Friday, April 28, 2006

Apalah Arti Sebuah Nama?

Apalah arti sebuah nama? Dokdo atau Takhesima
Nama ternyata sangat berarti untuk kampanye menjadi klaim sebuah wilayah, klaim sejarah dan kaitan geografis. Dokdo kalau orang Korea menyebutnya, yang bahasa koreanya berarti pulau sendirian atau pulau batu, Takhesima kalau orang Jepang menyebutnya yang berarti pulau bambu. Kepulauan ini terdiri dari bukit batu kecil di tengah laut yang berjumlah 33 buah. Lokasinya berada di laut antara dua negara ini, diperkirakan kaya akan kandungan hidrokarbon. Sebelah barat daya kepulauan ini telah dieksplorasi gas alam, demikian pula di utara kepulauan ini. .
Jepang nampaknya protes terhadap Korea karena Korea mengajukan proposal ke konferensi the International Hydrographic Organization (IHO) bulan Juni untuk mengubah nama dasar laut di sekitar pulau tersebut menjadi nama"Ulleung" (nama Korea) menggantikan nama "Tsushima" (nama Jepang). Jepang sendiri sudah duluan mendaftarkan ke IHO tahun 1984 dengan nama "Tsushima." Kementrian Kelautan Korea juga akan mengajukan perubahan nama pada 18 titik di Laut Timur Korea.

Demikian pula terjadi perbedaan klaim nama laut dimana pulau Dokdo berada, Korea menyebutnya "Donghae," (artinya Laut Timur), sedangkan Jepang menyebutnya "Laut Jepang".
Korea pernah dijajah Jepang tahun 1910-1945, dan beberapa waktu ini hubungan diplomatik sempat tegang dari sisi pandangan Korea mereka merasa tidak adil atas kunjungan PM Jepang ke kuil Yasukuni dan pembuatan buku sejarah Jepang yang dirasa menyimpang tentang interpretasi sejarah Korea ditambah lagi masalah Dokdo ini. Tahun 2004, Jepang menapaki menguatnya nasionalisme,Shimane Perfecture, menyatakan bahwa`tanggal 22 Februari sebagai "Hari Takeshima".
Ketegangan Korea-Jepang pada minggu ini hampir setiap hari saya lihat di TV masalah Dokdo, ketegangan ini menurut saya sudah pada level yang berbahaya gara-gara Jepang melakukan survey maritim di dekat pulau ini. Korea mengatakan pulau Dokdo ini adalah bagian dari perairan ZEE (Zona Economic Exclusive) nya.

Posisi saat ini di pulau batu kecil tersebut sudah ada beberapa bangunan, bendera dan dijaga oleh polisi Korea. Korea tetap "keukeuh" dalam pendiriannya atas pulau ini dan menyatakan tidak ada negosiasi atas kedaulatan wilayahnya. Korea bilang kalau seandainya Jepang masuk ke pulau ini maka mereka tak segan untuk menangkapnya.
Posisi kita sebaiknya netral, kedua negara tersebut memiliki hubungan diplomatik yang baik dengan kita, semoga perselisihan negara di Asia Timur ini dapat diatasi dengan damai. Hal yang bisa kita ambil pelajaran adalah mari kita namai kepulauan kita yang tidak bernama meski hanyalah pulau batu sekalipun dan kita daftarkan ke forum internasional seperti IHO.

yo2n

Wednesday, April 26, 2006

Berburu Beasiswa (bagian 2)

Mempersiapkan formulir aplikasi

Sama seperti melamar pekerjaan, lamaran beasiswa harus dipersiapkan dengan baik. Hal pertama dan terpenting adalah menandai batas akhir memasukan formulir aplikasi. Mengetahui batas akhir penting, karena ada banyak hal yang perlu dilakukan. Misalnya, harus ke kampus untuk melegalisir ijazah dan transkrip, mengurus translasi ijazah dan transkrip ke penterjemah resmi, atau untuk memberi waktu kepada orang yang kita minta memberi surat rekomendasi dan lain-lain.

Hal kedua adalah kita harus membaca baik-baik formulir aplikasi dan semua informasi dan instruksi yang termuat didalamnya. Terutama, dokumen apa yang harus dan yang tidak harus dilampirkan. Misalnya, AMINEF/Fulbright biasanya tidak meminta pelamar melampirkan ijazah atau transkrip. Jika menerima panggilan interview, barulah AMINEF meminta sang pelamar segera mengirim dokumen tersebut. Sementara, ADS meminta dokumen-dokumen itu dilampirkan bersama formulir aplikasi. Ada baiknya membuat check list dokumen atau material apa yang harus dilampirkan saat formulir akan dimasukan ke dalam amplop dan siap dikirim.

Jangan enggan memeriksa ulang formulir aplikasi, agar tidak ada item yang belum diisi atau dilengkapi. Paperwork semacam ini memang menyebalkan, namun sangat menentukan. Sebabnya sederhana, seleksi administrasi adalah seleksi paling awal. Yang melakukan seleksi administratif adalah staf di kantor pemberi beasiswa. Mereka menjalankan satu prinsip: buang segera ke tong sampah formulir yang tidak lengkap. Wajar saja, mereka harus menyeleksi ribuan pelamar dan tidak mau membuang waktu mengurus pelamar yang tidak serius. Sebagus apapun academic record ataupun resume kita, staf seleksi administrasi tidak terlalu perduli. Tidak lengkap, buang ke tong sampah. Karena bukan tugas mereka untuk menilai kualitas pelamar pada tahap seleksi administrasi.
Hal ketiga: beberapa program beasiswa, misalnya Fulbright, mengharuskan pelamar menulis satu halaman apa yang disebut dengan Statement of Purpose. Kemas sebaik mungkin SOP ini, karena di dalamnya harus berisi informasi mengenai: mengapa kita ingin mengambil bidang studi yang kita lamar tersebut, mengapa studi itu ingin diambil di negara tersebut, mengapa kita ingin studi di universitas yang kita lamar, lalu apa gunanya bidang studi untuk Indonesia, untuk negara yang bersangkutan dan untuk hubungan antara Indonesia dan negara yang bersangkutan. Biasanya, Statement of Purpose ini lah yang dijadikan referensi utama saat interview.

Surat rekomendasi

Surat rekomendasi sangat penting dan menentukan. Sedapat mungkin, dapatkan surat rekomendasi yang relevan di mata komite penyeleksi. Artinya, sebaiknya rekomendasi berasal dari orang yang mengenal dan pernah bekerja dengan kita (atau kita pernah bekerja untuknya) akan lebih masuk akal. Biasanya, harus ada rekomendasi dari pembimbing skripsi S-1 (untuk pelamar beasiswa program S-2), atau supervisor thesis S-2 (untuk pelamar studi doktoral). Surat rekomendasi harus menyebut dalam kapasitas apa si pemberi rekomendasi mengenal si pelamar (sebagai dosen, supervisor atau lainnya) dan bagaimana penilaiannya terhadap si pelamar (misalnya apakah si pelamar performance-nya bagus di kelas, atau apakah si pelamar adalah orang yang tekun dan semacamnya). Akan lebih baik lagi jika kita bisa memperoleh surat rekomendasi dari orang yang merupakan alumni dari program beasiswa yang bersangkutan (misalnya alumni ADS/APS, NZODA, Fulbright dan lain-lain), sehingga si pemberi rekomendasi juga bisa menyebut bahwa dirinya adalah alumni program yang sedang kita lamar itu. Pihak pemberi beasiswa akan melihat hal ini sebagai satu nilai plus, karena mereka juga berkeinginan menciptakan network diantara penerima beasiswa-nya di masa lalu, sekarang dan yang akan datang.

Interview

Jika dipanggil interview, persiapkan diri sebaik mungkin. Sudah setengah jalan. Probabilitas meningkat, dari 1: ribuan pelamar, dengan panggilan interview mungkin jadi 50:50. Cari tahu ke mereka yang sudah pernah menjalani interview yang sama dan menerima beasiswa bersangkutan, agar kita bisa mengetahui dan mengantisipasi pertanyaan yang mungkin muncul. Juga agar kita bisa mempersiapkan bagaimana menampilkan diri di hadapan pewawancara. Dalam interview, tim pewawancara akan merujuk pada CV dan statement of purpose kita. Biasanya kita diberi kesempatan 5-10 menit untuk mengenalkan diri sebelum mereka mulai bertanya. Manfaatkan waktu pendek itu untuk menampilkan hal-hal yang ada di CV, yang mungkin akan menguntungkan kita. Misalnya, bisa diceritakan bidang ketertarikan kita sejak lama, mengapa bidang itu penting untuk Indonesia (dan untuk pemberi beasiswa), dan apa saja yang pernah kita lakukan yang relevan dengan bidang itu. Selain itu, sampaikan juga rencana apa yang akan kita lakukan sepulang studi nanti.
Sepertinya pemberi beasiswa ingin melihat “konsistensi” kita. Konsistensi bukan berarti bahwa mahasiswa HI harus melamar studi HI, tapi lebih kepada apakah kita bisa mengkaitkan CV, bidang studi dan rencana sepulang studi nanti. Jika kita bilang ingin menjadi jurnalis sepulang studi, tapi dalam CV tidak ada record mengenai publikasi/tulisan yang pernah dimuat atau aktivitas yang berhubungan dengan jurnalisme, tentu menjadi tidak meyakinkan. Berkaitan dengan CV, tampilkan hal-hal yang menunjukan potensi kepemimpinan dan juga publikasi yang pernah dilakukan (bila melamar bidang-bidang studi humaniora), training-training dan pengalaman kerja yang relevan (bila melamar program seperti MBA atau bidang Human Resource and Development misalnya).
Istirahat yang cukup semalam sebelum interview agar segar saat wawancara. Rileks dan sebisa mungkin ciptakan suasana bersahabat. Salah satu cara terbaik menghilangkan ketegangan sebelum wawancara berlangsung adalah bicara pada diri sendiri bahwa tidak mendapat beasiswa bukan berarti masa depan kita terhenti. Masih banyak hal-hal lain yang sama baiknya dan sama bergunanya (atau bisa jadi jauh lebih baik dan jauh lebih berguna) yang tetap bisa kita lakukan tanpa beasiswa itu.

Dekalb, 25 April 2006
philips vermonte

Berburu Beasiswa (bagian 1)

Beasiswa merupakan salah satu alternatif yang diburu banyak orang untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Ada beberapa skema beasiswa yang bisa dicoba. Pemerintah Jerman melalui mekanisme DAAD menawarkan beasiswa studi pasca sarjana. Demikian juga dengan Pemerintah Perancis. Dulu, beasiswa dari pemerintah Perancis ini lebih banyak ditujukan untuk program ilmu alam (marine biology misalnya). Sekarang ada beberapa mahasiswa Indonesia studi dalam bidang sospol. Ada seorang teman saya sedang belajar dalam bidang studi Geopolitik dengan beasiswa dari pemerintah Perancis ini. Geopolitik mungkin ekuivalen dengan studi hubungan internasional atau studi strategis. Mungkin karena kentalnya tradisi Eropa kontinental, maka studi ini di Perancis lebih menekankan pada aspek geopolitik.

Mereka yang lolos seleksi, biasanya menerima training bahasa selama enam bulan di Jakarta. Bila tidak punya background bahasa Perancis atau Jerman, tentu kita harus bekerja keras menguasai bahasa itu dalam masa enam bulan. Sulit dan painful, tapi itulah tantangannya. No pain, no gain. Ada juga beberapa universitas di Jerman yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Memilih universitas yang berpengantar bahasa Inggris akan memudahkan, karena umumnya kita lebih familiar dengan bahasa Inggris.

Saat masih di Jatinangor dulu, ada beberapa teman sekelas HI 91 yang sambil kuliah S-1, juga kuliah di D-3 Sastra Inggris, Perancis atau yang lainnya. Sambil menyelam minum air. Sepertinya teman-teman itu dulu, seperti si Tjimot di Sastra Inggris, cuma cari alasan aja, supaya bisa sering-sering nangkring di kantin Sastra di belakang gedung Fisip tanpa memancing kecurigaan….bukan begitu Om Tjimot??..he..he.

Mungkin ide menyambi kuliah di D-3 Sastra bisa dicontoh, agar bisa menguasai bahasa asing tertentu. Mengambil kursus IELTS atau TOEFL beberapa bulan sebelum batas waktu memasukan lamaran juga merupakan ide yang baik. Sehingga, test IELTS atau TOEFL bisa kita lakukan sendiri sebelum mengirimkan lamaran beasiswa. Hasil test itu bisa dilampirkan dalam lamaran, yang akan menjadi nilai plus jika telah memenuhi atau melebihi batas minimum skor TOEFL atau IELTS yang dipersyaratkan lembaga pemberi beasiswa. Studi di Australia, Inggris atau Selandia Baru biasanya mensyaratkan IELTS, sementara negara lain seperti Amerika umumnya mensyaratkan skor TOEFL.

Pemerintah Belanda melalui program STUNED juga menyediakan beasiswa studi pasca sarjana, dan cukup banyak memberi porsi untuk studi ilmu sosial. Kalau tidak salah, Surya Aslim, teman alumni HI 94 sedang studi di Belanda dengan beasiswa ini. Kabar baiknya, di Belanda ada banyak sekali universitas yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

Pemerintah Inggris melalui program Chevening Award juga memberi beasiswa pasca sarjana. Sayangnya, kalau saya tidak salah menerima kabar, mulai tahun ini untuk sementara program Chevening untuk pelamar umum dihentikan. Chevening lebih banyak memberi beasiswa untuk program yang targeted, bukan studi umum. Misalnya, mereka khusus mengalokasikan untuk aktifis LSM, seperti aktifis HAM, untuk studi pasca sarjana bidang hukum. Atau untuk wartawan untuk studi jurnalisme.

Lantas dimana informasi mengenai persyaratan, pembukaan dan deadline pengiriman aplikasi bisa diperoleh? Sumber pertama tentu koran, apabila pemberi beasiswa di atas mengiklannya, terutama koran-koran nasional, seperti Kompas atau Media Indonesia.

Informasi juga bisa diperoleh di website kedutaan negara bersangkutan. Alamat website kedutaan bisa di search di Google. Cara lain adalah mendatangi langsung kedutaan (bila mungkin). Informasi beasiswa Perancis misalnya, bisa diperoleh di seksi kebudayaan di kedutaan Perancis di jalan Thamrin. Namun setelah 11 September 2001, pihak kedutaan umumnya sangat membatasi kunjungan di luar masalah aplikasi visa. Karena itu, website menjadi pilihan paling relevan sekarang. Informasi beasiswa biasanya juga tersedia di lembaga kebudayaan yang berkaitan dengan negara bersangkutan. Misalnya Goethe Institute, British Council, Erasmus Huis atau CCF.

Di luar Eropa, beasiswa juga ditawarkan pemerintah Singapura, Jepang, Australia dan Selandia Baru bagi mahasiswa Indonesia. Selain melalui website kedutaan, ada baiknya memeriksa langsung website universitas-universitas. National University of Singapore (NUS) seringkali menawarkan beasiswa untuk mahasiswa asal Indonesia. India juga pilihan yang bisa dicoba. Tradisi ilmu politik dan hubungan internasional di sana cukup kuat, terutama di Jawaharlal Nehru University di New Delhi.

Program beasiswa terbesar adalah yang ditawarkan pemerintah Australia melalui skema ADS (Australian Development Scholarship), dan APS (Australian Partnership Scholarship). Dengan skema ini, setiap tahun pemerintah Australia memberi beasiswa pascasarjana ke 600 orang Indonesia. Beasiswa ADS ditujukan untuk studi S-2 dan S-3, sementara APS hanya ditujukan untuk mereka yang akan melanjutkan studi S-2.

ADS/APS menyediakan training bahasa Inggris sebelum keberangkatan. Training ini diberikan sesuai dengan tingkat kemampuan bahasa Inggris, yang akan diketahui setelah melalui test bahasa (IELTS) yang merupakan bagian dari proses seleksi. Mereka yang lolos seleksi, akan mendapat training bahasa Inggris yang durasinya bervariasi. Ada yang harus mengikuti training selama 4 minggu, 3 bulan, 6, 9 atau 12 bulan. Biasanya, beasiswa ADS dan APS diumumkan di koran nasional. Informasi juga bisa diperoleh dengan mengunjungi website AUSAID, atau datang ke kantor pengelola ADS di Gedung Usmar Ismail di jalan Rasuna Said di Jakarta.

Informasi mengenai program beasiswa pemerintah Selandia Baru (NZ-ODA) bisa diperoleh di kedutaan Selandia Baru. Kalau belum pindah, kantor NZ-ODA ada di Gedung BRI II (atau III?) di daerah Semanggi-Jakarta. Ada banyak sekali lulusan jurusan hubungan internasional (dari berbagai universitas, bukan hanya dari kampus kita) yang melanjutkan studi di Selandia Baru dengan beasiswa NZ-ODA ini.

Beasiswa studi pasca sarjana dari Amerika Serikat disalurkan melalui program Fulbright. Di Indonesia, program Fulbright dikelola oleh AMINEF. AMINEF juga mengelola program beasiswa lain seperti Humphrey Fellowship dan lain-lain, yang lebih targeted (misalnya untuk wartawan, aktifis HAM) Informasi beasiswa Fulbright ini biasanya diumumkan di media massa. Website AMINEF, juga menyediakan informasi cukup lengkap mengenai beasiswa Fulbright.

Sejak 2005, AMINEF mengelola beasiswa Sampoerna bagi kaum professional untuk studi bidang bisnis (MBA). Dulu perusahaan rokok Sampoerna mengelola sendiri program beasiswanya ini. Karena sekarang saham Sampoerna telah dibeli oleh perusahan Amerika Philip Morris, produsen rokok Marlboro itu, AMINEF ditunjuk untuk melanjutkan pengelolaan program beasiswa MBA ini.

Ford Foundation juga dikenal sebagai lembaga pemberi beasiswa sejak lama. Malahan, program Ford Foundation ini seru sekali. Bila lolos seleksi, Ford Foundation membebaskan penerima beasiswa untuk memilih sendiri kemana dia hendak bersekolah di seluruh dunia. Mau belajar ke universitas di Afrika, Amerika, Eropa, atau Asia, terserah. Ford Foundation akan menyediakan biayanya.

Saya secara tidak sengaja pernah bertemu kawan lama Wawan Sobari, alumni Unpad jurusan Ilmu Pemerintahan angkatan 92, di Jakarta, menjelang keberangkatan saya ke sini. Wawan, yang bekerja sebagai dosen di Universitas Muhammadiyah Malang, mendapat beasiswa Ford Foundation. Ketika bertemu saya itu dia sedang training bahasa, dia memilih melanjutkan sekolah di Insitute of Social Studies (ISS) di Belanda yang terkenal itu. Bila berminat, coba datang ke kantor IIEF (Institute of International Education Foundation) di Menara Imperium, di daerah Rasuna Said - Jakarta untuk memperoleh informasi lebih banyak. IIEF adalah lembaga pengelola beasiswa Ford Foundation itu (bersambung).

Dekalb, 25 April 2006
philips vermonte

Tuesday, April 25, 2006

Amerika, Komunis, dan Sepak Bola

Entah harus apa lagi usaha yang dilakukan untuk menjadikan sepak bola sebagai olahraga nomer satu di Amerika, atau setidaknya jadi favorit, seperti bisbol, basket, atau football Amerika. Apa yang salah dengan Amerika?
Perjuangan mempromosikan soccer di AS bukan cerita baru. Pele, legenda sepak bola asal Brasil, pernah bermain di klub AS di tahun 1970-an. Satu-satunya negara di luar Brasil yang pernah disinggahi Pele sebagai pemain. Dia enggak pernah bermain di Eropa. Begitu juga Franz Beckenbauer, legenda Jerman yang pernah bermain di AS. Tapi AS bergeming. Sepak bola masih enggak dilirik.
Harapan muncul waktu Piala Dunia 1994 digelar di AS. Secara bisnis sukses. Bahkan, jumlah spectator memecahkan rekor sejarah. Sebanyak 3,5 juta orang menonton langsung. Tapi ini murni perhelatan bisnis. Sisi sepak bola hampir enggak ada efeknya.
Ketua Panitia Alan I. Rothenberg, dan orang-orang di belakangnya adalah aktor sukses Piala Dunia 1994. Rothenberg menjabat sebagai President US Soccer waktu itu. Tapi cuma side job. Kerja aslinya adalah pengacara. Dia salah satu partner di kantor pengacara Latham & Watkins. Latham & Watkins masuk dalam 10 law firm paling prestisus di AS. Keberhasilan Piala Dunia 1994 berkat para pebisnis dan pengacara di Amrik. Hampir enggak ada dukungan dari publik olahraga negeri itu.

MLS
Sukses penyelenggaran Piala Dunia 1994 hampir enggak menyentuh Major League Soccer (MLS) diluncurkan tahun 1993. Kini MLS tetap enggak mendapat tempat di masyarakat. Bahkan, lokasi dan stadion semakin meminggir ke luar kota.
Kepindahan ini katanya untuk membuat "soccer-specific stadiums". Fakta sebenarnya, klub enggak punya pendukung yang cukup. Klub-klub bergeser ke tempat yang banyak imigran dan membangun stadion yang lebih kecil. Ini juga untuk menyelamatkan keuangan klub-klub MLS yang seret. Satu-satunya klub yang udah meraih keuntungan cuma Los Angeles Galaxy.
Mimpi MLS untuk jadi besar seperti di liga-liga Eropa sulit terwujud. MLS berbenturan dengan budaya AS. Budaya ini enggak lepas dari ketakutan dan kecurigan di masa lalu. Segala yang berbau nenek moyang ditinggalkan. Ciptakan budaya Amerika yang baru.
Di AS, jutaan anak tumbuh dan bermain dengan sepak bola. Tapi hampir semuanya berhenti begitu memasuki usia 10 tahun. Mereka pindah ke bisbol, basket, football, tenis, atau tinju. Di Amrik ada pepatah lama, “American sports are played with the hands, not with the foot.”
Mike Royko, kolumnis Chicago Tribune, berkomentar klasik tentang sepak bola dan Amerika. Menurutnya, sepak bola disukai mayoritas negara di dunia karena kebanyakan negara terlalu miskin untuk membangun tempat bowling, golf courses, tennis courts, dan baseball fields. “Soccer is boring. I've never seen a more boring sport,” kata Royko.

Soccer = Komunis
Benarkah semata-mata karena boring? Royko bisa salah, tapi mungkin juga benar. Alasan lain, yang sangat masuk akal, sepak bola di mata orang Amerika adalah olahraga komunis dan para penganut fasis. Apapun yang berbau komunis, sebelum berakhirnya Perang Dingin, sangat ditakuti di Amrik.
Menerima sepak bola akan membuat Amrik enggak berbeda dari negara kebanyakan. Ini bertentangan dengan konsep American exceptionalism yang dilontarkan Alexis de Tocqueville sekitar 175 tahun silam. Yang membuat Amrik besar dan jaya, kata Tocqueville, berkat keunikannya. Negara ini lebih menghargai manusia dibanding negara lain. Amrik selalu berusaha menyeimbangkan kepentingan publik dan pribadi. Dan, yang lebih penting, menempatkan kebebasan individu dan ekomoni di atas segalanya.
Enggak ada tempat buat komunis di Amrik. Kepercayaan dan agama bukan lagi anak emas seperti di negara ibu kebanyakan warga Amerika. Di Amerika, orang Skotlandia adalah satu. Tapi di Skotlandia, orang bisa diliat dari pendukung sepak bolanya. Klub Glasgow Celtics, secara tradisi, adalah klub orang Katolik, sedangkan Glasgow Rangers didukung mayoritas Protestan.
Nuansa sekterian ini masih diusung kedua fans klub sampai kini. Celtic biasanya merektrut pemain-pemain yang berlatar belakang Katolik. Kalau bukan Katolik, dia harus bukan Protestan, seperti Sunsuke Nakamura, asal Jepang, yang kini jadi pemain kesayangan Celtic.

Ikon Globalisasi
Pertanyaan kemudian bagaimana Amerika menghadapi sepak bola yang disebut Franklin Foer sebagai ikon globaliasi? FIFA memiliki anggota lebih 205 negara, lebih banyak dibanding anggota PBB. Cuma di sepak bola pula orang Iran mau menggambar sebelah pipinya dengan bendera Amerika, sebelah lagi dengan bendera Iran. Ini terjadi di penyisihan grup Piala Dunia 1998 di Perancis.
Secara bisnis, tentu saja, Amrik enggak mau ketinggalan menggarap lahan sepak bola. Malcolm Glazer, pebisnis Amerika, rela mengutang untuk membeli 90% saham Manchester United. Baru-baru ini perusahaan asuransi top dari Amerika, AIG, juga resmi jadi sponsor MU.
Klub-klub Amrik mencari talenta bagus dari Afrika. Mereka diiming-imingi jadi warga negara, seperti Freddy Adu. Nike melebarkan sayap ke sepak bola dan semakin banyak pemain top yang mereka endorse. Artis Hollywood, John Travolta, ikut berpesta di stadion bersama 80 ribu penonton ketika Australia lolos ke Piala Dunia 2006. Dia juga bersedia menerbangkan tim Aussie ke Jerman sebagai pilot. Padahal Travolta ada true American. Dia enggak berlatar belakang Eropa seperti Sean Connery, John Stewart yang masa kecilnya beraa di Inggris Raya. Harrison Ford juga beberapa kali mengunjung klub Spanyol dan diberi nomer kostum kehoramatan.
Sepak bola mungkin bukan musuh tapi juga bukan sahabat Amerika. Tapi selama yang tinggal di Amerika adalah manusia, bukan robot, sepak bola terus menggoda. Karena sepak bola ada manusia, sepak bola enggak sebatas soal hidup-mati, tapi lebih dari itu.
Ada pepatah kuno menjawab mengapa sepak bola banyak dimainkan di hari Sabtu. Karena, “Five days shalt thou labour, as the Bible says. The seventh day is the Lord thy God's. The sixth day is for football (Anthony Burgess).

Karto K. Saragih
“Football is the opera of the people”

Memasuki Dunia Kerja Swasta


Tulisan ini merupakan jawaban permintaan teman-teman baik secara langsung maupun lewat email. Tanpa bermaksud lain selain hanya ingin berbagi dengan teman-teman, saya akan coba share apa yang saya ketahui mengenai dunia swasta.

Saya tidak perlu memulai diskusi kita ini dengan memaparkan data-data statistik mengenai berapa angka pengangguran, berapa perbandingan antara jumlah sarjana yang lulus dan lowongan yang tersedia setiap tahunnya. Tidak perlu pula disebutkan bahwa iklim ekonomi kita baik secara mikro maupun makro sedang tidak terlalu baik sehingga bukannya semakin banyak perusahaan yang berdiri atau berkembang, malah semakin banyak yang tutup atau mengurangi karyawannya. Kenyataan ini tidak perlu kita sesali, justru harus semakin memacu kita untuk lebih kompetitif.

Dalam sharing terdahulu saya sudah kemukakan apa yang perlu dipersiapkan oleh mahasiswa sebelum lulus dan mencoba masuk ke dunia swasta (bagi yang memutuskan untuk masuk dunia swasta). Kali ini saya akan fokuskan sharing saya untuk teman-teman yang baru lulus dan akan mulai mencoba memasuki dunia kerja swasta Kebetulan saya adalah salah satu anggota committee untuk recruitment di kantor sehingga sedikit banyak tahu proses yang terjadi di dalamnya. Tentunya ini hanya sebatas yang saya tahu saja (dibatasi oleh pengalaman bekerja di 4 perusahaan swasta), tetapi paling tidak sharing ini akan memberikan sedikit gambaran bagi teman-teman.

Paper Screening
Sesudah lulus, tentu teman-teman akan memulai usaha dengan menyebarkan lamaran. Ada yang membabi buta (semua iklan lowongan pekerjaan di koran dicoba) ada pula yang lebih targeted disesuaikan dengan minat dan ketertarikan pada perusahaan tertentu. Pada tahap ini, saya menyarankan anda melakukan lamaran lebih targeted, karena selain menghemat biaya, saya yakin lamaran anda pun akan lebih customized (disesuaikan dengan perusahaan yang akan anda lamar). Perlu diingat, pada dasarnya melamar pada sebuah perusahaan agak sedikit berbeda dengan melamar calon istri atau suami anda karena perusahaan yang anda lamar sama sekali tidak mengenal anda, namun ujung-ujungnya sama juga yaitu anda ingin lamaran anda yang diterima bukan lamaran orang lain.

Untuk itu, persiapkan lamaran anda dengan sebaik-baiknya. Usahakan perusahaan yang anda lamar dapat paling tidak mengenali sedikit siapa anda (latar belakang, kemampuan, dll). Buat photo yang baik sehingga anda tampil menarik dan percaya diri (namun jangan terlihat sombong). Ada pengalaman unik ketika saya terlibat dalam paper screening di kantor, karena saking banyaknya lamaran, kami sampai-sampai melakukan screening dengan hanya melihat foto pelamar, kalau kelihatan menarik, kita lanjutkan prosesnya, kalau kelihatan kucel atau malah kelihatan sombong, kita buang berkasnya ke tempat sampah (believe it or not, it happened...). Untuk itu sekali lagi sangat penting membuat foto yang menarik dari diri anda dan mempersiapkan lamaran dan baik.

Kemudian mengenai kertas yang dipakai, tidak benar bahwa perusahaan lebih memperhatikan kertas yang mahal, tetapi benar, dari pemakaian kertas kita bisa melihat keseriusan seorang pelamar, kalau melamarnya dengan kertas kucel kita juga melihat kemungkinan ada kecenderungan disrespect dari si pelamar. Jadi, tidak perlu pakai kertas yang fancy dan mahal-mahal tetapi pakailah kertas yang rapi dan bersih.

Saya mengetahui pada suatu waktu ada lebih dari 8000 lamaran masuk ke perusahaan saya sementara yang diterima cuma 10 orang saja. Jadi pastikan lamaran anda bukan yang langsung masuk ke tong sampah.

Isi lamaran sangat-sangatlah penting, Lamaran biasanya dibagi menjadi tiga bagian :

1. Cover letter
Bagian ini sangat penting karena gerbang pertama untuk menarik perhatian recruiter. This part would be the first impression of you in the eyes of the recruiters. Di bagian address (tertuju) usahakan sebisa mungkin anda tahu siapa nama recruitment manager-nya (plus title/jabatannya) . Jangan salah menuliskan nama perusahaan yang anda tuju misalnya PT Astra Internasional Tbk. (jangan anda singkat menjadi PT Astra saja). Kemudian, kemukakan siapa anda, melamar untuk posisi apa dan ceritakan sebisa mungkin kualifikasi atau kelebihan apa yang anda miliki sehingga anda adalah yang paling pantas untuk mengisi posisi tersebut. Kata-kata hardworker, self learner, fast learner etc, don’t mean anything to us karena sudah menjadi jargon-jargon yang biasa dipakai oleh most of the applicants. Lebih baik betul-betul ceritakan what are your passion in life, in work, what have you done, what have you experience that will enhance your credibility. Betul-betul ceritakan apa yang kira-kira anda bisa kontribusikan kepada perusahaan lewat posisi yang anda lamar. Ceritakan pula how well do you know the company. Maka dari itu, saya tidak menganjurkan anda untuk membabi buta membuat dan mengirimkan lamaran karena biasanya yang seperti ini surat lamarannya akan sangat biasa saja dan cenderung masuk tong sampah. Do small research mengenai perusahaan yang akan anda lamar, bidang usahanya, achievement-nya, produk-produknya, brand-brandnya, dsb.

Jika ada seseroang yang anda kenal di perusahaan tersebut, boleh juga disebutkan didalam lamaran sehingga bisa dijadikan referensi.

2. Resume/ Curriculum Vitae
Bagian kedua yang sama pentingnya adalah Resume atau CV (curriculum vitae) saya lebih senang menggunakan term Resume karena seharusnya bagian ini adalah benar-benar resume dari kehidupan profesional dan personal anda yang bisa anda share (atau pengalaman anda) sementara curriculum vitae lebih cenderung mengarah pada history pendidikan saja. Usahakan untuk membuat resume ini secara concise, masukan data-data yang anda pikir penting untuk diketahui oleh recruiter. Biasanya resume ini dimulai dengan data-data diri yang singkat. Kemudian dilanjutkan dengan sejarah pendidikan (kalau sudah bekerja sebelumnya bisa juga dilanjutkan dengan past working experiences),lalu training yang sudah pernah didapatkan (tidak perlu memasukkan data-data seminar). Kemampuan dan kualifikasi lain (computer, bahasa, CPA, CPM, dll) terakhir jika ada orang yang bisa mereferensikan anda. Untuk bagian ini, selalu masukan data terakhir di list anda misalnya mulai dengan current employement, atau dibagian pendidikan mulai dengan pasca sarjana dan terus diurut ke bawah.

3. Lampiran
Lampirkan data-data yang penting saja, yaitu ijazah dan trasncript nilai. Tidak perlu melampirkan semua sertifikat training dan seminar anda karena selain menghabiskan biaya untuk fotocopy, membuat lamaran anda berat dan yang paling sayang adalah tidak akan dilihat oleh rectruiter. Jika ada surat referensi boleh juga dilampirkan.

Sesudah anda siapkan semuanya, selalu cek dan ricek lagi, baik spelling maupun data-data yang anda sampaikan. (jangan berbohong atau make up story karena jika ketahuan nanti akibatnya akan fatal).

Test
Now come the exciting part, you got a call or letter from the company that you appied to. Terus musti ngapain ? yang pertama anda harus lakukan begitu anda mendapat panggilan dari perusahaan yang anda lamar adalah melakukan riset mengenai perusahaan tersebut secara lebih mendalam. Pelajari rangkaian test yang akan anda hadapi. Setiap perusahaan tentunya punya rangkaian test yang berbeda namun yang paling umum adalah 1. semacam TPA (test potensi akademik) atau GMAT (Graduate Management Aptitude Test) 2. Wawancara 3. Psikotest 4. Test kesehatan, ada juga yang 1. Group Discussion 2. Psychotest 3. Panel Discussion 4. Interview 5 Test Kesehatan. Ada juga yang langsung wawancara dan psychotest terus test kesehatan. Perlu anda pelajari apakah test dijalankan dalam bahasa indonesia atau bahasa inggris karena tentunya persiapan yang akan dilakukan menjadi berbeda. Jika anda sudah mengetahui rangkaian test yang akan anda jalani, perbanyaklah latihan, buku-buku TPA dan GMAT banyak dijual bebas, untuk wawancara ajaklah teman atau saudara untuk melakukan role play dengan anda sehingga anda terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin muncul, dan juga membiasakan diri menjawab dengan runut dan terstruktur. Sementara untuk psychotest pun sudah banyak buku-buku yang dijual mengenai hal ini. Biasakan juga berdiskusi dengan rekan-rekan mengenai topik apa saja (baik dalam bahasa indonesia maupun bahasa inggris).

Wawancara
Bagian wawancara ini saya pisahkan dari bagian test karena saya melihat banyak yang perlu saya kemukakan. Pada bagian wawancara ini anda sudah harus betul-betul tahu persis mengenai perusahaan dan posisi yang anda lamar. Seperti sudah saya kemukakan di bagian sebelumnya, anda harus tahu perusahaan ini seperti apa, produk-produknya apa saja, brand-brandnya apa saja, performancenya seperti apa, missionnya apa, visionnya apa ?. Kemudian anda juga harus tahu apa yang anda lamar, jika anda melamar sebagai management trainee, paling tidak anda sudah tahu bahwa bagian mana anda kira-kira anda akan berkarir, misalnya di bagian sales, logistik, atau marketing, HR, atau yang lainnya. Misalnya jika anda tertarik dengan bagian marketing, maka pelajari segala seluk beluk mengenai teori marketing, pelajari iklan-iklan perusahaan tersebut, pelajari promosi-promosi yang pernah dijalankan, karena bukan tidak mungkin anda akan ditanya mengenai hal-hal tersebut. Anda akan sangat confident jika sudah tahu apa yang anda inginkan. Yang biasanya juga ditanya adalah strength dan weakness dari anda. Anda perlu tahu apa kelemahan dan kekuatan anda, dan yang penting juga adalah bagaimana anda mengatasi kelemahan tersebut dan mempergunakan kekuatan anda tersebut. Ini penting karena biasanya recruiter suka dengan orang yang know about him/herself and know how to deal with it. Siapkan pengetahuan dan jawaban untuk pertanyaan : what can you contribute to the company ?

Siapkan juga beberapa pertanyaan mengenai perusahaan atau posisi yang kira-kira anda perlu tahu, misalnya training plan, career planning, dll.

Terakhir ketika ditanya gaji atau ketika musti mengajukan gaji, anda harus sudah tahu kira-kira berapa gaji untuk posisi yang anda lamar (darimana anda dapat informasi ini, ya dari riset) sehingga tidak perlu khawatir kerendahan atau ketinggian. Sebagai informasi dulu saya tanya-tanya sama orang dalam di perusahaan yang akan saya lamar sehingga ketika ditanya gaji, saya minta dekat-dekat dengan yang saya tahu itu. Tidak benar fresh graduate cuma boleh minta gaji Rp 1.5 juta, di perusahaan saya gaji fresh graduate/ MT adalah sekitar Rp 6.5 juta jadi ketika minta gaji tentunya anda bisa bisa mengajukan di angka sekitar Rp 6 jutaan. Tetapi tentunya tidak pas anda minta Rp 6 juta sementata standar starting salary di perusahaan tersebut adalah Rp 1.5 juta

Test Kesehatan
Siapkan baik-baik kesehatan anda sebelum ditest. Biasanya perusahaan hanya khawatir dengan penyakit-penyakit berat, jadi jangan khawatir jika anda sedang sakit flu ketika akan menjalani test kesehatan. Tetapi tentunya sebaiknya anda memberikan persepsi yang baik bahwa anda adalah orang yang memang physically fit.

Terakhir, bersyukur dan bersabar (jika diterima cepatlah bersyukur kepada Tuhan, jika gagal bersabarlah dan berusaha lagi)

Segitu dulu deh,sharing saya mengenai memasuki dunia kerja swasta, nanti kalau sempat saya teruskan dengan How to market yourself (Personal Branding) sehingga bisa sukses di dunia kerja swasta (kalau yang ini bisa meluas ke dunia yang lain juga)

Cheers

dicky saelan (currently A Leader in one of MNC)

Sunday, April 23, 2006

Dari Festival Ide ke Ilmu Politik Kita

Tahun 2000, dewan kota Adelaide mengadakan sebuah acara yang diberi nama Festival of Ideas, yang berlangsung dua hari. Uniknya, Festival of Ideas merupakan semacam bazaar seminar dengan puluhan topik yang dilangsungkan selama dua hari itu. Banyak topik berlangsung bersamaan, di gedung atau ruangan yang berbeda-beda. Kita harus cermat memilih topik yang tercantum di booklet, seminar mana yang ingin kita hadiri, karena semuanya menarik. Topiknya sangat beragam: perkembangan dunia film Australia, masalah etika kloning, politik internasional, sejarah Australia, pokoknya macam-macam. Acaranya free of charge, siapa saja boleh datang.

Saya, yang saat itu sedang studi S-2 di Adelaide, datang ke dua seminar. Satu mengenai politik internasional (Amerika dan politik global), satu lagi topiknya adalah Socialism in Our Contemporary World. Kedua-keduanya dipenuhi pengunjung, yang sebagian besar warga kota Adelaide dan juga ada warga dari kota lain. Yang jelas, acara itu memang diperuntukkan untuk warga kota. Makanya yang datang bukan hanya kalangan kampus saja.

Seminar mengenai Socialism in Our Contemporary World malah penuh sesak oleh pengunjung. Banyak yang tidak mendapat tempat duduk dan harus duduk di lantai. Pembicara topik itu adalah Arief Budiman, yang mengajar di University of Melbourne. Sessionnya berlangsung di Art Gallery, yang letaknya persis di sebelah kampus University of Adelaide tempat saya belajar.

Luar biasa, topik-topik yang sehari-harinya merupakan topik diskusi di kampus, didiskusikan bersama orang non-kampus dalam Festival of Ideas itu, bersama-sama dengan orang-orang yang bekerja di tempat-tempat swasta seperti bank, atau di kantor pemerintah, kurator museum, pedagang, karyawan perusahaan, bus driver, dan warga lain. Pemerintah kota Adelaide sangat terkejut dan gembira melihat antusiasme warganya, lalu memutuskan untuk menyelenggarakan Festival of Ideas setiap tahun, dan acara itu kemudian dijadikan ikon kota Adelaide.

Entah kapan Pemda DKI akan punya ide semacam itu. Mestinya warga kota Jakarta bisa menghadiri bazaar ide mengenai, misalnya, teknologi terkini pengelolaan sampah (yang bikin pusing kota Jakarta itu), problem urbanisasi dan transportasi kota, budaya lenong, diskusi film dan lagu warisan Benyamin Sueb, atau apa saja lah…he..he. Event semacam itu akan menjadi sebuah ruang publik yang bermanfaat, baik untuk Pemda maupun untuk warga Jakarta sendiri. Juga akan menjadi media relaksasi warga kota yang murah dan akan sangat luar biasa dampaknya. Seru kan kalau kita datang ke sebuah seminar dengerin Mandra presentasi soal budaya Betawi, lalu sesudahnya nonton pertunjukan barongsai atau tari topeng Betawi warna-warni?

Saya pernah membuat kelompok diskusi anak-anak muda di Jakarta. Kami bertemu dua minggu sekali, setiap hari Rabu malam sepulang kerja. Diskusi kami macam-macam topiknya, karena anggotanya juga macam-macam pekerjaannya. Ada dosen, peneliti, karyawan perusahaan swasta, aktifis LSM, wartawan, anggota parpol dan lain-lain. Anggota kelompok itu 10-15 orang yang aktif. Sekali waktu kami diskusi dengan topik Arsitektur Kota Jakarta. Kami mengundang Marco Kusumawijaya, arsitek kondang itu, dan Adep, ketua Sahabat Museum (organisasi non-profit yang sering membuat acara bulanan jalan-jalan ke berbagai tempat historik di Jakarta), untuk menjadi pembicara. Tidak kami sangka, rencana diskusi itu menyebar, mungkin via email. Malam itu yang hadir hampir 50 orang, dan bukan anggota kelompok diskusi kami. Ada arsitek, plannolog, karyawan Pemda, wartawan, bahkan ada mahasiswa planologi ITB jauh-jauh datang dari Bandung dan banyak lagi. Ruangan tempat kami biasa berdiskusi di Jalan Proklamasi malam itu penuh sesak. Malam itu saya semakin sadar bahwa kita perlu ruang publik lebih banyak, dan kota Jakarta terasa "kering kerontang" karena tidak memberi tempat untuk sisi humanis warganya.

Kantor saya CSIS pernah beberapa kali mengadakan acara semacam Festival of Ideas itu. Bedanya, peserta dan pembicaranya adalah undangan. Acara itu namanya ASEAN People’s Assembly (APA). Pertama kali diadakan di Batam di tahun 2000, yang kedua di Bali tahun 2002. Pesertanya sekitar 300-an orang, aktivis LSM dari negara-negara ASEAN. Juga ada beberapa peserta dari beberapa negara di luar kawasan Asia Tenggara. Acaranya berlangsung selama seminggu, topiknya beragam-ragam. Ada Human Rights di Asia Tenggara, kemajuan organisasi ASEAN, konflik etnis di Asia Tenggara dan lain-lain. APA kemudian berlangsung rutin, tahun 2003 dan 2004 diselenggarakan di Manila.

Hari Sabtu kemarin, saya menghadiri lagi sebuah konferensi, 64th Annual Conference of Midwest Political Science Association (MWPSA) di Chicago, sejam bermobil dari kota tempat saya belajar. Memang sungguh nikmat di sini, ada banyak sekali seminar, conference dan diskusi, baik besar ataupun kecil di berbagai tempat, di berbagai kota. Acara MWPSA ini berlangsung empat hari, ada ratusan session di dalamnya dan diramaikan oleh 3000 lebih hadirin yang mendaftar. MPWSA conference memang menjadi event besar yang ditunggu-tunggu kalangan akademisi, khususnya bidang political science. Event yang lebih besar lagi akan diadakan oleh American Political Science Association (APSA) beberapa bulan mendatang di Philadelphia.

Saya hadir di dua buah session. Satu mengenai comparative politics (desentralisasi di Asia Tenggara, khususnya Indonesia) dimana saya ikutan presentasi. Satu lagi adalah session dengan topik Measuring Violence in Conflicts. MWPSA mengorganisasi ratusan sessions dalam empat hari itu dan topiknya beragam juga, mulai dari studi konflik, congressional politics, politik international, foreign policy, gender, voting behavior, judicial politics, ada banyak sekali topik.

Tidak ada yang hebat dengan session presentasi saya itu. Karena, semua session (kecuali session-session besar yang diorganisasi langsung oleh MWPSA) adalah session usulan dari para peserta sendiri. Memang konferensi ini diadakan agar para political scientists (dan juga graduate atau PhD students dalam bidang political science) di Amerika bisa mempresentasikan penelitian yang sedang atau baru saja mereka selesaikan, untuk mendapat input, kritik, atau memberi inspirasi bagi kolega akademisnya.

Jadi, session mengenai desentralisasi di Indonesia itu kami usulkan ke panitia, yang tahun ini dipercayakan ke Indiana University di Bloomington, berbulan-bulan lalu. Syaratnya, kami diminta mencari 3 pembicara, 1 moderator dan 1 pembahas. Lalu, kami harus mengajukan abstrak/proposal dari setiap paper. Kalau panitia menganggap session yang diusulkan itu menarik, jadilah session usulan kita itu diselenggarakan, dan dimasukan ke booklet acara agar seluruh peserta konferensi bisa menimbang-menimbang untuk hadir. Kami mengusulkan session itu, karena kami punya paper yang kami tulis untuk mata kuliah Political Economy in Developing Areas yang membahas masalah desentralisasi di semester kemarin.

Semula iseng-iseng, nggak taunya diterima. Pembahasnya adalah professor kami dari NIU sendiri, Professor Dwight King, yang banyak mengkaji Indonesia, khususnya topik pemilu dan desentralisasi. Ryaas Rasyid dan Andi Malarangeng, yang menjadi arsitek program desentralisasi di Indonesia, adalah murid bimbingannya di NIU dulu.

Session itu kecil, juga di ruang kecil. Pada saat bersamaan, berlangsung pula session-session kecil di ruang-ruang kecil lainnya. Paling hanya 10-15 orang yang hadir di tiap session. Akan tetapi, yang hadir di session itu adalah orang-orang yang memang mendalami masalah sesuai dengan topik seminarnya. Karena itu, session berlangsung akrab, dan berguna sekali. Panitia ternyata memasukan dua pembicara dari universitas lain ke dalam session kami itu. Mereka berdua dari University of Wisconsin di Madison (UWM), dan mereka pengkaji Indonesia. Tidak mengherankan, karena UWM juga memiliki Center for Southeast Asian Studies seperti kampus saya NIU.

Usai session, break makan siang. Kami, hadirin dan pembicara session itu, memutuskan untuk pergi makan siang bersama di sebuah restaurant dekat Hotel Palmer Hilton Chicago tempat konferensi berlangsung. Kami menjadi akrab. Sebagai hasilnya, network baru terbentuklah. Selama makan siang kami ngobrol mengenai penelitian atau bidang kajian masing-masing. Kami berjanji akan saling menghubungi untuk sekedar bertukar informasi atau membantu kajian masing-masing.

Sepertinya, kelangkaan moment untuk saling berbicara dan berkomunikasi mengenai penelitian masing-masing inilah salah satu sebab yang membuat ilmu politik di Indonesia mandek dan tidak maju-maju. Karena tidak ada medium, maka tidak terbentuk epistemic community dalam bidang ilmu politik di negeri kita.

Antropologi jauh lebih maju. Di Indonesia, ada simposium international yang rutin diadakan tiap tahun oleh jurnal Antropologi Indonesia. Pesertanya dari Indonesia dan juga luar negeri. Panitianya juga memberi kesempatan untuk usulan membuka session, seperti yang umum dilakukan disini. Seorang professor di Departemen Antropologi NIU selalu datang ke simposium itu dari tahun ke tahun. Untuk political science, sebetulnya ada juga Asosiasi Ilmu Politik Indonesia (AIPI). Tapi sepertinya juga tidak terlalu berkembang. AIPI juga punya jurnal, tapi tersendat. Entah kenapa, political scientists kita enggan menulis atau melakukan penelitian. Seorang kawan bahkan pernah dengan sinis berujar ke saya, “disertasi biasanya merupakan karya tulis terakhir, dan malah mungkin satu-satunya, dari para doktor bidang ilmu politik kita.”


Dekalb, 23 April 2006
philips vermonte

Thursday, April 20, 2006

Image Produk Negara dan Tantangan Pemasaran

Kalau tulisan Cimot di blog ini sebelumnya berjudul Dilemma Pasar-man, menguraikan detail pemasaran di lapangan, tulisan ringan saya ini mencoba melihatnya dari sisi konsumen khususnya yang terkait dengan produk suatu negara….dilihat dari sisi Hubungan Internasional…critanya..:).

Suatu ketika saya pernah bareng sama temen saya dari Bea Cukai Brunei, jalan2 di jantung kota Taipei, ROC, kemudian rekan saya tersebut sangat antusias ingin membeli baju olah raga, dan dibelinya ke suatu toko olah raga, akhirnya dia dengan semangat 45 berhasil membeli kaos bermerk Nike yang disenanginya. Dia tunjukan kaos tersebut ke saya, kemudian saya lihat made in yang tertempel di kaos tersebut, ternyata made in Indonesia. Dia kaget dan nampaknya dia agak sedikit menyesal..he…. Jadi saya agak sedikit tersinggung, Lho apa maksudnya?, apa lantas gara-gara made in Indonesia? Dia pikir merk Amrik, dia terobsesi merk dengan made in negara tertentu…

Saya menyadari mungkin tidak hanya dia, orang yang merk mania, khususnya asal negara/rules of origin menjadi penting. Ada juga temen saya polisi Indonesia ketika dia bertugas di pasukan perdamaian PBB di Bosnia, dia sempat transit di Jerman dan beli oleh2 Tape Audio bermerk, besar dan bagus katanya, dengan bangganya dia tunjukan ke keluarganya di rumah namun dia kaget setengah mati ketika di buka di Indonesia…lho kok made in Indonesia..:)).

Saya sendiri terimbas menjadi pengagum asal merk he…, misalkan saya pernah beli kamera digital di Osaka, saya akan teliti betul dari sticker yang ditempel dibelakangnya apakah Sonny itu benar-benar made in Japan ataukah made in China atau Malaysia. Kalau masih kamera Sonny tertera made in China mendingan saya beli Sonny di Glodok/Mangga Dua saja. Sebenarnya saya juga termakan image negara..harusnya tidak boleh ya? Saya masih menganggap kalau buatan orang Jepang pasti Oke, mungkin dari sisi kualitas, daya tahan/kekuatan dll. Padahal logikanya belum tentu, yang namanya dibuat oleh pabrik yang sama misalnya Sonny mau di buat di Indonesia, di China, Jepang dan negara2 lain mestinya sama, mereka kan dibuat oleh standar prosedur operasi yang sama. Betulkah begitu Om Chimot?

Kemudian pikiran saya jadi berimajinasi tentang produk Amrik yang diboikot de negeri kita. Image Amrik yang terkait dengan perang teluk membuat orang-orang kita agak enggan untuk membeli produk tsb, bahkan pernah terjadi perusakan seperti kasus Mc D. Atau kasus kita rame rame boikot produk Australia misalnya, imaje produk jadi terkait dengan kebijakan luar negeri karena hubungan dengan Australia memburuk. Konsumen memang cepat reaktif ke produk tertentu, kereaktifan konsumen ini bisa pulih normal atau sebaliknya meninggalkan produk tersebut selamanya apalagi kalau seandainya ada pengganti barang lain yang kualitas produknya sama maka otomotis mereka beralih selamanya. Misalnya dari Mc D ke Ayam Soeharti atau Mbok Berek…, wah jadi ngiler ingin makan ayam goreng…

Juga seperti produk mobil misalnya, mengapa kok GM pemasaranya turun, bisa jadi karena image amrik tersebut lekat ke produk tersebut, walaupun masih ranking satu di produk mobil di dunia, namun pesaingnya dari negara lain seperti Jepang, Jerman, kemudian Korea yang sekarang sudah menembus rangking 5 produksi mobil di dunia, mulai mengejar bersaing ketat. O ya Cina juga mulai produksi mobil, rangking 4 produksi dunia, bayangkan kalau Cina sudah main di mobil apa tidak membanjiri dunia. Seperti sepeda kemudian sekarang bergeser ke motor china dan nampaknya nanti akan bergeser ke juragan mobil. Walaupun image barang China masih dianggap kualitas ketiga, namun mereka sendiri sadar dan membikin barangnya dengan bahan2 yang memang kualitas 3.

Kelebihan negeri Cina ibaratnya seperti ular naga, diam diam masuk ke suatu negara ke negara lain. Saya punya kawan kuliah dari Afrika, dia bilang barang2 dari Cina kok bisa murah ya di Afrika?, apa dia tidak rugi? Padahal untuk shipment ke Afrika jauh sekali dari Cina. Cina memakai prinsip pragmatisme dalam hal dagang. Dia tidak melihat negara tersebut mau berideologi apa, apakah negara yang dipasarinya terkena embargo apa tidak, tetap saja barang Cina itu masuk ke negara tersebut dengan keuntungan margin kecil. Bayangkan, mungkin sedikit barang Amrik masuk ke Iran atau Kuba atau Korea Utara, yang memang Amrik sendiri mengembargo ke negara2 tsb, (salah sendiri..?) namun barang2 Cina leluasa dapat kita jumpai di negara tersebut. Pelan namun pasti pasar meluas. Orang berdagang tanpa berpretensi politik ataupun ideologi, kepentingannya sama, yang penting barang laku.

Balik ke image barang. Barang asal suatu negara memberi kesan akan negara tersebut. Kalaulah barang buatan amrik, terkesan trendy, barang Jepang terkesan high tech, barang dari Perancis terkesan modis, barang dari Jerman terkesan aristokrat dst. Kenapa kok muncul kesan? Sebenarnya terkait dengan peran tidak langsung perkembangan ekonomi negara tersebut dan juga dalam mempromosikan dirinya. Saya tertarik dengan langkah Korea Selatan saat ini, bagaimana budaya Korea saat ini pelan tapi pasti berpengaruh menyebar menjadi Asia trend lewat film2 seperti drama film, misalkan Winter Sonata oleh aktornya Kim Bae Jung yang terkenal itu. Ternyata perkembangan film tersebut juga diboncengi dengan masuknya barang Korea tersebut. Misalnya masuk barang2 kosmetik karena orang tergila2 dengan film tersebut dan meniru orang yang ada di film tersebut. Akibatnya secara tidak langsung penonton film juga berminat apa sih kosmetik yang dipakainya?. Film tersebut jelas tidak bermaksud mempromosikan barang, namun produser barang dengan cerdas memanfaatkan peluang. Kejadian lewat film ini mungkin sudah lama dilakukan oleh Amrik secara tidak langsung lewat Hollywoodnya, sehingga kita tergila-gila pada produk made in Amrik.

Bagaimana dengan image made in Indonesia?

Membangun image internasional tidaklah mudah, negeri kita masih terkenal dengan Tsunaminya, kerusuhannya, ketimpangannya, korupsinya. Ini butuh waktu cukup lama, tidak bisa secara instant membangun image made in Indonesia. Kita mau mencontoh mengandalkan lewat film seperti Korea, namun sayangnya industri film kita masih belum cukup kuat bersaing internasional, bahkan domestic masih mati suri. Pariwisata kita juga masih rentan dengan trauma bom.

Jadi lewat apa ya? Saya sudah tidak pernah lihat lagi stiker Aku Cinta Buatan Indonesia..he… slogan yang realisasinya tidak pernah ada. Coba bayangkan kita punya industri pesawat terbang sendiri, jauh merupakan lompatan ke depan dibandingkan negara tetangga kita waktu itu yang hanya produksi mobil saja. Namun sampai sekarang kita masih belum bangga untuk beli produk pesawat IPTN tersebut. Image pesawat yang hight tech secara internasional dan negeri kita yang masih developing country serasa sangat timpang. Bahkan pemerintah sendiri inginnya beli pesawat dari negara lain. Kalau kita sendiri masih belum percaya diri dan beli pesawat dari luar negeri? Bagaimana dengan orang luar negeri, apa mau mereka percaya dengan produk kita? Coba bandingkan dengan Korea Selatan sini, sedikit sekali saya jumpai di jalanan mobil merk luar, semuanya mungkin diatas 95% mobil merk Korea, seperti Hyundai Kia, Sanghyong, GM Daewoo. Awalnya memang mobil mereka jelek2 tidak seperti sekarang, lama kelamaan krn potensi market dalam negeri yang besar menyerap produksi mereka, akhirnya perusahaan tersebut berkreasi dengan desain yang lebih bagus.

Image produk suatu barang yang diperdagangkan secara internasional dilakukan tidak murni dipromosikan oleh perusahaan itu saja, namun perlu dukungan berbagai pihak. Image dimulai dari pasar kita sendiri. Promosi adalah lipstik, yang diperlukan inner beauty, sehingga transformasi dimulai dari dalam diri kita sendiri. Orang pekerja ulet seperti Jepang misalnya akan melekat ke kualitas produk yang dihasilkan. Mungkinkah barang made in Indonesia mempunyai image sebagai barang berkualitas?

Yoyon

Nuclear Power Plant Basic

Guys, berhubung ngak ada ide cerita untuk hari ini, maka ada sedikit materi ”FIKSI” he..he..he..he.. dari pelajaran waktu basic training di suatu tempat deket ITB (cita-cita ngak kesampaian..ha..ha..ha..untungnya gue dapet di tempat yang lebih baik, sekalipun masih ketemu statistik...bu apel...bu apel...):

Pembangkit listrik tenaga nuklir sangat bersih dan efisien untuk dijalankan, PLTN mempunyai beberapa risiko lingkungan. PLTN menghasilkan gas radioaktif. Gas ini akan selalu berada di seluruh fasilitas Plant. Jika gas ini terlepas ke udara maka akan menimbulkan risiko kesehatan. PLTN menggunakan uranium sebagai bahan bakar turbines untuk menghasilkan listrik. Pada prinsipnya Inti atom bisa dibagi secara terpisah. Jika ini dilakukan, dapat menghasilkan tenaga yang luar biasa. Tenaga ini, kalau dikeluarkan dengan lambat, bisa dimanfaatkan untuk membangkitkan listrik. Namun jika dikeluarkan secara cepat, dalam 1 waktu & terpaket dengan senjata pelontar dapat membuat ekonomi & politik negara pemiliknya aman dari intervensi negara atau lembaga manapun…he..he..he..

Salah satu bentuk proses tenaga nuklir adalah FUSION atau peleburan. Fusion berarti menggabungkan nuclei kecil (bentuk jamak inti atom) untuk membuat inti yang lebih besar. Fusion adalah proses nuklir dimana dua atom ringan bergabung untuk membentuk satu inti yang lebih berat. Fusion adalah proses yang terjadi pada bintang diruang angkasa seperti apa yang kita kenal dengan Matahari. Setiap kali kita merasakan kehangatan Matahari dan melihat cahayanya, berarti kita sedang melihat bentuk fusi/peleburan, bisa dikatakan bahwa fusion atau peleburan adalah dasar untuk hidup kita

Di dalam reaktor PLTN terjadi bentuk lain, atom uranium di FISSION atau pembelahan melalui reaksi berantai secara terkendali. Model Proses Reaksi berantai yaitu, partikel yang dihasilkan oleh sistem lepas-pisah atom menghantam atom uranium lain untuk menghasilkan pembelah baru. Partikel dihasilkan dari pembelahan atom lain di dalam proses reaksi berantai dengan menggunakan bantuan Deuterium atau tritium yang mesti dipadatkai di suhu tinggi untuk memulai reaksi peleburan.

Di PLTN, proses reaksi berantai menggunakan tangkai kontrol/control rods yang terbuat dari grafit dan digunakan untuk menjaga aturan reaksi berantai supaya tidak terlalu cepat. Jika reaksi ini tidak terkendali, akan berpotensi menghasilkan bom atom statis. Tetapi untuk membuat bom atom tidaklah mudah karena diperlukan: potongan-potongan unsur Uranium-235 atau Plutonium yang hampir murni, berjumlah banyak dan berbentuk tepat sesuai design jenis senjata berhulu ledak, saling menempel, dan didorong dengan design senjata mekanis dengan kekuatan luar biasa. Di PLTN Kondisi semacam ini dihilangkan terutama didalam reaktor nuklir...mun diayakeun ngarana PLTN PINDAD..he..he..he.. Persamaan keduanya adalah reaksi ini sama-sama menghasilkan bahan radioaktif. Bahan ini bisa merusak kesehatan jika terlepas, oleh sebab itu harus tersimpan di dalam storage yang kuat.

Sekedar perbandingan bahwa daya bakar 1 pond (± ½ kg ) Uranium 235 sama dengan 1.500 Ton daya bakar Batubara atau setara 1.000.000 galon bensin, bayangkan secara sepintas perbedaan luas tempat yang harus disediakan oleh masing-masing Power Plant sebagai fuel storage, saya bermimpi kalo bensin terus mahal..gimana kalo kita design karburator nuklir..ha..ha..ha..ha..ha..atau (NDI) nuke design injections...hi..hi..hi..

Reaksi berantai menghasilkan panas, panas ini digunakan untuk mendidihkan pipa air di inti reaktor. Oleh sebab itu, daripada melakukan pembakaran bahan bakar seperti batu bara, PLTU mempergunakan reaksi berantai dari atom yang pecah untuk mengubah energi atom menjadi tenaga panas. Air yang sudah dididhkan di inti nuklir didistribusikan ke bagian PLTU lainnya. Di sini set pipa ke-1 yang diisi dengan air diubah menjadi uap. Uap di set pipa ke-2 memutar turbin untuk membangkitkan listrik.

Stasiun uranium sangat riskan dan kebocoran dimana radiasi bisa terjadi kapan saja. Kekhawatiran lain tenaga nuklir adalah penyimpanan permanen sisa bahan bakar radioaktif yang sudah terpakai. Bahan bakar ini mengandung racun yang bisa terurai setelah berabad-abad, penggunaan dan pembuanganya merupakan persoalan lingkungan lainnya.

Di Amerika Serikat ada 110 reaktor komersial di 32 negara bagian. Enam di antara negara bagian ini mengandalkan tenaga nuklir lebih dari 50 persen dari kebutuhannya. Di seluruh dunia, terdapat sekitar 434 PLTU untuk membangkitkan listrik di 33 negara

Ada Dua Macam Reaktor ; 1) PWRs/PRESURIZED WATER REACTOR air di dalam reaktor dan air yang ada di turbines tidak pernah bercampur dipisahkan oleh pipa sendiri-sendiri. Dengan begitu, sebagian besar radioaktif tetap berada di dalam reaktor. 2) BWRs/BOILING WATER REACTOR secara harfiah sebetulnya reaktor yang mendidihkan air, dimana air melalui inti reaktor tanpa sekat dan berubah menjadi uap serta langsung ke turbines. Syarat dari kedua jenis reaktor adalah memerlukan danau buatan seukuran minimum 500 Ha ( untuk mendinginkan uap sisa turbines ) & posisi reaktor sebisa mungkin berada di wilayah yang dingin (sekalipun suhu uap yang masuk ke danau sesudah melewati turbines masih ± 1000 derajat).

Minggu depan saya sambung Ok!....tanggal 21 - 28 saya ada tugas di Makassar, setelah itu saya sambung ke deskripsi 2 jenis power plant.

Nugraha (nama di akte kelahiran), Guzur (panggilan kesayangan)
eks PT. Bosowa Group - COP Mill technical adviser (Boiler, Power plant & Heating material management specialist).

Friday, April 14, 2006

Dari Catatan Harian Dulu

Di ambil dari Catatan Harian

Bandung, Agustus 1991

Pagi itu kota Bandung bagiku cukup dingin, dibanding kota kelahiranku, Semarang yang terik. Embun turun di rumah Paklik ku, komplek BPKP kebon kopi Cimahi, serasa membuatku malas untuk beranjak pergi pertama kali ke sebuah tempat yang akan menjadi sekolah baruku yakni “kampus”.
Lulusan baru SMA 3 favorit dari Semarang, serasa aku merasa jago kandang, masih gamang memasuki dunia baru yakni mahasiswa, terlebih dengan aku harus hijrah ke kota Bandung dengan kultur budaya yang berbeda. Apalagi bahasa jawaku yang masih medhok harus menyesuaikan dengan bahasa sunda lingkungan baruku.
Kami diantar turun di depan Dipati Ukur, dari mobil Paklikku kemudian berganti memakai mobil angkot putih Riung Bandung-Dago. Mobil melaju menaiki pebukitan mulai dari Simpang Dago, aku merasa mobil angkot ini seakan menuju kawasan pariwisata. Asyik pikirku...sungguh apalagi pertama kali melihat ujung jalan stasiun Dago dari bawah, seakan-akan aku menaiki puncak daerah pegunungan hijau nan sejuk bagian Utara kota Bandung.
O ya kami tidak sendirian, kami berdua bersama Ibuku yang selalu mendampingiku disaat-saat terpenting ketika pendaftaran sekolah. He...he...:). Walaupun dalam hatiku kenapa sih Ibu harus ikut? Aku kan sudah besar, sudah mahasiswa lagi, nanti malu kalau dilihat temen-temen baruku. Apa nanti kata mereka, masa sudah mahasiswa di antar Ibunya ikut pendaftaran kuliah. Demikian ego anak lulusan SMA yang sebenarnya ingin mandiri berpisah dari orang tua. Namun bagi seorang ibu, beliau selalu sabar menyertai puteranya melanjutkan sekolah, merasa berat harus ditinggal anaknya sendiri, dan merasa berat harus melepasnya pergi.
Alhamdulillah, akhirnya kami sampai juga di depan jalan menuju FISIP Dago, mungkin ibuku tahu akan perasaanku, beliau berkata “Sudahlah nak, saya tunggu di depan toko sini, saya cari tahu tempat kost untukmu“. “Kamu pergilah ke kampus untuk mengurus segala macam pendaftaran di sana“.“Iyalah Bu, ibu tunggu saja ya disini“, kataku. Kemudian aku berjalan sendiri mendaki ke kampus FISIP UNPAD.
Baru aku tahu memang kalau jurusan Hubungan Internasional itu bagian dari FISIP, saya pikir HI bagian dari FIKOM. Padahal dulu aku sering meledekin kakakku yang kuliah di FISIP UNDIP, apa itu FISIP sindirku...aku memang tidak percaya pada hukum karma, namun eh benar apa yang aku ledekin kembali lagi ke aku.
Tulisan Kampus Dago FISIP UNPAD itu tertera persis pada papan besi di depan gedung tua berwarna krem kecoklatan. Bentuk kampus yang besar dan rasanya tidak terawat, terlihat agak angker, di tumbuhin pepohonan yang besar di sekitarnya. Di depannya juga terlihat areal parkir tanah merah yang dijejali mobil-mobil mahasiswa, dosen dan para pendaftar baru. Kampus itu sangat rindang, sejuk dengan semilir angin sepoi-sepoi udara Bandung utara cukup membuat rasa kantuku makin menjadi-jadi, yang malam itu tidurku tidak pulas karena memikirkan hal-hal baru yang akan kujumpai hari Senin ini.
Ketika melakukan pendaftaran, beberapa kali aku melewati prosedur wawancara... Opo iki, mlebu kampus kok kokehan ngomong...(baca: apa ini masuk kampus kok kebanyakan bicara). Mulai dari wawancara Koperasi Mahasiswa, kemudian Senat Mahasiswa di Fakultas, wawancara ke DKM Al Amanah, sampai wawancara di Himpunan Mahasiswa. Herannya kok senang sekali sih mereka mewawancaraiku, kenapa tidak mengisi saja berkas formulir baru dikembalikan pikirku.
Senior-senior dengan tampang jaim ini sengaja menguliti pemikiranku yang masih bau kencur. Ketika masuk ke ruang himpunan mahasiswa aku ditanyai senior kenapa kamu masuk HI, alasannya apa, dari mana kamu asalnya dst. Baru pertama kali masuk, seakan akan senior mengkhotbahiku dan paling tahu HI itu adalah...., eh ternyata dia bilang “Saya sendiri salah kok Dik masuk jurusan HI, HI itu pilihan saya ketiga..he..:)“. Ada perasaanku campur aduk antara bangga bisa diterima UMPTN, apalagi jurusan HI, dan perasaan tidak jelas ketika senior mengatakan kesalahan milih jurusan. Ditambah lagi saat itu aku masih bingung, mana cari tempat kostlah, makan sianglah, buta sama sekali jalan di Bandung, adaptasi di tempat baru dst....
Namun waktu itu ada sesuatu terselip kebanggaan yang aku bawa dari kampus pertama kali yakni tas hijau bertuliskan FISIP dengan logo Unpad berwarna kuning. Wah keren pikirku....wawancara-demi wawancara berakhir, akhirnya aku keluar dari kampus sekitar jam 2 siang.
Sial lama sekali mengikuti pendaftaran ini pikirku, aku tidak tahu gimana aku menjelaskan nanti ke Ibuku karena kelamaan dia pasti menungguku di depan toko itu. Pasti beliau akan menegurku karena kelamaan. Aku langsung bergegas kembali menuju ke toko di dekat jalan Dago tidak jauh dari kampus FISIP. Ternyata, Ibuku masih sabar menantiku disana, dia dengan wajah tersenyum berkata “Sudah selesai nak urusannya?“, “Sudah Bu, semuanya sudah beres“ kataku. “O ya Ibu sudah carikan tempat kost untukmu, tadi Ibu ngobrol sama pemilik toko ini, kata pemilik toko ada satu kamarnya di atas yang kosong, sebenarnya tidak untuk di kostkan sih, namun ibu minta supaya disediakanlah buat Ibu, Ibu bilang kalau ada pemilik kost di rumah pasti dia akan bisa menjagamu...eh akhirnya pemilik toko tersebut mau juga. Ayo kita lihat ke sana“. Terima kasih Bu, Aku mengangguk mengikuti kemauan Ibuku.
Tempat kostku persis di dekat terminal Dago, tepatnya di jalan Dago Elos. Kemudian ditunjukanlah kamar kostku di atas, di bagian belakang, tepatnya di lantai dua, di kamar sebelah dan lantai satu dihuni oleh pemilik kost tersebut. Cukup sempit memang seperti ukuran penjara 2,5 x2,5 m apalagi kasurnya pakai model tingkat. Dari depan kamar kostan pemandangannya terbuka aku bisa melihat lereng bukit Dago yang sore itu masih hijau dari kamar kostku. Tempat yang nyaman pikirku untuk belajar. Setelah menunjukan tempat kost tersebut....kemudian Ibuku berkata, “Sudah kan nak semua sudah beres, malam ini Ibu langsung pulang dulu ke Semarang ya...kamu tinggal di sini belajar yang baik, jaga dirimu baik-baik karena kamu jauh dari orang tua, semoga nanti kamu berhasil, apa yang baik menurut Allah semoga baik pula denganmu“...Ya Bu... kutatap wajah beliau yang tampak letih seharian berjalan bersamaku, lalu kucium tangan beliau, dia pergi lalu meninggalkanku. Malam itu semakin larut, bolak-balik aku mencoba memejamkan mata namun aku tidak bisa tidur, duduk sendiri di kamar, dengan satu tas cokelat besar berisi baju untukku kuliah masih tergeletak di bawah tempat tidur belum kurapikan. Aku menerawang menatap langit-langit kamar hanya membayangkan kilas balik sejarah hidupku yang rasanya baru kemaren lulus SMA. Sekarang harus merantau ke Bandung untuk kuliah. Malam semakin dingin kusingkapkan selimut ke seluruh badanku....


---*----

Agustus 1996, Alhamdulillah akhirnya aku diwisuda di Auditorium Dipati Ukur, di tengah gegap gempita kegembiraan wisudawan, namun tidak kutemukan wajah almarhum Ibuku yang sejak awal setia mengantarku pendaftaran kuliah. Demikian pula pasti tak akan pernah kujumpai lagi ketika wisudaku di Sasana Bumi Ganesha ITB ataupun ketika aku diwisuda di Balairung pasca ilmu ekonomi UI.

Ibu....aku ingin sekali membuat engkau tersenyum, doaku selalu menyertaimu….


Ribuan kilo jarak yang kau tempuh....
Lewati rintang demi aku anakmu...
....
Seperti udara kasih yang egkau berikan...
Tak mampu ku membalas....
Ibu....(Iwan Fals).



Uman Dong, Suwon si, Paldal Gu
South Korea.
(http://nasruddin_djoko_surjono.blogs.friendster.com/nasruddin_djoko_s/)
Nasruddin Djoko (Yoyon), bekerja di Bea Cukai, sedang kuliah pasca sarjana di Seoul, Korea Selatan

Be Aware with Our Health

Dear friends, salut sekali dengan Blog 91 barunya yang agak telat aku baca, karena aku jarang sekali buka yahoo, mulai dari proses pembuatan Blog sampai dengan tersedianya tulisan teman-teman yang asyik sekali untuk dibaca. Karena diperbolehkan menulis artikel apapun di Blog kita, aku jadi terpikir untuk berbagi rasa tentang pengalamanku menderita sakit beberapa waktu lalu.

Sebenarnya tidak pernah terbayang aku akan mendapat cobaan untuk mengalami tumor otak. Sejak tahun 2003, aku sering sekali sakit di sebelah kiri kepala. Yang amat sangat sakit terutama telinga sebelah kiri. Di Australia, provider seluler memberikan berbagai macam kemudahan kepada setiap pelanggannya. Kebetulan aku menggunakan provider Optus pada saat kuliah S-2 di Melbourne dulu. Optus memberikan kesempatan kepada setiap pelanggannya untuk menelpon sesama pelanggan Optus gratis sejak pukul 7 malam sampai dengan jam 6 pagi. Tadinya aku terpikir telinga sebelah kiri aku yang sering sakit diikuti sakit kepala itu mungkin terjadi karena terlalu sering menggunakan seluler, sehingga aku beberapa kali pergi ke dokter THT pada saat aku berlibur ke Jakarta dan juga di Melbourne. Akan tetapi, walaupun diperiksa dengan sangat detil, dokter-dokter THT tersebut selalu menyatakan telinga aku baik-baik saja. Dokter-dokter THT tersebut mostly hanya memberikan pain killer saja.

Tahun 2005, sakit kepala sebelah kiri aku semakin sering terasa. Sampai-sampai aku setiap hari menkonsumsi obat sakit kepala. Bulan April 2005, karena kesibukan aku di kantor yang sedang mempersiapkan International Conference on Promoting Financial Accountability in Managing Funds Related to Tsunami, Conflict, and Other Disasters, membuat sakit kepala aku semakin parah. Aku bahkan pernah pingsan beberapa hari menjelang Konferensi Internasional itu dilaksanakan. Aku hanya terpikir untuk istirahat karena asumsi aku, badan aku terlalu capek dengan pekerjaan tersebut.

Bulan Juli 2005, sakit di sekitar telinga kiri aku pun semakin parah. Aku sempatkan diri ke dokter THT di Rumah Sakit THT Proklamasi, Jakarta yang lagi-lagi menyatakan kalau telinga aku baik-baik saja. Lalu terpikir juga kalau mungkin gigiku sebelah kiri ada yang berlubang sehingga aku sakit kepala setiap hari. Dokter gigi meminta aku operasi gigi karena ada satu gigi yang sudah kena saraf di sebelah kiri. Setelah selesai dioperasi, sakit kepala sebelah kiri tidak juga sembuh. Barulah terpikir bahwa yang salah mungkin ada disekitar kepala kiri aku sendiri.

Aku menyempatkan diri ke dokter saraf di MMC, Kuningan. Dokter saraf tersebut men-cek gerakan kaki dan tanganku yang masih bisa beraktifitas sangat baik sehingga dokter tersebut tidak terpikir untuk melakukan CT Scan. Sebenarnya, jika ada masalah dengan otak kita, kecenderungannya, reaksi tangan dan kaki akan terganggu. Karenanya, dokter saraf tersebut hanya memberikan obat untuk mengatasi sakit kepala saja. Obat yang diberikan 5 hari dari dokter saraf tersebut tidak juga menghilangkan sakit kepala sebelah kiri aku. Bahkan nafsu makan dan aktifitas kerja aku juga terganggu karena sakit kepala yang semakin menjadi. Aku kembali datang ke dokter saraf dan memintanya untuk melakukan CT Scan. Dokter tersebut kemudian membuat surat pengantar untuk test EEG dan CT Scan.

Hasil EEG dan CT Scan dengan amat jelas menunjukkan ada tumor otak di self desk yang letaknya berada di atas kiri otak kepala aku. Besar tumor otak tersebut adalah 6x4x4, sehingga bahkan membuat arah otak aku terdorong ke arah sebelah kanan sehingga menimbulkan sakit kepala yang berkepanjangan. Dokter menyarankan aku untuk operasi dan menyarankan aku untuk tidak melakukan pengobatan alternatif. Sempat kaget sekali dengan permintaan dokter tersebut, tapi aku sudah tidak sanggup untuk menahan sakit kepala. Bahkan pekerjaan aku pun terbengkalai. Setelah membicarakan dengan keluarga dan mencari informasi dari internet, aku memutuskan untuk dioperasi secepatnya. Dari informasi internet, aku mendapatkan informasi bahwa tumor otak pada dasarnya bersifat tidak ganas, kecenderungannya tumor otak menyerang 70% perempuan dibanding laki-laki.

Dokter saraf menyarankan aku untuk datang ke dokter ahli bedah saraf. Pertama kali berdiskusi dengan dokter ahli bedah saraf, aku baru mengetahui bahwa tumor tersebut berkembang sangat lambat pada manusia, very slow growth. Jika dilihat dari besarnya tumor otakku, dokter tersebut berasumsi bahwa tumor yang ada di kepalaku berkembang sekitar 5 sampai dengan 6 tahun. Dokter ahli bedah saraf tersebut meminta aku untuk test MRI untuk melihat dari arah mana ”makanan” tumor otak (sel darah yang menyebabkan berkembangnya tumor otak) tersebut datang. Fungsi ini diperlukan untuk mematikan sel darah tersebut pada saat operasi untuk mematikan tumbuhnya tumor otak baru. Dokter menjanjikan bahwa operasi tumor otak tersebut akan memakan waktu 5 jam. Akan tetapi, operasi tumor otak aku memakan waktu 10 jam karena bermasalah dengan sel darah yang memberikan makanan untuk tumor otak tersebut. Rupanya, sel darah tersebut letaknya sangat dekat dengan telinga kiri aku. Jadi, no wonder, aku sering sakit di telinga kiri sebelum operasi.

Alhamdulillah, operasi tumor otak aku sangat baik. Tidak juga diperlukan kemoterapi atau penyinaran. Akan tetapi, sesudah operasi kondisi badanku sangat drop karena lekosit darahku rendah sekali dan menyebabkan aku sakit panas karena virus selama dua minggu sehingga kembali harus dirawat di rumah sakit. Namun dengan istirahat yang cukup dan doa dari keluarga dan teman-teman, aku sangat cepat untuk kembali beraktifitas dan bekerja seperti biasa.

Sebagai informasi untuk teman-teman, karena kesibukan teman-teman di kantor dan di rumah, sebaiknya berhati-hati dengan sakit kepala yang berkepanjangan. Indikasi Tumor Otak yang aku dapatkan dari informasi dokter dan internet yaitu:
• Sakit kepala sampai dengan stroke
• Hilangnya gerakan atau sensitifitas pada lengan tangan atau kaki
• Hilangnya keseimbangan apabila dikaitkan dengan sakit kepala
• Hilangnya pandangan pada satu atau dua mata
• Hilangnya nafsu makan
• Hilangnya konsentrasi
• Kesulitan berbicara

Jika sampai mengalami hal-hal tersebut diatas, lebih baik untuk berkonsultasi dengan dokter. Pada saat aku sakit, baru terpikir olehku bahwa manusia adalah makhluk kecil ciptaan Allah yang bisa sangat tidak berdaya dengan cobaan penyakit. Ayo kita bersama-sama menyadari betapa berharganya kesehatan kita dan menjaganya baikbaik. Be aware with our health...

Leni Dwihastuti, sekarang bekerja di Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)

Thursday, April 13, 2006

Now Iran?

“Amerika akan menyerang Iran!". Berita ini tiba-tiba menjadi headline utama di hampir semua stasiun2 TV dan surat kabar di negeri kangguru sehingga menggeser konflik kartun menyusul pemberian TPV ke 42 papuans oleh Pemerintah Australia. Beberapa Stasiun TV, bahkan membuat liputan khusus dengan menampilkan dialog dengan para pakar; mulai dari pakar di politik luar negeri, pakar politik Iran sampai pakar nuklir. Kenapa pakar nuklir? Karena, apa lagi alasan AS menyerang Iran kalau bukan negeri para mullah ini diyakini memiliki stasiun pembangkit nuklir yang mengembangkan senjata pemusnah massal atau yang sering disebut Weapon of Mass destruction. Padahal menurut sang pakar nuklir tingkat produksi uranium di Iran masih sangat jauh dari kemampuan untuk memproduksi bom nuklir. Tapi, mana mungkin Bush, Rumsfeld or Rice mau mendengar ulasan pakar nuklir ini. Dan, secretary of Defense, Donald Rumsfeld sudah mantap tampaknya dengan pilihan menyerang Iran.

Presiden Iran, Mahmoud Ahmadinejab sendiri tidak mengingkari bahwa negaranya memiliki stasiun-stasiun nuklir. Bahkan beliau mengatakan di depan Parlemen, bahwa Iran has "joined the club" negara-negara yang memiliki kapasitas mengembangkan tenaga nuklir seperti Russia and China. Tentu saja, bagi sebagian kalangan, pernyataan Presiden Iran bisa menjadi bensin penyulut bagi AS untuk menjadikan negeri Mullah ini sebagai sasaran serangan militer.

Mendengar ini semua, tiba-tiba beberapa pertanyaan menghampiri benakku. Apakah kita akan kembali melihat dan mendengar Bush menghimbau Negara-negara besar untuk membentuk another “coalition of the willing” yang siap menyerang sebuah negeri kecil yang mayoritas penduduknya masih hidup dalam kemiskinan? Apakah kita akan melihat lagi sebuah peradaban besar Islam dihancurkan? Apakah kita juga akan melihat hancurnya mesji-mesjid? Apakah kita juga akan melihat munculnya sectarian conflict antara Sunni dan Syiah seperti yang saat ini terjadi di Irak?

Aku lantas berpikir dan mencoba mencari jawaban; apakah aku pernah mendengar WMD merenggut nyawa satu orang saja di dunia ini? Pertanyaan lain yang muncul adalah kenapa Bush begitu ketakutan terhadap WMD dan begitu meyakini WMD yang dikembangkan di Irak atau Iran atau Korea Utara bakal benar-benar menghancurkan dunia dan menjadi senjata pembunuh massal yang menakutkan? Ataukah Bush sebenarnya takut akan sesuatu yang lain? bukan WMD? Apakah mungkin memori akan kedahsyatan bom atom pada perang dunia ke-2 itu yang membuat Bush dan orang-orang di gedung putih begitu ketakutan sampai-sampai mereka rela membunuh terlebih dulu manusia-manusia tak berdosa di Irak?

Bayangan ku menerawang pada apa yang terjadi pada tahun 1995. ketika itu, seluruh dunia mendengar dan melihat bagaimana Slobodan Milosevic, Rodovan Karadzjiek and Mladic membunuh dengan keji jutaan orang Muslim tak berdosa di Srebrenica, Bosnia dan wilayah lain di bekas negeri yugoslavia… dan itu terjadi tanpa Weapon of Mass Destruction. Ya, mereka bertiga membunuh hampir satu bangsa tanpa WMD. Tanpa WMD!

Hanya segumpal sel dalam kepala mereka yang terus menyerukan permusuhan yang membuat mereka menjadi pembunuh. Ya, hanya segumpal sel yang membuat mereka menjadi “the most cold blood murderer” (ehm not sure if this is the correct way to say)in the century!

Seandainya, Bush tahu itu. Tahu bahwa untuk menghancurkan manusia, tidak perlu nuklir, bom atom atau senjata apapun. Tapi apa yang ada dalam segumpal sel dalam otak manusia-lah yang bisa mendorong seseorang menjadi pembunuh, satu, seribu, sejuta bahkan seluruh isi bumi.

Lalu pikiran ku lebih jauh lagi menerawang…apakah mungkin, Bush sejatinya tidak berbeda dengan Milosevic, Karadzjiek or Mladic?

Di akhir lamunanku, aku tiba-tiba bertanya….
Where is God? Where is God when hundreds of thousands of Muslims were killed? Where is God when the Iraqi people suffered from the attack? Where is God when the highest civilization of the Islamic world were destroyed? Is that enough to let people like Slobodan Milosevic, Karadzjiek and Mladic receive all of punishment only in their life after death?

Tiba-tiba aku jadi teringat, aku belum shalat Isya…
I will question God with all of these…

Dina
"Just one of the lay people and
currently reside in Melbourne"

Wednesday, April 12, 2006

Adu Penalti Pemilu Italia

Menyaksikan pemilu Italia untuk memilih anggota parlemen sangat mendebarkan, seperti menonton adu tendangan penalti di sepak bola. Dua kandidat kuat di pemilu bukan orang baru. Pertama, Silvio Berlusconi, perdana menteri terakhir yang dikenal dengan partai Forza Italia-nya. Dia memiliki jaringan media terbesar di Italia dan bahkan Eropa, mengontrol 7 channel tivi. Kedua, Romano Prodi, mantan perdana menteri, bekas pemimpin Uni Eropa dan sangat dikenal di kawasan Eropa.
Berlusconi dan Prodi ibarat dua tim di lapangan hijau. Tim mapan lawan tim pas-pasan yang butuh dukungan dari pihak lain. Berlusconi seorang politisi flamboyan, pengusaha media dan percetakan, dan masuk daftar 25 orang terkaya di dunia versi Forbes. Dia memiliki klub AC Milan, dan mengontrol RAI, tivi publik Italia. Baru-baru ini dia membuat komentar menggemparkan. Dia menyamakan dirinya dengan Yesus Kristus. Yesus banyak berkorban demi bangsa Yahudi, Berlusconi mengaku banyak berkorban demi orang Italia.
Prodi orangnya kalem, sangat serius, teknokrat sejati, dan ahli ekonomi. Sampai saat ini dia masih terdaftar sebagai profesor tamu di Harvard University dan Stanford Research Institute. Tapi kekalemannya sangat menakutkan. Sampai-sampai dia dituduh bekerja untuk KGB selama Perang Dingin. Dia berlatar belakang komunis. Ketika melakukan koalisi (L'Unione), Prodi bisa diterima partai Kristen moderat.

Saling Menyerang
Seperti permainan AC Milan, Berlusconi bermain terbuka sejak kampanye pertama. Dia menyerang Prodi. Dia mempertahankan keputusannya mengirim pasukan ke Irak, mendukung Amerika. Dia melakukan pembelaan terhadap pertumbuhan ekonomi yang enggak sampai 1 persen. Ibarat manajer sepak bola, Berlusconi memaksimalkan semua lini di lapangan. Kalau enggak puas, dia langsung terjun ke lapangan, seperti manager-player yang terkenal di Liga Inggris di era 80-an dan 90-an.
Enggak seperti pemilu sebelumnya, kali ini Prodi enggak mau bemain bertahan. Dia juga menyerang. Yang akan langsung dilakukannya kalau memenangi pemilu adalah menarik pulang semua tentara Italia di Irak.
Ketika hasil pemilu lebih berat kepadanya, Prodi langsung mengklaim memenangkan pemilu. Tapi Berlusconi enggak mau mengakui kekalahan dan meminta perhitungan ulang. Seperti di sepak bola, pemilu memasuki menit-menit terakhir, tapi skor masih sama kuat.
Meski di tepi jurang kekalahan, tapi Berlusconi masih ngotot. Dia menawarkan koalisi besar (grand coalition) seperti yang tahun lalu terjadi di Jerman. Prodi menolak keras. Memang adalah menang. Dia cuma tersenyum kecut ketika Berlusconi mengancam akan terjadi perang sodara kalau dia kalah.

Kalah Berarti Penjara
Kenapa Berlusconi sangat ngotot memenangi pemilu dan jadi perdana menteri lagi? Sederhana jawabannya, saving his ass.. Dia pernah bilang, satu-satunya cara menghindari penjara dan kebangkrutan adalah jalan terjun ke politik. Dia semata-mata menyelamatkan harta dan dirinya. Wajar kalau dia mempertaruhkan semuanya.
Berlusconi juga dikenal punya hubungan langsung maupun enggak dengan mafia. Sehari setelah berhasil memenangi suara di wilayah Sisilia, mafia yang sudah diincar selama 30 tahun, Bernardo Provenzano, berhasil ditangkap. Dia orang dibalik layar yang membuat pengusaha Italia resah. Menurut data Bloomberg, dalam lima tahun terakhir sekitar 350 ribu pengusaha Italia mengalami kerugian karena tekanan dari mafia.

Good for Calcio
Di sisi lain “Kekalahan” Berlusconi berarti angin baik buat sepak bola alias calcio. Selama ini sepak bola Italia justru mengalami kebangkrutan. Ironisnya, itu terjadi sejak Italia dipimpin Berlusconi yang pecinta sepak bola dan pemilik klub AC Milan. Penonton Liga Italia terus menurun dan kini berkurang sekitar 30%. Jadi jangan heran kalau banyak stadion yang kosong.
Bangkrutnya klub-klub seperti Fiorentina, Lazio, AS Roma enggak lepas dari pengaruh politik. Persaingan klub Italia sempat melemah di tingkat Eropa. Hak siar tivi jadi enggak seimbang karena klub-klub kecil dapat jatah sedikit sekali.
Prodi bukan orang bola. Kemungkinan ikut campur di urusan sepak bola sangat kecil. Sepak bola yang terlepas dari politik terbukti sukses di Italia. Kita masih ingat Liga Italia 10 tahun lalu yang sangat ditunggu. Kini Liga Italia kalah dari Liga Inggris, terutama dari persaingan meraih pemain bintang dunia.
Italia memang negara yang identik dengan sepak bola. Pemilu pun ibarat sepak bola dimana pemenang ditentukan sampai menit-menit terakhir.

Karto K. Saragih
“We are the guardians of something given..” PJP

Tuesday, April 11, 2006

Carut Marut Olahraga Indonesia

Salam,

Satu hal yang membuat saya tertarik untuk menulis adalah masih ada rekan saya yang bernama Karto yang masih mempunyai semangat untuk menggali dan menelaah persoalan-persoalan yang terjadi di dunia olahraga. Terus terang sampai sekarang saya masih tidak mengerti mengapa dunia olahraga Indonesia masih saja terpuruk, padahal sudah ditunjang dengan beberapa infrastruktur, terutama yang fenomenal adalah dilahirkannya kembali Kementerian Pemuda dan Olahraga disamping lahirnya Undang-undang tentang Olahraga yang salah satu bentuk konkritnya adalah dipecahnya KONI menjadi KON dan KOI.

Buat saya yang tidak terlalu faham bagaimana mengejawantahkan teori ke dalam praktek, hal tersebut di atas adalah omong kosong. Ke depan, mau ada pembentukkan Departemen Olahraga misalnya saya pikir tidak akan “ngaruh”. Mau mecah lagi dari KON dan KOI, menjadi KON, KOI, KOKI atau KONAK misalnya tetap aja olahraga tidak akan maju-maju. Mau tau sebabnya kenapa olahraga kita tidak maju-maju? Nih, silahkan disimak.

Satu, tidak jelasnya aliran dana untuk olahraga yang mampir ke saku orang-orang yang ngakunya mengabdi untuk dunia olahraga. Bayangkan, hampir 15% baik APBN ataupun APBD kita dikeluarkan untuk biaya pembinaan olahraga (itu yang resmi tercatat lho) tapi hasilnya sangat mudah ditebak. Ananda Mikola kerjaannya bolak-balik ngetok magic mobil A-1 nya, Taufik Hidayat gonta ganti pasangan sebelum ngegaet anak Jenderal, Tim Sepakbola Indonesia kalian udah pada tau lah hasilnya dan yang paling ngenes adalah Indonesia tidak pernah lagi juara di ajang SEA Games! Saya berpikir, kalau misalnya uang tersebut tidak disunat masuk ke saku oknum-oknum, secara bertahap prestasi olahraga kita akan meningkat. Artinya dana tersebut dapat kita alokasikan untuk uang lauk pauk pemain yang berpengaruh pada peningkatan gizi, bonus apabila mereka menang dan yang paling penting biaya untuk pelatihan mereka (training) baik di dalam atau di luar negeri. Kalo sekarang sih, kebanyakan masuk ke kantung oknum pengurus yang memang sudah niat cari sesuap nasi di organisasi olehraga.

Dua, mencari bibit atlet yang mempunyai talenta dan determinasi serta nasionalisme yang tinggi. Ini yang susah, ada yang berbakat tapi mata duitan, ada yang tidak mata duitan dan nasionalis tapi tidak berbakat, yang paling parang adalah tidak berbakat dan mata duitan! Namun demikian, saya masih yalin diantara seperempat miliar penduduk Indonesia, pasti 40% dapat memenuhi ketiga kriteria tersebut, namun bagaimana cara memantaunya? Kondisi geografis yang unik serta banyaknya remote area menjadikan para pembina olahraga kita yang masih memiliki hati nurani kesulitan untuk memantau perkembangan talenta-talenta muda kita.

Ketiga, memiliki pelatih yang bersertifikasi dan mampu mensinergikan teori dengan kondisi atlet dan demografi. Artinya seorang pelatih harus mampu mengkombinasikan kecakapan dalam ilmu pengetahuan olahraga atau yang terkait (seperti psikologi dll), mengerti kemampuan atlet dan bagaimana melatih atlet disesuaikan dengan kondisi eksternal dan internal si atlet itu sendiri. Namun, yang paling menarik adalah pengamatan saya pada saat menyaksikan pertandingan Liga Inggris dan ketika saya menonton Australian Football di Melbourne. Awalnya saya tidak mengerti mengapa pelatih-pelatih disana menghabiskan waktunya sampai setengah babak di tribun penonton, tidak bersama-sama di bangku pemain cadangan. Ketika akan memasuki masa istirahat, barulah pelatih turun untuk berkumpul di bangku cadangan. Setelah saya amati sampai 3 kali dan mencoba untuk mempersonifikasikan diri sebagai pelatih, barulah saya mengerti mengapa hal itu terjadi. Pelatih mencoba untuk mengamati jalannya pertandingan dari satu sudut dimana dia dapat mengamati tidak sebagian tempat pertandingan, namun dari sudut pandang dimana dia dapat melihat semua jarak pandang tempat pertandingan. Dengan demikian, dia dapat menganalisis suatu masalah tidak hanya dari satu sudut pandang saja, tapi dari beberapa mengingat dari tribun penonton yang paling atas, dia dapat melihat jalannya pertandingan baik pada saat pemain mendapatkan bola ataupun yang sedang melakukan pergerakan tanpa bola. Hasilnya, menurut survey the Australian, hampir 78% tim yang dipegang pelatih yang mempunyai metode di atas, keluar dari kamar ganti dengan full senyum.

Akhirnya, saya haqqul yaqin kalau ketiga hal tersbut dapat diperbaiki, Insya Allah Indonesia akan jadi Maung Asia lagi. Kalau jaman dulu aja bisa jadi 6 besar Asia, malah pernah 15 besar di Olimpiade, kenapa sekarang yang zaman udah mulai bebas, banyak institusi yang mengurus olahraga tapi malah jadi kaya lemper? Setidak-tidaknya walaupun kita sekarang hampir menjadi bangsa yang tidak mempunyai harga diri, tolong berikanlah kita kebanggaan bahwa prestasi olahraga kita masih mampu memberikan yang terbaik.

Terima kasih

THANON ARIA DEWANGGA

(Bercita-cita jadi pemain Persib Bandung tapi gagal karena tidak diperbolehkan oleh orang tuanya)

MNC Sebagai Salah Satu Pilihan

The Brutal Fact

Sebagian besar diantara anda yang saat ini terdaftar sebagai mahasiswa jurusan Hubungan Internasional FISIP UNPAD mungkin bercita-cita untuk menjadi seorang diplomat ketika lulus nanti. Suatu cita-cita yang mungkin sudah anda cetuskan bahkan jauh sebelum anda melangkahkan kaki ke kampus HI UNPAD di Jatinangor ini. Tidak salah memang anda bercita-cita untuk menjadi seorang diplomat karena jurusan hubungan internasional memang secara spesifik siap untuk mengantarkan anda mencapat cita-cita tersebut. Namun, pernahkah terlintas dalam pikiran anda bahwa statistik menyatakan bahwa kurang dari 10% diantara anda yang akan bisa masuk ke departemen luar negeri. Pernahkan terlintas di pikiran anda bahwa the biggest chunk of the group justru akan berakhir bukan sebagai diplomat. Sudah siapkah mental anda untuk menerima kenyataan ini. Pertanyaannya, jika setelah lulus anda tidak menjadi seorang diplomat, anda akan menjadi apa ?

Tahun 1991 ketika saya masuk ke jurusan yang saya idam-idamkan semenjak saya SD, saya pun membawa cita-cita yang sangat mulia yaitu ingin menjadi seorang diplomat yang akan bisa membawa dan membela nama bangsa di percaturan hubungan internasional. Empat setengah tahun saya belajar secara serius mempersiapkan diri untuk menjadi seorang diplomat. Pada tahun kelulusan (1996) saya berhasil menjadi lulusan S1 dengan IPK tertinggi di seluruh UNPAD, sebelumnya saya juga dipilih sebagai mahasiwa terbaik UNPAD yang mewakili UNPAD ke pemilihan mahasiswa berprestasi tingkat nasional di mana saya terpilih sebagai Juara Harapan 2. Rasanya modal untuk bisa masuk ke DEPLU sudah saya miliki pada saat itu. Hanya saja, kenyataan menunjukkan bahwa dengan gaji yang akan saya dapatkan di DEPLU rasanya saya tidak akan bisa menghidupi keluarga saya di Jakarta (sebelum penempatan) tanpa ada dukungan finansial dari orang tua. Kenyataan itu pula yang akhirnya memaksa saya untuk melupakan dulu cita-cita saya sebagai diplomat dan menerima tawaran dari ASTRA INTERNASIONAL. Hanya bertahan selama beberapa bulan saya tergiur untuk mulai bekerja di perusahaan multinasional yang saya anggap bisa menjadi jembatan antara dunia swasta dan dunia diplomasi. Saya bergabung dengan PT TOSUMIT Indonesia (sebuah perusahaan patungan antara Toshiba Corp & Sumitomo Corp. Sampai akhirnya beberapa bulan kemudian saya bergabung dengan PT Unilever Indonesia Tbk., sebuah perusahaan Fast Moving Consumer Goods yang cukup besar di Indonesia. Tulisan ini ingin mengajak anda semua untuk membuka pikiran bahwa tidak semua di antara akan menjadi diplomat, dan bekerja di perusahaan MNC bisa menjadi salah satu alternatif yang bisa anda pertimbangkan.

Apa itu Multi National Company ?

Secara sederhana, Multi national company (MNC) bisa didefinisikan sebagai perusahaan yang memiliki jaringan dan wilayah operasi yang melewati batas-batas negara. Sebuah MNC sudah dapat dipastikan beroperasi di lebih dari satu negara. Dalam operasinya MNC menjalankan usahanya di berbagai bidang, misalnya BP yang merupakan MNC berbasis di Inggris dan menjalankan operasi di bidang perminyakan, Citibank merupakan MNC yang menjalankan operasinya di bidang financial services, KLM di bidang penerbangan, Unilever di bidang fast moving consumer goods, McKinsey di bidang consulting, dll.

Dengan kenyataan bahwa MNC memiliki wilayah operasi di berbagai negara, kemungkinan bagi karyawan MNC untuk bekerja di negara lain (expatriated) menjadi sangat terbuka. Sayangnya, walaupun ada, tidak banyak karyawan Indonesia yang diexpatriated di negara lain dengan alasan yang akan saya kemukakan di bagian berikutnya. Karena memiliki karyawan dari berbagai bangsa dan beroperasi di berbagai negara biasanya sebuah MNC memiliki standar yang sama dalam banyak hal di mana pun MNC tersebut beroperasi. Standar yang saya maksudkan meliputi kualitas produk, proses produksi, bahkan sampai kesejahteraan karyawan. Maka dari itu, biasanya MNC memberikan remunerasi yang lebih baik dibandingkan perusahaan lokal karena ada standar-standar tersebut.

Pada saat seorang karyawan MNC diexpatriated di negara lain sebenarnya, peran dia hampir sama dengan diplomat karena karyawan tersebut juga harus membawa nama negara asalnya agar jangan sampai memalukan di negara lain. Pindah dari satu negara ke negara lain pun adalah hal yang sangat wajar bagi beberapa karyawan MNC. Pada sisi ini, bekerja di MNC sedikit banyak mirip dengan sebagai diplomat. Sebagai contoh Unilever memiliki operasi di 80 negara sehingga dalam pekerjaan kita sehari-hari sering pula kita mengunjungi atau berhubungan dengan Unilever di salah satu dari 80 negara tersebut. Hubungan internasional secara tidak kita sadari kita jalankan sehari-hari walaupun bukan dalam konteks kenegaraan.

Apa Yang Dibutuhkan Untuk Masuk MNC?

Yang paling dibutuhkan untuk bekerja di MNC tentunya adalah kemampuan untuk bersaing dan bekerja dalam standar yang tinggi karena kita tidak hanya bersaing dengan rekan-rekan di negara kita namun juga dari negara lain. Sebelum krisis 1997, di mana jumlah mahasiswa dan lulusan luar negeri masih banyak, lebih dari 75 % dari management Unilever Indonesia dipegang oleh orang-orang lulusan luar negeri. Hal ini terjadi karena rekan-rekan lulusan luar negeri sudah sangat terbiasa iklim di luar negeri yang biasanya membuat mereka lebih mampu mengexpresikan ide-ide mereka, terbiasa untuk berdebat, terbiasa untuk bersikap kritis, terbiasa untuk menchallenge,dll. Lebih spesifik lagi mereka terbiasa melakukan semua hal tersebut dalam bahasa Inggris.

Jika anda sudah dapat menjadi presiden dengan hanya membawa ijazah SMA, jangan harap anda bisa menjadi karyawan MNC dengan hanya membawa ijazah SMA. Saat ini persyaratan minimum untuk bisa diberikan kesempatan untuk diuji adalah 3.0 (dari skala 4.0). Angka 3.0 benar-benar hanya merupakan prasyarat untuk bisa ditest, karena saat ini angka IPK rata-rata yang diterima di perusahaan MNC biasanya berkisar di 3.4. Dengan demikian belajarlah dengan baik jika anda masih ingin menjadikan MNC sebagai salah satu opsi anda setelah lulus nanti. Lebih baik lagi jika anda memiliki IPK di atas 3.5 (Cum Laude) walaupun IPK tinggi pun belum menentukan anda untuk diterima. Setelah itu perbanyaklah aktivitas berorganisasi anda karena pengalaman berorganisasi bisa menjadi indicator kemampuan kerjasama anda dalam kelompok. Aktif di HIMA, SENAT, Unit-unit kegiatan, akan menjadi nilai tambah bagi anda. Setelah anda yakin dengan prasyarat-prasyarat tadi, kirimkanlah lamaran anda ke MNC yang anda tuju (sebaiknya pelajari dulu company profile-nya)

Saat ini semakin banyak MNC yang menguji calon karyawannya dengan dua macam tipe test. Model test pertama adalah dalam bentuk group discussion kemudian panel discussion, psychotest, dan terakhir wawancara dan semua proses ini dijalankan tanpa sedikitpun menggunakan bahasa Indonesia (bahkan dari mulai pengajuan application form). Model test kedua adalah seperti GMAT (test untuk MBA) di mana calon karyawan harus menjawab serangkaian soal-soal management,psychotest , terakhir wawancara lagi-lagi semuanya dalam bahasa Inggris.

Kuliah akan memberikan kemampuan daya nalar anda, namun jika anda tidak dibiasakan untuk berkomunikasi dengan baik, maka cukup sulit bagi anda untuk bisa lolos test ini. Untuk itu, biasakanlah dari sekarang untuk sering-sering berdiskusi dalam bahasa Inggris, sering-seringlah berdebat, sering-seringlah menchallenge pemikiran orang lain karena jika anda terbiasa dengan baik untuk berpikir secara runut dan mengexpressikan pemikiran anda dengan baik maka anda sudah punya modal yang cukup untuk bersaing dengan calon-calon yang lain. Kemampuan komunikasi orang Indonesia secara umum memang dinilai kurang dibandingkan dengan rekan-rekan dari negara lain bahkan dari negara Asia yang lain seperti India, Philippines, bahkan Malaysia. Belajarlah secara keras untuk memperbaiki communication skill anda dalam bahasa Inggris (saya pikir modal ini pun sangat dibutuhkan oleh seorang calon diplomat). Saya berharap metode belajar di kelas pun bisa mulai diperbanyak ke arah ini.

Di tulisan saya berikutnya saya akan share apa-apa saja yang dibutuhkan agar kita bisa bersaing dengan karyawan-karyawan yang lain di sebuah perusahaan MNC sehingga bisa menaiki corporate ladder dengan cepat (bahkan sampai pada tahap tertinggi)

Good Luck !!

dicky saelan

G1B91056

Monday, April 10, 2006

Soal Akreditasi Jurusan Kita

Jika ingin mengetahui seperti apa kira-kira HI Unpad Jatinangor sekarang, secara cepat anda bisa coba lihat di situs Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Sebenarnya informasi yang ada di situs itu tidaklah khusus mengenai Unpad saja ataupun tentang program studi HI saja, namun merupakan hasil akreditasi dari seluruh penyelenggara program studi di berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Hasil pencarian dengan mengisikan kata "ilmu hubungan internasional" pada kotak isian program studi, akan mengantarkan kita pada tabel terbaru hasil akreditasi program studi Hubungan Internasional di Indonesia.

Tahun 1998, HI Unpad mendapatkan akreditasi B dengan skor 549. Hasil ini menempatkan HI Unpad sejajar dengan Univ. Jayabaya (Jakarta), Univ. Nasional (Jakarta), STISIPOL Budi Luhur (Jakarta), Untag (Jakarta), Univ. Riau (Pekanbaru), Undar (Jombang), UNJ (Jember),Univ. 45 (Makassar) serta Unhas (Makassar). Posisi Unpad jelaslah sama sekali bukan dijajaran elite, karena diatasnya ada UNPAR (Bandung), UI (Jakarta), Unair (Surabaya), UPN (Yogyakarta), UMY (Yogyakarta), UGM (Yogyakarta), Unpas (Bandung), Univ. Prof. Dr. Moestopo (Jakarta)serta UKI (Jakarta) yang mendapatkan akreditasi A. Sementara yang berada di papan bawah adalah IISIP (Jakarta), Univ. Satyagama (Jakarta), Univ. Jakarta (Jakarta), USNI (Jakarta), UNJANI (Bandung), UPN (Jakarta)mendapatkan C. Pada urutan paling bawah adalah Jurusan Hubungan Internasional Universitas Darma Agung dari Medan yang hanya mendapatkan nilai D. Beberapa kampus lainnya bahkan sama sekali belum terdaftar dalam list tersebut seperti HI Universitas Paramadina dan beberapa kampus lainnya.

Karena HI Unpad meraih peringkat akreditasi B maka artinya mungkin saja pada salah satu komponen yang terentang dari unjuk prestasi kemahasiswaan, ketersediaan dan kompetensi Dosen pengajar, efektifitas kurikulum, tertib proses pembelajaran, ketersediaan infra struktur pendidikan dan sistem informasi, keberfungsian sistem penjaminan mutu, keberhasilan lulusan, kuantitas dan kualitas penelitian atau publikasi dari dosen, HI Unpad mendapatkan penilaian yang bagus, namun sebagian besar lainnya hanya berkualifikasi "sedang-sedang saja". Pendeknya, tidak memuaskan!

Dari rekap hasil akreditasi yang sama, bisa disimpulkan lagi bahwa manajemen jurusan HI Unpad telah abai terhadap prinsip penyelenggaraan administrasi yang baik. Peringkat akreditasi B yang didapatkan pada tahun 1998 senyatanya telah kadaluwarsa sejak tahun 2003. Sementara semisal UGM dan Unpar yang mendapatkan akreditasi A masing-masing berlaku hingga 2008 dan 2009. Unair dan Unpas bahkan akreditasinya berlaku hingga tahun 2010.

Untuk hal terakhir ini, jika jurusan terus membiarkan dirinya tidak lagi terakreditasi, maka konsekuensinya adalah: Pertama, jurusan membiarkan alumninya beresiko untuk kehilangan kesempatan kerja karena alasan program studinya tidak terakreditasi. Kedua, jurusan kehilangan kesempatan meraih dana-dana kompetitif bernilai ratusan juta hingga miliaran rupiah dari Dirjen Pendidikan Tinggi. Ketiga, jurusan sama sekali kehilangan kesempatan untuk terus mengukur dan mengevaluasi unjuk kerja mereka selama ini.


Yopi Fetrian
sekarang mengajar di Jurusan Politik, Universitas Andalas (Unand) Padang

Saturday, April 08, 2006

Strawberry Field Forever

Kemarin, di kampus NIU terjadi kehebohan. Dua orang mahasiswa, ya hanya dua orang, menggelar demonstrasi di sebuah tempat yang selalu dilalui orang banyak, di plaza yang terletak antara Student Center dan Founders Memorial Library. Plaza nya bernama King Memorial Commons, mengambil nama Martin Luther King, penggerak Civil Rights Movement di Amerika tahun 1960-an dulu.

Yang membuat heboh adalah banner besar yang diusung dua mahasiswa itu. Begini isinya:

WARNING Jesus Rejecter: homos and lesbos, porno freaks, drunkards, Muslims, Buddhists, unsubmissive wives, money lover, unloving husbands, thieves, rebellious children, liars, fornicators, lazy Christians, Mormons, Roman Catholics. God will judge you!

Lebih seru lagi, dua mahasiswa ‘fundamentalis’ ini memakai kaos hitam dengan tulisan besar di depan dan belakang: Repent or Perish.

Saya melewati dua orang itu, dan ada banyak sekali orang yang berkerumun di sekitarnya. Rupanya, ada banyak orang yang gerah dengan banner itu dan mereka berhenti berjalan untuk berdebat dengan dua mahasiswa yang mungkin sedang bersemangat beragama. Menariknya, mereka yang berkerumun dan mendebat dua orang itu datang dari beragam kelompok: mahasiswa Muslim, Yahudi, Kristen, feminist, kelompok lesbian dan homoseks. Sementara, mereka berdua itu kalem-kalem saja. Mereka cuma bilang: Sinners will be punished…Itu mungkin yang bikin kerumunan orang bertambah sewot.

Seperti di banyak tempat lain, termasuk di Indonesia, di Amerika juga muncul kelompok yang “hobi”-nya mengkafirkan orang lain, dan merasa dirinya paling benar. Dua orang ini sungguh aneh, mereka yang beragama Kristen pun dijadikan sasaran: lazy Christians, Mormons, dan Roman Catholics. Katolik, tentu saja kita tahu, merupakan salah satu mainstream besar dalam Christianity. Mormon adalah salah satu aliran dalam tradisi Kristen di Amerika. Mungkin Mormon bisa dianalogikan dengan kelompok Ahmadiyah yang tertindas di negeri kita itu. Katolik, dan juga Mormon, mendasarkan ajarannya pada pengakuan Jesus sebagai Messiah, yang merupakan definisi khas ke-kristen-an, sama seperti mereka berdua.

Salah seorang teman Amerika saya yang pergi bareng ke konferensi di Michigan minggu lalu, adalah penganut Mormon. He is a very good person, kalau bicara santun sekali, jadwal hidupnya teratur, sama sekali tidak mengkonsumsi alkohol (dia tidak pernah ke cafe, bar atau pub), dan juga sangat aktif di gerejanya. Dia juga teman bicara yang menyenangkan. Spanduk dua mahasiswa tadi tentu menudingnya, sebagai penganut Mormon, berada di luar ke-Kristen-an alias kafir. Hanya ada satu kelompok yang lupa di list oleh dua orang ini: Hindu. Padahal, jumlah mahasiswa asal India di NIU cukup banyak juga…he..he. Akhirnya, polisi kampus mengusir dua orang itu.

Ada beberapa renungan yang muncul dari kehebohan kemarin. Pertama, kecenderungan eksklusifisme beragama pada dasarnya terjadi dimana-mana, di semua agama. Di Indonesia ataupun Amerika, Islam ataupun Kristen. Yang mengkhawatirkan adalah bila eksklusifisme merasuk ke universitas, sebuah tempat yang seharusnya steril dari semua gejala eksklusifisme. Kampus adalah tempat yang harus menjadi ruang yang paling inklusif dan menjadi benteng penjaga pluralisme. Beberapa hari terakhir juga sedang terjadi perdebatan hangat di kalangan akademisi Amerika. Kelompok radikal mulai aktif “menghantam” profesor-profesor di berbagai kampus yang menentang perang Irak dan kebijakan Amerika di Timur Tengah. Bulan Februari lalu, terbit sebuah buku kontroversial berjudul The Professors: 101 Most Dangerous Academics in America, dimana pengarangnya, Horowitz, membuat list "in alphabetical order, the radical academics whom he believes are polluting academe with leftwing propaganda. "Coming to a campus near you: terrorists, racists, and communists - you know them as The Professors," reads the blurb on the jacket. "Today's radical academics aren't the exception - they're legion. And far from being harmless, they spew violent anti-Americanism, preach anti-semitism and cheer on the killing of American soldiers and civilians - all the while collecting tax dollars and tuition fees to indoctrinate our children." (dari Guardian, 4 April 2006)

Dari sini renungan kedua muncul: seperti di Indonesia, di Amerika jumlah orang yang radikal dalam beragama pada dasarnya sangat jauh lebih sedikit dibandingkan dengan total populasi keseluruhan. Yang membuatnya menjadi kelihatan besar adalah media. Ketika Indonesia disalahpahami orang luar sebagai tempat yang dipenuhi radikalisme, sepertinya itu merupakan efek dari pemberitaan media. Kecenderungan yang sama terjadi juga dengan media-media di Amerika.

Bahkan koran harian Northern Star, koran yang dikelola ‘senat’ mahasiswa NIU mengulas panjang lebar dan mengkritik habis dua orang mahasiswa itu. Artinya, media memberi ruang dan memungkinkan terjadinya triangulasi pandangan eksklusifisme. So, in the end, kesalahpahaman meruncing, saling curiga antara Islam-Kristen, juga antara Timur-Barat. Betul kata John Lennon dan the Beatles dalam lagunya Strawberry Field Forever. John Lennon bilang: Living is easy with eyes closed, misunderstanding all you see….

ngomong-ngomong, koran mahasiswa Northern Star ini terbit rutin setiap hari sudah lama, sejak 100 tahun lalu. Majalah Polar kita terbitkan di kampus Fisip pertama kali tahun 1992 dan tahun 2005 masih terbit, jadi kira-kira baru 13 tahun. Bedanya lagi, Northern Star terbit setiap hari, sementara Polar adalah majalah Tempo, alias tempo-tempo terbit, tempo-tempo enggak ..he..he. Cuma sekedar memberi gambaran bahwa tradisi tulis-baca mahasiswa kita sungguh jauh tertinggal.

Renungan ketiga: tindakan aparat keamanan mengusir dua orang itu menurut saya merupakan hal yang juga mengkhawatirkan. Saya memang sangat tidak setuju dengan isi banner dua orang itu, tapi saya akan membela hak mereka untuk menyampaikan pendapat. Sepanjang mereka tidak melakukan aksi kekerasan, atau mendorong orang secara langsung melakukan kekerasan terhadap kelompok lain, hak berpendapatnya harus dilindungi sepenuhnya. Apalagi di dalam lingkungan kampus, yang merayakan kebebasan berpendapat.


Dekalb 7 April 2006
philips vermonte