with tenderness. We'll love her while we may,
“And for the happiness we've known ... forever grateful stay.
“But shall the angels call for her much sooner than we've planned,
“We'll brave the bitter grief that comes ... and try to understand.” *




Surat Untuk Libby di Surga
(In Loving Memory of Allyvia Adzhani N. Saelan, 25 April 1998-29 April 2003)


Dear Libby,
Apa kabar Libby ? Akhir-akhir ini ayah kangen dan ingat terus sama Libby, apalagi di negara kita saat ini sedang berjangkit penyakit demam berdarah. Virus yang mengantarkan Libby menghadap Allah SWT. Ayah ingat hampir satu tahun yang lalu. Sejak hari Sabtu tgl 19 April 2003, Libby sudah mengeluh kurang enak badan, ayah langsung membawa Libby ke dokter specialis Libby di Mall Ambassador hari itu juga untuk mendapatkan perawatan. Dokter waktu itu menyatakan ba hwa Libby sakit radang tenggorokan. Walaupun sudah agak membaik, hari Senin 21 April 2003 Libby tidak sekolah dulu agar bisa beristirahat dan lagipula besok Libby akan perform ballet untuk pertama kalinya. Ketika ayah pulang kantor, Libby sangat excited untuk segera perform ballet besok harinya. Ayah juga ingat Libby tunjukkan semua costume yang telah dimiliki. Kamu memang sangat-sangat menyenangi ballet. "Ayah lihat Libby perform besok kan ?" tanya Libby pada ayah, yang ayah langsung jawab iya. Keesokan harinya tanggal 22, April 2003, Ayah sengaja mengambil cuti agar bisa leluasa hadir ke performance ballet Libby yang pertama.

Pk 6.15 Ayah mengantarkan Libby sekolah, sepanjang perjalanan Libby terus berbicara mengenai performance ballet (suatu ritual yang hampir setiap hari ayah jalani bersama Libby ketika Libby sudah mulai TK di Lab.School Rawamangun). Karena hari itu cuti, ayah pun bisa menjemput Libby ketika pulang sekolah pk 11.30, Libby sangat senang ayah jemput karena tidak biasa-biasanya ayah bisa jemput kamu. Dalam perjalanan pulang Libby bertanya sama ayah , "Ayah, siapa Kartini itu ?" lalu ayah Jawab "Kartini itu seorang putri yang berjasa pada kaum wanita makanya diperingati sebagai hari Kartini". Kemudian Libby bertanya lagi "kok putri tidak pakai baju Cinderella" (Libby tahunya gambaran Putri adalah seperti yang digambarkan dalam karakter Disney). Ayah berusaha menjawab semua pertanyaan Libby dengan sebaik mungkin. Bahkan sampai pada pertanyaan "Kartini itu sudah meninggal ya ayah ?", ayah jawab iya. Libby masih terus memborbardir ayah dengan pertanyaan "Kalau Libby mau diperingati harus meninggal dulu ya yah ? Ayah agak bingung juga menjawabnya, namun akhirnya ayah jawab "tidak perlu karena ada juga yang masih hidup sudah diperingati". Pertanyaan itu tadinya hampir tidak ada artinya kecuali contoh lain dari curiosity kamu yang sangat tinggi, namun belakangan ayah mulai menyadari bahwa mungkin ini adalah firasat tepat seminggu sebelum kepulangan kamu ke Allah SWT

Ketika perform ballet, ayah ingat Libby kelihatan masih lemas, belum lagi beberapa teman kamu tidak menari dengan baik sehingga secara keseluruhan penampilannya tidak terlalu menggembirakan. Kamu yang sangat perfectionist kelihatan sangat kecewa dengan penampilan kelompokmu yang kurang kompak. Ketika pulang, Libby kelihatan agak murung, ayah terus menerus berusaha untuk menghibur Libby dengan mengatakan bahwa performance-mu cukup baik. Tapi tidak dapat ditutupi bahwa Libby kecewa sekali. Hari Kamis malam, Libby panas lagi sampai 40 derajat. Tanggal 25 April 2003, Libby ulang tahun yang ke-5, kamu masih sakit sehingga tidak masuk sekolah. Ayah dan Mommy kembali membawa kamu ke dokter , dokter mengatakan bahwa jika sampai Senin belum turun juga panasnya, Senin harus diambil darah. Tanggal 26 April 2003, Libby merayakan pesta ulang tahun yang ke-5 di McDonald Arion. Libby sudah mulai turun panasnya hanya masih kelihatan lemas.Pesta ini adalah permintaan pertama Libby karena biasanya ulangtahunmu hanya dirayakan di sekolah dengan membawa kue ulang tahun saja. Entah kenapa Libby menginginkan pesta di McDonald lengkap dengan badut-nya.Ayah minta maaf sama Libby karena terlambat mengurusnya, badut yang diminta kamu tidak bisa hadir di pesta (ayah tidak tahu bahwa McD tidak memperbolehkan badut dari luar). Libby kelihatan kecewa dengan ketidakhadiran badut itu karena ternyata kamu sudah bercerita pada teman-temanmu bahwa di pestanya akan ada badut teletubies (Ayah sangat-sangat menyesal tidak bisa memenuhi permintaan Libby, maafin ayah ya Liv...). Libby ngomong "badutnya nggak bisa datang ya,yah ? gimana ya nanti Libby dibilang pembohong sama teman-teman. Tapi nggak apa-apalah teman-teman pasti ngerti". Libby adalah seorang yang sangat patuh terhadap janji, kamu tidak mau mengecewakan orang lain.

Pulang dari pesta Libby kelihatan sakit lagi, ayah mencoba untuk menghibur kamu dengan melakukan kompress dan lain-lain, panas kamu
tidak turun-turun, hadiah yang banyak pun hampir-hampir tidak kamu sentuh, hanya saja ada percakapan kita yang ayah masih sangat ingat. Libby ingat nggak ketika ayah tanya "Liv, uang yang dari nini kan banyak, mau dibeliin apa sama Libby, beliin mainan ya !?" Libby malah bilang sama ayah "Ayah, mainan Libby udah banyak sekali... bahkan sebagian mau Libby kasiin ke orang miskin, kasihan kan mereka nggak punya mainan... Libby mau kirim bunga yang banyak sekali untuk nini..Nini pasti seneng..." Ayah kaget denger jawaban Libby tapi sama sekali tidak menyangka apa-apa.. belakangan ayah baru sadar ini adalah tanda-tanda mu yang lain karena waktu sebelum pemakaman ternyata rumah nini tempat kamu disemayamkan dipenuhi oleh bunga-bunga yang bersimpati sama kita.

Libby ingat nggak hari Minggu ayah dan Mommy bawa Libby ke rumah sakit Bunda untuk diambil darah karena ayah tidak mau nunggu lagi sampai hari Senin. Ayah ingat Libby minta ayam A&W dan minuman Fruity strawberry, ayah seneng sekali Libby minta makan karena sudah dua hari ke belakang Libby susah makan. Libby nggak pernah mengeluh sakit perut cuma mengeluh pusing saja dan mual. Besoknya mommy membawa hasil test darah ke dokter lagi, trombosit kamu masih 149.000. Kata dokter Libby terkena gejala Thypus dan disarankan untuk istirahat dan banyak minum. Sore harinya panas Libby sudah mulai turun, ayah senang sekali pada saat itu, bahkan ayah telepon ke Bandung untuk memberi tahu bahwa Libby sudah turun panasnya,cuma pada saat itu Libby masih sangat lemas dan masih muntah.

Ayah pikir Libby sudah mendingan. Malamnya ternyata Libby terus mengigau dalam tidur,ayah, mommy dan uti nggak berhenti berdoa, kita put uskan untuk membawa kamu ke dokter lagi first thing in the morning. Sama sekali tidak terbersit dalam pikiran ayah bahwa Libby mungkin sudah mulai didekati oleh malaikat. Panas kamu sudah turun sekali ke 36 derajat. Keesokan harinya Libby dianter sama mommy dan uty ke dokter lagi, di dokter menurut mommy trombosit kamu sudah turun ke 59.000 dan langsung diperintahkan untuk masuk rumah sakit. Mommy membawa kamu ke RS Mitra Jatinegara karena kata dokter, disana PICU (ICU anak-anak)-nya cukup baik. Kata Mommy, dalam perjalanan ke RS, kamu masih minta mie dan pisang. Mommy ingat di dalam mobil Libby ngomong "Ma, kok orang-orang itu tidurnya aneh ya ?" Mommy nggak bisa jawab cuma bilang "Libby kuat ya...." . Sampai di rumah sakit Libby sudah nggak sadar, ketika ditaruh di bed gawat darurat, Libby langsung kejang dan pergi untuk selamanya sebelum dokter sempat melakukan pertolongan apa-apa.

Ayah minta maaf ya Liv nggak bisa nememin kamu pulang ke rumah kamu di surga. Ayah ngerasa bodoh sekali malah ikut meeting di kantor ketika kamu sedang berjuang dengan maut. Tapi memang jalannya sudah harus begitu, ayah rela Libby pulang ke rumah pemilik Libby karena ayah hanya diberi kesempatan untuk merawat Libby selama tepat lima tahun.

Mommy sekarang sedang hamil lagi, Adelle sudah mulai cerewet, maunya sekarang pake baju punya Libby terus. Kemarin-kemarin dia terus berbicara mengenai kamu, Libby datang ke mimpinya Adelle ya ?? Ya udah dulu ya Liv, ayah harus kerja dulu. Ayah mau buat surat buat teman-teman ayah biar mereka belajar dari pengalaman kita"

Cium sayang
Ayahmu : dicky

ini ada tambahan....
Teman-teman, pelajaran yang bisa kita ambil dari pengalaman kami adalah
:

1.
pelajari dan kenali berbagai jenis penyakit dan gejalanya. Libby terkena demam berdarah dan kami sudah terlambat untuk membawanya ke rumah sakit. Jika anak-anak kita, atau kita sendiri panas selama dua hari berturut-turut, lebih baik langsung ke dokter dan minta periksa darah. Minta sekalian periksa darah untuk dengue rapid karena kadang-kadang trombosit-nya masih 200.000 (batas normal adalah 150.000-400.000) tetapi sebenarnya sudah terkena virus dengue. Jika dokter menyatakan thypus atau radang tenggorokan, atau flu biasa, lebih baik cari second opinion dari dokter yang lain.

2.
Sampai meninggalnya Libby, tidak timbul bercak-bercak merah di sekujur tubuhnya, tidak mimisan, tidak muntah darah. artinya symptom dengue sudah tidak khas. Salah satu cara termudah untuk mendeteksi dini DBD adalah dengan menekan salah satu kuku ibu jari, kemudian lihat apakah permukaan yang putih ketika ditekan langsung kembali merah. karena DBD menyebabkan darah agak mengental sehingga ketika selesai dipencet, biasanya kuku yang terkena DBD agak lambat kembali merahnya. Raba denyut nadi, penderita DBD biasanya denyut nadinya agak lemah.

3.
Pantau terus kondisi pasien jika sudah positif DBD, kadang-kadang beberapa rumah sakit mencek darah hanya sehari sekali, minta pengecekan dilakukan 6 jam sekali. Jika trombosit sudah mulai memasuki 30.000, tanya dan siapkan beberapa teman dan keluarga yang memiliki darah yang sama dengan penderita untuk berjaga-jaga jika tranfusi darah dibutuhkan karena saat ini sulit mendapatkan persediaan darah

4.
Pakaikan mosquito repellent pada anak-anak kita di waktu siang untuk menjaga gigitan nyamuk aedes aegepty.

5.
Jika anak sakit, tinggalkanlah urusan kantor atau urusan apa pun, keluarga jauh lebih penting daripada apa pun di dunia ini, anda akan menyesal seumur hidup jika mengalami kejadian seperti cerita diatas.

6.
Setelah semua usaha kita lakukan, pasrahkan semua kepada Allah SWT karena bagaimana pun kita berusaha jika Tuhan berkehendak lain, maka tidak ada yang dapat menghalangi keputusanNya. Pasrah dan rela terhadap apa pun keputusan Allah SWT.

Thursday, June 29, 2006

dari perempuan untuk lelaki...

"Mba Dina ambil Gender Study ya?"
"Oh, pasti PhD-nya tentang Gender ya?"
"Wah studi tentang gender kan memang prioritas bagi pemberi beasiswa!"

Statement-statement yang terkadang lebih bernada judgement dan sangat cynical seperti itu sudah sangat sering gue denger dari orang-orang yang ada di komunitas gue saat ini. Mostly mereka adalah "laki-laki". Walau ada juga beberapa yang perempuan. Gak jarang muka-muka mereka ketika melontarkan itu semua sangat pantas untuk "dicolek" sedikit karena gaya cibiran mereka yang bikin muak.

Walaupun studi aku bukan tentang gender or perempuan, tapi pernyataan dan sikap synical mereka terhadap perempuan yang belajar tentang "gender" or "perempuan" jelas-jelas bikin gue jengkel. Dalam hati berpikir kenapa sih memangnya kalo ada seorang perempuan indonesia mengambil studi tentang perempuan or anything associated with them. kenapa harus sampai ada tuduhan bahwa itu cuma siasat untuk mendapatkan kursi beasiswa? Kenapa di kalangan orang-orang "terpelajar" (seperti para students yang bertanya pada gue itu)saja masih tidak bisa melepas semua stereotype bahwa perempuan itu sesungguhnya tidak cerdas, tidak smart dan kalaupun bisa duduk sejajar dengan para lelaki itu cuma karena mereka menguasai hal-hal yang menyangkut tentang dirinya sendiri! Yang lebih bikin jengkel adalah ketika mereka menambahankan cibiran sambil bilang "ah perempuan, mereka cuma cari-cari masalah saja",... the hell with these men!

Mungkin temen-temen yang baca blog ini akan bertanya; kenapa tiba-tiba isu tentang ini harus bela-belain gue tulis.

Tentu saja ini ada sebabnya. Tadi malam, salah satu statiun TV di sini menyiarkan program khusus tentang akan diundangkannya UU Anti-Pornography di Indonesia. Program ini seakan-akan ingin mengatakan kepada mereka yang menonton; bahwa Indonesia yang baru saja membebaskan otak terorisme Abu Bakar Baashir jelas menampakkan gejala shifting dari Indonesia yang secular ke arah yang lebih Islamis. Beberapa kali scene memuat pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh pimpinan FPI dan juga salah seorang anggota parlemen yang berasal dari PKS tentang perlunya konstitusi negara merujuk kepada ajaran agama Islam, agama mayoritas penduduk di Indonesia.

Bagi masyarakat disini yang tahu hanya sedikit tentang kompleksnya permasalahan yang dialami umat di Indonesia, tentu saja tayangan seperti di atas sangat menakutkan. Gak heran, pagi-pagi ini gue langsung harus cas cis cus diskusi sama seorang teman lokal yang juga menonton acara tadi malam. Menurut dia, fenomena demikian jelas-jelas sangat sangat menakutkan apalagi kalau benar-benar Indonesia harus berubah menjadi negara Islam. Walaupun gue sempet bilang juga kenapa mereka harus takut, toh Malaysia yang nota bene konstitusinya menyebut negara mereka sebagai negara Islam, so far tidak menimbulkan masalah apa-apa. selanjutnya, dalam tayangan tersebut juga digambarkan betapa perempuan di judge morality-nya hanya berdasar pada cara dia berpakaian, bermake up or berbicara. Ada sebuah scene yang menayangkan seorang perempuan di Tangerang yang tertangkap "polisi etika" dan harus menjalani persidangan hanya karena berjalan sendiri lewat jam 7 malam sementara dalam tasnya ditemukan sebuah lipstik dan pemoles muka. Ah, betapa anehnya...

Gue sendiri sebenarnya tidak mau terjebak untuk menyebut diri sebagai seorang sekuler or liberal or Islamis sekalipun. Sejak 1994 gue memang berjilbab. Gue gak terlalu paham apakah gaya berjilbab gue sudah sesuai dengan ajaran yang ada dalam agama gue. Tapi, gue gak mau terlalu pusing mikirin itu. Ketika bekerja di UIN, ada seorang dosen senior perempuan yang suatu ketika mengkritik gue. katanya "dina, gaya berjilbab kamu terlalu modis, kamu harus begini dan begitu..."... Ugh, waktu itu gue mikir, who the hell you are to judge the way i dress!...

Dan kalo memang UU anti-Pornography itu diundangkan, ah gue gak kebayang... apa yang akan terjadi pada diri gue? dan diri perempuan-perempuan lain di Indonesia kalo UU anti-Pornography ini benar benar diterapkan. Perempuan lagi-lagi punya masalah baru.

With this, i suddenly feel really bad as a woman. For an illustration of how a woman has to struggle in her life is my own story. I myself have to study very hard while at the same time i have to take care of my two kids and make sure my husband will have a proper lunch and dinner everyday. So no wonder, while am reading books or journals and try to understand every single word that i read, my mind will still go to my kitchen, thinking of what food should i cook for tonight dinner, or is there any milk left on my fridge for my daughter who use to wake up at night and ask for a bottle of milk?
A friend of mine, one of young Indonesian feminists who has produced two books on women and their experiences in Indonesia and also now is struggling with me in Melbourne, one day said to me... "if i could yell at them all i would say that when women students like us manage to finish their studies on time we have to be given all the credits!
I could imagine our life must have been better compare to other women who are now struggling di pasar cipulir, pasar ciputat, pasar keb.lama,... mereka almost never have good sleep at night. trus juga mereka yang harus ngungsi krn natural disaster or conflict such as in Aceh or Jogya...

So, up to this point, shouldnt we think the problems face by Indonesian women are so difficult? if we could just understand this we then should praise all of those women who have dedicated their time in search for something meaningfull to their fellow women in Indonesia or elsewhere in the world, no matter how their research will affect state's policy or community's perspective or attitude to all women.

d'

Tuesday, June 27, 2006

10 Trend Bisnis di Tahun 2007

Nugraha

Faktor-faktor apa saja yang akan secara signifikan merubah dasar pemikiran perusahaan di tahun-tahun ke depan?
Mereka yang mengatakan bisnis yang sukses itu adalah tentang eksekusi adalah salah & selanjutnya akan tertimpa biaya perubahan yang lumayan besar. Penempatan produk yang pas dengan pasar, pemanfaatan teknologi, dan alat ukur geografi adalah komponen utama dari pencapaian ekonomi jangka panjang. Dalam masa Industri yang sedang krisis seringkali melahirkan proses-proses manajemen yang baik.

Sektor-sektor jasa seperti perbankan, telekomunikasi, dan teknologi akan tetap mengalami pertumbuhan. Perusahaan dengan product yang memiliki brand internasional tidak akan mengalami kesulitan menghadapi tantangan geografi selama berada di segmentasi pasar yang benar itupun harus ditambah dengan memadukan proses identifikasi munculya potensi pasar yang terbaru & mengembangkan strategy untuk menciptakan pasar khusus.

Apakah hal terbaru di hari ini akan membuat dunia berbeda di tahun 2015? Dalam hal analisa untuk mengambil kesimpulan yang berasal dari prediksi trend jangka pendek dapat berakibat buruk. Untuk sementara hal ini berlaku di trend pasar lisensi atau franchise (hal yang dibangun booming Dunkin Donuts tidak akan berlaku sama terhadap breadtalk atau J’co donuts) karena product mereka merupakan kategori follower yang sudah melewati masa edukasi pasar oleh pemain lama, namun keuntungan pemain baru tetap ada selama pemain lama merasa aman & tidak melakukan re-branding. Cara paling tepat untuk meramalkan perubahan jangka panjang adalah dengan mengidentifikasi kecenderungan melalui suatu analisa sejarah & makro ekonomi. Menurut sejarah trend internet menempuh lebih dari 30 tahun untuk menjadi suatu fenomena spektakuler dalam hal word view mechanism.

Mari kita melihat 10 highlight trend yang akan merubah landasan bisnis masa depan. Pertama kita akan mengidentifikasi 2 trend macroeconomic yang akan merubah tatanan ekonomi:

1. Pergeseran aktifitas ekonomi global, tidak hanya global namun juga regional. Sebagai konsekuensi economic liberalization, nilai tambah technologi, perkembangan capital market, dan pergeseran demographic economi, dunia telah menyusunan kembali kegiatan ekonomi raksasa melalui pergeseran industri yang akan memaksa world wide fund untuk mengikutinya. Walaupun akan ada goncangan dan kemunduran, penyusunan kembali ini akan tetap berlaku. Hari ini, Asia ( tidak termasuk Jepang) meliputi 13%GDP, selagi Eropah Barat meliputi lebih dari 30%. Dalam 20 tahun kekuatan keduanya akan kembali memusat untuk beberapa industri dan functions-manufacturing dan jasa IT, terutama ke Asia. Amerika serikat & Eropa akan membagi industrinya ke wilayah Asia dengan prioritas utama ke China & Taiwan ( Toyota Vios pada awalnya merupakan strategy Toyota corp untuk memperluas pasar di China yang akhirnya menghasilkan sedan murah untuk seluruh dunia).

2. Personal service booming; jasa pendidikan, dana pensiun/PHK dan bisnis kesehatan termasuk asuransinya akan menjadi primadona karena tuntutan individu yang semakin meningkat. Permintaan terhadap hal tersebut akan menciptakan pertumbuhan bagi mereka yang menyediakan jasa tersebut, hal ini akan semakin di perkuat dengan andilnya pemerintah daerah terhadap pengadaan & peningkatan kualitas pendidikan, dana pensiun/asuransi PHK & kesehatan.

Ke-2 adalah melihat 2 faktor investasi yang akan mengemuka:

3. Pola baru investasi; Setiap investor yang masuk ke sebuah negara tidak akan melakukan investasi besar-besaran terutama dalam hal pengadaan infrastructure, penyewaan akan menjadi ide bisnis yang menarik seperti mobil, gedung, ATK, pameran bahkan pengadaan tenaga kerja melalui agent. company yang berada di business tersebut akan mendapatkan keuntungan besar selama 10 tahun ke depan.
Product mobil menengah dengan harga diatas 100jt akan mengalami penurunan di kisaran 15% - 20% dari penjualan semester 1 tahun 2006. Selanjutnya mau tidak mau leasing akan melakukan pengurangan bunga pinjaman untuk menjamin persaingan serta menerima resiko penjualan lebih ke daerah pedalaman yang memiliki potensi product eksport tinggi. Dalam hal segmentasi Leasing company juga harus mampu menggarap pasar product dibawah harga Rp. 200.000,- yang memusat di hypermarket, carefour dll.

4. Personal investment base; Dalam hal keuangan pasar deposito akan lenyap seperti corporate loan, market akan memaksa bunga tabungan lebih tinggi dari deposito dimana selanjutnya akan diatur oleh 1 kartu multi fungsi mulai dari ATM, credit card, KTA dll. Namun yang unik lebih dari itu dimana sifat perjanjian antar Bank dengan client akan menggabungkan logika investasi corporate dengan individu karena bank akan memberikan fasilitas pinjaman kepada individu yang bisa dibayar pada waktu minimum 6 bulan sesudah dana diterima itu pun dengan jumlah & waktu pembayaran yang diatur oleh kemampuan customer ditambah dengan perang bunga minimum antar bank.
Jaminan individu yang satu di dalam perusahaan akan dibebankan atribut berat sebagai penjamin individu lainnya dengan kelayakan menurut prinsip-prinsip keuangan international, contoh: dalam industri asuransi jaminan pembayaran claim tidak sekedar menjadi tanggungan corporate namun juga merupakan jaminan harta individu didalamnya (komisaris, direktur utama, direktur teknik, direktur marketing, GM & Manager). Begitu juga dengan industri keuangan seperti perbankan, leasing dll.

Analisa kelayakan pinjaman oleh penyedia dana international terhadap rencana realisasi pinjaman corporate di segmen non multi business akan menyangkut nama-nama individu didalamnya dengan seluruh masa lalunya. Hal ini juga akan berlaku terhadap govermance & national analysis yang menghendaki pinjaman luar negeri. Sertifikasi internasional terhadap individu & kemampuan menjalankan prosedur internal sesuai dengan standar international akan menjadi kewajiban di seluruh perusahaan.

faktor ke-3 adalah Market analisis:

5. Mempertahankan market lama dengan menekan alokasi ke pasar baru; Kemungkinan besar business personal investment seperti contohnya; GE Capital (non banking) yang memiliki SOP finance yang akurat akan menciutkankan divisi credit analis karena memungkinkan NPL baru yang berlawanan dengan tujuan untuk meminimalisasi penerima credit baru, sebagai gantinya client lama yang memiliki riwayat pembayaran lebih baik akan ditambah fasilitas-fasilitas pinjaman lainya.
Pada point ke-4 selanjutnya adalah melihat 2 trend unik yang menyangkut product management & daya beli masyarakat:

6. Waktunya untuk product kelas 2 dengan harga kelas 3; Kenaikan harga BBM akan menurunkan daya beli masyarakat hingga 40% dari kemampuan sebelumnya, Faktor defisit APBN yang membengkak menjadi 42 Trilyun di tanggal 23 June 2006 merupakan kosa kata awal untuk legitimasi kenaikan harga BBM lanjutan. Pengaruhnya terhadap perusahaan akan memaksa untuk melakukan efesiensi & menekan cost dengan berbagai cara termasuk dengan cepat menghasilkan product kelas 2 dengan kemungkinan harga product kelas 3. Beruntung bagi perusahaan yang memiliki product kelas 2-3 dengan kualitas baik, Contoh: saat ini jika kita melihat porsi iklan unilever di kategori sabun pencuci maka pasar telah di plot ke product surf (produk ke-2 sesudah Rinso), surf lebih murah 15% – 10% dibanding harga Rinso. Harga akan menjadi patokan utama pasar untuk melakukan pembelian.

7. International branded for metroseksual people; product yang berorientasi terhadap pasar generasi metroseksual & memiliki international brand akan sangat diuntungkan, hasilnya adalah product untuk generasi berumur 17 – 25 dengan ciri-ciri: biasa berdiskusi kelompok di starbuck, minimum 10 jam menghabiskan waktu surf internet, memilih sekolah international, branded & terbiasa dengan perjalanan antar negara. Sebagai contoh: XL sebagai product kartu cellular sedang melakukan re-branding yang ditujukan untuk kalangan metroseksual dengan fitur yang memberikan kesan lebih modern dibandung penyedia kartu lainnya, sedangkan untuk international trend bekerja sama dengan Yahoo (untuk sementara lupakan jangkauan yang menjadi pokok image product dalam iklan-iklan kartu cellular lama).

Faktor tambahan ke-5 selanjutnya adalah identifikasi faktor sosial & Human resource:

8. Konektifitas & Technology effect; konektifitas akan mentransform cara hidup & faktor-faktor interaksi. Individu, public sectors, dan internal busines akan belajar untuk menggunakan IT yang terbaik didalam design proses dan dalam hal menciptakan organisasi belajar.
Efect transformasi secara individual selanjutnya adalah; kita tidak hanya bekerja secara dalam scope international namun juga kontinue secara online, Jutaan orang menggunakan telepon genggam, secara pribadi kita mengirim paling sedikit 7800 e-mail selama setahun, internet business dilakukan puluhan juta orang didunia & di dalam sebuah kantor kecil (15 orang sales) minimum terjadi 117.000 e-mail setahun. Kita melakukan ratusan chatting & Yahoo/Google search setiap hari, dimana setengah dari jumlah situs yang digunakan bukan berbahasa English. Pertama kali dalam sejarah di negara berkembang akan muncul booming pelaku ekonomi individual dari generasi 3 - 4 bahasa yang melihat batasan geography bukan suatu masalah terhadap organisasi social dan economic. Sebagai tambahan finance & accounting merupakan bahasa ke-4 dari tiap individu yang mudah dipelajari melalui online eductions tanpa harus melalui pendidikan formal.

Transaksi yang dilakukan melalui internet seperti membeli product di E-bay lalu menjualnya kepada individu dengan mata uang US Dollar lambat laun akan menekan alokasi rupiah dalam jumlah yang besar.

Faktor ke-6 yang tak kalah penting adalah environment, health & social responsibility:

9. EHS demand; GCG merupakan faktor yang menjadi bagian penting dalam laporan corporate di tingkat domestic & international terutama jika ingin menjual product di Eropa & USA, hal ini juga termasuk dalam hal menggalang dana terhadap project domestic (selain laporan keuangan, legal & proses internal audit) salah satu tuntutan yang mengemuka adalah faktor tanggung jawab terhadap lingkungan serta efect produksi terhadap pencemaran lingkungan. Pada bagian tertentu organisasi WTO memberikan kesempatan penjualan secara global yang tinggi namun memunculkan hambatan yang jauh lebih kompleks melalui konsep-konsep keamanan lingkungan serta attribute product yang distandarisasi oleh lembaga kesehatan & lingkungan.

Hal terakhir yang harus diperhatikan adalah General management performance:

10. Science Management oriented; the art of management akan bergeser ke science oriented, strategy menjadi lebih besar, kompleksitas tuntutan SBU terhadap adanya alat bantu untuk menjalankan business akan beragam. Technology terbaru & alat control statistic akan menjadi standarisasi SBU dalam pendekatan management, bahkan lebih jauh menjadi atribut perhitungan utama dalam berbagai hal termasuk business plan dalam menetapkan trend atau kecenderungan pasar. Hari ini para pimpinan business secara umum mengadopsi teknik keputusan berdasarkan perhitungan Algoritma & menggunakan software terbaru untuk menjalankan organisasinya. Scientific management bergerak dari skill yang menciptakan nilai tambah kompetitif ke kepastian yang dapat dilakukan oleh perusahaan untuk tetap maksimum didalam track business.

Dalam hal data mulai dari outsource hingga statistic dibutuhkan management pengetahuan & trend yang real time 24 jam, kepastian sumber pengetahuan tercepat (melalui yahoo atau google), kemampuan untuk mengembangkan presisi data mendekati 90%, system knowledge filter yang terbaik dengan ujung terakhir di artificial intelligence sehingga CEO ataupun pimpinan SBU tinggal mengetuk palu untuk memutuskan alternative skenario.

Sebagai penutup setiap perusahaan yang ingin tetap survive di tahun 2015 membutuhkan banyak alat bantu terutama didalam konteks management umum, product management, business analyst, strategy pasar (geographic analisis), menciptakan organisasi belajar, memaksimalkan keunggulan SDM & tanggungjawab. Tersedianya SBU yang menyediakan factor-faktor outsource masih merupakan hitungan awal dalam resiko analisis utama dari rencana investor.

Sekilas tentang penulis: Nugraha MAS, S.Ip bekerja sebagai assistant president director PT. Asuransi Bosowa Periskop – Kantor Pusat Jakarta & Corporate PDCA team - Strategic Initiatives author.

Tuesday, June 06, 2006

Satu Malam (cerpen)

SATU MALAM
cerpen oleh Mrs. Alonso-Diaz

Lama aku tercenung menatap keluar jendela pesawat yang membawaku terbang ke Denpasar dari Surabaya. Benarkah keputusanku untuk pergi menemuinya? Sudah agak terlambat sekarang untuk mundur. Pesawat sudah akan take off.
“This will just be a friendly meeting”, kata-kata itu yang berulang-ulang kuucapkan di telepon dengan Randy tadi pagi sewaktu aku memberitahukan kedatanganku ke Bali menemuinya. “If that’s all you want then I’d still be delighted to meet you”, jawab Randy pelan.
If that’s all you want…. Hah, tentu saja that’s ALL I want ! Memang apa lagi yang kuharapkan dari pertemuan kami nanti? kataku dalam hati, mencoba menenangkan jantungku yang tiba-tiba berdebar aneh. Debar-debar yang dulu pernah begitu akrab. Sampai hampir lupa rasanya. Dulu sekali. Saat pertama aku beradu pandang dengan Mas Yoga di acara opspek kampus. Saat pertama dia datang ke rumahku. Saat pertama dia menggenggam tanganku. Ciuman pertama kami. Saat kami menikah. Malam pertama kami… juga saat kedua anak kami kulahirkan….
Mendadak air mataku merebak. Kemana perginya debar-debar itu? Aku ingin sekali merasakannya lagi. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar bagiku untuk bertahan menjalani rutinitas membosankan yang bernama pernikahan.
Entah bagaimana awalnya, semakin lama kurasakan kami semakin jauh. Aku dengan pekerjaan dan karirku, Mas Yoga dengan pekerjaan dan karirnya.
Lalu aku bertemu Randy. Setahun yang lalu. Hmmm…..mungkin bukan benar-benar “bertemu” karena aku hanya mengenalnya secara online di internet. Kami banyak bertukar cerita, curhat mengenai segalanya. Dia membuat hidupku yang sebelumnya seperti padang pasir menjadi lebih berwarna.
“Why don’t you get a divorce?” tanya Randy suatu kali saat kuceritakan masalah perkawinanku. Bercerai? Tidak. Aku tidak sanggup. Aku masih sangat mencintai Mas Yoga. Juga anak-anakku. Dan jauh di lubuk hatiku masih ada setitik harap bahwa segalanya akan kembali seperti dulu. Walau entah kapan.
Lagipula tak pernah terpikir olehku untuk bisa bertemu muka dengan Randy, sampai sebulan yang lalu dia bertanya, “I’m coming to Bali next month for a business trip…. will you meet me there?”. Lalu godaan itu mulai menari-nari di kepalaku. Semakin mendekati hari kedatangannya, aku semakin panik. Dan melalui perdebatan batin yang lumayan panjang dan melelahkan, akhirnya, walau dengan berat hati, aku putuskan untuk tidak menemuinya. Aku takut tidak sanggup menahan diri.
Tapi boss-ku membuyarkan ketetapan hatiku ketika dia malah memintaku untuk melakukan perjalanan dinas ke Surabaya tepat sehari setelah kedatangan Randy.

Maka disinilah aku sekarang berada. Di pesawat menuju Denpasar. Dari Surabaya toh sudah dekat ke Bali. Lagipula apa salahnya bertemu dengan Randy? Kami hanya dinner. Friendly dinner and that’s it! Tapi mengapa debar jantungku tak kunjung reda?
“This hotel has a nice restaurant downstairs. I’m sure you’re going to like it there. I’ll make reservations for two now and pick you up around 7.30, is that ok? Oh, and you’re in room 312 right?” tanya Randy di telepon sore tadi waktu aku menelepon ke kamarnya dari kamarku memberitahukan kedatanganku.
Jam setengah delapan tepat Randy mengetuk pintu kamarku. Dia mengenakan jas semi formal warna hitam. Tampan, rapi dan sedikit lebih tinggi dari perkiraanku. Lebih tampan dari yang selama ini kubayangkan lewat foto-fotonya dan obrolan-obrolan kami. Rambut ikal coklat, alis tebal dan mata birunya mengingatkanku pada Hugh Grant. Agak gugup waktu aku berkata, “Ok, shall we go now?” hingga tak sengaja aku menjatuhkan kunci kamarku. Berbarengan kami membungkuk untuk mengambil kunci sehingga wajah kami nyaris bersentuhan. Aku menahan napas. Oh, tidak! Jangan mulai, Sara. Pikiranku mulai tidak fokus. Dengan gugup aku segera berdiri dan mencoba bersikap santai. “Thanks” jawabku singkat waktu Randy menyerahkan kunci kamarku. Tuhan, jangan biarkan dia mendengar nada gugup dalam suaraku tadi, jeritku dalam hati.
Dan sepanjang jalan menuju restoran, aku berusaha untuk menjaga jarak. Tak akan kubiarkan diriku hanyut dalam angan-angan romantis yang mulai memenuhi benakku saat pertama kami bertemu pandang waktu kubuka pintu kamar tadi. Randy tampaknya cukup mengerti. Dia bahkan tidak mencoba menggandeng tanganku atau bahkan merangkulku sewaktu kami memasuki restoran.

“Reservation for Mr. Blake please” ucap Randy dan pelayan mengantar kami ke meja agak di depan dekat lantai dansa dimana tampak beberapa pasangan sedang berdansa.
Segalanya berjalan santai dan aku sangat menikmati makan malam kami sampai saat Randy menatapku tajam dan bertanya, “Seriously Sara, why don’t you just leave your husband? You might be happier with someone else….someone like me…maybe…if you let me…”. Aku tercekat, nyaris tersedak. Lama aku terdiam. Berbagai pikiran berkecamuk di pikiranku. Tiba-tiba kurasakan jemarinya menyentuh ujung jariku dan aku seperti tersengat listrik ribuan volt. Sudah lama sekali rasanya aku tak pernah lagi merasakan sentuhan seperti ini. Tubuhku menggigil. Lalu dia menggenggam tanganku, “I’m sorry to ask you this…but I just need to know what you think”
Seandainya saja aku bisa membuat segalanya lebih mudah. Tapi aku tidak mungkin meninggalkan keluargaku. Tidak. Baru membayangkan harus berpisah dengan mereka saja sudah membuatku sesak napas. Bayangan Mas Yoga dan kedua anakku menari-nari di mataku dan kurasakan mataku mulai basah waktu aku katakan semuanya pada Randy. Semuanya.

“I understand Sara…shhh, now stop crying…”, ucap Randy sewaktu tangannya mengusap pelan pipiku untuk menghapus airmataku. Kekecewaan tampak di matanya tapi dia tetap tersenyum tulus. Sejenak kami hanya bertatapan tanpa berkata-kata. Lalu tatapannya beralih ke lantai dansa dan sebelum aku sempat mengarang alasan “It’s getting late so I better go back to my room…I have an early flight to catch this morning”, dia sudah berdiri disampingku dengan tangan terulur, “At least…. may I have this dance?”
“I…I don’t know…maybe I should just go back to my room…” jawabku ragu-ragu. Jauh…dalam lubuk hatiku, ingin rasanya kusambut jemarinya…ingin kurasakan berada dalam pelukan hangatnya….berdansa dalam alunan musik lembut….merasakan detak jantungnya dekat dengan jantungku….ahhh, baru membayangkannya telah membuatku sedikit terhanyut. Tidak. Aku tidak boleh, akal sehatku menjerit.
“Just one song…please…” Randy memaksa. Senyum dan tatapannya membuat akal sehatku tumpul.
Akhirnya kami berdansa. Seolah waktu berhenti berputar. Yang kurasa hanya desah nafasnya ditelingaku dan kunikmati setiap detik yang berlalu bersama debar jantungku.
Satu lagu, janjinya. Tapi hingga lagu ketiga hampir berakhir kami masih enggan beranjak.
“I want you…” bisik Randy pelan ditelingaku, begitu lembut hingga membuat lututku lemas, “…just for one night…”
“I…I can’t…I really can’t…” gemetar suaraku menjawabnya. Sebagian karena susah payah mengatakan apa yang bertentangan dengan dorongan hatiku dan sebagian juga karena ingin mendengar Randy mengatakannya sekali lagi.
Randy mengangkat daguku, “Look me in the eye…and tell me you don’t want me”. Randy menatapku lembut. “…just for tonight…and I’ll be out of your life for good…” bisiknya lagi. Masih dengan tatapan itu…mata birunya…bagaikan air…membuatku ingin tenggelam di dalamnya, “…please…”
Dan jangan tanyakan kemana perginya akal sehatku sewaktu akhirnya bisikan yang keluar dari mulutku adalah “…I want you…”.
Yang kuingat setelah itu hanyalah kilau matanya, lembut bibirnya saat menyentuh bibirku dan hangat genggaman tangannya sewaktu menarikku pergi, berdua kami kembali ke kamar 312.

Pagi. Masih di Bali.
Lunglai rasanya seluruh tubuhku. Serasa seluruh persendianku lepas dari engselnya setelah kepuasan semalam suntuk yang kureguk bersama Randy.
Randy.
Hey, dimana dia?
Kutoleh sisi tempat tidur sebelah kanan tempat terakhir kali kulihat dia terlelap.
Kosong.
“Just one night….” desahku pahit. Dia menepati janjinya.
Mestinya aku tidak perlu merasa kehilangan. Tapi kuakui ada sedikit rasa kehilangan. Sedikit. Selebihnya adalah penyesalan. Menyesalkah aku?
“Oh, Tuhan.…apa yang telah kulakukan?” Seakan baru kembali dari pengasingannya, akal sehatku mendadak muncul dan memporakporandakan segala yang semalam terasa begitu indah.
Dan kuhabiskan berjam-jam setelah itu untuk menangis.

Sampai di rumah. Kupencet bel, ting tong.
Mas Yoga yang membukakan pintu, “Hai…capek ya?”
Aku tertegun. Rasa bersalah itu muncul lagi. Kali ini jauh lebih hebat dari sebelumnya. Menatap wajah Mas Yoga yang penuh senyum menyambutku membuat hatiku semakin perih. Tuhan, ampuni aku.
“Sini, aku bawain kopermu. Berat kan?” masih penuh senyum Mas Yoga menarik koper dari genggamanku. Tangannya menyentuh pelan tanganku… dan zzzap! Hey…apa ini? Tubuhku seperti tersambar petir. Tiba-tiba memoriku kembali ke saat pertama Randy menyentuh tanganku di restauran itu. Rasanya begitu mendebarkan. Persis seperti saat ini.
Aku terpaku menatap Mas Yoga. Sepertinya sudah sangat lama sejak terakhir kali aku menatapnya. Sungguh-sungguh menatapnya hingga yang kulihat adalah sosok pria yang dulu pertama kali kukenal, kucintai dan kunikahi.
“Kamu kenapa sih?” Mas Yoga balas menatapku heran. Sempat kulihat semu merah di wajahnya dan senyum itu kembali tersungging. Baru kuingat betapa aku dulu merasa sangat damai melihat senyumnya. Senyum yang pernah membuatku tergila-gila.
Aku balas tersenyum. Sepenuh hati waktu kukatakan, “Mas… aku kangen sekali….”
Ada binar-binar indah di matanya. Perlahan Mas Yoga mendekat lalu meraihku ke dalam pelukannya. Hangat, nyaman dan penuh cinta.
Seperti dulu.
Detik itu juga aku tahu, bahwa segalanya akan menjadi lebih baik.

Sejak hari itu kehidupan rumah tanggaku kembali hangat. Bahkan anak ketiga kami lahir setahun kemudian.
Randy menepati janjinya untuk hilang dari kehidupanku selamanya.
Mungkin bisa saja jika aku masih ingin menghubunginya. Percayalah, beberapa kali godaan untuk mengirimkan e-mail untuknya sekedar menanyakan kabarnya, muncul. Tapi akhirnya kuputuskan untuk men-delete alamat e-mail serta chat ID-nya dari address book-ku dan dari kehidupanku selamanya.
Aku bahagia sekarang.
Tapi bagaimanapun aku harus berterima kasih padanya…karena pada satu malam dalam hidupku, dia telah mengembalikan perasaan yang sempat kukira tak akan pernah kurasakan lagi.

Friday, May 26, 2006

Dili

It was so annoying listening to my fellow Indonesian friends' comments on what is happening in Timor Leste. So, i end up writing this crap kind of paper.

***
The worst violence in the history of the nascent country of the Democratic Republic of Timor Leste erupted following the dismissal of an almost 600 members of defense force by the Timor Leste’s government in February 2006. The country is supposed to celebrate its four years of independence on May 20 in a much joyful environment. However, the people who have been only very recently enjoyed the fruit of their 24 years of struggle from the Indonesian military occupation in 1975 have to witness another potential episode of civil war, damaging the silent peace that they have only enjoyed since 2002. The government action to dismiss the deserters sparked by the rejection of an almost 600 soldiers to return to their barracks after protesting the government for what they called as discrimination based on the soldiers’ regional origin. These soldiers who come from the western part of the island accuse government of being favorable to those who come from the eastern part of this poorest country rather than to those from the west.

Series of demonstration by the sacked soldiers which began last month have been allegedly used by other political elements such as those who have been dissatisfied with Mr. Mari Alkatiri’s leadership either as the country’s Prime Minister or as the leader of Fretilin, the country’s ruling party. Many accused that Prime Minister Mari Alkatiri has been out of touch with ordinary Timorese.

Given all these political development, on April 28, the silent demonstration turned to be a violent mob when the government soldiers opened up fires against the mob, triggering a larger riot with the angry mobs attacking government buildings and burning cars. Government reports mentioned that the clash between the government defense force and the deserters finally ends up with at least 5 people dead while other 70 people are injured. However, other respected sources in Dili mentioned that the number of the death toll could reach far than that.

The situation following the last April riot has been continuously deteriorated. Fear that the situation will become worse, hundreds of people in the capital flee and escape to the districts or nearby villages, some were even having to refuge to mountains. As many as 14,000 people become internally displaced. The unrest has also caused further difficulty to the whole community as basic needs prices jump high, turn things to worst.

Given the escalation of the conflict, on May 24 the Timor Leste’s government through its Foreign Minister, Jose Ramos Horta called for foreign countries and international bodies intervention to send their troops to provide their assistance in restoring peace and order to the strife-torn country. Among the countries are Australia, New Zealand and Malaysia.

For Australia, who had played an important role during the referendum and helped prepare the country’s independence from the period of 1999 to 2002, the call is a somewhat that the Australian government has been waiting for. Avoiding the accusation of interfering this newest country’s domestic affairs, Prime Minister John Howard assures Australia will only step in while there has been already an official demand from Timor’s government either through the United Nations or directly to Australia. In a much similar vein, Alexander Downer guarantees that Australia’s presence in Timor will only to restore law and order without taking sides to either one of the warring parties. The first contingent of an estimated 1300 Australian troops began pouring into the capital, securing the Dili’s airport and the city.

Meanwhile, the United Nation through its Secretary-General Kofi Annan has recommended the establishment of a new UN Political presence following the expiry of UNOTIL’s mandate (United Nation Office in Timor Leste) on May 20. The new UN presence in Timor Leste will not only to assist the government to deal with the current situation but will include assistance for the next election, providing police training advisers, military liaison officers and civilian advisers in critical areas.

The Age Australia reported today that the Malaysian airborne troops have also been landed on the morning of May 26. While 40 New Zealand troops and support staffs are expected to leave Christchurch and joining the Australian and Malaysian troops very soon.

Where is Indonesia’s position in this? It is not really hard actually to understand why Timor Leste’s government did not ask its very close neighbor, Indonesia for an assistance in helping them restoring peace and order in the country. Unlike Australia, who does not want to see the newest country in the world fall into another fail state, Indonesia may have seen the situation in its former colony, if one would like to say that, differently. The legacy of losing one of its province, East Timor, still haunt many Indonesians not only the nationalists or the army but also for many other Indonesians. It may not be difficult nowadays to hear Indonesians saying “if only the East Timorese were not so hardheaded wanting to be an independence state, they may not be in such difficult situation like this”.

However as a democratic country, Indonesia must see Timor Leste as a new sovereign state equal to other country in the world. If the situation is getting worse in Timor Leste, it is not impossible to find the Timorese seeking asylum or refuge to Indonesia. And under the 1951 Geneva Refugee Convention, Indonesian government should provide protection to the refugees. Whatever it takes, the Indonesian government, the army and the people in general have to understand how pleased the East Timorese with their independence and therefore we should be willing to help as a big brother. Nowadays, the East Timorese are in their first stage of developing its own democracy, economy and politics. And as a good neighbor, Indonesia, be it the government or the people should give their wholehearted supports for the people and the government in Timor Leste to develop the country and help them get out from the current catastrophe.

Dina Afrianty

Friday, May 12, 2006

Mengatasi Krisis dengan Piala Dunia

Sepak bola bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Budaya, politik, ekonomi, globalisasi, agama, sekterian, dan bahkan teroris. Opininya pasti berbeda, tapi semuanya memperkaya sepak bola sebagai olahraga paling manusiawi. Disebut manusiawi karena di sepak bola hampir semua karakter manusia terlihat. Ada kerjasam, intrik, kekuasaan, rasis, nasionalis, kekerasan, kemenangan, adidaya, dan banyak lagi.
Jumlah pertandingan sepak bola yang dimainkan di seluruh dunia per minggu mengalahkan olahraga permainan mana pun di dunia. Franklin Foer, penulis buku An Unlikely Theory of Globalization: How Soccer Explains the World, menghabiskan waktu hampir setahun keliling dunia untuk meneliti pengaruh sepakbola terhadap tatanan dunia. Kesimpulan Foer: sepak bola adalah ikon globalisasi.
Tapi Foer hanya menyinggung sedikit sekali tentang hubungan sepak bola dengan ekonomi. Terutama kontribusi keuangan kepada negara, seperti pajak dan pendapat domestik. Peran besar ekonomi sepak bola dimulai sejak era 90-an. Ketika itu perang dingin usai dan dunia mulai lepas dari cengekeraman ketakutan. Dunia berubah, wajah sepak bola juga berubah. Entah kapan persisinya sepak bola sebagai alat politik dan penguasa, tapi berangsur-angsur berakhir setelah selama lebih 70 tahun.
Final Piala Funia 1998 antara Brasil dan Perancis ditonton langsung lewat TV sebanyak 2 miliar orang. Dan, angka kumulatif penonton Piala Dunia yang mencapai 36 miliar tentu jadi surga buat sponsorship. Di Piala Dunia 1982, nilai sponsor masih dibawah angka 2 miliar dollar, tapi 10 tahun kemudian sudah jadi 16 miliar dollar lebih.
Olahraga adalah investasi terbesar sebuah sponsorship dunia, termasuk sepak bola. Investasi sponsor olahraga mencapai 65 % pasar Amrik (tuan rumah Piala Dunia 1994), 63 % pasar Jerman (Piala Dunia 2006), dan 80 % pasar Afrika Selatan (Piala Dunia 2010).

Piala Dunia Ekonomi
AS bukan negara sepak bola. Satu-satunya negara non sepak bola yang jadi tuan rumah tahun 1994. Pertimbangannya jelas ekonomi. Amrik menyediakan 8 tempat dan stadion. Salah satunya Los Angeles yang hingar bingar. Kota metropolitan LA meraup untung 623 juta dollar dalam sebulan. LA jadi tuan rumah 8 pertandingan, termasuk semifinal dan final dimana yang bermain adalah Brasil. Bandingkan dengan keuntungan saat pertandingan Super Bowl tahun sebelumnya yang cuma meraih 182 juta dollar.
Keuntungan didapat dari belanja langsung dan enggak langsung. Belanja langsung, contohnya, mereka yang makan di restoran atau belanja pakaian di toko. Sedangkan belanja tidak langsung adalah restoran atau toko yang membayar pegawai dan membeli minuman dan pakain untuk dijual. Itu baru LA. Belum lagi. Pasadena, New York/New Jersey, dan kota-kota lainnya. Kesimpulannya, Amrik meraih keuntungan ekonomi yang luar biasa.
Piala Dunia 2002 diadain di dua negara dan di benua Asia. Bukan keputusan mudah buat FIFA mengadakan di Asia, apalagi di dua negara. Kawasan Amerika Latin dan tengfah “protes” karena setelah Perancis 1998 harusnya giliran mereka. Tapi kekuatan uang berbicara. Jepang dan Korea menyanggupi tuntutan FIFA untuk membangun fasilitas olahraga, enggak cuma stadion untuk Piala Dunia 2002. Biasanya tuan rumah cuma menyediakan delapan stadion, tapi Korea dan Jepang diharuskan membangun dan menyempurnakan masing-masing 10 stadion.
Investasi untuk Piala Dunia 2002 bernilai 4,7 miliar dollar. Faktor keamanan jadi pertimbangan tersendiri karena turnamen digelar beberapa bulan setelah peristiwa 9/11. Kalau saja yang jadi tuan rumah bukan Korea atau Jepang, mereka pasti menarik diri. FIFA cuma membantu sebesar 110 juta dollar, plus hasil penjualan tiket diserahkan ke tuan rumah. Sisanya harus dikeluarkan oleh Jepang dan Korea sendiri. Padahal Jepang waktu itu sedang resesi dan Korea baru aja lepas dari krisis ekonomi seperti kebanyakan negara Asia Tenggara.
Apa keuntungan yang didapat? Dengan Piala Dunia 2002, ekonomi Korea terangsang senilai 6,9 miliar dollar, dan terbukanya lapangan kerja sebanyak 350 ribu (International Herald Tribune). Jepang lebih besar lagi, rangsangan ekonomi sebesar 23,8 miliar dollar.
Hampir semua negara maju ikut di Piala Dunia 2002. Tujuh dari 8 negara kaya kelompok G7, kecuali Kanada, hadir di putaran final. Total GDP negara yang bermain di Piala Dunia mencapai 84 % dari GDP dunia. Berdasarkan penelitian di Inggris, sejak tahun 1966, negara yang berhasil juara Piala Dunia akan meningkatan indeks globalnya sebesar 9 persen di tahun itu.

Piala Dunia 2006
Gimana dengan Piala Dunia 2006?
Jerman kini menghadapi masalah ekonomi yang cukup mengkuatirkan untuk negara maju. Tingginya angka pengangguran dan rendahnya pertumbuhan ekonomi jadi penyebab utama. Piala Dunia diharapkan jadi titik balik. Jerman berharap para turis Piala Dunia mengeluarkan 12 miliar dollar dan membuka 50 ribu lapangan kerja baru. Piala Dunia diyakini akan mengakhiri masa stagnasi ekonomi Jerman selama 4 tahun.
Salah satu stadion yang dipakai adalah stadion di kota Hamburg. Stadion ini tadinya bernama Hamburg’s Volkspark, tapi kemudian pindah tangan ke AOL Arena. AOL (America On Line) adalah perusahaan penyedia layanan online dan internet provider milik Amrik yang berbasis di Virginia. AOL mengeluarkan dana 15 juta dollar untuk merenovasi AOL Arena. Lucunya, AOL berinvestasi untuk olahraga lebih banyak di luar negeri dibandingkan di dalam negerinya sendiri.
Piala Dunia diharapkan bisa memacu pertumbuhan ekonomi Jerman sampai 0,5 %. Efek Piala Dunia terhadap ekonomi Jerman tetap berlangsung sampai tahun 2007. Perhitungan pendapatan pajak tahun berjalan akan dihitung pada tahun berikutnya.
Dalam polling yang dilakukan sebuah situs di Jerman, cuma 10 % dari nara sumber yang yakin tim nasional Jerman bisa juara di Piala Dunia 2006. Mereka enggak yakin nationschaaft sehebat empat tahun lalu saat jadi finalis Piala Dunia 2002. Enggak terlalu masalah Jerman juara atau tidak. Jerman sudah “juara” ketika memenangkan pemilihan tuan rumah Piala Dunia 2006.
Lalu, kapan kita bisa jadi tuan rumah Piala Dunia? Apakah kita harus menunggu jadi tuan rumah dulu untuk kemudian jadi negara maju, atau jadi negara maju lebih dulu?
Sulit menjawabnya, tapi hitungan di atas kertasnya kira-kira begini. Tuan rumah tahun 2010 adalah Afrika Selatan. Tahun 2014 kemungkinan besar milik benua Amerika, khususnya Brasil. Tahun 2018 kemungkinan Eropa ngotot jadi tuan rumah. Jadi, Asia baru dapat jatah lagi tahun 2022 atau 2026 atau sekitar 20 tahun dari sekarang. Kalau kita bisa mengalahkan kekuatan ekonomi dan uang dari Cina, Malaysia, Singapura, dan Thailand, kita bisa jadi tuan rumah.
Mungkinkah?

Karto K. Saragih
Dear Wife, Partner, Girlfriend,
“From 9 June to 9 July 2006, you should read the sports section of
the newspaper so that you are aware of what is going on regarding the
World Cup, and that way you will be able to join in the conversations.
If you fail to do this, then you will be looked at in a bad way, or you
will be totally ignored. DO NOT complain about not receiving any
attention”

Wednesday, May 03, 2006

Pram, Nobel, dan Lemahnya "PR" Kita

Diambil dari Kompas, Rabu, 03 Mei 2006
------------

Pram, Nobel, dan Lemahnya "PR" Kita

Nina Mussolini-Hansson

Kepergian sastrawan Pramoedya Ananta Toer jelas sebuah kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. Sebagai WNI yang menetap di Swedia, hati saya berbuih, terguncang bangga dan berharap setiap kali nama Pramoedya disebut-sebut sebagai calon penerima Nobel Sastra.

Siapa yang tak bangga bila Indonesia, yang oleh sebagian besar warga Swedia dan dunia masih dianggap sebagai negara antah berantah, negara terbelakang dan miskin, sarang teroris, dan sarang korupsi, ternyata mampu menghasilkan seorang sastrawan kelas dunia calon penerima Nobel Sastra. Sayang, sampai sastrawan besar itu meninggal dunia, ia tetap dalam posisi calon penerima Nobel.

Bukan hanya Pram, bahkan seorang penulis Swedia terkenal, Astrid Lindgren, juga tak pernah menerima hadiah Nobel di tanah airnya sendiri. Padahal, sudah banyak buku dan film anak-anak karya Astrid yang diterjemahkan ke berbagai bahasa, di antaranya Pippi si Kaus Kaki Panjang yang diterbikan oleh PT Gramedia.

Lemahnya penghargaan kita

Lain Pramoedya, lain Astrid. Membandingkan karya keduanya juga tak pas karena Pram menghasilkan karya sastra berlatar belakang politik, sedangkan Astrid menghasilkan buku anak-anak. Hanya dalam hal penghargaan, jelas rakyat dan Pemerintah Swedia sangat bangga dengan karya- karya Astrid yang mendunia. Sejak ia masih hidup, rakyat Swedia berpendapat bahwa Astrid layak menerima hadiah Nobel karena karyanya berhasil membius, menghibur, dan mendidik anak- anak di dunia. Tapi, rupanya dewan juri hadiah Nobel punya kriteria lain dan rakyat Swedia pun kecewa.

Bagaimana dengan Pram? Dukungan rakyat dan Pemerintah Indonesia terhadapnya amat minim. Kenangan tentang Pram bagi sebagian besar generasi muda bisa jadi hanya sebatas identitasnya sebagai bekas anggota sebuah organisasi seniman yang berafiliasi ke partai komunis (Lekra). Ini juga menandakan kegagalan pelajaran sastra dan sejarah di sekolah-sekolah yang telah terkooptasi oleh fantasi dan ketakutan-ketakutan akan bangkitnya komunisme sejak zaman Orba.

Rezim boleh berganti, tapi tidak berarti pemerintah yang baru langsung mendukung Pram. Sebagai generasi muda yang mendambakan perubahan dalam bernegara, jelas saya amat kecewa dengan hal ini. Betul, kini karya- karya Pram bisa dinikmati dengan bebas di Indonesia, tapi apa artinya kalau tak ada sikap dan dukungan resmi dari pemerintah terhadap karya-karyanya.

Kadang saya melihat adanya ambivalensi pemimpin-pemimpin kita. Ketika meresmikan pameran hasil kerajinan rakyat, misalnya, sering kali mereka dengan fasih berpidato bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai karya bangsanya. Sayang, hal itu hanya retorika politik dan terbatas pada kegiatan ekonomi yang mendukung pemasukan negara.

Sebuah negara dan rakyatnya tak cuma butuh kehidupan ekonomi, tapi juga kehidupan bersastra, karena sastra mampu menghaluskan perasaan dari kecenderungan menjadi buas yang ada dalam diri manusia (homo homini lupus). Sastra mampu menghidupkan empati karena dengan karya sastra kita bisa berefleksi. Untuk itulah kita perlu sastrawan-sastrawan yang mampu memberi oase dan nasionalisme kepada rakyat, di tengah gelombang materialisme dan globalisasi.

Tahun 2003, nama Pram sebagai calon penerima Nobel sangat kencang berembus di Swedia. Pada tahun itu, Pram mengunjungi pameran buku di kota Gotenburg atas undangan pihak Swedia. Sebagai mantan wartawan, saya menyayangkan dan hanya dapat berandai-andai. Seharusnya Pemerintah Indonesia via KBRI di Swedia mampu menggunakan kesempatan itu untuk mengorbitkan nama Pram lebih tinggi lagi. Itu kalau Pram dianggap sebagai aset bangsa. Misalnya, dengan mengundang beliau ke KBRI, membuat jumpa pers tentang kedatangannya, atau menjadi tuan rumah yang menjembatani pertemuan Pram dengan kalangan pers Swedia. Pers bagaimanapun punya kekuatan sebagai alat promosi dan mudah- mudahan bisa memengaruhi dewan juri hadiah Nobel.

Sebuah ironi jika tamu-tamu dari DPR, misalnya, dilayani bak raja hanya dengan menggunakan kedok studi banding. Di sisi lain, seorang sastrawan besar macam Pram diacuhkan begitu saja. Rekonsiliasi bangsa tidak akan berjalan jika barrier dan keterikatan dengan masa lalu itu tak juga dibenahi.

Diplomasi buku

Bukan rahasia bahwa kelemahan bangsa Indonesia ada di bidang pemasaran (marketing) dan PR (public relation). Padahal, apa sih, yang tidak kita punya?

Bagi saya, tidak ada yang tidak mungkin, semua terletak pada niat baik dan kekompakan kita sebagai bangsa. Sebagai bangsa kita memang kurang kreatif menggunakan sumber-sumber potensial yang ada. Salah satu sumber itu adalah Pramoedya Ananta Toer.

Bayangkanlah, kalau saja Pram mendapat hadiah Nobel sastra, berapa besar liputan dan efek PR yang dihasilkan untuk Indonesia? Nama Pram dan Indonesia bukan saja diulas dalam media internasional, tapi juga akan selalu disebut di sekolah-sekolah di seluruh dunia, terutama dalam pelajaran sastra dan bahasa. Efeknya pasti dahsyat dan abadi.

Efek inilah yang menurut pengamatan saya sama sekali tidak disadari oleh kita, bangsa Indonesia. Kita terlalu asyik bertengkar satu sama lain untuk memperebutkan kursi dan rezeki sehingga lupa menggali potensi diri. Andai saja kita pintar, sesungguhnya buku dan karya sastra bisa dijadikan alat PR dan diplomasi.

Sayang sekali, seorang Pram lebih dihargai di negara lain daripada di Tanah Airnya sendiri. Tetangga terdekat kita saja, Filipina, sudah lebih dulu menghargainya dengan penghargaan Magsaysay (2003). Seharusnya kita malu. Mari bertanya, ada apa dengan kita? Apa yang sakit dari bangsa ini? Kalau kita bisa berekonsiliasi dengan koruptor dan mengundangnya ke istana, kenapa seorang Pram tidak pernah diberikan kesempatan untuk itu sekalipun?

Padahal jelas, Pram tidak pernah "menjual" bangsa dan sumber alam Indonesia untuk kantong pribadi dan kroninya serta menenggelamkan Indonesia ke dalam utang luar negeri yang harus dibayar oleh anak cucu kita kelak. Siapa yang lebih jahat sesungguhnya?

Selamat jalan Pram, semoga kau temukan keadilan lain di sana.

Nina Mussolini-Hansson Ibu Rumah Tangga dan Mantan Wartawan, Tinggal di Swedia

Monday, May 01, 2006

Adakah Politik Luar Negeri Indonesia?

Tulisan ini dimuat di Kompas 19 September 2005. Dikirim untuk blog ini oleh Ari Margiono (HI 95), pernah menjadi ketua himpunan.
----------------


Adakah Politik Luar Negeri Indonesia?
Oleh: Ari Margiono

Refleksi atas arah politik dan kebijakan luar negeri Indonesia yang dilakukan saat Indonesia menghirup udara kemerdekaan yang ke-60 menyadarkan banyak pihak bahwa politik dan kebijakan luar negeri Indonesia sering kali dipandang dan dilakukan secara tidak konsisten (Kompas, 11 Agustus 2005). Muncul banyak usulan untuk mulai berpihak (Kompas, 29/8). Ada pertanyaan yang muncul: apakah permasalahan sesungguhnya ada di tingkat implementasi atau di tingkat konseptual? Tulisan ini mempertanyakan apakah Indonesia sesungguhnya memiliki politik luar negeri.

Terminologi

Tampaknya ada yang perlu diluruskan atas pemahaman yang lazim terhadap makna terminologi politik luar negeri dan kebijakan luar negeri. Walaupun terminologi politik luar negeri sering ditukar penggunaannya dengan kebijakan luar negeri, sesungguhnya secara analitik ada perbedaan di antara keduanya. Perbedaan ini menjadi kunci pemahaman duduk permasalahan pertanyaan di atas.

Di dalam literatur hubungan internasional, perbedaan istilah ini memang tidak dikenal (Walter Carlness, 1999). Yang dikenal adalah terminologi foreign policy (kebijakan luar negeri), bukan foreign politics (politik luar negeri). Namun, konvensi penggunaan istilah-istilah ini di Indonesia dapat dipahami sebagai berikut.

Politik luar negeri cenderung dimaknai sebagai sebuah identitas yang menjadi karakteristik pembeda negara Indonesia dengan negara-negara lain di dunia. Politik luar negeri adalah sebuah posisi pembeda. Politik luar negeri adalah paradigma besar yang dianut sebuah negara tentang cara pandang negara tersebut terhadap dunia. Politik luar negeri adalah wawasan internasional. Oleh karena itu, politik luar negeri cenderung bersifat tetap.
Sementara kebijakan luar negeri adalah strategi implementasi yang diterapkan dengan variasi yang bergantung pada pendekatan, gaya, dan keinginan pemerintahan terpilih. Dalam wilayah ini pilihan-pilihan diambil dengan mempertimbangkan berbagai keterbatasan (finansial dan sumber daya) yang dimiliki. Kebijakan luar negeri, dengan demikian, akan bergantung pada politik luar negeri.

Namun, temuan para pengusung studi identitas di dalam studi hubungan internasional (Josef Lapid, 1989, Alexander Wendt, 1999), yang berpandangan bahwa identitas sebuah bangsa tak dibangun di ruang hampa (vacuum), tetapi pada dasarnya merupakan hasil interaksi negara yang bersangkutan dengan lingkungan internal dan eksternalnya, mengingatkan kepada kita bahwa politik luar negeri sesungguhnya bukan sesuatu yang sakral dan abadi sepanjang zaman. Jadi, meskipun ia bersifat relatif tetap, layaknya lilin, ia dapat berubah-ubah bentuk.

Krisis politik luar negeri

Satu permasalahan yang cukup pelik dihadapi Indonesia kini adalah krisis politik luar negeri. Harus diakui dengan jujur, saat ini kita hanya memiliki kumpulan kebijakan luar negeri tanpa ada satu politik luar negeri sebagai benang merah yang berarti.
Masalahnya, politik luar negeri Indonesia bebas aktif dibangun pada konteks internasional dan domestik yang kental dengan pertentangan ideologis antara liberalisme dan komunisme. Politik bebas aktif pada konteks itu dapat dimaknai sebagai sebuah retorika penolakan atas keberpihakan dan sekaligus sebagai posisi pembeda yang jelas di dunia internasional yang memiliki karakteristik bipolar pada saat itu.

Namun, ketika kini dunia internasional mengalami perubahan secara drastis, relevansi kontekstual dari politik luar negeri bebas aktif dipertanyakan. Berbagai keluhan atas tidak jelasnya arah dan konsistensi kebijakan luar negeri Indonesia sesungguhnya dilandasi oleh belum adanya politik luar negeri yang tepat dalam situasi internasional yang sudah berubah secara ekstrem ini. Kebijakan luar negeri yang dihasilkan pun menjadi tumpang tindih jika tidak bersifat sektoral.
Suka atau tidak, yang kita miliki saat ini semata-mata hanya sebuah retorika: bebas memilih apa pun dan aktif berpartisipasi dalam perdamaian dunia. Berbagai justifikasi dapat dibangun di seputar kalimat ini, tetapi retorika ini sulit untuk dapat memiliki status sebagai posisi pembeda di dunia yang kini sama sekali berbeda. Setiap negara dapat bebas memilih apa yang diinginkannya sepanjang yang bersangkutan memiliki kekuatan militer relatif yang memadai (Waltz, 1979).

Politik raison detate

Konteks historis diusungnya politik luar negeri bebas aktif sesungguhnya menunjukkan bahwa bebas aktif adalah sebuah positioning yang negatif. Artinya, posisi tersebut muncul sebagai sebuah reaksi, bukan aksi. Sebagai sebuah reaksi, politik luar negeri bebas aktif akan bergantung pada konteks internasional yang tertentu pula. Berubahnya konteks internasional tentunya dapat mengubah relevansi reaksi tersebut.

Sebuah negara yang modern seharusnya memiliki ambisi dan memiliki posisi yang jauh lebih positif daripada sekadar sikap yang reaksioner seperti yang dijelaskan di atas. Negara modern seharusnya tidak pasif dibentuk oleh konteks internasional, tetapi ikut secara aktif membentuk konteks tersebut.

Politik luar negeri Indonesia, oleh karena itu, seharusnya menjadi bagian dari politik nasional. Ia harus menjadi bagian dari raison d’etat. Politik luar negeri Indonesia seharusnya merupakan cermin dari cita-cita bangsa yang tercantum di dalam pembukaan Undang-Undang Dasar yang memprioritaskan kemajuan kesejahteraan umum, pencerdasan kehidupan bangsa, dan partisipasi aktif dalam menciptakan perdamaian dunia.

Dengan demikian, tampaknya perlu ada redefinisi yang jauh lebih mendalam tentang politik luar negeri Indonesia. Ia tidak bisa hanya sebatas bebas dan aktif. Politik luar negeri Indonesia harus lebih akurat dan tajam. Ia harus tanggap terhadap perubahan makrostruktur sistem internasional.

Ari Margiono Pengajar Luar Biasa Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Padjadjaran

Pramoedya Ananta Toer

Pramoedya Ananta Toer, yang akrab dipanggil Pram, berpulang kemarin. Di tahun 1960-an, sebagai tokoh utama Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang sangat dekat dengan PKI, dia sangat ‘galak’. Pram keras berpendirian bahwa seni bukanlah hanya untuk seni. Bagi Pram yang revolusioner, seni harus mencerminkan realitas sosial dan harus bisa digunakan sebagai mesin penggerak perubahan sosial. Karena itu, banyak orang menyebut bahwa karya-karya Pram berciri realisme sosial.

Pram berseteru hebat dengan pegiat kebudayaan yang kerap disebut sebagai kelompok Manikebu, Manifes Kebudayaan. Pegiat Manikebu menolak determinasi seniman-seniman kiri, yang relatif berkuasa saat itu, untuk menjadikan seni dan kebudayaan sebagai alat revolusi. Di seberang Pram, berdirilah para budayawan aktifis Manikebu yang dimotori antara lain oleh Wiratmo Soekito. Di dalam kelompok Manikebu, ada juga Goenawan Mohammad (GM) yang kala itu masih muda usia.

Kisah perseteruan Manikebu dan Lekra saya temukan tidak sengaja di suatu hari di tahun 1993, saat masih kuliah di Bandung. Sebagaimana banyak mahasiswa lain di masa itu, saya sering pergi ke pasar loak Cikapundung, dekat alun-alun kota Bandung. Cikapundung terkenal sebagai tempat jual beli majalah-majalah bekas edisi lama.

Di sana bisa kita temukan juga edisi-edisi lama majalah Prisma yang merupakan arena pergulatan pemikiran para intelektual dan tokoh pemikir besar kita. Di majalah Prisma yang terbit rutin di tahun 1970-an dan 1980-an kita bisa baca tulisan-tulisan dari Abdurrahman Wahid, Amien Rais, Mochtar Pabottingi, Dawam Rahardjo, Nurcholis Madjid dan banyak tokoh lain saat mereka berusia sekitar akhir 20-an atau pertengahan 30-an.

Tulisan panjang mengenai polemik Manikebu itu saya temukan di dalam rubrik Selingan majalah Tempo edisi lama, yang saya beli di Cikapundung. Bagi seorang mahasiswa seperti saya, yang lahir dan dibesarkan di masa Orde Baru, membaca polemik Manikebu sangat memberi inspirasi dan membuka mata betapa keringnya rezim Orde Baru yang mengharamkan pertarungan ide-ide. Sebaliknya, dari tulisan itu kita juga bisa belajar betapa menakutkannya jika kekuatan politik dominan memaksakan ide-nya, seperti Lekra menghantam Manikebu. Tapi, itulah sejarah, yang harus ditulis dengan jujur.

Lepas dari pilihan politiknya di tahun 1960-an dulu, Pram tetaplah sastrawan besar. Saya menyukai karya-karya Pram, seperti saya juga menyukai tulisan-tulisan GM di rubrik Catatan Pinggir majalah Tempo. Cara Pram bertutur dalam Tetralogi Pulau Buru amat indah dan menggugah semangat untuk melawan ragam penindasan. Mungkin semangat perlawanan itu yang menjadi alasan Kejaksaan Agung di masa Orde Baru melarang peredaran empat buku novel tetralogi: Bumi Manusia, Anak Segala Bangsa, Rumah Kaca, dan Jejak Langkah, yang dikenal sebagai Tetralogi Buru.

Melalui tetralogi, Pram berkisah mengenai semangat perlawanan kaum muda melawan kolonialisme di bumi Nusantara, lewat tokoh Minke, seorang pemuda Jawa berpandangan maju di zamannya, dan juga melalui tokoh Mas Marco dan Tjokro. Diceritakan juga Kartini dan Dewi Sartika.

Tokoh-tokoh dalam tetralogi seperti fiksi, tapi juga seperti sejarah kita yang nyata. Karena itu Pram sering juga disebut sebagai penulis novel sejarah. Pergulatan kisah dalam tetralogi serupa dengan kisah perjuangan para tokoh nasionalis awal kita, di tahun 1920-an dan 1930-an. Tokoh Minke, menurut banyak orang adalah representasi seorang tokoh pers nasional Tirto Adi Suryo. Sementara Mas Marco dan Tjokro, dalam novel Pram itu, tampak merujuk pada Marco dan Tjokroaminoto dan organisasi Sarekat Islam, yang merupakan dua tokoh dan organisasi penting dalam sejarah pembentukan nasionalisme Indonesia yang menghancurkan kolonialisme Belanda.

Suatu hari di tahun 1994, saya mewawancarai Pram di rumahnya, di daerah Utan Kayu Jakarta. Biasalah, wawancara untuk majalah Polar yang kita terbitkan di kampus dulu itu…he..he. Ketika sampai di rumahnya, Pram sedang tidur siang. Istri Pram yang ramah menawarkan untuk menunggu. “Satu jam lagi paling sudah bangun”, katanya. Benar, tidak sampai satu jam Pram sudah bangun dan menemui kami, mengenakan celana training serta kaus kaki dan sandal. Waktu itu mungkin umur Pram sudah sekitar 70 tahun. Selama perbincangan, asap tak henti mengepul dari rokok Pram.

Pram adalah orang yang sangat energik, jelas tampak dari cara bicara dan pandangan matanya yang tajam. Dia bilang waktu itu, “sejarah dunia adalah sejarah orang muda. Jika angkatan muda mati rasa, matilah sejarah sebuah bangsa.” Kalimat itu yang saya ingat dari wawancara dengan Pram hingga sekarang.

Ketika ditanya mengenai pelarangan buku-buku karyanya oleh Kejaksaan Agung, Pram bilang: “Karangan saya adalah seperti anak saya. Mereka bebas menemukan jalannya sendiri, apakah akan dilarang atau diterima orang banyak”. Lagipula, kata Pram, “pelarangan tidak berarti apa-apa, karena ide tidak bisa di kerangkeng dan ide punya kaki. Dia akan bergerak sendiri, kalau tidak sekarang, ya pasti suatu hari nanti.”

Betul juga. Tubuh Pram yang terpenjara sebagai tahanan politik selama beberapa tahun di Pulau Buru, tidak menghalangi pikirannya yang terus bergolak. Bahkan di pulau Buru lah empat buku novel yang dahsyat itu tercipta. Proses penciptaan novel tetralogi pulau Buru itupun sangat luar biasa. Pram khawatir tidak mungkin bisa keluar dari Buru hidup-hidup dan menyelesaikan empat novelnya itu. Pram lalu memutuskan untuk mulai mengarang empat novel itu di dalam kepalanya, lalu menceritakannya secara lisan kepada rekan-rekannya sesama tahanan politik di pulau Buru. Pram dibebaskan dari Buru pada tahun 1979, lalu mengalami masa tahanan rumah hingga tahun 1992.

Jujur saja, saat mewawancarai Pram itu saya belum pernah membaca tetralogi pulau Buru. Modal wawancara cuma tulisan mengenai Manikebu itu. Setelah wawancara, saya bertekad akan mencari keempat novel itu dan membacanya. Akan tetapi, larangan Kejaksaan Agung dan teror Orde Baru rupanya sangat efektif. Jarang sekali orang menyimpan novel itu. Saya cari di Palasari, pasar buku di Bandung, tidak ada. Mungkin ada satu dua yang menyimpan, tapi tidak berani sembarangan menjual.

Jauh sebelum wawancara Pram itu, suatu hari di Palasari seorang penjual buku berbisik pada saya yang masih duduk di semester-semester awal kuliah: “Dik, mau nggak nih ada buku yang barusan dilarang Kejaksaan”. Saat saya bilang mau, ternyata dia menunjukan buku terjemahan karya Kunio Yoshihara, mengenai erzast capitalism. Buku itu diterbitkan Yayasan Obor, diterjemahkan menjadi “Kapitalisme Semu Asia Tenggara”. Kunio Yoshihara membahas kroni-kroni bisnis Suharto, dan juga kroni-kroni bisnis para penguasa otoriter lain di Asia Tenggara sepanjang 1970-an dan 1980-an. Ketika saya datang lagi ke toko yang sama untuk mencari buku-buku Pram, si penjual buku hanya menjawab dengan gelengan kepala.

Buku-buku karya Pram baru terbaca oleh saya di awal tahun 2001. Yang pertama tentunya adalah empat novel tetralogi itu. Berikutnya adalah novel berjudul Arok Dedes, baru Perburuan dan yang lainnya. Sepulang studi dari Australia di akhir tahun 2000, saya menjadi pengangguran beberapa bulan lamanya, sebelum lamaran kerja menjadi peneliti diterima. Jadi, ada banyak sekali waktu luang..he..he..he. Selama menganggur, teringat niat lama membaca buku-buku Pram yang saat itu telah dijual bebas.

Zaman berubah, buku-buku karya Pram mudah didapat. Tidak perlu lagi membeli dan membacanya sembunyi-sembunyi. Saya sering mendorong mahasiswa saya di Jakarta untuk menyempatkan membaca tetralogi itu, untuk melengkapi bacaan novel-novel pop yang banyak digandrungi sekarang. Agar kita tidak menjadi angkatan muda yang mati rasa justru di era ketika penguasa hampir tidak mungkin lagi memasung dan memenjara pikiran anak bangsanya sendiri.

Dekalb, 30 April 2006
philips vermonte

Friday, April 28, 2006

Apalah Arti Sebuah Nama?

Apalah arti sebuah nama? Dokdo atau Takhesima
Nama ternyata sangat berarti untuk kampanye menjadi klaim sebuah wilayah, klaim sejarah dan kaitan geografis. Dokdo kalau orang Korea menyebutnya, yang bahasa koreanya berarti pulau sendirian atau pulau batu, Takhesima kalau orang Jepang menyebutnya yang berarti pulau bambu. Kepulauan ini terdiri dari bukit batu kecil di tengah laut yang berjumlah 33 buah. Lokasinya berada di laut antara dua negara ini, diperkirakan kaya akan kandungan hidrokarbon. Sebelah barat daya kepulauan ini telah dieksplorasi gas alam, demikian pula di utara kepulauan ini. .
Jepang nampaknya protes terhadap Korea karena Korea mengajukan proposal ke konferensi the International Hydrographic Organization (IHO) bulan Juni untuk mengubah nama dasar laut di sekitar pulau tersebut menjadi nama"Ulleung" (nama Korea) menggantikan nama "Tsushima" (nama Jepang). Jepang sendiri sudah duluan mendaftarkan ke IHO tahun 1984 dengan nama "Tsushima." Kementrian Kelautan Korea juga akan mengajukan perubahan nama pada 18 titik di Laut Timur Korea.

Demikian pula terjadi perbedaan klaim nama laut dimana pulau Dokdo berada, Korea menyebutnya "Donghae," (artinya Laut Timur), sedangkan Jepang menyebutnya "Laut Jepang".
Korea pernah dijajah Jepang tahun 1910-1945, dan beberapa waktu ini hubungan diplomatik sempat tegang dari sisi pandangan Korea mereka merasa tidak adil atas kunjungan PM Jepang ke kuil Yasukuni dan pembuatan buku sejarah Jepang yang dirasa menyimpang tentang interpretasi sejarah Korea ditambah lagi masalah Dokdo ini. Tahun 2004, Jepang menapaki menguatnya nasionalisme,Shimane Perfecture, menyatakan bahwa`tanggal 22 Februari sebagai "Hari Takeshima".
Ketegangan Korea-Jepang pada minggu ini hampir setiap hari saya lihat di TV masalah Dokdo, ketegangan ini menurut saya sudah pada level yang berbahaya gara-gara Jepang melakukan survey maritim di dekat pulau ini. Korea mengatakan pulau Dokdo ini adalah bagian dari perairan ZEE (Zona Economic Exclusive) nya.

Posisi saat ini di pulau batu kecil tersebut sudah ada beberapa bangunan, bendera dan dijaga oleh polisi Korea. Korea tetap "keukeuh" dalam pendiriannya atas pulau ini dan menyatakan tidak ada negosiasi atas kedaulatan wilayahnya. Korea bilang kalau seandainya Jepang masuk ke pulau ini maka mereka tak segan untuk menangkapnya.
Posisi kita sebaiknya netral, kedua negara tersebut memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan kita, semoga perselisihan negara di Asia Timur ini dapat diatasi dengan damai. Hal yang bisa kita ambil pelajaran adalah mari kita namai kepulauan kita yang tidak bernama meski hanyalah pulau batu sekalipun dan kita daftarkan ke forum internasional seperti IHO.

yo2n